Connect with us

Tips & Motivasi

Hidup Ini Memang Aneh Kok

Published

on

Orang Jawa memiliki falsafah hidup Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo DumehDalam bahasa Indonesia, ke tiga kata tersebut bermakna  jangan mudah kaget, jangan mudah heran, jangan mentang-mentang.

Ketiga hal tersebut penulis resapi sebagai suatu sikap untuk menghadapi “keanehan-keanehan” yang terjadi pada hidup kita. Aneh bagaimana?

Keanehan tersebut bisa terjadi dalam bentuk masalah hidup yang sedang datang menerjang. Nah, penulis akan mengambil falsafah tersebut untuk diterapkan dalam menyikapi suatu permasalahan.

Ojo Kagetan

Pertama, ojo kagetan. Masalah adalah hal yang sangat biasa terjadi pada kita. Jika sedang menghadapi masalah seunik apapun, tidak perlu kaget karena bisa jadi di masa depan kita akan mengalami masalah yang lebih aneh lagi.

Bisa jadi masalah yang sedang kita hadapi sebenarnya tidak seberapa. Mungkin kita saja yang memberikan efek drama sehingga kita harus merasa harus kaget dengan permasalahan yang terjadi.

Bukannya ingin menyepelekan masalah. Penulis yakin setiap orang memiliki skala permasalahannya masing-masing. Akan tetapi, penulis juga meyakini bahwa manusia tidak akan diuji melampaui batas kemampuannya.

Jadi, tidak perlu kaget ketika sedang menghadapi situasi yang cukup pelik. Kaget di awal adalah hal biasa, yang penting adalah tindakan kita selanjutnya dalam mencari solusi tanpa perlu diiringi kepanikan.

Ojo Gumunan

Lalu yang kedua, ojo gumunanMungkin ketika merasa heran dengan sikap seseorang yang benar-benar menyebalkan dan membuat kita naik pitam. Mungkin kita akan berpikir “kok bisa ada manusia seperti dia?”.

Keheranan yang muncul tersebut bisa diredam dengan percaya bahwa manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing. Mungkin saja orang tersebut memang cukup antik hingga susah untuk dipahami oleh orang lain.

Mungkin juga bentuk keheranan tersebut adalah “kok bisa sih aku dapat musibah seperti ini?”. Artinya, kita dianggap mampu untuk menghadapi jenis musibah seperti itu.

Hidup kita akan selalu diwarnai dengan beragam peristiwa yang begitu berwarna-warni, kita juga akan bertemu orang-orang yang beraneka rupa. Tak perlu heran ketika sudah waktunya untuk bertemu dengan mereka.

Ojo Dumeh

Yang terakhir, ojo dumeh. Jangan mentang-mentang kita merasa tidak seburuk orang lain, lantas kita menganggap derajat kita lebih tinggi dari mereka.

Jangan mentang-mentang kita bisa mengatasi masalah, lantas kita menyepelekan keluhan orang lain yang sedang cerita permasalahan yang sedang dihadapinya.

Kurang lebih penulis menerjemahkan kata ojo dumeh seperti itu. Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain, jangan pernah merasa lebih hebat dari orang lain.

Jika kita mampu menghadapi masalah kita, jangan jadikan itu sebagai bahan untuk menyombongkan diri. Bagikanlah pengalaman untuk membantu orang lain mengatasi permasalahannya.

Penutup

Hidup ini memang aneh kok. Ada saja permasalahan yang tiba-tiba muncul tanpa memberikan aba-aba. Kita dipaksa untuk siap dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Menurut penulis, salah satu kunci untuk bisa menghadapi permasalahan tersebut ya dengan menerapkan ojo kagetan, ojo gumunan, dan ojo dumeh.

Penulis sendiri masih belajar untuk menerapkannya di kehidupan penulis. Beberapa kali penulis merasa bisa lebih tenang dan bijak dalam menyikapi permasalahan ketika teringat bahwa hidup yang sedang kita jalani ini memang penuh keanehan.

Tidak mudah, tapi bisa dilakukan jika diiringi dengan keyakinan yang teguh.

 

 

Kebayoran Lama, 13 Maret 2019, sudah terinspirasi sejak lama ketika chat dengan Angela, namun baru sempat ditulis sekarang

Sumber Foto:

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tips & Motivasi

Menjadi Seperti Boneka Daruma

Published

on

By

Gara-gara nonton film Stand By Me 2 Doraemon, Penulis jadi teringat salah satu panel komik Doraemon yang mengharukan. Sama seperti fokus cerita film ini, cerita panel tersebut juga memiliki keterkaitan dengan nenek Nobita.

Ceritanya, Nobita sedang bermain dengan mainan-mainan dari masa kecilnya berkat alat dari Doraemon. Ia begitu senang karena bisa memunculkan alat-alat berdasarkan memorinya. Doraemon pun mengingatkan Nobita, jangan sampai ia terbuai masa lalu sampai lupa masa depannya.

Apa jawaban dari Nobita? Ia mengatakan:

“Buat apa memikirkan masa depan, jauh lebih menyenangkan masa lalu.”

Hal ini sebenarnya wajar, mengingat masa kini Nobita tidak terlalu menyenangkan. Dirinya kerap dicap bodoh dan hampir tidak bisa melakukan apa-apa. Hampir setiap hari ia di-bully oleh Giant dan Suneo. Jika tidak ada Doraemon, mungkin hidupnya akan terus mengalami kesialan.

Akan tetapi, Nobita lantas menemukan sebuah mainan boneka daruma. Gara-gara itu, ia teringat oleh neneknya dan memori masa kecilnya melintas begitu saja.

Nobita dan Nenek (TheMovieList.net)

Waktu itu, ceritanya Nobita tengah terjatuh di halaman dan menangis. Tiba-tiba, di sampingnya menggelinding sebuah boneka daruma. Ternyata, boneka tersebut dilemparkan oleh neneknya yang sedang sakit.

Nobita pun segera mengambil boneka tersebut dan segera menuntuk neneknya untuk kembali masuk ke rumah. Neneknya pun berkata, dirinya punya harapan agar Nobita bisa tumbuh seperti boneka daruma. Mau jatuh berapa kali pun, boneka daruma akan selalu bangkit lagi.

Nobita kecil pun berjanji kalau dirinya akan menjadi seperti boneka daruma. Nobita pun menangis ketika mengingat kenangan ini karena tak lama seperti itu, nenek yang sangat menyayanginya meninggal dunia.

Nobita pun segera bangkit dan mulai belajar agar bisa menjadi seperti apa yang diharapkan oleh neneknya. Ia ingin menjadi seperti boneka daruma yang selalu bangkit, sebanyak apapun ia jatuh.

Jatuh 99 Kali, Bangkit 100 Kali

Dalam film Batman Begins, Alfred pernah berkata kepada Bruce Wayne muda:

(UXMISFIT.COM)

Kalau kita tidak pernah terjatuh, kita tidak akan pernah belajar bagaimana caranya untuk bangkit. Jatuh sekali, bangkit dua kali. Jatuh 99 kali, bangkit 100 kali. Mau berapa kali pun gagal, kita akan terus berusaha lebih baik lagi.

Memang, terkadang ada kalanya kita menyadari diri kita penuh dengan keterbatasan. Ada sesuatu yang seolah ditakdirkan tidak akan berhasil kita lakukan. Menyadari kapasitas diri, bukan merasa pesimistis, juga penting dalam hidup ini.

Jika kita tidak pernah belajar tentang astronomi dan tidak pernah melatih fisik, jangan bermimpi untuk menjadi seorang astronot. Jika kita memiliki kekurangan fisik yang membuat kita tidak bisa menjadi sesuatu, jangan dipaksakan.

Setelah mengetahui kemampuan diri, kita bisa menentukan apa saja yang ingin kita kejar dalam hidup ini sesuai dengan kemampuan tersebut. Belajar, berlatih, menjalin relasi dengan orang lain, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk tujuan hidup kita.

Terjatuh (Medium)

Dalam perjalanannya, kita mungkin akan mengalami yang namanya kegagalan. Hal itu sangat wajar dan bisa terjadi pada siapapun. Perusahaan sebesar Google dan Microsoft pun pernah mengeluarkan produk yang gagal total di pasaran.

Yang penting, jangan mudah menyerah. Sekali gagal, kita coba lagi dengan cara yang lain. Dua kali gagal, coba lagi dengan cara yang lain. Jika kita terus-menerus menemui kebuntuan, mungkin ada yang salah dengan tujuan kita dan tidak ada salahnya untuk mengubah tujuan tersebut.

Penulis akan mengambil contoh dari kehidupannya sendiri. Penulis sudah empat kali gagal ketika mencoba mengambil beasiswa S2 keluar negeri. Setelah kegagalan keempat, Penulis berpikir untuk mengubah tujuan tersebut dengan mencoba bekerja dulu.

Penulis pun mendapatkan pekerjaan di bidang media di Jakarta, area pekerjaan yang menjadi passion Penulis. Siapa yang menyangka Penulis merasa nyaman bekerja di area ini dan sedang meniti karirnya. Tujuan untuk mendapatkan beasiswa pun teralihkan. Penulis sekarang ingin menjadi seorang profesional di bidang ini.

***

Kita tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Tuhan yang Maha Tahu lah yang benar-benar mengetahuinya. Bisa saja kita sengaja digagalkan di satu tempat untuk mendapatkan yang terbaik di tempat lain, terkadang tanpa pernah kita duga sama sekali.

Untuk itu, tugas kita sebagai manusia adalah terus berusaha bangkit dari kegagalan-kegagalan yang akan kita temui dalam hidup. Sama seperti boneka daruma, kita harus terus bangkit walaupun harus terjatuh berapa kali pun.

Lawang, 2 April 2021, terinspirasi setelah teringat salah satu panel komik Doraemon yang membahas boneka daruma.

Foto: Voyagin Blog

Continue Reading

Tips & Motivasi

Definisi Sukses Nomor 2: Hidup Tenang

Published

on

By

Beberapa waktu lalu, ada kejadian yang menghebohkan di mana Syekh Ali Jaber mengalami penusukan ketika sedang menghadiri sebuah acara di Lampung. Untungnya, beliau tidak mengalami cedera yang serius dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Lantas, beliau diundang ke kanal YouTube milik Deddy Corbuzier untuk membicarakan tentang kejadian tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa Penulis ambil dari podcast tersebut.

Salah satunya adalah tentang hidup tenang, yang Penulis anggap sebagai definisi sukses nomor 2.

Tenang Menghadapi Masalah

Di dalam kehidupannya, manusia pasti akan menjumpai yang namanya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia yang tak pernah bertemu dengan masalah.

Jika begitu, lantas bagaimana kita bisa hidup dengan tenang? Kuncinya adalah bagaimana cara kita menyikapi masalah tersebut.

Tenang Menghadapi Masalah (Sebastian Herrmann)

Misalkan kita mengalami musibah diberhentikan dari tempat kerja karena pandemi. Jelas kejadian tersebut akan membuat kita merasa down seolah bingung harus bagaimana melanjutkan hidup.

Merasa seperti itu sangat manusiawi. Depresi, frustasi, khawatir, hingga perasaan takut bisa terjadi pada siapapun. Hanya saja, jangan terlalu berlarut-larut hingga membuat kita terpuruk.

Bayangkan jika kita bisa tenang ketika menghadapi masalah tersebut. Mungkin kita akan segera mencari cara bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan lain atau mungkin ingin upgrade skill yang dimiliki.

Bahkan Syekh Ali Jaber menyarankan kita untuk mengucapkan alhamdulillah ketika ditimpa musibah. Mengucap syukur di saat senang itu mudahnya bukan main, tapi mengucapkan ketika susah?

Tenang Menghadapi Orang Lain

Sebagai makhluk yang kerap berinteraksi dengan sesamanya, pasti ada saja percikan konflik yang dapat terjadi antar manusia. Apalagi di zaman sekarang, banyak orang asing yang kerap berkomentar tidak penting tentang orang lain yang sebenarnya tidak ia kenal.

Merasa marah, kecewa, terkhianati, tersakiti oleh orang lain adalah hal yang lumrah. Semuanya pasti pernah mengalaminya, termasuk sebaliknya ketika kita yang berbuat salah ke orang lain.

Kalau mau hidup tenang, seharusnya kita bisa mengendalikan diri untuk tidak bereaksi berlebihan jika ada orang lain yang berbuat kurang baik.  Bahkan kalau bisa, berdoa agar orang yang berbuat salah diampuni oleh Tuhan.

Tidak hanya perlakuan yang buruk, perlakuan yang baik dari orang lain pun sebaiknya tidak membuat kita terlalu terlena. Disyukuri dan jadikan untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi untuk sesamanya.

Orang-orang yang ada di sekeliling kita juga banyak berpengaruh atas ketenangan dalam hidup. Sebisa mungkin, buatlah diri ini dikelilingi oleh orang-orang yang membawa energi positif untuk kehidupan kita.

Bagaimana Cara Hidup Tenang?

Sama seperti kebanyakan tulisan yang berbau motivasi di blog ini, Penulis menulis artikel ini sebenarnya lebih karena ingin mengingatkan dirinya sendiri. Penulis merasa jarang bisa menjalani hidup tenang tanpa beban pikiran yang berat.

Penulis bukan orang yang terlalu religius, namun Penulis meyakini dengan mendekatkan diri ke Tuhan kita bisa merasa hidup tenang ketika menghadapi poin-poin yang sudah dipaparkan di atas.

Melakukan evaluasi diri juga bisa menjadi salah satu cara agar kita menyadari mana saja dari bagian diri ini yang butuh dibenahi. Misal kita merasa dirinya seorang pemalas, kita harus bisa memperbaiki sifat tersebut secara bertahap.

Jika ada kenangan atau peristiwa di masa lalu yang banyak menganggu kita di masa sekarang, cobalah perlahan berdamai dengannya. Kalau kata Noah, masa lalu takkan melemahkanmu.

Selain itu, sibukkan diri dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Terlalu banyak bermain media sosial berpotensi membuat hidup kita tidak tenang karena akan banyak melihat kehidupan orang lain.

Ada banyak sekali hal yang bisa disyukuri dari hidup ini. Jika kita bisa memperbanyak syukur dan mengurangi keluhinsyaAllah hidup kita bisa meraih definisi kesuksesan nomor 2 versi Penulis.

 

NB: Definisi sukses nomor satu bagi Penulis adalah Bermanfaat Bagi Orang Lain

 

 

Lawang, 20 September 2020, terinspirasi setelah menonton podcast Deddy Corbuzier ketika mengundang Syekh Ali Jaber

Foto: Fuu J on Unsplash

Sumber Artikel: YouTube, Tempo, WikiHow

Continue Reading

Tips & Motivasi

Berhenti Sejenak

Published

on

By

Penulis kerap menyinggung tentang kebiasaan buruknya yang kerap overthinking secara berlebihan. Bayangkan, sudah over, masih diimbuhi kata berlebihan pula.

Masalah sepele bisa menyabang ke mana-mana seolah Penulis tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Masalah A bisa menjadi A1, A2, A2.1, dan seterusnya.

Salah satu trik untuk melawan ini adalah dengan merapalkan mantra ya udah sih yang pernah Penulis singgung di tulisan sebelumnya. Selain itu, masih ada satu cara lagi yang bisa dilakukan.

Berhenti Sejenak

Langkah mudah yang bisa kita lakukan ketika pikiran mulai tak karuan adalah berhenti sejenak. Bukan hanya berhenti melakukan aktivitas, melainkan menghentikan apa yang sedang kita pikirkan.

Apakah sulit? Tentu saja. Akan tetapi, kita memiliki kekuatan untuk melakukannya. Kalau Penulis, seringnya mengucapkan perintah untuk berhenti secara lirih seperti sedang melakukan self-suggestion.

Selain itu, Penulis juga berusaha menenangkan diri dengan menjauhkan segala perangkat elektronik, mencari posisi duduk yang paling nyaman, sembari berusaha mengatur keluar masuknya napas.

Ketika pikiran-pikiran liar tadi sudah mulai bisa dihentikan, kita akan merasa (sedikit) lebih tenang. Tidak perlu melakukan apa-apa ataupun memikirkan sesuatu, cukup berhenti sejenak dari riuhnya pikiran dan kehidupan.

Menemukan Masalah

Setelah mampu mengasingkan diri dari pikiran-pikiran yang berlebihan, kita akan mampu lebih memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Dalam kondisi yang lebih tenang, biasanya kita akan menemukan apa masalah sebenarnya. Bisa jadi, masalahnya tidak sebesar apa yang kita bayangkan sebelumnya.

Mungkin tidak semua bisa menerapkan trik ini. Ada yang masalahnya benar-benar berat seperti terlilit hutang hingga milyaran rupiah atau baru mendapatkan pelecehan seksual. Trik ini cocok untuk kita yang kerap overthinking.

Kalau boleh jujur, Penulis merasa terkadang dirinya membesar-besarkan masalah. Setelah Penulis berhenti sejenak, Penulis sadar kalau masalah yang sedang dihadapi sebenarnya tidak terlalu berat.

Berdebat dengan Diri Sendiri

Kalau sudah menemukan masalah, bukan tidak mungkin ada “sisi lain diri kita” yang menentang pemikiran kita dengan memberikan argumentasi berlawanan.

Misal kita sudah sadar kalau permasalahan yang sedang kita hadapi sepele, diri kita yang satu lagi ini akan berusaha berkelit kalau masalahnya tidak sepele.

Jika ada yang pernah seperti ini juga, kita harus berani berdebat dengan diri sendiri sampai dia kehabisan argumentasi. Istilahnya, jangan kasih kendor.

Penulis kerap berdebat dengan dirinya sendiri, sangat sering malah. Tidak selalu menang, tapi setidaknya Penulis tidak mau menyerah begitu saja melawan pikirannya sendiri.

Penutup

Setelah berhenti sejenak dan menemukan permasalahan pokoknya, Penulis akan merapalkan mantra ya udah sih untuk mengakhiri perenungannya.

Dengan cara-cara seperti itu, secara perlahan Penulis akan meninggalkan sifat overthinking-nya. Apakah artinya Penulis sekarang sudah tidak seperti itu?

Tentu tidak, bahkan tadi pagi Penulis kembali overthinking sampai kembali insomnia. Justru kawan Penulis yang sering mengingatkan Penulis untuk berhenti sejenak. Padahal, ia tahu konsep tersebut juga dari Penulis, hahaha.

Setidaknya, Penulis akan terus menerus teringat untuk berhenti sejenak ketika pikirannya sedang suntuk, gelisah, emosi, dan lain sebagainya yang memicu overthinking secara berlebihan.

 

 

Kebayoran Lama, 12 Juli 2020, terinspirasi dari dirinya sendiri yang kerap terlupa menerapkan ini ke dirinya sendiri

Foto: Myles Tan

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan