<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pria Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pria/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pria/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 Jan 2021 10:32:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pria Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pria/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>(Bukan) Pendengar yang Baik</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2018 17:46:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[mendengar]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=962</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selama ini penulis sering menganggap dirinya seorang pendengar yang baik. Ketika ada orang yang bercerita kepada penulis, penulis akan berusaha mendengarkannya sepenuh hati dan memberikan masukan-masukan yang penulis anggap cocok. Apalagi setelah membaca buku tulisan John C. Maxwell yang memaparkan beberapa tips agar bisa menjadi pendengar yang baik, penulis semakin besar kepala. Dalam buku yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/">(Bukan) Pendengar yang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini penulis sering menganggap dirinya seorang pendengar yang baik. Ketika ada orang yang bercerita kepada penulis, penulis akan berusaha mendengarkannya sepenuh hati dan memberikan masukan-masukan yang penulis anggap cocok.</p>
<p>Apalagi setelah membaca buku tulisan John C. Maxwell yang memaparkan beberapa tips agar bisa menjadi pendengar yang baik, penulis semakin besar kepala. Dalam buku yang penulis lupa judulnya, ada empat hal yang membantu kita menjadi pendengar yang baik:</p>
<ol>
<li><strong>Berfokus Pada</strong> <strong>Orangnya</strong>, dan tunggu hingga ia selesai bercerita</li>
<li><strong>Jangan Tutupi Telinga Anda</strong></li>
<li><strong>Dengarkan dengan Agresif</strong>, dengarkan dengan penuh perhatian</li>
<li><strong>Simaklah dengan Tujuan untuk Memahami</strong></li>
</ol>
<p>Ternyata itu semua salah besar! Setidaknya, ada yang salah dari cara penulis mendengar. Ini baru penulis sadari ketika membaca buku <em>Men are from Mars, Women are from Venus</em> karangan John Gray,terutama di bab 2.</p>
<p>Ketika ada wanita yang menceritakan permasalahannya, mereka <strong>tidak menginginkan</strong> <strong>solusi</strong><em>.</em> Mereka <strong>hanya ingin didengar</strong> dan mendapatkan<strong> empati yang tulus</strong> dari pendengarnya.</p>
<div id="attachment_964" style="width: 910px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-964" class="size-full wp-image-964" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_.jpg" alt="" width="900" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_.jpg 900w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/1.-Tunggulah-Hingga-Ia-Selesai-Bicara-via-www.huffingtonpost.com_-356x178.jpg 356w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><p id="caption-attachment-964" class="wp-caption-text">Beda Perlakuan (via www.huffingtonpost.com)</p></div>
<p>Pantas saja sewaktu ada teman perempuan penulis bercerita dan penulis berusaha menghadirkan solusi, ia justru semakin cemberut. Tentu penulis merasa bingung karena merasa tidak ada yang salah dengan solusi penulis.</p>
<p>Lain halnya jika yang bercerita pria. Karena berlandaskan logika, mereka bercerita dengan berharap akan adanya jawaban dari masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka ingin bertukarpikiran untuk membuka cakrawala pikiran mereka. Wanita tidak membutuhkan itu, kecuali jika mereka memang memintanya di awal sebelum bercerita.</p>
<p>Masalahnya, pria memang cenderung berorientasi pada penyelesaian masalah, sehingga setiap cerita yang ia dengar dianggap sedang mencari penyelesaian. Perbedaan inilah yang sering kali mengakibatkan pertikaian antara pria dan wanita.</p>
<p>Setelah mengetahui fakta ini, penulis berusaha menata ulang pola pikir penulis dalam mendengarkan orang lain berdasarkan gendernya. Menghadirkan solusi untuk pria, mendengarkan penuh empati untuk wanita.</p>
<p>Semoga saja tidak ada lagi perasaan sombong dalam diri penulis yang merasa dirinya pendengar yang baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 5 Juni 2018, terinspirasi setelah membaca buku <em>Men are from Mars, Women are from Venus</em></p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.theguardian.com">www.theguardian.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/">(Bukan) Pendengar yang Baik</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/bukan-pendengar-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cinta Tak Boleh Dipaksakan</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-boleh-dipaksakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-boleh-dipaksakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2018 02:01:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[keterpaksaan]]></category>
		<category><![CDATA[minta]]></category>
		<category><![CDATA[paksa]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pria]]></category>
		<category><![CDATA[tulus]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=923</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Kalau dipaksakan, namanya bukan cinta, tapi minta.&#8221; Gara-gara tamat membaca komik Nisekoi yang berjumlah 229 chapter, penulis jadi banyak merenungi kembali hakikat cinta. Apa itu cinta, kepada siapa ia layak diberikan, dan pertanyaan lainnya sering menjadi bahan pemikiran menjelang tidur. Salah satu yang mengganjal di pikiran penulis adalah cinta yang dipaksakan. Contohnya, ketika kita dipaksa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-boleh-dipaksakan/">Cinta Tak Boleh Dipaksakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Kalau dipaksakan, namanya bukan cinta, tapi minta.&#8221;</em></p>
<p>Gara-gara tamat membaca komik Nisekoi yang berjumlah 229 chapter, penulis jadi banyak merenungi kembali hakikat cinta. Apa itu cinta, kepada siapa ia layak diberikan, dan pertanyaan lainnya sering menjadi bahan pemikiran menjelang tidur.</p>
<p>Salah satu yang mengganjal di pikiran penulis adalah cinta yang dipaksakan. Contohnya, ketika kita dipaksa oleh pihak keluarga untuk menikahi calon yang telah mereka pilihkan. Latar belakang keluarga yang bersahaja bisa menjadi salah satu faktornya.</p>
<p>Apakah yang demikian selalu disebut pemaksaan? Belum tentu. Bisa jadi kita merasa srek dengan calon yang dipilihkan dan sama sekali tidak merasa dipaksakan oleh orangtua.</p>
<p>Yang namanya dipaksakan, berarti membutukan pihak yang merasa terpaksa. Entah salah satu atau malah kedua-duanya. Hubungan yang dipaksakan jarang sekali yang langgeng. Kalaupun langgeng, belum tentu mereka bahagia menjalani kehidupan yang seperti demikian.</p>
<p>Selain dari faktor eksternal, seperti contoh orangtua di atas, ada pula faktor internal yang dapat menimbulkan keterpaksaan dalam hubungan. Contoh, karena rasa iba ketika melihat seseorang jomblo mulai lahir menyatakan perasaannya, membuat kita terpaksa menerimanya. Atau contoh lain, karena butuh uang kita terpaksa menikah dengan kakek-kakek kaya.</p>
<p>Alasan-alasan yang menyebabkan keterpaksaan ini, apabila telah hilang, membuat hubungan pun akan terasa hampa. Bagaimana tidak, kita sudah tidak memiliki lagi alasan untuk membalas perasaan orang tersebut. Yang ada, hanya akan saling menyakiti diri satu sama lain.</p>
<p>Cinta memiliki keterkaitan yang erat dengan ketulusan. Penulis meyakini bahwa dalam mencintai seseorang, terutama lawan jenis, kita harus mencintainya karena Tuhan. Kita mencintainya karena ingin menjalankan perintah-Nya, menyempurnakan agama. Dengan niat yang demikian, insyaAllah ketulusan akan hadir dalam hubungan kita.</p>
<p>Oleh karena itu, cinta tak dapat dipaksakan. Ia mengalir begitu saja karena cinta hadir berkat petunjuk-Nya bagi yang meyakini. Cinta tak pernah dan tak akan hadir karena keterpaksaan. Ia bukan benda mati yang dapat diminta begitu saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 26 Juni 2018, terinspirasi setelah membaca komik Nisekoi</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.huffingtonpost.com/alicia-armeli-msed-msn-rdn-chlc/relief-for-depression-the_b_9595340.html">https://www.huffingtonpost.com/alicia-armeli-msed-msn-rdn-chlc/relief-for-depression-the_b_9595340.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-boleh-dipaksakan/">Cinta Tak Boleh Dipaksakan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/cinta-tak-boleh-dipaksakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
