Berjalan Itu Menatap Lurus Ke Depan, Bukan Menunduk Bukan Mendongak

Secara harfiah, memang sebaiknya kita melakukan hal tersebut. Jika kita berjalan menunduk, kita bisa menabrak apa yang ada di hadapan kita. Jika kita berjalan mendongak, kita bisa tersandung batu di jalanan. Namun, kalimat ini juga bisa kita jadikan bahan renungan dalam keseharian kita dengan menganalogikannya sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan.

Jalan menatap lurus ke depan sama dengan masa kini, jalan mendongak sama dengan masa depan, dan jalan menunduk sama dengan masa lalu. Lalu bagaimana kita bisa mengambil sekelumit hikmah dari penganalogian ini?

Jalan menunduk, artinya terjebak masa lalu, selalu terbayang-bayang kesalahan yang pernah diperbuat di masa lampau. Takut untuk melangkah maju karena takut melakukan hal yang sama, melakukan penyesalan-penyesalan yang percuma. Akibatnya, kita akan terlampau sering “menabrak” kenyataan hidup yang sedang dijalani dan membuat hidup tertatih-tatih.

Jalan mendongak, artinya memikirkan masa depan. Bukankah bagus menjadi seseorang yang visioner? Iya, namun akan buruk akibatnya jika kita hanya fokus untuk masa depan sehingga mengabaikan hidup di masa kini. Termasuk di dalam golongan ini adalah orang yang berangan-angan “besok aku akan menjadi orang yang lebih baik” bukan “sekarang aku akan menjadi orang yang lebih baik”. Akibatnya, ia akan tersandung oleh kerikil kehidupan yang akan membuatnya jatuh tersungkur dan membuatnya berhenti berjalan.

Jalan itu menatap lurus ke depan. Ketika kita berjalan seperti itu, kita tidak hanya melihat apa yang ada di depan kita, melainkan juga apa yang ada di bawah dan atas kita. Fokus dengan yang dikerjakan hari ini (depanmu), namun mengambil pelajaran yang telah kita alami di masa lalu (bawahmu) dan menyiapkan diri untuk menyongsong masa depan (atasmu). Itulah hakikat yang bisa diambil dari sebuah aktivitas kita sehari-hari, berjalan.

Berjalan itu menatap lurus ke depan, bukan menunduk bukan mendongak.

 

 

Lawang, 7 Februari 2018, setelah membuat konten Instagram untuk WTF

Sumber Foto: www.flickriver.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.