(Jangan) Memendam Permasalahan

Pernah jengkel terhadap orang lain? Rasanya jika manusia normal tentu pernah mengalaminya. Kadang perbuatan maupun perkataan orang lain dapat melukai hati kita, walau belum tentu orang tersebut memang berniat untuk melakukannya.

Memendam Permasalahan

Beberapa orang memilih untuk menyimpan dalam hati permasalahan yang tengah mereka hadapi. Dalam bahasanya Jawa mungkin disebut nggerundel. Biasanya, orang-orang yang memilih jalur ini berusaha untuk menghindari konflik.

Alasan lainnya adalah karena mereka ingin berusaha menjaga perasaan orang yang melukai mereka. Mereka takut apa yang akan mereka katakan akan balik menyakiti perasaan orang tersebut. Dengan kata lain, mereka sama sekali tidak ingin balas dendam.

Jangan DIpendam (http://www.jff.org.za/jjf-activism/girl-crying-2/)

Nah, yang buruk adalah jika kita memutuskan untuk memendam permasalahan yang terjadi, namun berpikiran buruk di belakang yang bersangkutan. Contohnya, membuat status yang digunakan untuk menyindir pihak-pihak tertentu.

Bisa juga, mereka menghasut yang lain dengan menceritakan keburukan-keburukan yang terjadi. Tentu ini dapat memperluas lingkup konflik yang tengah terjadi. Ini sama sekali bukan tindakan yang solutif.

Mengutarakan Permasalahan

Alangkah baiknya jika sedang menghadapi permasalahan, kita hadapi secara terbuka. Langsung temui orang-orang yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, lalu saling membuka diri. Abaikan resiko mereka akan menjadi tersakiti karena keterbukaan kita.

Sama seperti benda organik (selain tanaman yang memang harus ditanam) yang dipendam di dalam tanah, lama kelamaan benda tersebut akan membusuk. Permasalahan yang dipendam hanya akan memperbesar masalah tersebut. Jika bukan hari ini, esok masalah tersebut akan terkuak dengan sendirinya.

Jika kita merasa tidak suka dengan perbuatan orang lain, utarakan secara terus terang apa yang membuat kita tidak suka. Sampaikan dengan santun agar orang tersebut tidak tersinggung dengan ucapan kita. Bagaimana orang lain akan berubah jika kita tidak membantu mereka untuk koreksi diri?

Sebaliknya pun begitu, kita harus terbuka dengan kritikan orang lain. Apabila ada orang lain yang mengatakan ketidaksukaannya terhadap kita, jadikan hal tersebut sebagai bahan interopeksi. Jika perlu, diskusikan kepada orang tersebut, bagaimana caranya dapat mengubah sikap-sikap kita yang membuat orang lain kurang berkenan.

Saling Membuka Diri (http://www.au-pair.blog/5-aspects-you-and-your-au-pair-should-discuss/two-people-talking/)

Apakah semua permasalahan harus diselesaikan secara terbuka? Sejauh ini, penulis cenderung mempercayai hal tersebut dari berbagai pengalaman yang telah penulis alami. Menyimpan permasalahan sendirian hanya akan membuat kita stres. Menyelesaikan permasalahan secepatnya dengan keterbukaan akan mengurangi beban-beban yang kita pikul.

Walau, penulis akui, terkadang terdapat permasalahan yang menurut kita membutuhkan waktu untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

 

 

Lawang, 23 Juni 2018, terinspirasi dari sebuah permasalahan yang diselesaikan oleh Ketua Katar yang baru secara cepat dan terbuka

Sumber Foto: https://www.flexjobs.com/blog/post/flexibility-help-employees-with-mental-illness/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.