Berhenti Sejenak

Penulis kerap menyinggung tentang kebiasaan buruknya yang kerap overthinking secara berlebihan. Bayangkan, sudah over, masih diimbuhi kata berlebihan pula.

Masalah sepele bisa menyabang ke mana-mana seolah Penulis tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Masalah A bisa menjadi A1, A2, A2.1, dan seterusnya.

Salah satu trik untuk melawan ini adalah dengan merapalkan mantra ya udah sih yang pernah Penulis singgung di tulisan sebelumnya. Selain itu, masih ada satu cara lagi yang bisa dilakukan.

Berhenti Sejenak

Langkah mudah yang bisa kita lakukan ketika pikiran mulai tak karuan adalah berhenti sejenak. Bukan hanya berhenti melakukan aktivitas, melainkan menghentikan apa yang sedang kita pikirkan.

Apakah sulit? Tentu saja. Akan tetapi, kita memiliki kekuatan untuk melakukannya. Kalau Penulis, seringnya mengucapkan perintah untuk berhenti secara lirih seperti sedang melakukan self-suggestion.

Selain itu, Penulis juga berusaha menenangkan diri dengan menjauhkan segala perangkat elektronik, mencari posisi duduk yang paling nyaman, sembari berusaha mengatur keluar masuknya napas.

Ketika pikiran-pikiran liar tadi sudah mulai bisa dihentikan, kita akan merasa (sedikit) lebih tenang. Tidak perlu melakukan apa-apa ataupun memikirkan sesuatu, cukup berhenti sejenak dari riuhnya pikiran dan kehidupan.

Menemukan Masalah

Setelah mampu mengasingkan diri dari pikiran-pikiran yang berlebihan, kita akan mampu lebih memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Dalam kondisi yang lebih tenang, biasanya kita akan menemukan apa masalah sebenarnya. Bisa jadi, masalahnya tidak sebesar apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Mungkin tidak semua bisa menerapkan trik ini. Ada yang masalahnya benar-benar berat seperti terlilit hutang hingga milyaran rupiah atau baru mendapatkan pelecehan seksual. Trik ini cocok untuk kita yang kerap overthinking.

Kalau boleh jujur, Penulis merasa terkadang dirinya membesar-besarkan masalah. Setelah Penulis berhenti sejenak, Penulis sadar kalau masalah yang sedang dihadapi sebenarnya tidak terlalu berat.

Berdebat dengan Diri Sendiri

Kalau sudah menemukan masalah, bukan tidak mungkin ada “sisi lain diri kita” yang menentang pemikiran kita dengan memberikan argumentasi berlawanan.

Misal kita sudah sadar kalau permasalahan yang sedang kita hadapi sepele, diri kita yang satu lagi ini akan berusaha berkelit kalau masalahnya tidak sepele.

Jika ada yang pernah seperti ini juga, kita harus berani berdebat dengan diri sendiri sampai dia kehabisan argumentasi. Istilahnya, jangan kasih kendor.

Penulis kerap berdebat dengan dirinya sendiri, sangat sering malah. Tidak selalu menang, tapi setidaknya Penulis tidak mau menyerah begitu saja melawan pikirannya sendiri.

Penutup

Setelah berhenti sejenak dan menemukan permasalahan pokoknya, Penulis akan merapalkan mantra ya udah sih untuk mengakhiri perenungannya.

Dengan cara-cara seperti itu, secara perlahan Penulis akan meninggalkan sifat overthinking-nya. Apakah artinya Penulis sekarang sudah tidak seperti itu?

Tentu tidak, bahkan tadi pagi Penulis kembali overthinking sampai kembali insomnia. Justru kawan Penulis yang sering mengingatkan Penulis untuk berhenti sejenak. Padahal, ia tahu konsep tersebut juga dari Penulis, hahaha.

Setidaknya, Penulis akan terus menerus teringat untuk berhenti sejenak ketika pikirannya sedang suntuk, gelisah, emosi, dan lain sebagainya yang memicu overthinking secara berlebihan.

 

 

Kebayoran Lama, 12 Juli 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap terlupa menerapkan ini ke dirinya sendiri

Foto: Myles Tan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.