<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rolf Dobelli Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/rolf-dobelli/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/rolf-dobelli/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2023 13:05:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Rolf Dobelli Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/rolf-dobelli/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Setelah Membaca The Art of the Good Life</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2023 15:54:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Rolf Dobelli]]></category>
		<category><![CDATA[stoik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6194</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama Dibacain, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton. Nah, di seri Dibacain yang ke-14, buku yang ia ulas adalah The Art of the Good Life karya Robert Dobelli. Buku ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kanal YouTube yang Penulis sukai adalah milik Fellexandro Ruby. Alasannya, ia memiliki semacam &#8220;rubrik&#8221; bernama <em>Dibacain</em>, di mana ia akan mengupas buku yang telah ia baca dan menyampaikan intisarinya kepada penonton.</p>



<p>Nah, di seri <em>Dibacain </em>yang ke-14, buku yang ia ulas adalah <em><strong>The Art of the Good Life</strong></em> karya <strong>Robert Dobelli</strong>. Buku ini banyak membahas mengenai bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa perlu memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.</p>



<p>Karena tertarik, Penulis pun jadi ingin membeli buku ini dan menyelami lebih dalam tentang apa yang sebenarnya butuh diraih dalam mencapai hidup tenteram, seperti yang dijabarkan oleh buku ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list"><li>Judul: <em>The Art of the Good Life: Filosofi Hidup Klasik untuk Abad Ke-21</em></li><li>Penulis: Robert Dobelli</li><li>Penerbit: KPG</li><li>Cetakan: Keempat</li><li>Tanggal Terbit: Desember 2021</li><li>Tebal: 319 halaman</li><li>ISBN: 9781473667488</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Dalam kehidupan yang makin kompleks dan penuh dengan hiruk pikuk, baik di dunia nyata maupun dunia maya, menjalani hidup dengan tenang dan tentram telah menjadi banyak tujuan manusia modern.</p>



<p>Berlandaskan hal tersebut, banyak orang yang kembali menoleh ke filosofi <em>stoicism </em>atau stoik dari Yunani Kuno. Sudah banyak buku yang membahas mengenai hal ini, seperti <em><a href="https://whathefan.com/buku/dikotomi-kendali-pada-filosofi-teras/">Filosofi Teras</a></em> dan buku <em>The Art of the Good Life </em>ini.</p>



<p>Buku ini memilki 52 bab yang masing-masing memiliki topiknya masing-masing, tetapi masih dalam lingkup &#8220;kunci hidup tenteram&#8221;. Setiap babnya pendek saja, sekitar lima halaman. Pembaca buku ini bisa memilih mau membacanya secara berurutan maupun lompat-lompat.</p>



<p>Sebagai buku yang menggunakan stoik sebagai landasannya, banyak bab di buku ini yang mengajak kita untuk berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan, atau istilahnya adalah dikotomi kendali.</p>



<p>Hal ini memang masuk akal, apalagi bagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/hari-hari-kaum-overthinker/">orang yang kerap <em>overthinking</em></a><em> </em>seperti Penulis. Dengan menyadari ada banyak hal yang tidak bisa kendalikan dalam hidup, niscaya kehidupan pun akan terasa lebih tenang.</p>



<p>Selain itu, setiap bab juga memiliki judul yang jika dibaca sekilas tidak terlihat dengan jelas topik atau argumen apa yang akan dibawakan. Untungnya, ada keterangan di bawah judul bab sehingga kita akan selalu memiliki gambaran tentang bab tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Art of the Good Life</h2>



<p>Sebagai orang yang menyukai buku bertema stoik, Penulis cukup menikmati buku <em>The Art of the Good Life </em>ini. Dengan panjang babnya yang cuma berkisar lima halaman, buku ini cocok dibaca sebagai selingan dari rutinitas hariannya.</p>



<p>Hanya saja, entah mengapa Penulis merasa tidak banyak isi buku ini yang <em>nyantol </em>di kepalanya. Karena sudah menamatkannya beberapa bulan lalu, Penulis sudah tidak terlalu ingat dengan isinya. Artinya, isinya memang tidak terlalu mengesankan.</p>



<p>Mungkin itu juga terjadi karena Penulis sudah membaca beberapa buku yang juga bermuara dari konsep stoik. Setidaknya, buku ini hadir sebagai pengingat atas ilmu-ilmu stoik yang mungkin sudah Penulis lupakan.</p>



<p>Sebenarnya bahasa yang digunakan oleh Rolf Dobelli tidak terlalu berat. Hanya saja, memang ada bagian-bagian yang tidak cukup untuk dibaca sekali agar benar-benar memahami pesan apa yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis menyarankan kepada Pembaca untuk menonton video dari Fellexandro Ruby yang telah disinggu di awal untuk bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik lagi tentang buku ini. Jika setelah menonton video tersebut jadi yakin, Penulis merekomendasikan buku ini.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 3 Januari 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Art of the Good Life </em>karya Rolf Dobelli</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/">Setelah Membaca The Art of the Good Life</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-the-art-of-the-good-life/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
