<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>toleransi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/toleransi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/toleransi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2021 03:09:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>toleransi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/toleransi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Secangkir Toleransi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2020 14:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[perbedaan]]></category>
		<category><![CDATA[toleran]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa tahun terakhir, bisa dibilang kata yang paling sering diributkan adalah toleransi. Seringnya, keributan terjadi di akhir tahun. Pemicunya? Apalagi kalau bukan hukum umat muslim mengucapkan selamat natal ke umat nasrani. Penulis juga merasa heran, kenapa permasalahan ini muncul terus. Apa enggak capek bertengkar untuk hal yang sama setiap tahun? Tapi kali ini Penulis tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Beberapa tahun terakhir, bisa dibilang kata yang paling sering diributkan adalah<strong> toleransi</strong>. Seringnya, keributan terjadi di akhir tahun. Pemicunya? Apalagi kalau bukan hukum umat muslim <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">mengucapkan selamat natal</a> ke umat nasrani.</p>





<p>Penulis juga merasa heran, kenapa permasalahan ini muncul terus. Apa enggak capek bertengkar untuk hal yang sama setiap tahun?</p>
<p>Tapi kali ini Penulis tidak akan membahas tentang hukum mengucapkan selamat natal. Penulis ingin berfokus pada kata toleransi.</p>





<h3>Makna Toleransi</h3>



<p>Apa itu toleransi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi memiliki makna <strong>sifat atau sikap toleran</strong>. Lantas, makna dari kata toleran adalah:</p>
<blockquote>
<p><em>bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri</em></p>
</blockquote>
<p>Atau dalam bahasa sederhananya adalah dapat <strong>menghargai perbedaan</strong>, apapun bentuknya. Kita tidak menghakimi perbedaan yang diyakini atau dilakukan oleh orang lain.</p>
<p>Dalam konteks mengucapkan selamat natal, menurut Penulis toleransi bukan berarti semua umat muslim harus mengucapkannya. Toleransi lebih dari sekadar ucapan selamat.</p>
<p>Tidak perlu jauh-jauh, kita tilik dari sesama umat muslim terlebih dahulu. Ada ulama yang mengatakan tidak boleh mengucapkan selamat natal, ada yang membolehkan. Masing-masing memiliki dalilnya masing-masing.</p>
<p>Jika kita memang memiliki sikap toleran, kita akan saling menghargai pendapat masing-masing. Yang membolehkan tidak menghina yang melarang, begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Yang sering meributkan masalah ini sebenarnya umat muslim sendiri. <em>Mong</em> orang nasraninya sebenarnya pada <em>woles </em>mau dikasih selamat atau tidak.</p>



<h3>Analogi Secangkir Minuman</h3>



<p>Analogi toleransi yang paling mudah adalah pilihan minuman di sebuah kafe. Penulis menyukai secangkir teh, sedangkan teman Penulis menyukai secangkir kopi. Penulis tidak menyukai pahitnya kopi, sedangkan teman Penulis masih bisa menikmati hangatnya teh.</p>





<p>Toleransi itu, teman Penulis bisa menghargai Penulis yang hanya bisa minum teh. Teman Penulis tidak akan memaksa Penulis untuk meminum kopi yang bisa membuat Penulis sakit perut.</p>



<p>Sebaliknya pun seperti itu. Meskipun Penulis tidak menyukai kopi, Penulis tidak akan menghina-hina kopi sebagai minuman yang tidak enak. Penulis akan menghargai teman Penulis yang bisa menikmati kopi.</p>
<p>Bahkan sesama penikmat teh pun harus bisa saling menghargai pilihannya masing-masing. Yang suka <em>Earl Grey Tea </em>harus bisa menghargai orang yang suka <em>English Breakfast Tea</em>.</p>



<p>Begitu lah toleransi, <strong>bisa menghargai pilihan masing-masing tanpa berusaha menjatuhkan dan memaksakan pilihan kita ke orang lain</strong>.</p>
<p>Toleransi itu bukan mencampuradukkan teh dan kopi dan satu gelas. Rasanya tentu akan jadi tidak karuan, apalagi kalau mencampurnya dengan sembarangan.</p>



<h3>Penutup</h3>



<p>Entah sampai kapan polemik toleransi ini akan terus dipermasalahkan. Penulis berharap kita akan segera memiliki kesadaran kalau kita tidak bisa seperti ini terus.</p>
<p>

</p>
<p>Jika kita bisa hidup dengan saling menghargai pilihan masing-masing, toh kehidupan bernegara pun akan menjadi lebih damai dan tenang, kan?</p>
<p>Toleransi memang memiliki batasan-batasan tertentu, bisa berupa undang-undang, hukum agama, maupun adat istiadat.</p>
<p>Jika tiba-tiba ada agama baru yang tiba-tiba menjadikan idol Korea sebagai Tuhannya, tentu kita tidak bisa tinggal diam melihat kesesatan tersebut. Justru jika tidak mengingatkan kesalahan tersebut, kita bisa dianggap salah karena membiarkan sesuatu yang buruk terjadi.</p>
<p>Sebenarnya, negara kita ini sudah lama hidup berdampingan penuh toleransi, walau diakui masih banyak kasus-kasus yang tidak mencerminkan hal tersebut.</p>
<p>Entah mengapa akhir-akhir ini berubah menjadi seperti ini&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Desember 2020, terinspirasi karena kata toleransi kerap ramai dibicarakan menjelang akhir tahun</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@nate_dumlao">Nathan Dumlao</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/">Secangkir Toleransi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/secangkir-toleransi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Dec 2019 12:17:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3207</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal. Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu. Kejadian kecil [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sekitar jam 7 malam, salah seorang teman dari Karang Taruna bertanya kepada penulis secara sopan. Seperti yang sudah bisa ditebak, pertanyaannya adalah benarkah Islam melarang umatnya mengucapkan selamat natal.</p>
<p>Penulis pun berusaha menjawabnya sesuai dengan kemampuannya dan ia pun bisa menerimanya dengan baik. Diskusi lintas agama pun terjadi dengan hangat setelah itu.</p>
<p>Kejadian kecil tersebut memantik rasa penasaran penulis. Mengapa setiap tahun polemik mengucapkan selamat natal selalu menjadi biang keributan di masyarakat kita?</p>
<h3>Hukum Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Penulis tidak pernah belajar agama secara mendalam di sebuah pesantren ataupun mengikuti pengajian secara rutin. Paling banter jadi jamaah di YouTube.</p>
<p>Ketika ada sebuah pertanyaan yang membuat penulis penasaran, biasanya penulis akan mencari jawabannya melaui video-video di YouTube ataupun bertanya kepada teman yang ilmunya lebih tinggi dari penulis.</p>
<p>Salah satunya termasuk hukum mengucapkan selamat natal. Menulis mencoba untuk mendengarkan beberapa pendapat dari ustaz yang berbeda-beda.</p>
<p>Hasilnya? Secara garis besar pendapat memang terbagi dua, yang melarang dan membolehkan. Masing-masing memberikan dalil dari Alquran ataupun Hadis.</p>
<p>Bagi yang melarang, dalilnya adalah ketika kita mengucapkan selamat natal artinya umat Islam mengakui bahwa Yesus (atau Isa di Islam) lahir pada tanggal tersebut. Ini sudah masuk ke ranah <em>aqidah </em>sehingga tidak boleh diucapkan.</p>
<p>Bagi yang membolehkan, dalilnya adalah kewajiban kita untuk berbuat baik kepada seluruh manusia termasuk yang berbeda keyakinan. Kalau mau pakai logika, tidak mungkin kita mengucapkan selamat natal lantas kita menjadi kafir.</p>
<p>Dengan adanya dua pendapat yang berbeda, masyarakat harusnya diperkenankan untuk memilih mana yang paling mereka yakini benar. Hal ini juga sering terjadi misalnya pada penentuan hari raya Idul Fitri ataupun <em>qunut </em>saat sholat Shubuh.</p>
<p>Masalahnya, polemik ini seolah terus diulang di masyarakat tiap tahunnya tanpa bisa memetik pelajaran.</p>
<h3>Polemik Mengucapkan Selamat Natal</h3>
<p>Dalam menentukan sebuah hukum, para ustaz maupun ulama pasti memiliki dasar hukum yang berasal dari Alquran, Hadis, ataupun sumber-sumber lainnya.</p>
<p>Beliau-beliau ini tidak asal-asalan menentukan hukum, bukan juga karena sensi dengan agama lain. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menghormati mereka meskipun kita tidak sepakat dengan pendapatnya.</p>
<p>Sayangnya, yang penulis lihat justru sebaliknya. Contoh, ketika menonton video-video yang menjelaskan dasar hukum mengucapkan selamat natal, isi komentarnya justru menghujat yang sampai menyinggung ranah pribadi.</p>
<p>Mereka membalas argumen tersebut dengan menggunakan logika atau dasar kemanusiaan. Penulis ini ilmu agamanya masih rendah, tapi paham kalau yang namanya agama juga harus berdasarkan dalil, bukan logika manusia semata.</p>
<p>Sebaliknya pun seperti itu, sama saja. Tokoh-tokoh agama yang membolehkan pengucapan selamat natal ramai-ramai didoakan agar segera tobat. Emang, yang menyuruh tobat ini udah sesuci apa, sih?</p>
<p>Inilah yang penulis anggap menjadi penyebab mengapa polemik mengucapkan selamat natal selalu berulang setiap tahun: tidak adanya rasa saling menghargai satu sama lain.</p>
<h3>Perang Status di Dunia Maya</h3>
<p>Di dalam Islam, kita memang dianjurkan untuk menyiarkan Islam walaupun hanya satu ayat. Mungkin ini yang menjadi motivasi orang-orang gemar membuat status dengan ayat Alquran yang menjadi dasar pelarangan pengucapan selamat natal.</p>
<p>Hanya saja, menurut penulis hal tersebut kurang elok jika dilakukan di media sosial. Kalau di dalam internal Islam mungkin masih bisa diterima, tapi kan pengguna media sosial terdiri dari berbagai macam orang.</p>
<p>Bisa jadi, ada teman-teman kita yang Nasrani atau Katolik merasa tersinggung dengan status tersebut dan akibatnya terjadi perselisihan yang kurang mengenakan.</p>
<p>Kalau semacam MUI ataupun tokoh agama, tugas mereka memang meyiarkan ajaran agama Islam sehingga wajar jika mereka memberi tahu apa dasar hukum untuk suatu masalah tertentu.</p>
<p>Toh, kita nanti akan dimintai pertangungjawaban masing-masing mengenai pilihan yang kita yakini benar.</p>
<h3>Intoleran?</h3>
<p>Bagi yang meyakini boleh hukumnya mengucapkan selamat natal, juga jangan nge-<em>judge </em>orang Islam yang tidak berkenan mengucapkannya dengan sebutan tidak toleran. Mereka juga punya landasan hukum sendiri untuk tidak melakukannya.</p>
<p>Islam sendiri sangat toleran mengenai ibadah umat agama lain. Kita dilarang untuk mengganggu proses ibadah mereka. Kita diharamkan menghalang-halangi mereka untuk menjalankan keyakinannya.</p>
<p>Kita diwajibkan untuk menghargai mereka menjalani kegiatan-kegiatan keagamaan mereka. Kita juga dilarang memaksa kaum minoritas untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh kaum mayoritas. Ini adalah toleransi.</p>
<p>Memang pada kenyataannya, di Indonesia masih banyak kejadian intoleran di mana umat agama lain dihalang-halangi untuk melakukan ibadahnya. Ini menjadi PR untuk kita semua.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis sendiri sampai saat ini belum pernah mengucapkan selamat natal. Bukan karena tidak punya teman non-muslim, tapi memang lebih meyakini pendapat yang melarang.</p>
<p>Walaupun begitu, penulis menghargai mereka yang mengucapkan selamat natal. Penulis tidak akan mengafirkan orang lain seenak udelnya sendiri. Teman-teman penulis pun bisa memahami hal ini.</p>
<p>Intinya, yang merasa berat ya enggak usah mengucapkan. Yang merasa boleh-boleh saja ya silakan. Kalau kita bisa saling menghargai satu sama lain, niscaya negeri ini akan damai&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NB: Video ceramah para ustaz bisa ditonton melalui link yang ada di bawah ini</p>
<p>Melarang: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=bppyjYFep98">Buya Yahya</a>, <a href="https://youtu.be/8VUxdXMjiHc">Khalid Basalamah</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Pc6_NBi-Zz0">Syafiq Riza Basalamah</a>, <a href="https://youtu.be/51vrz_juupg">Adi Hidayat</a>, <a href="https://youtu.be/fqlt6VOwEgA">Felix Siauw</a>, <a href="https://youtu.be/Z5m3yxm1XUg">Abdul Somad</a></p>
<p>Membolehkan: <a href="https://youtu.be/MT8tG6PEZX4">Habib Ali Al-Jufri</a>, <a href="https://youtu.be/Z46TX9EOBAo">Quraish Shihab</a>, <a href="https://youtu.be/_IF9EwhBOQw">Gus Miftah</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Desember 2019, terinspirasi setelah salah seorang teman di Karang Taruna bertanya kepada penulis tentang hukum mengucapkan selamat Natal di Islam.</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@crisdinoto?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Cris DiNoto</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-mengucapkan-selamat-natal/">Polemik Mengucapkan Selamat Natal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
