<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ular Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ular/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ular/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Oct 2026 08:58:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>ular Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ular/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perempuan dengan Seekor Ular Besar di Kamarnya</title>
		<link>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 08:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[ular]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8936</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aku masih berdiri terpaku di balik pagar ini, entah sudah berapa lama. Rasanya baru kemarin aku berada di dalam rumah yang berada di baliknya. Mataku tertuju pada satu-satunya jendela yang menghadap ke arahku, berharap sosok perempuan itu menampakkan diri untuk sekadar menengok apakah aku masih berada di luar rumahnya atau justru telah memilih pergi. Semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/">Perempuan dengan Seekor Ular Besar di Kamarnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Aku masih berdiri terpaku di balik pagar ini, entah sudah berapa lama. Rasanya baru kemarin aku berada di dalam rumah yang berada di baliknya. Mataku tertuju pada satu-satunya jendela yang menghadap ke arahku, berharap sosok perempuan itu menampakkan diri untuk sekadar menengok apakah aku masih berada di luar rumahnya atau justru telah memilih pergi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua kejadiannya memang terjadi begitu cepat sekaligus aneh. Belum pernah aku merasakan sensasi-sensasi yang terasa nyata sekaligus tidak nyata dalam satu waktu. Jangan-jangan, rumah ini memang memiliki daya magis yang berhasil memikatku? Atau mungkin aku hanya bodoh saja karena memilih untuk berdiri di depan pagarnya selama berhari-hari?</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu pagi, beberapa waktu lalu yang tidak aku ingat tanggal pastinya, aku sedang berjalan kaki seperti biasa untuk menggerakkan badan. Pekerjaanku sebagai seorang penulis cerita membuatku harus duduk berjam-jam, sehingga kalau tidak diimbangi aktivitas fisik, badanku akan terasa sakit semua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itulah aku melewati rumah mungil yang dikelilingi oleh pagar tinggi ini. Pagarnya serupa dengan jeruji besi di penjara, sehingga aku bisa melihat apa yang ada di baliknya. Sejak awal, aku sudah menaruh perhatian terhadap rumah ini. Bentuk bangunan rumahnya bisa dibilang lucu dan ada kesan feminim yang kuat, tapi pagar yang mengelilinginya berwarna hitam pekat dengan ujung yang tajam seolah bisa digunakan sebagai tombak untuk berperang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara pagar dan bangunan tersebut, ada taman bunga mawar yang begitu indah. Warna merah dari kelopaknya seolah sang bunga sedang merona karena ada seseorang yang sedang memuji kecantikannya. Kuperhatikan tidak ada tanaman lain selain mawar. Aku sendiri sering mengejek mawar, yang terlihat cantik dari luar, tapi menyakitkan ketika kita menyentuh tangkainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tampak depan, rumah itu juga unik karena hanya memiliki satu daun pintu dan satu jendela. Lebar rumahnya hanya sekitar tiga meter kalau dilihat dari balik pagar, tapi entah mengapa aku memiliki <em>feeling </em>kalau isi rumah tersebut jauh lebih luas daripada yang terlihat. Jangan-jangan, bangunan utamanya justru ada di bawah tanah?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsentrasi pengamatanku langsung buyar karena terkejut mendengar suara pintu yang dibuka secara tiba-tiba. Dari balik pintu tersebut, keluarlah seorang perempuan berambut sebahu dengan ekspresi ketakutan. Air mata sudah hendak tumpah dari matanya, seolah hidupnya sedang terancam. Walau begitu, hal tersebut tidak menutupi kecantikan wajahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak butuh waktu lama sampai matanya menangkap keberadaanku yang sedang berada di luar pagarnya. Merasa ketahuan sedang mengamati rumahnya, aku pun segera bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, suaranya yang lirih dan gemetar berhasil menghentikan langkahku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tolong, tolong aku, ada ular besar di dalam kamarku, aku hampir mati diterkamnya!&#8221;</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jelas aku tidak memiliki pengalaman untuk menangkap seekor ular, apalagi jenis yang besar pula. Di sisi lain, tak mungkin aku mengabaikan permintaan seorang perempuan muda yang begitu ketakutan ini. Oleh karena itu, kuberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah tersebut tanpa modal senjata apa pun, karena aku tidak membawa apa-apa saat sedang berjalan kaki selain ponsel pintarku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kutanyakan kepadanya, apakah ada semacam senjata tajam atau minimal tongkat yang bisa digunakan untuk menghalau ular tersebut. Ia menjawab kalau tidak salah di gudang ada tongkat pramuka, tapi ia tidak berani mengambilnya sendirian. Kami pun berjalan berdua penuh waspada untuk mengambil tongkat tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata, benar dugaanku. Bangunan utama rumah ini terletak di bawah tanah. Di permukaan, hanya ada satu ruang tamu kecil dengan furnitur yang cukup minimalis. Hanya ada sofa dan beberapa kursi, serta meja pendek dan satu kabinet mungil. Jika menilai dari penampilannya sekilas, kursi-kursi ini tampak jarang digunakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami turun menyusuri tangga menuju ruang bawah tanah secara perlahan, waspada kalau-kalau ular besar tersebut hendak memberikan <em>surprise </em>kepada kami. Untungnya, tidak terlihat satu makhluk hidup pun maupun terdengar suara desisan. Perempuan tersebut mengatakan ia telah menutup rapat pintu kamarnya, sehingga kemungkinan besar ular tersebut tidak ke mana-mana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari tangga, kami berjalan ke arah belakang melewati lorong rumah yang cukup panjang. Jelas, arsitektur dari rumah ini sangat tidak biasa. Aku sudah mulai merasa curiga jangan-jangan ini sebuah jebakan dan perempuan ini hanya umpan. Nanti di balik ruangan yang katanya gudang, ternyata ada banyak laki-laki yang siap memutilasi tubuhku demi mendapatkan organ-organ tubuhku untuk dijual mahal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untunglah, semua kecemasan tersebut tidak terbukti. Sewaktu mencapai pintu paling belakang di sisi kanan yang ia sebut sebagai gudang, di baliknya memang benar-benar ada berbagai macam peralatan yang sudah selayaknya disimpan di gudang. Aku melihat sebuah tongkat pramuka bersandar di salah satu dinding, lalu mengambilnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan satu tarikan napas panjang, aku mempersiapkan diri untuk menghadapi ular besar di kamar perempuan ini.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum pernah aku melihat ular sebesar itu seumur hidup. Warna sisiknya kombinasi antara kuning cerah dan putih krem, dengan pola yang menyerupai bercak-bercak besar. Kepalanya berbentuk segitiga datar, dengan moncongnya yang agak melancip mengeluarkan lidah bercabang yang mengintimidasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bukan ahli ular tentu saja, tapi aku merasa kalau ular yang ada di hadapan kami ini merupakan jenis albino, apalagi kalau melihat warna matanya yang merah muda itu. Kami saling bertatapan mata, seperti dua petarung yang sedang mengukur kemampuan lawannya sebelum memulai perkelahian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perempuan itu bersembunyi di belakangku dengan sangat ketakutan. Ia menggenggam lenganku dengan sangat kuat sehingga aku merasa kesakitan. Walau begitu, harga diriku sebagai laki-laki tidak mengizinkanku untuk berteriak, apalagi adrenalinku sedang tinggi karena harus berhadapan dengan reptil yang sejujurnya terlihat indah di depanku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan tongkat pramuka di tanganku, aku mulai memasuki kamar tersebut dengan perlahan-lahan. Ular tersebut sedang berbaring di atas tempat tidur yang terletak di sudut kamar bagian dalam, sehingga ada ruang yang cukup untukku mengambil jarak. Sang perempuan tetap berada di belakangku, kepalanya ia sembunyikan di balik punggungku. Entah hanya perasaanku atau bukan, aku bisa merasakan napasnya menembus pakaianku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap aku melangkah, ular tersebut terus memperhatikanku. Tampaknya kehadiranku terasa sebagai ancaman untuknya. Tongkatku mulai kuarahkan kepadanya. Menurut pengetahuan dangkalku, biasanya ular yang berwujud seperti yang ada di hadapanku ini adalah tipe yang tidak berbisa, jadi aku hanya perlu jaga jarak agar tidak dililitnya. Kalaupun penilaianku salah, setidaknya aku mati dalam kondisi berusaha menolong seseorang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tongkat makin kugenggam erat, lalu kusodokkan ke arah ular tersebut. Aku mengarahkannya ke tubuh ular tersebut, karena merasa kalau menyerang kepalanya hanya akan membuat ular tersebut makin marah. Ular tersebut terlihat mulai terganggu, tapi pandangannya tak pernah lepas memandangku. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagiku, rasanya tak mungkin aku bisa membunuh ular tersebut, tapi setidaknya aku bisa mengusirnya dari rumah ini. Misi tersebut harus diawali dengan membuat ular tersebut keluar dari kamar ini. Miris sebenarnya, karena keberanian yang aku kumpulkan dari tadi ternyata hanya mampu membawaku berbuat hanya sejauh ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, hal tersebut pun gagal total. Sang ular justru semakin defensif dan pancaran dari wajahnya menunjukkan bahwa ia akan siap menyerang balik. Menyadari akan bahaya ini, aku pun menarik tongkatku dan berkata pada perempuan tersebut untuk segera keluar dari kamar untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">*** </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untunglah kita hidup di era di mana informasi begitu mudah dicari, termasuk bagaimana cara mengusir ular yang sedang sangat nyaman berada di atas kasur kita. Berdasarkan hasil &#8220;riset&#8221; singkat di ponsel pintarku, kami berdua memutuskan untuk menggunakan strategi baru. Ular tidak menyukai hawa dingin dan untunglah di kamar tersebut ada AC. Kami pun menyetelnya ke suhu 16 derajat Celcius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari balik celah pintu yang kami sisakan terbuka sedikit, kami bisa melihat kalau ular tersebut mulai merasa tidak nyaman dengan perubahan suhu yang mendadak tersebut. Karena kamar tersebut tidak memiliki ventilasi, pintu ini akan menjadi satu-satunya jalan keluar bagi sang ular.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benar saja, beberapa saat kemudian, kami bisa mendengar suara desisan yang semakin keras datang ke arah kami. Karena sama-sama takut, kami pun mengambil beberapa langkah mundur. Dari jarak sekitar lima meter, kami bisa melihat ular tersebut keluar dari kamar dan merayap menjauh membelakangi kami.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku benar-benar merasa tegang hingga rasanya tak sempat memikirkan hal lain. Seharusnya, aku menyiapkan perangkap lanjutan untuk menangkap ular tersebut dan membawanya keluar dari rumah ini. Sayangnya, aku seakan membeku melihat ular sebesar itu merayap dan menghilang dalam kegelapan.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, sang perempuan kini bisa masuk ke dalam kamarnya dengan tenang. Ia segera mengganti sepreinya. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, kamar ini tidak memiliki ventilasi, sehingga tidak ada celah-celah yang bisa membuat ular tersebut masuk kembali ke dalam kamar, kecuali sang perempuan lupa menutup pintunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami berdua pun duduk untuk melemaskan saraf-saraf kami yang tegang dari tadi. Ada semacam kursi sofa di kamar itu dan di sanalah kami berdua duduk. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali karena sudah membantu mengusir ular tersebut dari kamarnya. Aku mengingatkannya kalau ular itu belum benar-benar pergi, jadi sebaiknya kami tetap waspada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku juga sempat bertanya, bagaimana ular sebesar itu bisa masuk ke dalam kamarnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Entahlah, aku pun tak tahu, saat sedang <em>scrolling </em>sambil rebahan di atas kasur, tiba-tiba saja ia muncul dari arah pintu yang terbuka dan masuk ke dalam kamar. Karena panik, waktu itu aku langsung melompati ular tersebut, membanting pintu kamar, lalu berlari keluar rumah. Untunglah ada kamu yang sedang ada di depan rumahku. Omong-omong, sedang apa kamu di depan rumahku?&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sempat tersedak sedikit ketika disodori pertanyaan seperti itu. Rasanya seperti seorang pengutil yang ketahuan sedang mencuri barang. Walau begitu, aku berusaha menjawab sejujur mungkin dengan mengatakan bahwa aku tertarik dengan desain rumahnya. Rupanya jawaban jujurku tersebut bisa ia terima, lalu ia pun tersenyum dengan getir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku benar-benar merasa khawatir terhadap keadaan perempuan tersebut. Dengan ular yang masih berkeliaran di rumahnya, jelas ia akan kerap paranoid dan hidup penuh ketakutan. Aku pun menawarkan diri untuk berjaga di rumahnya untuk sementara waktu, sampai ular tersebut benar-benar pergi dari rumahnya. Ia menyetujui hal tersebut dan menawarkan kamar tamu yang terletak di dekat tangga untuk tempatku beristirahat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah mengapa sejak peristiwa ini dan bertemu dengan perempuan tersebut, aku seolah berhenti memikirkan hal lain, termasuk <em>deadline </em>novelku yang telah ditunggu oleh editor dan pihak penerbit. Panggilan telepon berkali-kali dari mereka sama sekali tak kuhiraukan.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama berada di rumah tersebut, aku kerap melakukan patroli untuk mencari di mana ular berwarna kuning-putih tersebut. Senjata andalanku tetap tongkat pramuka yang telah menemaniku sejak hari pertama, karena anehnya perempuan tersebut tidak memilih benda-benda tajam, bahkan sekadar <em>cutter</em>. Jangan berharap akan ada perkakas macam palu di rumah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesekali aku menengok keadaan sang perempuan, yang lebih sering berada di kamarnya. Aku belum tahu apa pekerjaannya atau bagaimana cara ia menyambung hidup, tapi aku tidak melihatnya kesulitan secara finansial. Sesekali ia keluar rumah (di mana aku mendampinginya hingga ia keluar dari pintu rumah) untuk belanja bahan masakan. Harus aku akui kalau masakannya cukup lezat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat sendirian di rumah tersebut, selain fokus mencari ular tersebut, aku kerap mengamati rumah unik miliknya ini. Rumah ini sejujurnya terkesan tidak ramah, apalagi ruang tamunya berukuran mungil dan tidak sebanding dengan besarnya bagian rumah yang ada di bawah tanah. Bahkan, kamar tamu yang kutempati pun terasa sempit dan kurang nyaman. Bisa jadi, perempuan itu memang tidak suka membuat tamunya betah untuk berlama-lama di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ingin sedikit mendeskripsikan bagaimana arsitektur interior rumah ini. Setelah menuruni tangga, kita akan melihat lorong panjang dengan banyak pintu di sisi kanan dan kirinya. Lorong ini hanya diterangi oleh lampu yang redup, sehingga untuk melihat sesuatu yang ada beberapa meter di depan kita pun terasa cukup sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pernah menghitung jumlah pintu yang ada di lorong ini, jumlahnya ada sekitar 14 pintu. Ada beberapa ruangan yang pernah aku masuki karena diberi izin, tapi lebih banyak pintu yang tetap menjadi misteri. Sebagai tamu, aku berusaha menghargai batasan tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sama seperti kamar milik sang perempuan, tidak ada ventilasi di kamarku. Bahkan kalau aku perhatikan, semua ruangan di rumah ini tidak memiliki ventilasi. Karena tidak ada ventilasi, artinya sebenarnya tidak banyak tempat bagi sang ular untuk bersembunyi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Anehnya, aku gagal menemukannya. Ruang yang benar-benar terbuka hanya ruang tamu, tapi tidak banyak tempat bersembunyi untuknya. Memang ada beberapa ruangan yang tidak aku masuki karena dilarang oleh sang perempuan, tapi ia bersikukuh kalau ruangan-ruangan itu belum pernah ia buka lagi sejak kemunculan ular tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat sedang duduk di ruang tamu sembari menunggu sang perempuan selesai belanja, aku pun jadi bertanya kepada diriku sendiri: Jika ular tersebut ternyata sudah keluar dari rumah ini, lantas apa alasanku untuk tetap tinggal di rumah ini?</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sudah lupa berapa lama tinggal di rumah ini. Kegiatan patroliku untuk mencari ular tersebut juga semakin berkurang. Anehnya, aku malah mulai merasa nyaman berada di rumah ini. Sang perempuan pun juga tak pernah sekalipun mengusirku secara terang-terangan maupun melalui kode-kode tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya ketika makan bersama, kami saling membagikan kisah kehidupan kami masing-masing. Ia bahkan berinisiatif untuk menceritakan tentang pekerjaannya sebagai <em>remote worker </em>di<em> sebuah perusahaan kesehatan di Amerika Serikat, bagaimana ia merupakan seorang introve</em>r parah (yang menjelaskan desain rumahnya yang unik), hingga hobinya menonton anime hingga berjam-jam ketika sedang punya waktu luang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami punya beberapa kemiripan, salah satunya adalah hobi membaca buku. Ia sempat mengajakku ke perpustakaan mininya (pintu nomor 4 di sisi kanan, persis sebelah kamarnya) dan menunjukkan beberapa koleksinya. Ia memberiku akses penuh ke perpustakaan tersebut, sehingga aku sering membaca buku di sela-sela patroliku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada satu waktu, kami sedang mengobrol di perpustakaan mengenai karya-karya Leila S. Chudori, yang kerap mengangkat topik kejahatan-kejahatan selama Orde Baru. Sejarah adalah salah satu topik favoritku, sehingga aku bisa menjawab beberapa pertanyaan kritis yang ia lontarkan dengan wajah serius yang menggemaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat aku menjelaskan berbagai hal yang menurutku sendiri sebenarnya membosankan untuk sebagian besar orang, ia justru tampak tertarik. Matanya terus menjaga kontak dengan mataku, sesekali ia mengangguk-angguk untuk menandakan ia paham apa yang sedang aku jelaskan. Jujur, aku benar-benar merasa baru kali ini ada orang yang mau mendengarkan <em>yapping</em>-ku sampai seperti ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat pembicaraan tersebut, ia tiba-tiba berteriak karena ular besar tersebut muncul di ambang pintu. Aku segera refleks membalikkan badan dan hendak melemparkan buku <em>Laut Bercerita </em>yang sedang kupegang, tapi kuurungkan karena aku tidak tega melempar karya orang lain. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku segera mencari benda lain untuk dilemparkan di perpustakaan tersebut, untunglah ada semacam bantal duduk. Kulemparkan bantal tersebut seperti Captain America melempar perisainya, dan ajaibnya, ular tersebut segera melarikan diri. Apa yang membuat ular tersebut kembali lagi setelah sekian lama menghilang? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ular tersebut tak terlihat lagi, aku segera berbalik badan untuk mengecek kondisi perempuan tersebut. Ia langsung mendekapkan dirinya di tubuhku sembari menangis keras-keras. Di sela-sela tangisnya, ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar takut dengan ular tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku yang belum pernah sedekat ini secara fisik dengan perempuan lain pun jadi merasa canggung, tapi naluriku mengatakan untuk menepuk punggungnya dengan lembut untuk membantu menenangkannya. Seumur hidupku, belum pernah aku merasa sebegitu dibutuhkan oleh orang lain sedalam ini, dan hal ini membuatku makin punya alasan untuk tetap tinggal di rumah ini entah sampai kapan. Aku benar-benar semakin merasa nyaman bersamanya.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah perasaanku atau bukan, seiring berjalannya waktu, lampu redup di lorong tersebut terasa lebih terang. Dari ujung lorong pun, kini aku bisa melihat di mana tangga menuju ruang tamu berada. Aku tak pernah melihat sang perempuan mengganti lampunya, jadi aku tidak bisa memahami apa yang membuat intensitas cahaya lampu-lampu ini berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain lampu, sesungguhnya aku kerap membantu sang perempuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak sanggup ia lakukan. Pipa bocor? Bisa kutangani. Air AC menetes terus? Tak sulit untuk memperbaikinya. Saluran WC mampet? Walau cukup sulit, tapi aku bisa mengatasinya dengan sedikit bantuannya. Intinya, banyak hal yang kulakukan untuk sang perempuan di rumah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami pun menjadi semakin dekat sekaligus lebih terbuka. Ia juga tertarik dengan pekerjaanku sebagai penulis, meskipun rasanya kini aku sudah masuk ke daftar pencarian orang hilang karena aku tak kunjung memberi kabar ke editor dan penerbitku. Aku benar-benar merasa terlalu nyaman di sini sehingga seolah tak memedulikan hal lain, yang penting aku bisa terus bersama perempuan yang telah memberikan rasa nyaman kepadaku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apakah ia juga merasa nyaman ketika berada di dekatku? Ataukah hubungan kami sebatas karena ia sedang membutuhkan perlindunganku dari ular tersebut? Jujur, aku sering merasa walau kami semakin dekat, tetap ada jarak yang ia pasang di antara kami. Terkadang aku merasa tergoda untuk menembus batasan tersebut, tapi aku selalu berhasil menahannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, kalau dari sisiku, rasa nyaman yang aku terima di rumah ini telah menimbulkan harapan untuk bisa tinggal di sini selamanya. Bukan sebagai pasangan tentu saja, tapi semacam <em>shared house </em>di mana aku akan membayar uang sewa kepadanya setiap bulan. Aku bisa meninggalkan apartemenku dan melanjutkan pekerjaan menulisku di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pun menyinggung hal ini ke perempuan tersebut ketika satu waktu kami berpapasan di lorong. Aku bahkan mengatakan rela untuk mengeluarkan uang sewa yang cukup tinggi di sini, dengan alasan aku merasa bisa mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis di sini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiba-tiba saja, lampu-lampu lorong kembali meredup seperti sedia kala. Ekspresinya yang tadinya cerah berubah menjadi dingin dalam sekejap. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya, tapi sorot matanya tajam seolah menyiratkan kalau aku sudah melanggar batas privasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ada keheningan selama beberapa detik, aku merasa seolah ada seekor ular tak terlihat yang menarik kakiku ke belakang dengan begitu cepatnya. Kini aku berada di ruang tamunya, sedangkan tangga menuju lorong bawah tanah langsung tertutup. Aku bahkan tidak tahu kalau tangga tersebut memiliki semacam pintu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah bagaimana menggambarkannya dengan tepat, tapi rumah ini seolah bisa merespons apa yang sedang dirasakan oleh pemilik rumahnya. Tidak paham dengan apa yang baru saja terjadi, aku pun hanya duduk termenung di sofa ruang tamu, berusaha menemukan jawaban dari semua peristiwa-peristiwa aneh tersebut.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mulai merasa terusir dari rumah tersebut, bahkan secara kasar. Namun, aku masih bersikeras meyakinkan diriku kalau aku pergi, bisa saja ular tersebut kembali dan memangsa perempuan tersebut. Jadi, walau aku tidur di sofa ruang tamu, aku memutuskan untuk tetap tinggal <em> </em>setidaknya beberapa hari lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua hari setelah peristiwa tidak masuk akal tersebut, aku mendengar suara pintu dibuka. Ternyata, suara tersebut berasal dari pintu yang menutup akses ke ruang bawah tanah. Muncullah perempuan tersebut dengan muka yang sangat ditekuk. Ia mengatakan bahwa aku kehilangan &#8220;akses&#8221; ke kamar tamu dan perpustakaan, tapi aku dipersilakan untuk ke dapur dan kamar mandi. Ia seolah tak peduli aku mau tidur di mana untuk seterusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu aku terpukul dengan keputusan sepihak itu, tapi aku berusaha menerimanya karena mau bagaimanapun ini tetap rumahnya. Aku juga tidak berusaha menanyainya lebih jauh tentang apa yang baru terjadi kemarin, termasuk kenapa seolah-olah ada sesuatu yang menarikku ke ruang tamu. Yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha mengerti dan menerima semua ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak saat itu, kami juga semakin jarang berinteraksi. Ia tak lagi memasakkan untukku, sehingga aku harus memasak sendiri. Belanja bahan pun kini aku lakukan sendiri, bahkan sesekali aku berinisiatif untuk membeli bahan-bahan yang hampir habis untuk sekadar menunjukkan bahwa aku bukan hanya orang yang ingin numpang tinggal di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika tidak sengaja berpapasan, kami hanya menyapa singkat tanpa ada percakapan yang berarti. Situasi ini jelas membuatku merasa tidak nyaman. Setelah semua yang aku lakukan untuknya selama ini, setelah semua yang aku korbankan sampai di titik ini, apakah aku layak diperlakukan seperti ini? Bukankah dia yang tiba-tiba muncul dalam hidupku dan memohon-mohon bantuanku?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat aku merasa sudah tidak bisa menahan lagi semuanya, aku pun mengajaknya berbicara ketika kami berpapasan di lorong. Aku memuntahkan semua yang kupikirkan dan kurasakan selama ini, hingga akhirnya muncul satu pertanyaan terakhir: Sebenarnya aku ini apa dalam hidupmu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagi-lagi, sensasi ditarik ke belakang oleh ular tak kasat mata kembali kurasakan, kali ini entah mengapa terasa lebih menyakitkan baik secara fisik maupun emosional. Aku sempat melihat ke arahnya untuk terakhir kalinya, dan wajah itu menampakkan kebencian yang luar biasa. Semua senyuman dan kebaikan yang pernah ia berikan kepadaku seolah menghilang begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiba-tiba saja aku sudah berada di balik pagar rumah tersebut. Pagarnya dalam kondisi digembok, sehingga aku tidak bisa masuk lagi ke dalam. Tempat yang telah terasa nyaman untukku berubah menjadi asing kembali.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah sudah berapa hari aku berdiri di balik pagar ini. Panas maupun hujan tak kuhiraukan. Aku masih menyimpan harapan bahwa akan datang waktunya di mana perempuan tersebut akan terlihat dari jendela dan menyuruhku untuk kembali masuk ke dalam rumahnya. Aku berharap bahwa kami bisa memperbaiki semuanya, sehingga aku bisa mendapatkan semua akses yang sempat ia berikan, terutama perpustakaannya yang benar-benar aku rindukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, semakin lama aku berdiri di sini, semakin aku sadar betapa bodohnya diriku selama ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku selalu senang berperan sebagai <em>superhero </em>bagi orang lain. Alasanku menjadi penulis pun karena berharap kalau tulisanku bisa &#8220;menyelamatkan&#8221; orang lain seperti yang dilakukan oleh penulis-penulis hebat. Ketika berusaha mengusir ular tersebut, aku sengaja tidak memanggil pihak pemadam kebakaran maupun lainnya karena aku ingin diriku seorang yang menjadi satu-satunya sosok penyelamat perempuan tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hanya saja, bodoh pun ada batasnya. Aku merasa seperti barang yang dibuang setelah tidak dibutuhkan lagi. Atau justru aku yang bodoh karena berharap lebih setelah berbuat sesuatu untuk orang lain? Apakah aku terlalu tinggi menilai peranku dalam hidup orang lain?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat itulah, aku mendengar suara desisan ular dari sisi kananku. Aku menengok ke sumber suara dan melihat ular besar itu telah berada di sampingku. Matanya tidak menunjukkan tanda permusuhan, bahkan anehnya aku sedang merasakan simpati darinya. Ia seolah ingin berkata kalau peranku di sini telah berakhir. Setelah mendesis, ia membalikkan badan dan merayap menjauhi rumah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan satu tarikan napas panjang, aku memutuskan untuk menjauh dari rumah tersebut dan kembali ke apartemenku sendiri yang sudah lama kutinggalkan. Aku harus menemukan alasan kuat untuk editor dan penerbitku, mengapa aku menghilang dalam waktu yang lama tanpa bisa dihubungi sama sekali. Apakah mereka akan percaya kalau aku jawab aku telah diperdaya dan dijebak oleh siluman ular?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 18 Oktober 2026, terinspirasi dari pengalaman hidup</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/">Perempuan dengan Seekor Ular Besar di Kamarnya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/cerpen/perempuan-dengan-seekor-ular-besar-di-kamarnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
