<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>obat Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/obat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/obat/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Sep 2021 14:25:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>obat Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/obat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2021 14:16:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[sakit hati]]></category>
		<category><![CDATA[terluka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5284</guid>

					<description><![CDATA[<p>So they say that timeTakes away the pain&#8230;but I&#8217;m still the same Heartache (35XXXVV) &#8211; One OK Rock Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain. Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/">Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote has-text-align-right is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>So they say that time<br>Takes away the pain<br>&#8230;but I&#8217;m still the same</p><cite>Heartache (35XXXVV) &#8211; One OK Rock</cite></blockquote>



<p></p>



<p>Rasanya semua manusia pernah mengalami sakit hati. Walaupun seringkali disebabkan oleh masalah percintaan, banyak hal lain yang bisa menyebabkan kita merasa sakit hati seperti omongan orang lain.</p>



<p>Memang, sakit hati paling lekat maknanya dengan cinta. Perasaan tak berbalas, dikhianati dengan kejam, hubungan yang berakhir begitu saja, ditikung, ada banyak peristiwa yang bisa kita ambil sebagai contoh.</p>



<p>Orang-orang sering bilang kalau sakit hati juga akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. <em><strong>Time will heals</strong></em>. Benarkah begitu?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Cara Obati Sakit Hati</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5286" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Apa Obat Sakit Hati? (<a href="https://unsplash.com/@diana_pole">Diana Polekhina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sama seperti penyakit lain, sakit hati pun tentu ada obatnya. Setiap orang memiliki obatnya masing-masing sesuai dengan kepribadian, lingkungan, pengalaman, tingkat sakit hati, dan lain sebagainya. Penulis akan coba jabarkan beberapa di antaranya. </p>



<p>Secara logika, manusia akan<strong> berusaha membenci orang yang membuatnya merasa saki</strong>t hati. Bahkan, tak jarang orang yang memiliki sifat pendendam akan berusaha untuk membuat orang tersebut merasakan sakit yang lebih parah lagi.</p>



<p>Selain itu, kadang kita membutuhkan orang lain untuk bisa melupakan si penyebab sakit hati. <strong>Mencurahkan perhatian dan kasih sayang ke orang lain</strong> bisa menjadi obat yang cukup ampuh. Dengan kata lain, mencari orang lain sebagai &#8220;pelampiasan&#8221;.</p>



<p>Kadang tempat di mana kita berada bisa menjadi penyebab sakit hati. Oleh karena itu, &#8220;kabur&#8221; dan <strong>pindah ke tempat baru</strong> bisa membantu kita untuk melupakan sakit hati tersebut. Hanya saja, kondisi pandemi seperti sekarang membuat aktivitas ini cukup sulit dilakukan.</p>



<p>Ada juga yang memutuskan untuk <strong>fokus memperbaiki diri sendiri</strong>, menemukan versi dirinya yang lebih baik lagi. Kejadian kelam yang telah terjadi dijadikan titik balik dalam hidupnya. Ia berusaha melakukan interopeksi demi menemukan apa yang bisa diperbaiki dari dirinya.</p>



<p><strong>Menyibukkan diri</strong> dengan banyak hal juga menjadi salah satu alternatif untuk mengalihkan sakit hati kita. Ada yang sibuk dengan berbagai aktivitas produktif, namun tidak sedikit yang terjebak dalam kegiatan kurang bermanfaat dengan dalih &#8220;pelarian&#8221;.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mana Pilihan Penulis?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5288" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Fokus Memperbaiki Diri Sendiri (<a href="https://unsplash.com/@jonathanborba">Jonathan Borba</a>)</figcaption></figure>



<p>Kalau Penulis harus sampai mengalami sakit hati yang menyakitkan, pilihan membenci orang dan mencari orang baru sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; sepertinya akan dikesampingkan. </p>



<p>Mau sesakit apapun luka yang diberi oleh orang lain, Penulis akan <strong>berusaha untuk tidak membalas sakit tersebut</strong>. Memang susah, tapi bisa dilakukan jika kita bisa berusaha untuk menerimanya dengan ikhlas dan mau memaafkannya.</p>



<p>Mencari orang lain sebagai &#8220;pelampiasan&#8221; juga bukan <em>style </em>Penulis. Jika harus membuka hati untuk orang baru, Penulis harus bisa mengobati sakit hatinya terlebih dahulu. <strong>Jangan sampai orang lain terkena getah dari sakit yang kita alami</strong>.</p>



<p>Penulis pernah &#8220;kabur&#8221; untuk jangka waktu yang cukup panjang dan cukup efektif. Hanya saja, sekali lagi kondisi pandemi seperti ini membuat mobilitas kita sangat terhambat.</p>



<p>Obat yang Penulis pilih secara pribadi adalah fokus memperbaiki diri dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif. Bisa dibilang, ini obat yang susahnya bukan main karena perasaan kita sendiri masih kacau.</p>



<p>Dibutuhkan<strong> tekad dan keinginan yang kuat </strong>demi mengalahkan rasa sakit yang ada di dalam hati. Terkadang kita harus memaksa diri untuk terus melangkah maju, walau perih kadang masih terasa begitu mengiris.</p>



<p>Hanya saja, meskipun terkadang sudah melakukan banyak hal, sakit hati masih saja terus terasa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berdampingan dengan Luka</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5290" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati-banner-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sabar, Kadang Sakit Hati Memang Susah Hilangnya (<a href="https://unsplash.com/@bernard_">Bernard</a>)</figcaption></figure>



<p>Kembali ke paragraf awal, di mana Penulis sempat menyebut <em>time will heals</em>. Selain mencoba berbagai obat yang tersedia, kita juga berpikir kalau waktu pada akhirnya akan pelan-pelan mengobati luka tersebut.</p>



<p>Sayangnya, bahkan <strong>waktu pun terkadang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menangani sakit hati kita</strong>.</p>



<p>Ada yang masih merasakan sakit hati walau waktu telah berlalu selama satu bulan, tiga bulan, enam bulan, satu tahun, dua tahun, bahkan seumur hidupnya. Kita seolah tidak bisa berdamai dengan sakit hati ini.</p>



<p>Berbagai obat sudah dicoba dan tidak ada yang berhasil. Kegagalan ini yang kadang menyebabkan orang terjerumus ke jalan yang salah ketika sedang sakit hati. Mabuk, narkoba, seks bebas, dan lain-lain.</p>



<p>Jika memang kita kesulitan untuk mengobati sakit hati tersebut, cobalah untuk <strong>hidup berdampingan rasa sakit</strong> tersebut. </p>



<p>Ketika sakit tersebut teringat atau terasa secara tiba-tiba, coba disenyumi saja, yang sabar, sembari menyugesti diri untuk ikhlas. Memang masih akan terasa sakit, tapi setidaknya kita bisa mengendalikan respon kita terhadap rasa sakit tersebut.</p>



<p>Kalaupun waktu tidak bisa mengobati sakit kita, setidaknya kita <strong>bisa hidup dengan rasa sakit</strong> tersebut tanpa mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Memang terdengar utopis dan belum teruji, tapi tidak ada ruginya untuk dicoba.</p>



<p>Jadikan rasa sakit yang seolah tak ada habisnya tersebut untuk menyusun kehidupan menjadi lebih baik lagi. Jadikan pelajaran agar kesalahan yang membuat kita merasa sakit tidak terulang lagi di masa depan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada akhirnya, kita semua hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Kita memiliki tingkat daya tahan dalam menerima sakit yang berbeda-beda. Ada yang bisa pulih dengan cepat, ada yang kesulitan untuk bisa menerima rasa sakit tersebut.</p>



<p>Apa yang bisa kita lakukan adalah respon terhadap rasa sakit tersebut. Apakah rasa sakit itu akan menjadi <em>turning table </em>kita atau justru malah menjerumuskan kita, semua pilihan ada di tangan kita.</p>



<p>Jika Pembaca ingin mencari inspirasi yang terkait dengan masalah perasaan, silakan mampir ke rubrik <a href="https://whathefan.com/category/rasa/">Tentang Rasa</a>, rubrik terbaru dari <strong>Whathefan</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 23 September 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@bernard_"><a href="https://unsplash.com/@aronvisuals">Aron Visuals on <em>Unsplash</em></a></a> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/">Kadang Waktu pun Tak Bisa Mengobati Sakit Hati</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/kadang-waktu-pun-tak-bisa-mengobati-sakit-hati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Darahnya, tapi Sakitnya Luar Biasa</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2021 15:15:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gaara]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[luka hati]]></category>
		<category><![CDATA[Naruto]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[pulih]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gaara adalah salah satu karakter favorit di serial Naruto. Character development-nya bisa dibilang salah satu yang terbaik dan akhirnya menjadi teman dekat Naruto. Sebagai seorang Jinchūriki dari monster ekor satu, sejak kecil ia dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka takut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Gaara. Akibatnya, ia kerap merasa kesepian dan sendiri. Padahal, ia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa/">Tidak Ada Darahnya, tapi Sakitnya Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Gaara </strong>adalah salah satu karakter favorit di serial <em>Naruto</em>. <em>Character development</em>-nya bisa dibilang salah satu yang terbaik dan akhirnya menjadi teman dekat Naruto.</p>



<p>Sebagai seorang <em>Jinchūriki</em> dari monster ekor satu, sejak kecil ia dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka takut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Gaara.</p>



<p>Akibatnya, ia kerap merasa kesepian dan sendiri. Padahal, ia memiliki keluarga di mana ayahnya adalah seorang Kazekage (pemimpin desa Sunagakure) dan memiliki dua saudara (Kankurou dan Temari). </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5187" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Yashamaru (<a href="https://www.wattpad.com/272718938-naruto-no-imouto-slow-up-sepuluh/page/5">Wattpad</a>)</figcaption></figure>



<p>Ibunya sendiri telah meninggal ketika melahirkannya. Gaara diasuh oleh adik ibunya, <strong>Yashamura</strong>. Bisa dibilang, ia lah orang yang berusaha menjaga dan merawat Gaara dengan baik. </p>



<p>Suatu ketika, Gaara bertanya kepada Yashamura apa itu luka. Sebagai informasi, Gaara tidak bisa terluka berkat pasir yang melindunginya. Ia pun berkata sambil memegang dadanya:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Ini tidak berdarah tapi .. sangat sakit .. di sini &#8230;&#8221;</p></blockquote>



<p>Hal ini menunjukkan bahwa hidupnya terasa sangat menyesakkan. Yashamura pun berkata kalau luka fisik (sambil mengiris jarinya) bisa diobati dengan mudah, tapi luka hati akan susah untuk disembuhkan.</p>



<p>Teringat oleh adegan ini, Penulis pun ingin menulis artikel tentang luka hati yang susah untuk disembuhkan.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Luka Hati</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5185" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Luka Hati (<a href="https://www.wired.co.uk/article/ptsd-and-heartbreak">Wired UK</a>)</figcaption></figure>



<p>Penyebab terlukanya hati jelas ada banyak macamnya. Dikhianati, trauma masa lalu, patah hati, dilecehkan, merasa gagal, <em>bullying</em>, dijauhi, merasa kesepian, hanya beberapa contoh di antaranya.</p>



<p>Terkadang, ada saja kejadian yang membuat kita sangat terpukul hingga memicu kita merasa <em>down </em>dan depresi. Kita memandang hidup secara gelap seolah tak ada masa depan yang menanti di sana.</p>



<p>Terkadang, ada saja hal yang membuat perasaan kita tergores dengan begitu perihnya. Begitu sakitnya goresan tersebut hingga membuat kita berpikir untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/pernah-terpikir-untuk-bunuh-diri/">mengakhiri hidup saja</a>.</p>



<p>Terkadang, apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Realita menampar begitu kerasnya hingga rasanya tidak ingin bangkit lagi dan membiarkan diri terpuruk.</p>



<p>Menurut Yashamura, luka hati bisa disembuhkan dengan yang namanya cinta. Akan tetapi, dalam praktiknya jelas tidak semudah itu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengobati Luka Hati</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5184" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Adakah Dokter Hati? (<a href="https://doctortoyou.com.au/best-cardiologist-in-sydney/">Doctor to You</a>)</figcaption></figure>



<p>Masing-masing orang punya caranya sendiri untuk mengobati luka hati. Tidak ada cara pasti untuk bisa membuatnya pulih seperti semula, tapi setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilakukan.</p>



<p>Sama seperti luka fisik, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab dari luka hati. Coba renungkan, apa yang menjadi akar permasalahannya. Ketika penyebabnya sudah ditemukan, barulah kita mencari obat yang tepat untuknya. </p>



<p>Mungkin yang paling penting dan bisa diterapkan di semua jenis luka hati adalah <em>mindset</em>. Kita harus berpikir kalau pasti ada sesuatu di balik luka ini yang akan membuat kita menjadi lebih tangguh. <em>Every cloud has a silver lining</em>.</p>



<p>Beberapa langkah pengobatan yang kerap dilakukan adalah pergi ke psikolog, mendekatkan diri kepada Tuhan, berdamai dengan masa lalu, minta tolong orang lain, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, dan lain sebagainya.</p>



<p>Ada yang mampu pulih dengan cepat, tapi ada yang butuh bertahun-tahun. Tidak masalah, masing-masing orang punya kemampuan yang berbeda dalam menghadapi luka.</p>



<p>Berbeda dengan luka fisik, kebanyakan luka hati tidak bisa disembuhkan orang lain. Kita sendiri yang harus bisa menemukan obatnya sendiri untuk menyembuhkan diri. Yakinlah kalau hati yang terluka ini suatu saat akan sembuh.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Penulis adalah tipe orang yang perasa dan sensitif, sehingga perasaan atau hatinya mudah terluka. Penulis pun melakukan interopeksi, mungkin memang Penulis saja yang <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/kelewat-baper-vs-bercanda-kelewatan/">terlalu <em>baperan</em></a>.</p>



<p>Yang jelas, kita tidak bisa menggantungkan diri ke orang lain untuk bisa mengobati luka hati. Butuh bantuan orang lain iya, tapi yang paling penting adalah dari kitanya sendiri, dari <em>mindset </em>kita sendiri yang ingin sembuh dari luka tersebut.</p>



<p>Memang tidak mudah. Penulis sendiri merasakan betapa susahnya mengobati luka hati yang berkelanjutan. Hanya saja, kita harus melanjutkan hidup. Jangan sampai luka hati menahan langkah kita ke depan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 6 Agustus 2021, terinspirasi setelah teringat salah satu adegan di serial <em>Naruto</em></p>



<p>Foto: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=iozA4dM3Jf0">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa/">Tidak Ada Darahnya, tapi Sakitnya Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/tidak-ada-darahnya-tapi-sakitnya-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sakit Bisa Datang dari Pikiran, Obatnya Juga Begitu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2021 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5055</guid>

					<description><![CDATA[<p>Satu-dua minggu terakhir, kesehatan Penulis tengah memburuk karena berbagai jenis penyakit. Bukan Covid-19, hanya komplikasi dari flu, meriang, sakit kepala, sedikit batuk, serta asam lambung. Dari dulu, Penulis memang rentan terkena penyakit-penyakit ringan. Untungnya, sembuhnya pun termasuk cepat dan mudah. Penulis jarang terkena penyakit yang mengharuskan dirinya pergi ke dokter dan memakan banyak obat. Oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/">Sakit Bisa Datang dari Pikiran, Obatnya Juga Begitu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Satu-dua minggu terakhir, kesehatan Penulis tengah memburuk karena berbagai jenis penyakit. Bukan Covid-19, hanya komplikasi dari flu, meriang, sakit kepala, sedikit batuk, serta asam lambung.</p>



<p>Dari dulu, Penulis memang rentan terkena penyakit-penyakit ringan. Untungnya, sembuhnya pun termasuk cepat dan mudah. Penulis jarang terkena penyakit yang mengharuskan dirinya pergi ke dokter dan memakan banyak obat.</p>



<p>Oleh karena itu, ketika Penulis memutuskan untuk pergi ke dokter seperti yang terakhir ini, artinya sakitnya juga cukup parah. Bahkan, mungkin ini rekor sakit terlama Penulis selama dewasa.</p>



<p>Hanya bisa terbaring lemah di atas kasur membuat Penulis banyak berpikir seminggu terakhir ini. Salah satunya adalah tentang bagaimana pikiran bisa membuat kita sakit, sekaligus menjadi obatnya.</p>





<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Semua orang yang kenal Penulis, walaupun tidak dekat, tahu kalau Penulis adalah tipe orang yang pemikir. Dari hal penting hingga yang remeh, semua dipikirkan.</p>



<p>Orang yang pemikir cenderung mudah terserang penyakit seperti sakit kepala dan asam lambung. Kemungkinan, Penulis pun bisa sakit lama seperti ini karena sedang ada pikiran yang mengganggu.</p>



<p>Pikiran yang stres juga bisa menurunkan imun tubuh kita. Maka dari itu, kita semua dianjurkan tetap berpikir positif selama pandemi ini agar tubuh kita bisa tetap sehat walau terkena virus tersebut.</p>



<p>Sakit itu datangnya bisa datang karena pikiran. Untungnya, obatnya juga bisa datang dari pikiran.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Ketika kita sakit, kita memiliki kecenderungan untuk meminum obat. Bisa beli sendiri di apotek, bisa melalui resep dokter. Bisa obat kimiawi, bisa juga obat herbal.</p>



<p>Hanya saja, obat-obat tersebut akan menjadi percuma jika tidak diiringi oleh <em>mindset </em>yang kuat. Kita harus bisa berpikir optimis kalau penyakit ini akan segera diangkat.</p>



<p>Kita harus bisa melawan penyakit yang datang dengan kekuatan pikiran kita. Iya, obat-obatan akan membantu, tapi semua yang kita telan akan menjadi percuma jika kita menolak untuk sembuh.</p>



<p>Jika pikiran bisa menimbulkan penyakit, maka pikiran pun juga bisa menjadi obatnya.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Sebagai orang yang kerap <em>overthinking</em>, sakit kepala hingga asam lambung sudah seperti makanan sehari-hari bagi Penulis. Maka dari itu, Penulis selalu sedia <em>Fresh Care </em>sebagai obatnya.</p>



<p>Hanya saja, <em>Fresh Care </em>semata tidak akan bisa mengobati sakit Penulis jika tidak diiringi <em>mindset </em>kalau Penulis akan sembuh. Terkadang sulit, tapi Penulis berusaha untuk bisa melakukannya.</p>



<p>Oleh karena itu, jika Pembaca juga tipe orang yang mudah sakit karena pikirannya, coba pelan-pelan dilawan dengan kekuatan pikiran. Tidak mudah, tapi bisa.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 17 Juli 2021, terinspirasi dari lamanya sakit yang baru saja terjadi pada dirinya</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@enginakyurt">engin akyurt</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/">Sakit Bisa Datang dari Pikiran, Obatnya Juga Begitu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/sakit-bisa-datang-dari-pikiran-obatnya-juga-begitu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
