Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Macet?

Ah, Jakarta. Apa yang seringkali tercetus di pikiran ketika sedang memikirkan kota yang satu ini? Mungkin banyak yang akan menjawab macet, dan penulis menyetujuinya meskipun tidak terlalu sering terkena dampak macet tersebut karena belum memiliki kendaraan pribadi.

Meskipun demikian, penulis lumayan akrab dengan yang namanya macet karena ketika di kota kecil seperti Malang pun sering terjadi. Oleh karena itu, penulis ingin sedikit berbagi apa yang bisa dilakukan ketika macet agar hati tetap gembira dan tidak menggerutu.

  1. Bersenandung Ria
Bernyanyi Tanpa Beban (Rixbury)

Bagi pembaca yang mengendarai mobil, musik bisa dijadikan senjata ampuh untuk menghilangkan suntuk karena macet. Kalau perlu, iringi dengan menyanyi alias karaoke untuk menghilangkan kebosanan.

Bagaimana dengan yang mengemudikan sepeda motor? Karena menggunakan earphone sangat tidak dianjurkan karena bisa mengganggu konsentrasi,  gunakanlah tape imajiner yang ada di dalam kepala, lalu ikut bersenandung sesuka hati.

Kalau yang menggunakan kendaraan umum? Ya cukup mendengarkan saja tanpa perlu bersenandung. Takutnya malah mengganggu penumpang yang lain.

  1. Menonton Film
Khusus Penumpang (Alibaba)

Khusus untuk pengguna mobil bawalah banyak sangu film atau Youtube untuk ditonton ketika perjalanan. Akan tetapi, jika pembaca yang mengemudi, jelas tidak boleh ikut menonton film tersebut. Hanya penumpang saja yang boleh. Minimal, pengemudi mendengarkan dialog film tersebut.

Yang enak ketika menggunakan trasportasi umum. Penulis sering melihat orang-orang sedang menonton Youtube maupun drama Korea ketika berada di dalam TransJakarta ataupun KRL melalui ponselnya. Hal tersebut bisa pembaca tiru.

  1. Mengritik Pemerintah
Diskusi di Kendaraaan (Cinema52)

Kalau yang satu ini jangankan ketika macet, ketika ngopi dengan pak RT pun bisa dilakukan. Bedanya, tentu yang dikritik ketika berada di dalam kemacetan adalah mengapa masih saja ada kemacetan.

Beragam hal bisa kita salahkan, seperti kurangnya akses jalan hingga tidak memadainya transportasi umum. Bahkan jika pembaca memiliki imajinasi yang liar, bisa-bisa kemacetan dihubungkan dengan konspirasi iluminati.

  1. Berfilsafat
Berfilsafat (Drury)

Selain di toilet, kondisi ketika macet pun bisa menjadi tempat yang cocok untuk merenungi kehidupan yang telah dan akan kita alami. Di tengah bisingnya suara kendaraan dan pekatnya polusi udara, berfilsafat akan membuat semua itu seolah-olah tidak terjadi.

Pikiran kita akan menjadi jernih dan mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan kehidupan, seperti untuk apa kita ada.

  1.  Membuat Skenario Film
Sutradara Dadakan (Cinearchive)

Kembali ke poin kedua tentang menonton film. Bagaimana pengendara motor yang tidak mungkin memasang LCD pada sepeda motornya? Buatlah skenario film sendiri di dalam kepala.

Misalnya, kita membayangkan sebuah adegan di mana kita sedang membawa dokumen penting yang diincar oleh penjahat. Kita harus berkelok-kelok dengan gesit di antara mobil-mobil dan kendaraan lainnya.

Dijamin (walaupun tidak 100%) rasa bosan akan hilang selama kita masih berada di batas-batas aman berkendara.

  1. Berlagak Menjadi Seorang Sherlock Holmes
Deduksi Ala Sherlock Holmes (Serienoerd)

Tahu kan bagaimana kemampuan Sherlock Holmes ketika mengetahui apa yang dilakukan seseorang hanya dengan melihat, misalnya, kancing lengan bajunya? Kenapa tidak mencobanya ketika kita terjebak macet?

Lihat mobil yang ada di depan kita, lalu coba buat suatu kesimpulan. Misalkan di kaca belakang mobil terdapat stiker tempat rekreasi, artinya mobil tersebut pernah ke tempat tersebut. Lalu misalkan plat nomornya luar kota tapi kondisinya bersih, artinya yang punya peduli kebersihan.

Meskipun deduksi kita ngawur, tidak masalah. Toh kita tidak kenal dengan yang punya mobil. Percayalah, berlagak menjadi seorang Sherlock Holmes lumayan mengusir kebosanan.

  1. Mencari Inspirasi
Mengundang Inspirasi (Huffingtonpost)

Kawan, kalian pikir dari mana penulis memperoleh ide untuk menulis tulisan ini? Dari macet! Macet yang dialami oleh penulis sendiri ketika sedang berada di perjalanan. Poin-poin di atas datang begitu saja satu persatu hingga menjadi sebuah kesatuan.

Tulisan ini adalah bukti nyata, bahwa banyak inspirasi yang akan menghampiri kita di kala macet sedang menjebak.

Penutup

Sebenarnya masih banyak yang bisa dilakukan, terutama ketika berposisi sebagai penumpang. Sebut saja bermain game ataupun membaca buku. Tapi penulis rasa saran-saran di atas sudah cukup mewakili.

Tulisan ini sebelumnya pernah tayang di oyibanget.com yang sudah almarhum. Penulis menulisnya ulang karena masih hutang dua tulisan di tahun 2018. Karena waktu yang semakin sempit, penulis akhirnya mencari-cari tulisan lama untuk dipublikasi ulang.

 

 

Melawai, 1 Januari 2018, setelah mendengar suara kembang api dari kejauhan

Foto:

Bernyanyi Tanpa Beban (Rixbury)

Julian Schröpel

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.