<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pancasila Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pancasila/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pancasila/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jul 2018 01:38:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Pancasila Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pancasila/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Andai Indonesia Liberal</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2018 06:27:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[paham]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam. Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam.</p>
<p>Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru memahami bahwa apa yang membolehkan hal tersebut bukanlah agama, melainkan ideologi.</p>
<p>Pada tulisan <a href="http://whathefan.com/2018/02/28/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a>, penulis sudah menjabarkan definisi paham liberalisme. Secara singkat, penganut ideologi ini tidak ingin adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.</p>
<p>Apakah paham ini cocok di Indonesia? Jelas tidak sama sekali karena sila pertama kita berbunyi KETUHANAN YANG MAHA ESA. Selama kita berpegang teguh pada Pancasila, liberalisme tidak akan punya tempat di Indonesia.</p>
<p><strong>Sekarang mari kita berandai-andai jika Indonesia menjadi negara liberal, apa yang sekiranya akan terjadi?</strong></p>
<p>Mungkin para pembaca pernah melihat film <strong>3</strong> <strong>(Alif, Lam, Mim) </strong>yang sempat ditayangkan di bioskop. Pada film tersebut, diceritakan bahwa di masa depan terjadi revolusi yang mengakibatkan Pancasila direduksi menjadi Catursila dengan menghilangkan sila pertama.</p>
<p>Indonesia, pada film tersebut, menjadi negara liberal. Andai itu benar-benar terjadi, tanpa melihat film tersebut, mari kita urutkan hal-hal yang berpotensi terjadi.</p>
<p>Yang pertama, agama akan menjadi sesuatu yang ditakuti karena ia dianggap berpotensi mengekang kebebasan. Para penganutnya akan dicurigai sebagai orang-orang kolot yang menyukai terorisme. Mereka yang tak beragama merasa diri mereka yang paling benar karena tidak mau didikte oleh doktrin agama.</p>
<div id="attachment_951" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-951" class="size-full wp-image-951" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-951" class="wp-caption-text">Film 3 (http://style.tribunnews.com/2016/10/20/sinopsis-film-3-alif-lam-mim-sinema-yang-bakal-diputar-di-atlanta-asian-film-festival-2016)</p></div>
<p>Selanjutnya, pergaulan akan semakin bebas. Tidak ada lagi aturan yang membatasi mereka mau bergaul seperti apa. Mau punya anak di luar nikah pun bukan lagi menjadi hal yang memalukan. Mau nikah dengan sesama jenis hingga beda spesies pun dianggap hal yang lumrah.</p>
<p>Rasio bunuh diri akan meningkat karena masyarakatnya tidak mempunyai pegangan ketika dilanda depresi. Minuman keras sudah tidak mampu menghapus stres pada pikiran sehingga mereka memilih untuk menggantung lehernya.</p>
<p>Mana buktinya ketiga hal tersebut akan terjadi? Coba saja tengok negara-negara yang tidak menjadikan agama sebagai landasan bernegara, yang bangga karena bisa memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada warga negaranya.</p>
<p>Beruntunglah para pendiri bangsa ini sepakat menyantumkan sila KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai dasar ideologi bernegara. Sudah sepatutnya setiap warga negara bertindak dan berperilaku sebagaimana yang telah diajarkan oleh agamanya masing-masing, tanpa terpengaruh ideologi-ideologi lain yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 Juli 2018, terinspirasi setelah berdiskusi masalah pernikahan dengan Angela</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea">https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Haruskah Kita Mengatakan Saya Pancasila?</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/haruskah-kita-mengatakan-saya-pancasila/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/haruskah-kita-mengatakan-saya-pancasila/?noamp=mobile#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:33:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[ketuhanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=72</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah memang harus berkata SAYA PANCASILA untuk menunjukkan kita sudah berperilaku seperti yang tertuang pada Pancasila? Bagaimana jika itu hanya lips service saja, atau yang lebih parah hanya latah meniru? Bukankah munafik namanya, jika perkataan dan kenyataannya berbeda. Mengaku Saya Pancasila, tapi tidak melaksanakan perintah Tuhan. Padahal sila 1 adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Lucu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/haruskah-kita-mengatakan-saya-pancasila/">Haruskah Kita Mengatakan Saya Pancasila?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Apakah memang harus berkata SAYA PANCASILA untuk menunjukkan kita sudah berperilaku seperti yang tertuang pada Pancasila? Bagaimana jika itu hanya lips service saja, atau yang lebih parah hanya latah meniru? Bukankah munafik namanya, jika perkataan dan kenyataannya berbeda. Mengaku Saya Pancasila, tapi tidak melaksanakan perintah Tuhan. Padahal sila 1 adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Lucu kan? Padahal terdapat 5 sila yang tertulis.</div>
<div></div>
<div>Karena itu saya tidak berani mengatakan Saya Pancasila dan memasangnya sebagai profile picture, karena saya tidak yakin saya sudah mengamalkan kelima sila tersebut. Tapi insyaAllah, saya akan berusaha untuk bertindak dan bertutur seperti yang diamanatkan oleh Pancasila. Tidak perlulah koar-koar saya Pancasila, yang penting realisasinya di kehidupan bernegara.</div>
<div></div>
<div>Semoga saja saya salah, orang-orang yang memasang profil picture Saya Pancasila, terutama para artis, benar-benar sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang agung. Bukan hanya sekedar berkata kosong, apalagi untuk menyerang kelompok-kelompok yang dituduh secara tidak bertanggungjawab sebagai kelompok anti Pancasila.</div>
<div></div>
<div>
<p>Tulisan ini akan semakin panjang jika mendebat apakah tanggal 1 Juni merupakan kelahiran Pancasila, mengingat teks yang terdapat pada Pancasila sekarang diresmikan pada tanggal 18 Agustus 1945, yang merupakam revisi dari Piagam Jakarta. Namun memang benar, jika pada tanggal 1 Juni, bung Karno menyampaikan ide Pancasila meskipun isinya berbeda dengan Pancasila sekarang. Muhammad Yamin dan beberapa tokoh pun menyampaikan idenya sebelum giliran bung Karno bicara. Mana yang benar? Terserah Anda, yang penting jangan merasa paling benar lalu menuduh orang lain salah. Katanya kita negara demokratis bukan? Maka hargailah pendapat orang lain.</p>
</div>
<div>Sekian, terima kasih</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Lawang, 2 Juni 2017, ketika tiba-tiba banyak orang yang mengaku paling Pancasila</div>
<div>Sumber Foto: <a href="http://corporate.kimiafarmaapotek.co.id/entry/pekan-pancasila-saya-indonesia-saya-pancasila">http://corporate.kimiafarmaapotek.co.id/entry/pekan-pancasila-saya-indonesia-saya-pancasila</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/haruskah-kita-mengatakan-saya-pancasila/">Haruskah Kita Mengatakan Saya Pancasila?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/haruskah-kita-mengatakan-saya-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
