Kadang Memang Harus Dipaksa

Ketika pulang ke Malang pada bulan Agustus kemarin, penulis sempat mengikuti lomba bapak-bapak (iya, lomba untuk bapak-bapak!) pada rangkaian kegiatan Agustusan.

Lombanya adalah menebak nama bumbu hanya dari aromanya. Karena penulis bukan Jati dari novel Aroma Karsa, tentu saja penulis mengalami kesulitan dalam menebak. Apalagi, penulis jarang membantu ibu di dapur.

Selain itu, penulis agak ragu untuk mencium bau rempah-rempah dapur tersebut, sehingga salah satu panitia mendorong bumbu tersebut ke hidung penulis dengan sedikit memaksa.

Untunglah, ada yang mengabadikan momen tersebut sehingga penulis mendapatkan inspirasi tulisan.

Memaksa Tanpa Merasa Terpaksa

Memaksa sering kali dikaitkan dengan hal yang negatif. Jika ada orang yang memaksakan kehendaknya kepada kita, tentu kita akan merasa jengkel sendiri.

Akan tetapi, bagaimana jika kita memaksa diri sendiri agar bisa maju beberapa langkah ke depan? Bagaimana jika dengan paksaan dari orang lain kita bisa berubah menjadi lebih baik lagi?

Penulis menggunakan analogi lomba tebak bumbu tersebut. Jika penulis tidak dipaksa untuk mencium aroma bumbu tersebut, mungkin selamanya penulis tidak akan memiliki keberanian untuk mencium aroma tersebut.

Jika tidak ada paksaan, entah dari diri sendiri atau orang lain, mungkin kita akan cenderung berjalan di tempat dan bertahan di zona nyaman.

Memaksa diri sendiri ini juga bisa menjadi cara yang mujarab untuk mengusir rasa malas, dengan memaksa diri agar tidak malas dan melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.

Begitu pun dalam beribadah. Dalam salah satu ceramah agama yang pernah penulis tonton, jika kita merasa malas sholat paksa saja. Lama kelamaan kita akan menjadi terbiasa dan tidak lagi merasa terpaksa.

Kita harus bisa memaksa diri sendiri (atau terkadang dipaksa orang lain) tanpa perlu merasa terpaksa demi kebaikan diri kita sendiri.

Selalu Memberi Nilai Tambah

Ayah penulis pernah mengajarkan bahwa di manapun kita berada, kita harus bisa memberikan nilai tambah. Bisa di lingkungan, bisa di tempat kerja.

Mungkin karena itulah penulis mengalokasikan waktu yang cukup banyak dalam membangun Karang Taruna di lingkungan tempat tinggal. Penulis ingin memberikan nilai tambah untuk tempat tinggal penulis.

Di tempat kerja, penulis sempat merangkap pekerjaan karena ingin memberikan nilai tambah di lingkungan kerja, yang membuat beban kerja penulis bertambah dua kali lipat.

Nah, nilai tambah ini tidak akan bisa kita berikan jika kita tidak memaksa diri sendiri. Secara logika, untuk apa penulis rela melakukan hal ekstra yang secara materiil tidak memberikan apa-apa?

Penulis memaksa diri sendiri karena percaya ada sesuatu yang tidak terlihat dan tidak muncul secara instan ketika kita memberikan nilai tambah di mana pun. Bisa sekadar pengalaman, bisa lebih dari itu.

Penutup

Dengan memahami hal ini, penulis akan berusaha memaksa diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya demi kebaikan penulis. Tentu saja, tidak dilakukan secara berlebihan.

Selain itu, pasti ada harga yang harus dibayar untuk hal tersebut. Akan tetapi, penulis percaya bahwa hasil yang kita dapatkan sebanding dengan usaha yang telah kita keluarkan.

Kadang kita memang perlu memaksa diri sendiri atau dipaksa orang lain dan lingkungan agar bisa menjadi diri yang lebih baik lagi.

 

 

Kebayoran Lama, 22 September 2019, terinspirasi sebuah foto lomba 17-an pada bulan Agustus kemarin.