<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rocky Gerung Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/rocky-gerung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/rocky-gerung/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Jul 2019 00:08:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Rocky Gerung Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/rocky-gerung/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setitik Debu di Ujung Sepatumu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/setitik-debu-di-ujung-sepatumu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/setitik-debu-di-ujung-sepatumu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2018 11:00:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Budiman Sudjatmiko]]></category>
		<category><![CDATA[cibiran]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[lawan]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1656</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau boleh jujur, penulis jarang merasa bisa menemukan sosok yang kalimatnya menginspiratif dari kubu pendukung petahana. Yang selama ini sering tampil di media massa adalah orang-orang seperti Poltak si Raja Medan (yang sekarang sepertinya sudah jarang muncul). Akan tetapi, sekarang penulis sudah menemukannya pada sosok Budiman Sudjatmiko, seorang aktivis yang gencar mengirimkan kritik ketika Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/setitik-debu-di-ujung-sepatumu/">Setitik Debu di Ujung Sepatumu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau boleh jujur, penulis jarang merasa bisa menemukan sosok yang kalimatnya menginspiratif dari kubu pendukung petahana. Yang selama ini sering tampil di media massa adalah orang-orang seperti Poltak si Raja Medan (yang sekarang sepertinya sudah jarang muncul).</p>
<p>Akan tetapi, sekarang penulis sudah menemukannya pada sosok <strong>Budiman Sudjatmiko</strong>, seorang aktivis yang gencar mengirimkan kritik ketika Indonesia masih dikuasai oleh rezim Orde Baru hingga beberapa kali masuk penjara.</p>
<div id="attachment_1658" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1658" class="size-large wp-image-1658" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/1587x1080_23a1afeb77867433a1dd77508fd550f72c2303bc-1024x697.jpg" alt="" width="1024" height="697" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/1587x1080_23a1afeb77867433a1dd77508fd550f72c2303bc-1024x697.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/1587x1080_23a1afeb77867433a1dd77508fd550f72c2303bc-300x204.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/1587x1080_23a1afeb77867433a1dd77508fd550f72c2303bc-768x523.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/1587x1080_23a1afeb77867433a1dd77508fd550f72c2303bc-356x242.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/1587x1080_23a1afeb77867433a1dd77508fd550f72c2303bc.jpg 1587w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1658" class="wp-caption-text">Budiman Sudjatmiko (beritagar.com)</p></div>
<p>Sewaktu menonton acara diskusi (atau debat?) di salah satu stasiun televisi swasta, ia dan <a href="http://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung</a> dihadirkan untuk membahas tentang &#8220;<strong>Riuh Intrik di Ruang Publik</strong>&#8221; menjelang pemilihan presiden tahun depan.</p>
<p>Menurut pendapat penulis sebagai pemirsa, diskusi tersebut cukup berimbang. Budiman dan Rocky memiliki kemampuan berargumen yang seimbang, sehingga tidak terlihat pincang sebelah.</p>
<p>Nah, ada kalimat bagus yang dilontarkan oleh Budiman ketika menjelang acara berakhir. Kurang lebih seperti ini:</p>
<blockquote><p>Orang-orang akan mempermasalahkan satu titik kecil debu di sepatumu, tanpa melihat berapa langkah yang sudah kamu tempuh sehingga kamu mendapatkan debu tersebut.</p></blockquote>
<p>Secara sederhana, penulis menerjemahkannya sebagai suatu ungkapan untuk menyadarkan kita bahwa ada orang-orang yang mempermasalahkan hal sepele tanpa menghiraukan jerih payah yang kita lakukan sebelumnya.</p>
<p>Contoh, orang mencibir kita sebagai orang yang boros ketika membeli sebuah jam tangan baru. Mereka tidak tahu bagaimana perjuangan kita membanting tulang agar mampu membeli jam tersebut.</p>
<p>Kebanyakan manusia hanya menilai dari luarnya saja tanpa melihat dalamnya. Mereka hanya melihat hasil tanpa mengetahui betapa panjangnya proses.</p>
<p><strong>Menghadapi Cibiran dan Fitnah</strong></p>
<p>Tenang, jika itu terjadi pada kita, hadapi dengan senyuman. Tidak usah menghiraukan suara-suara bising yang sama sekali tidak bermanfaat untuk kita. Lebih baik fokus memberikan yang terbaik dalam hidup kita, baik dalam keseharian, pendidikan, maupun dunia kerja.</p>
<p>Akan selalu ada orang-orang yang tidak menyukai keberhasilan kita, dan itu wajar. Kita harus membiasakan diri menghadapi segala bentuk kedengkian yang ditujukan kepada kita.</p>
<p>Bagaimana jika bentuk iri tersebut menjurus kepada perbuatan yang mencelakakan kita? Nah, <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/belajar-waspada-dari-punahnya-burung-dodo/">ini yang perlu kita waspadai</a>. Bisa saja ada orang yang ingin menjatuhkan kita dengan menyebarkan fitnah yang terstruktur, seperti banyak yang terjadi saat ini.</p>
<div id="attachment_1657" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1657" class="size-large wp-image-1657" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/val-vesa-607987-unsplash-1024x717.jpg" alt="" width="1024" height="717" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/val-vesa-607987-unsplash-1024x717.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/val-vesa-607987-unsplash-300x210.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/val-vesa-607987-unsplash-768x538.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/val-vesa-607987-unsplash-356x249.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/val-vesa-607987-unsplash.jpg 1428w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1657" class="wp-caption-text">Photo by Val Vesa on Unsplash</p></div>
<p>Kita perlu mengetahui siapa kawan siapa lawan. Kawan untuk membela kita, sedangkan lawan kita perlukan untuk dijadikan kawan kita. Lo kok begitu? Karena siapa <em>sih </em>yang ingin punya musuh di dalam hidupnya? Mungkin ada, tapi mayoritas manusia menghindari hal tersebut.</p>
<p>Coba kita ajak diskusi &#8220;lawan&#8221; yang tidak menyukai kita tersebut. Kita coba berikan penjelasan terbaik atau menanyakan apa alasan mereka tidak menyukai kita. Jika ia menjawab, jadikan hal tersebut sebagai masukan untuk kehidupan kita, jangan tersinggung.</p>
<p>Kalau memang orang tersebut hanya murni membenci kita hanya karena rasa dengki tanpa bisa disadarkan, ya sudah jauhi orang-orang seperti itu. Buatlah hubungan baik dengan orang lain agar kita memiliki banyak kawan yang bersedia membantu kita di kala susah.</p>
<div id="attachment_1659" style="width: 985px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1659" class="wp-image-1659 size-full" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/jorge-saavedra-716885-unsplash.jpg" alt="" width="975" height="622" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/jorge-saavedra-716885-unsplash.jpg 975w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/jorge-saavedra-716885-unsplash-300x191.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/jorge-saavedra-716885-unsplash-768x490.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/11/jorge-saavedra-716885-unsplash-356x227.jpg 356w" sizes="(max-width: 975px) 100vw, 975px" /><p id="caption-attachment-1659" class="wp-caption-text">Photo by Jorge Saavedra on Unsplash</p></div>
<p>Seperti pada tulisan penulis yang berjudul &#8220;<a href="http://whathefan.com/renungan/untuk-apa-kita-ada/">Untuk Apa Kita Ada?</a>&#8220;, penulis mengajak semua pembaca untuk fokus berbuat baik selama masih diberi hidup. Alasan eksistensi kita di dunia ini adalah berlomba pada kebaikan, bukan berlomba pada keburukan.</p>
<p>Jadi, jika kita masih dikelilingi orang-orang yang mencibir pencapaian kita, abaikan. Jika mendapatkan fitnah yang menjatuhkan, hadapi dengan bantuan kawan-kawan yang setia. Jika kita masih memiliki lawan, ubahlah menjadi kawan.</p>
<p>Akan selalu ada orang yang akan membicarakan <strong>setitik debu di ujung sepatumu</strong>, tanpa bertanya berapa langkah yang sudah kamu tempuh hingga bisa mendapatkan debu tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 November 2018, terinspirasi dari sebuah <em>quote </em>dari Budiman Sudjatmiko</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/WlB8TsI_th0?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Radek Skrzypczak</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/shoes?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/setitik-debu-di-ujung-sepatumu/">Setitik Debu di Ujung Sepatumu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/setitik-debu-di-ujung-sepatumu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Politisasi Terorisme</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 May 2018 04:19:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[#kamitidaktakut]]></category>
		<category><![CDATA[Fahri Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[politisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[Ruhut Sitompul]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di tengah badai bencana yang mengguncang Indonesia, masih saja ada orang-orang yang mempolitisasi kejadian ini demi keuntungannya sendiri. Ada yang dari kubu pro-pemerintah ada yang dari kubu oposisi, sama saja. Berikut tweet dari Ruhut Sitompul yang terkenal sebagai loyalis presiden Jokowi. Apa perlu mengaitkan kejadian yang mengoreskan luka bangsa Indonesia ini dengan Jokowi 2 periode? Terserah bapak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/">Politisasi Terorisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah badai bencana yang mengguncang Indonesia, masih saja ada orang-orang yang mempolitisasi kejadian ini demi keuntungannya sendiri. Ada yang dari kubu pro-pemerintah ada yang dari kubu oposisi, sama saja.</p>
<p>Berikut <em>tweet </em>dari Ruhut Sitompul yang terkenal sebagai loyalis presiden Jokowi.</p>
<div id="attachment_753" style="width: 863px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-753" class="wp-image-753 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-853x1024.jpg" alt="" width="853" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-853x1024.jpg 853w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-250x300.jpg 250w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-768x922.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1-213x255.jpg 213w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/DdH1AmLU8AAiHPP-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 853px) 100vw, 853px" /><p id="caption-attachment-753" class="wp-caption-text">Tweet Ruhut Sitompul (www.twitter.com)</p></div>
<p>Apa perlu mengaitkan kejadian yang mengoreskan luka bangsa Indonesia ini dengan Jokowi 2 periode? Terserah bapak jika mati-matian ingin mendukung Jokowi 2 periode, tapi memanfaatkan bom Surabaya untuk meraup simpati jelas merugikan bapak sendiri. Masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilah mana yang baik mana yang buruk.</p>
<p>Dari pihak oposisi, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon pun memanfaatkan kejadian ini untuk menyerang pemerintahan. Berikut tweet dari Fahri Hamzah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_754" style="width: 793px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-754" class="size-full wp-image-754" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828.jpg" alt="" width="783" height="682" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828.jpg 783w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-300x261.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-768x669.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_104828-293x255.jpg 293w" sizes="(max-width: 783px) 100vw, 783px" /><p id="caption-attachment-754" class="wp-caption-text">Tweet Fahri Hamzah (www.twitter.com)</p></div>
<p>Mungkin <em>tweet </em>tersebut merupakan kritikan bung Fahri terhadap pemerintah yang seringkali menyudutkan agama tertentu sehingga terciptalah iklim yang tidak kondusif antar umat beragama. Tetap saja, menyebutkan itu ketika suasana duka rasanya kurang bijak dan dapat menyakiti beberapa pihak.</p>
<p><strong>Saling Lempar Tanggung Jawab</strong></p>
<p>Lucunya, berbagai elemen yang ada di Indonesia saling melempar tudingan terkait penyebab terjadinya aksi teror tersebut. Beberapa menuduh DPR lama sekali menyelesaikan revisi UU Terorisme, tidak seperti RUU MD3 yang kilat.</p>
<p>Pihak DPR mengelak, dengan mengatakan bahwa pemerintah lah yang sering mengulur penyelesaian RUU Terorisme. Yasonna Laoly sebagai Menhunkam mengelak fakta tersebut dan balik menyalahkan DPR. Presiden Jokowi menyatakan bahwa akan membuat Perppu apabila hingga bulan Juni RUU Terorisme belum rampung juga.</p>
<p>Menurut penulis, revisi UU Terorisme bukan solusi dari permasalahan teror ini. Bukankah selama ini pihak kepolisian telah menangkap banyak sekali pelaku terorisme, termasuk bom panci yang sempat ramai. Lalu, mengapa revisi undang-undang yang disalahkan, jika dengan undang-undang yang lama bisa digunakan untuk sementara waktu.</p>
<p>Ada juga yang menyalahkan pihak polisi dan intelijen, kenapa bisa bobol berkali-kali dalam rentang waktu yang dekat? Bukankah biasanya mereka dapat meringkus terduga teroris dengan sigap? Apa karena sang teroris kali ini terlalu lihai sehingga dapat melewati celah-celah keamanan? Jelas, para aparat keamanan negara mendapatkan tekanan yang cukup tinggi dari masyarakat.</p>
<p>Rocky Gerung mengungkapkan permasalahan ini pada <em>twitter</em>-nya.</p>
<div id="attachment_757" style="width: 796px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-757" class="size-full wp-image-757" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113.jpg" alt="" width="786" height="378" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113.jpg 786w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-300x144.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-768x369.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-16_111113-356x171.jpg 356w" sizes="(max-width: 786px) 100vw, 786px" /><p id="caption-attachment-757" class="wp-caption-text">Tweet Rocky Gerung (www.twitter.com)</p></div>
<p><strong>#KAMITIDAKTAKUT</strong></p>
<p>Di luar mencari siapa yang salah, masyarakat menyatakan keberaniannya dengan menggunakan hashtag <strong>#kamitidaktakut</strong>. Tidak salah, namun apakah penggunaan hashtag di media sosial efektif menjadi solusi dari permasalahan yang ada? Bisa jadi, setidaknya hashtag tersebut digunakan untuk menguatkan satu sama lain.</p>
<p>Hanya saja, kita perlu mencari solusi yang lebih aplikatif di lapangan. Penulis sendiri belum tahu solusi apa yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini, mungkin hanya sekedar waspada dan segera melapor jika melihat orang yang mencurigakan.</p>
<p>Banyak yang berspekulasi bahwa rentetan kejadian ini memiliki sesuatu yang lebih besar daripada yang nampak di permukaan. Ada yang mengatakan pengalihan isu, ada yang mengatakan ingin mengadu domba, ada yang mengatakan penghancuran Islam dari dalam, macam-macam.</p>
<p>Semoga saja segala prasangka tersebut salah, meskipun kita harus tetap waspada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 16 Mei 2018, setelah membaca <em>tweet </em>dari beberapa pejabat publik.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://www.portal-islam.id/2016/08/antara-ruhut-sitompul-dan-fahri-hamzah.html">http://www.portal-islam.id/2016/08/antara-ruhut-sitompul-dan-fahri-hamzah.html</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/">Politisasi Terorisme</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/politisasi-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 May 2018 15:05:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[bong]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ILC]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=664</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya. Siapa Rocky Gerung? Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tokoh yang satu ini sedang hangat dibicarakan karena salah satu pernyataan kontroversialnya. Di tulisan ini penulis tidak ingin mengemukakan pendapat tentang pernyataan tersebut, melainkan sedikit membahas tentang profil Rocky Gerung (RG) dan aktivitasnya di dunia maya.</p>
<p><strong>Siapa Rocky Gerung?</strong></p>
<p>Pertama kali penulis tahu tentang RG adalah ketika beliau menjadi narasumber di Indonesia Lawyers Club (ILC). Penulis mengingatnya karena keberaniannya berbicara lantang terhadap kinerja pemerintah.</p>
<p>Bahkan, netizen pun sampai khawatir bahwa RG akan bernasib sama dengan Hermansyah, ahli IT yang mengungkap fakta bahwa <em>screenshot </em>yang membuat Habib Rizieq Shihab terkena kasus chat mesum adalah rekayasa. Untunglah, sampai hari ini kekhawatiran itu tidak terjadi.</p>
<p>Setelah itu, RG kerap menjadi narasumber, hampir di setiap episode ILC. Tentu penulis menjadi penasaran, sebenarnya siapa beliau sehingga mampu mengeluarkan kosa kata yang berat-berat.</p>
<div id="attachment_668" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-668" class="size-full wp-image-668" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/rocky-gerung_20180423_141254-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-668" class="wp-caption-text">Narasumber ILC (http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/03/pks-dihina-usai-undang-dirinya-rocky-gerung-serendah-inikah-politik-hari-ini)</p></div>
<p>Ternyata, RG adalah (mantan) dosen filsafat di Universitas Indonesia. Artis cantik Dian Sastrowardoyo merupakan murid bimbingannya. Dari berbagai sumber yang penulis baca, RG tidak pernah melamar di UI, justru UI yang meminta RG mengajar, termasuk jenjang Magister dan Doktor. Padahal, RG sendiri hanya lulusan tingkat Sarjana.</p>
<p>Ajaib? Tanya ke UI, begitu kata beliau. Dari beberapa testimoni, mereka menyebutkan RG memang sosok yang cerdas cenderung arogan ketika berdiskusi. Itu memang <em>style-</em>nya.</p>
<p><strong>Dungu dan Bong200</strong></p>
<p>RG hanya aktif di Twitter, dan banyak cuit-cuitannya yang memantik kemarahan orang. Salah satunya ya penggunaan kata dungu yang sering ditujukan kepada orang lain.</p>
<p>Sebenarnya, kata dungu tersebut bukan ditujukan kepada orangnya, melainkan cara berpikir atau bernalar orang tersebut. Hanya saja, mungkin sebagian besar orang menganggap dungu itu sama kasarnya dengan bodoh, dan tidak ada orang yang senang dipanggil bodoh.</p>
<div id="attachment_669" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-669" class="size-full wp-image-669" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg" alt="" width="800" height="471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758.jpg 800w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-300x177.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-768x452.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/2018-05-04_215758-356x210.jpg 356w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-669" class="wp-caption-text">Contoh Tweet RG (twitter.com)</p></div>
<p>Selain itu, RG juga kerap kali menggunakan istilah bong. Sebenarnya penulis tahu siapa yang dimaksud dan penyebab panggilan tersebut. Hanya saja, rasanya kurang etis untuk dijadikan bahan tulisan. 200? <em>You know lah</em>, sudah banyak yang membahas ini di media sosial. Yang terbaru, kini ada istilah <strong>KALABONG</strong>, persilangan antara kalajengking dan katak. Yang ini jelas termasuk fiktif.</p>
<p>Banyak yang mengkritik kasarnya bahasa yang RG gunakan dalam <em>tweet-tweet </em>yang ia ketik, namun kembali lagi, itulah gayanya. Setidaknya, ia mengakui bahwa itu merupakan <em>tweet</em>-nya dalam salah satu acara stasiun televisi swasta, tidak seperti politikus partai baru yang berkelit-kelit ketika ditanya hal serupa.</p>
<p><strong>Profesor Tanpa Gelar</strong></p>
<p>Netizen yang kontra terhadap RG, sering menyerang label profesor yang sering disematkan kepada RG (biasa dilakukan oleh netizen yang tidak mampu membalas argumen RG). Jujur, penulis sebenarnya tertawa tipis saja ketika mengetahui hal tersebut.</p>
<p>Pertama, RG tidak pernah ingin dipanggil profesor. Penulis ingat sekali ketika di acara ILC yang agak lama, dengan lugas RG berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebenarnya saya bukan prof, bukan tidak bisa tapi tidak butuh</em>.&#8221;</p>
<div id="attachment_667" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-667" class="size-full wp-image-667" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg" alt="" width="640" height="372" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-300x174.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/GErung-356x207.jpg 356w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-667" class="wp-caption-text">Profesor Tanpa Gelar (http://pepnews.com/2018/04/15/tentang-fiksi-nya-rocky-gerung-dan-perbatasan-kamus/)</p></div>
<p>Terkesan arogan? Iya memang, tapi lagi-lagi, itulah gaya seorang RG. Lantas mengapa ia bisa dipanggil seperti itu? Mungkin karena orang mengagumi kecerdasannya, mengagumi nalar berpikirnya yang (mungkin) mengalahkan profesor sungguhan. Intinya, profesor merupakan sebutan untuk menghormati RG.</p>
<p>Satu yang pasti, penulis merasa bertambah cerdas ketika mendengar RG berbicara maupun membaca <em>tweet</em>-nya yang menggelitik, walaupun tidak memahami seluruhnya apa yang disampaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Mei 2018, terinspirasi ketika <em>stalking </em>twitter Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi">https://www.viva.co.id/berita/nasional/1025209-rocky-gerung-kitab-suci-adalah-fiksi</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/">Rocky Gerung: Profesor Tanpa Gelar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/rocky-gerung-profesor-tanpa-gelar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kedunguan dalam Berdebat</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2018 02:26:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[argumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[dungu]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kedunguan]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=627</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam tweet-tweetnya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna: sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kata dungu akhir-akhir ini menjadi populer sekaligus kontroversi karena sering digunakan oleh Rocky Gerung dalam <em>tweet-tweet</em>nya. Orang-orang yang merasa tudingan dungu ditujukan kepada dirinya tentu merasa marah, meskipun dungu di sini dimaksud dalam kemampuan bernalar, bukan dungu secara personal.</p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata dungu memiliki makna:</p>
<p style="text-align: center;"><em>sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh;</em></p>
<p>Sedangkan kedunguan sama dengan kebodohan atau kebebalan. Kebodohan memiliki arti sifat-sifat bodoh atau ketidaktahuan. Jadi, judul di atas ingin menyampaikan tentang sifat-sifat bodoh yang dilakukan orang ketika berdebat.</p>
<p>Banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai kedunguan dalam berdebat, sebut saja menyebut data hoax. Namun pada tulisan kali ini, penulis hanya ingin menekankan satu perbuatan yang menurut penulis paling dungu di antara kedunguan lainnya.</p>
<p>Menyerang personal ketika kalah berdebat.</p>
<p>Hal ini kerap terjadi kepada orang-orang yang sudah tidak memiliki argumentasi dalam konteks perdebatan. Semua perkataannya telah dipatahkan oleh lawan debatnya, sehingga ia memutuskan untuk menyerang secara pribadi, baik fisik maupun psikis.</p>
<p>Biasanya, orang-orang seperti ini adalah tipikal orang yang tidak mau kalah meskipun salah.</p>
<p>Sebagai contoh, karena tidak memahami ucapan lawan bicaranya, ia mengalihkan pembicaraan:</p>
<p><em>&#8220;Masa wajah jelek kayak gitu bisa mimpin.&#8221;</em></p>
<p>Atau</p>
<p><em>&#8220;Pasti dia anak haram, makanya kelakuannya seperti itu.</em>&#8221;</p>
<p>Mungkin jenis-jenis kalimat seperti di atas jarang keluar di televisi. Akan tetapi, coba cek di media sosial. Astaga, benar-benar menyedihkan. Sedemikian dangkal pola pemikiran kita sehingga yang bisa kita lakukan hanya menyerang tanpa bisa mendebat konteks perbincangan.</p>
<p>Idealnya, kita menghargai lawan debat kita dan mengakui apabila argumen kita kalah dengan miliknya. Sayang, kedewasaan berdebat masih menjadi barang yang langka di negara ini. Atau, bahkan di dunia sekalipun?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 13 April 2018, terinspirasi setelah membaca linimasa twitter milik Rocky Gerung</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://vancouverdebate.ca/">https://vancouverdebate.ca/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/">Kedunguan dalam Berdebat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/kedunguan-dalam-berdebat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
