Connect with us

Tips & Motivasi

Berhenti Sejenak

Published

on

Penulis kerap menyinggung tentang kebiasaan buruknya yang kerap overthinking secara berlebihan. Bayangkan, sudah over, masih diimbuhi kata berlebihan pula.

Masalah sepele bisa menyabang ke mana-mana seolah Penulis tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Masalah A bisa menjadi A1, A2, A2.1, dan seterusnya.

Salah satu trik untuk melawan ini adalah dengan merapalkan mantra ya udah sih yang pernah Penulis singgung di tulisan sebelumnya. Selain itu, masih ada satu cara lagi yang bisa dilakukan.

Berhenti Sejenak

Langkah mudah yang bisa kita lakukan ketika pikiran mulai tak karuan adalah berhenti sejenak. Bukan hanya berhenti melakukan aktivitas, melainkan menghentikan apa yang sedang kita pikirkan.

Apakah sulit? Tentu saja. Akan tetapi, kita memiliki kekuatan untuk melakukannya. Kalau Penulis, seringnya mengucapkan perintah untuk berhenti secara lirih seperti sedang melakukan self-suggestion.

Selain itu, Penulis juga berusaha menenangkan diri dengan menjauhkan segala perangkat elektronik, mencari posisi duduk yang paling nyaman, sembari berusaha mengatur keluar masuknya napas.

Ketika pikiran-pikiran liar tadi sudah mulai bisa dihentikan, kita akan merasa (sedikit) lebih tenang. Tidak perlu melakukan apa-apa ataupun memikirkan sesuatu, cukup berhenti sejenak dari riuhnya pikiran dan kehidupan.

Menemukan Masalah

Setelah mampu mengasingkan diri dari pikiran-pikiran yang berlebihan, kita akan mampu lebih memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Dalam kondisi yang lebih tenang, biasanya kita akan menemukan apa masalah sebenarnya. Bisa jadi, masalahnya tidak sebesar apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Mungkin tidak semua bisa menerapkan trik ini. Ada yang masalahnya benar-benar berat seperti terlilit hutang hingga milyaran rupiah atau baru mendapatkan pelecehan seksual. Trik ini cocok untuk kita yang kerap overthinking.

Kalau boleh jujur, Penulis merasa terkadang dirinya membesar-besarkan masalah. Setelah Penulis berhenti sejenak, Penulis sadar kalau masalah yang sedang dihadapi sebenarnya tidak terlalu berat.

Berdebat dengan Diri Sendiri

Kalau sudah menemukan masalah, bukan tidak mungkin ada “sisi lain diri kita” yang menentang pemikiran kita dengan memberikan argumentasi berlawanan.

Misal kita sudah sadar kalau permasalahan yang sedang kita hadapi sepele, diri kita yang satu lagi ini akan berusaha berkelit kalau masalahnya tidak sepele.

Jika ada yang pernah seperti ini juga, kita harus berani berdebat dengan diri sendiri sampai dia kehabisan argumentasi. Istilahnya, jangan kasih kendor.

Penulis kerap berdebat dengan dirinya sendiri, sangat sering malah. Tidak selalu menang, tapi setidaknya Penulis tidak mau menyerah begitu saja melawan pikirannya sendiri.

Penutup

Setelah berhenti sejenak dan menemukan permasalahan pokoknya, Penulis akan merapalkan mantra ya udah sih untuk mengakhiri perenungannya.

Dengan cara-cara seperti itu, secara perlahan Penulis akan meninggalkan sifat overthinking-nya. Apakah artinya Penulis sekarang sudah tidak seperti itu?

Tentu tidak, bahkan tadi pagi Penulis kembali overthinking sampai kembali insomnia. Justru kawan Penulis yang sering mengingatkan Penulis untuk berhenti sejenak. Padahal, ia tahu konsep tersebut juga dari Penulis, hahaha.

Setidaknya, Penulis akan terus menerus teringat untuk berhenti sejenak ketika pikirannya sedang suntuk, gelisah, emosi, dan lain sebagainya yang memicu overthinking secara berlebihan.

 

 

Kebayoran Lama, 12 Juli 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap terlupa menerapkan ini ke dirinya sendiri

Foto: Myles Tan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tips & Motivasi

Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Published

on

By

Ketika sedang ada masalah atau sedang bertikai dengan orang lain, Pembaca tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain?

Kalau Penulis sendiri adalah tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Penulis akan berkaca untuk mencari apa salahnya dan jarang berfokus pada kesalahan orang lain (walau bukan berarti tidak pernah melakukannya).

Menyalahkan diri sendiri mungkin terkesan baik karena artinya kita melakukan interopeksi diri sehingga bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Hanya saja, jika terlalu menyalahkan diri sendiri bisa memberikan dampak yang buruk kepada kita.

Menyesali Perbuatan

Ambil contoh seperti ini. Kita memiliki pasangan dan sedang bertengkar hebat. Terlepas dari apa masalahnya dan apa penyebabnya, orang yang suka menyalahkan diri sendiri akan lebih banyak menyesali perbuatannya.

“Ah, harusnya aku enggak gitu tadi.”

“Coba aja waktu itu aku enggak gini.”

“Kenapa sih aku harus melakukan kebodohan seperti itu?”

“Lagi-lagi aku mengulangi kesalahan yang sama.”

Seperti yang sudah Penulis sebutkan sebelumnya, menyalahkan diri sendiri menjadi salah satu bukti kalau kita menyadari kesalahan diri sendiri.

Akan tetapi, hanya menyalahkan diri sendiri saja tidak menghasilkan apa-apa. Merutuk kebodohan dan menyesali perbuatan tidak akan membuat keadaan kembali menjadi lebih baik.

Penulis terkadang terjebak dalam situasi ini. Sebagai orang yang mudah overthinking, Penulis akan terus-menerus memikirkan kesalahan yang dirasa telah dilakukan, seolah-olah terbelenggu oleh perasaan bersalah tersebut.

Tidak Memberikan Manfaat

Menyalahkan diri sendiri, terutama secara berlebihan, tidak akan memberikan manfaat apapun kepada diri kita. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang penting kita bisa belajar dari kesalahan tersebut.

Daripada terus menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita fokus mencari kebaikan. Apa yang bisa dipelajari dari kesalahan ini? Apa hikmah yang bisa diambil? Bagaimana agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi?

Berat? Sangat. Susah? Pasti. Namun, langkah tersebut jauh lebih baik dibandingkan hanya menyalahkan diri sendiri yang bisa begitu merugikan sehingga patut untuk diupayakan.

Penulis percaya bahwa semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini memiliki sebab dan alasan untuk terjadi. Seringnya, kita tidak bisa langsung mengetahuinya dan butuh waktu yang tidak sebentar.

Jangan Menyalahkan Pihak Lain Juga

Perlu diingat, berhenti menyalahkan diri sendiri bukan berarti kita beralih dengan menyalahkan orang lain. Tidak semua hal, bahkan masalah sekalipun, membutuhkan pihak yang salah.

Daripada saling menyalahkan, baik ke diri sendiri maupun orang lain, bukankah lebih baik fokus ke solusi? Coba saling menurunkan ego dan belajar saling memahami satu sama lain agar bisa mencari jalan terbaik.

Jangan fokus terhadap masalah, tapi fokus ke penyelesaiannya. Cari jalan tengah yang tidak memberatkan atau menyakiti salah satu pihak. Pasti bisa jika kita sama-sama mau berusaha mengerti.

Percaya, memiliki rasa bersalah itu sama sekali tidak enak rasanya. Penulis sangat sering merasakannya. Menyalahkan diri sendiri bisa membuat diri ini merasa depresi yang berkepanjangan.

Penutup

Memiliki perasaan bersalah setelah melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi dan wajar. Bahkan, kita bisa belajar untuk memperbaiki diri dari perasaan tersebut.

Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita hanya berfokus pada kesalahan yang telah kita buat tanpa berbuat sesuatu untuk “menebus” kesalahan tersebut.

Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita menjadi tidak bisa memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang telah diperbuat dan merutuk diri sendiri secara tidak sehat.

Oleh karena itu, berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Fokus pada hal-hal baik yang bisa dipetik atau dilakukan. Hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberi manfaat sedikitpun.


Lawang, 20 Juli 2021, terinspirasi setelah mendengar nasihat dari seorang kawan

Foto: Liza Summer

Continue Reading

Tips & Motivasi

Lelah dengan Diri Sendiri

Published

on

By

Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks.

Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang toxic, dan lain sebagainya.

Salah satu lelah yang paling berbahaya menurut Penulis adalah lelah dengan diri sendiri.

***

Apa itu lelah dengan diri sendiri? Tentu ada banyak versi, tergantung dari individu masing-masing. Namun bagi Penulis, lelah dengan diri sendiri memiliki keterkaitan yang erat dengan depresi dan frustasi.

Ciri-cirinya ada beberapa, seperti menjadi sensitif dan mudah emosi, suasana hati berubah-ubah, merasa malas dan kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, tidak ingin bertemu orang, pikiran terasa penat, dan lain-lain.

Penyebabnya juga banyak. Misal, kadang kita menyadari kalau diri ini punya berbagai kekurangan. Hanya saja, rasanya sangat susah untuk menghilangkan atau mengurangi sifat buruk tersebut yang akibatnya membuat kita merasa lelah.

Penulis misalnya, merasa lelah dengan sifat overthinking yang dimilikinya. Mau berusaha diam berpikir seperti apapun, otak ini rasanya tidak mau berhenti berpikir. Akibatnya, Penulis pun overthinking terhadap overthinking-nya.

Sering merasa gagal juga bisa menimbulkan perasaan tersebut. Rasanya, diri ini begitu tidak berguna sehingga hal sepele saja tidak bisa dilakukan. Pikiran negatif pun datang dan menguasai diri.

Kadang kita juga merasa tidak memahami diri sendiri. Penulis jadi teringat dengan perkataan Frigga kepada anaknya, Loki, di film Thor: The Dark World.

“Always so perceptive about everyone but yourself.”

Frigga , Queen of Asgard

Terjemahannya adalah: Selalu bisa memahami orang lain, tapi tidak kepada diri sendiri. Rasanya kita bisa dengan mudah memahami orang lain, tapi justru tidak memahami dirinya sendiri.

Pikiran-pikiran negatif juga membuat kita merasa lelah dengan diri sendiri. Merasa tidak berguna, insecure dengan masa depan, ada sesuatu yang mengganjal, selalu menyalahkan diri sendiri, ada banyak yang menyebabkan kita merasa lelah dengan diri sendiri.

***

Lelah terhadap diri sendiri adalah sebuah kondisi mental yang butuh diobati. Banyak yang menyarankan untuk mendekatkan diri ke Tuhan, menjadi produktif, liburan, melakukan hal yang menyenangkan, berdamai dengan keadaan, dan lain-lain.

Kadang kita hanya butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan pikiran. Rasanya ingin menepi sejenak agar otak bisa menjadi jernih kembali dan hati merasa tenang. Semoga setelah itu, kita bisa menjadi lebih positif dalam menatap hidup.

Jika kita merasa tidak bisa mengatasinya sendirian, mungkin sudah saatnya untuk meminta bantuan kepada orang lain.

Coba temukan orang-orang yang bisa memberi rasa nyaman, yang tidak akan menghakimi kita apapun cerita kita, yang bisa memberikan ketenangan, yang bisa menguatkan kita. Tidak ada salahnya untuk mencoba ke psikiater.

Jangan sepelekan perasaan lelah terhadap diri sendiri. Kondisi ini bisa berpengaruh kepada kesehatan mental dan fisik kita. Untuk itu, segeralah temukan cara mengatasinya yang paling sesuai denganmu.


Lawang, 22 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman sendiri

Foto: Annie Spratt

Sumber Artikel:
Lelah dengan sifat pada diri sendiri. Mohon bantuan dok. | Tanya Dokter (sehatq.com)
5 Tanda Kalau Dirimu Mulai Lelah dan Butuh Waktu untuk Diri Sendiri (idntimes.com)
5 Tanda Lelah Hati yang Berdampak pada Kesehatan Mental | Popmama.com

Continue Reading

Tips & Motivasi

Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa

Published

on

By

Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial The Falcon and the Winter Soldier yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah:

“Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?”

Sam Wilson

Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky kembali mempertanyakan keputusan Sam menyerahkan perisai warisan Steve Rogers kepada pemerintah. Sam merasa ia hanya melakukan apa yang ia pikir benar.

Kita semua mungkin pernah merasa seperti itu. Kita berbuat sesuatu, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, karena merasa bahwa itulah yang terbaik. Sayangnya, terkadang hal tersebut berubah menjadi sebuah kesalahan.

Belum Tentu Baik Juga untuk Orang Lain

Sam dan Bucky (Screen Rant)

Apa yang kita pikir benar, ternyata belum tentu benar bagi orang lain. Bahkan, bisa saja hal tersebut justru menyusahkan atau mengganggu orang lain. Perbedaan persepsi dalam memandang suatu hal sering menjadi pemicu utamanya.

Jika orang dekat kita memiliki sebuah permasalahan, biasanya kita akan melakukan sesuatu untuk membantunya dengan cara kita. Sayangnya, ternyata cara yang kita anggap benar tersebut tidak cocok untuk orang tersebut.

Misal, ada teman kita yang sedang patah hati karena memergoki kekasihnya seleweng. Kita berusaha untuk menghiburnya dengan berbagai cara dan ia justru marah. Ternyata, yang ia butuhkan sekarang adalah waktu untuk sendiri dan merenung, bukan hiburan.

Contoh lain ketika kita punya seorang adik yang sedang kewalahan dengan tugasnya. Kita merasa ingin membantunya mengerjakan tugas tersebut. Ia justru marah karena ia ingin berhasil dengan kerja kerasnya sendiri, bukan dengan bantuan orang lain.

Kita hanya melakukan apa yang kita pikir benar dan ternyata salah bagi orang lain. Oleh karena itu, terkadang tidak berbuat apa-apa justru menjadi solusi dari sebuah permasalahan.

Tidak Berbuat Apa-Apa

Tidak Berbuat Apa-Apa (Good Vibe Blog)

Penulis mengetahui teori “tidak berbuat apa-apa” ini ketika membaca buku berjudul Four Seconds karya Peter Bregman. Intinya, terkadang dalam penyelesaian masalah, berbuat sesuatu justru akan memperparah keadaan. Tidak berbuat apa-apa justru menjadi kunci penyelesaiannya.

Penulis ambil dua contoh di atas, kawan yang sedang patah hati dan adik yang kewalahan dengan tugasnya.

Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si kawan pada akhirnya berhasil move on setelah menemukan teman kencan dengan bantuan aplikasi Tinder. Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si adik berhasil mempelajari sesuatu yang baru dari tugas-tugasnya.

Di dalam buku Four Seconds, ada kalimat seperti berikut:

“Terkadang, tidak mencoba memperbaiki sesuatu merupakan hal yang justru dibutuhkan untuk memperbaikinya.”

Buku four seconds halaman 36

Hanya saja, teori ini tidak bisa diterapkan dalam semua kondisi. Jika ada pekerjaan kantor yang menumpuk dan kita memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal dipecat sama atasan. Jika ada tugas sekolah menumpuk kita tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal mendapat nilai buruk.

Intinya, teori tidak berbuat apa-apa ini hanya bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. Bagaimana cara mengetahui kapan kita harus tidak berbuat apa-apa? Harus berdasarkan pengalaman dan data pada masa lalu. Tidak ada teori pasti yang bisa digunakan.

Selain itu, jangan sampai teori ini membuat kita menjadi orang yang cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Itu juga salah. Tetaplah berusaha untuk menjadi orang baik dan tak segan mengulurkan tangan ketika orang lain butuh pertolongan.

Penutup

Jika Sam tidak berbuat apa-apa dan menyimpan perisai Captain America di rumahnya, mungkin tidak akan ada Captain America baru yang menjadi pemicu konflik di serialnya.

Walau ada kemungkinan pemerintah akan meminta Sam menyerahkan perisai tersebut, setidaknya bukan ia yang memberikan secara sukarela. Ia tidak akan bertanggung jawab atas terpilihnya John Walker sebagai Captain America baru dan tidak perlu berdebat dengan Bucky.

Sam hanya melakukan apa yang ia pikir benar. Menyerahkan perisai tersebut ia lakukan atas dasar karena ia merasa belum pantas menjadi pengganti Captain America.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, terkadang apa yang kita pikir benar belum tentu benar bagi orang lain. Permasalahan yang hendak kita selesaikan justru menjadi semakin rumit.

Jika sudah demikian, mungkin memang saatnya kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan suatu permasalahan.


Lawang, 24 Mei 2021, terinspirasi setelah teringat kalimat favorit yang diucapkan oleh Sam Wilson pada serial The Falcon and the Winter Soldier

Foto: cahobnemodo.ga

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan