Menengok ke Belakang karena 10-Year Challenge

Beberapa hari yang lalu, media sosial riuh dengan sebuah tantangan baru berjudul #10yearchallenge. Inti dari tantangan tersebut adalah kita harus mengunggah foto kita 10 tahun yang lalu dan membandingkannya dengan foto kita di masa kini.

Penulis tidak ikut mengunggah foto demi tantangan tersebut. Bukan karena ingin dibilang tidak latah, hanya saja penulis terlalu malas untuk mencari foto-foto lawas. Apalagi, penulis bukan tipe orang yang suka difoto.

Manfaat 10-Year Challenge

Walaupun tidak ikut berpartisipasi, penulis tetap mengamati hal ini. Penulis pernah menulis panjang lebar tentang kurang bermanfaatnya challenge-challenge tersebut pada tulisan Untuk Apa Viral.

#10yearchallenge (Wired)

Akan tetapi, penulis bisa melihat sisi positif dari tantangan yang satu ini, tidak seperti tantangan jatuh dari mobil yang hingga kini tidak bisa penulis temukan manfaatnya, selain pamer mobil mewah yang dimiliki oleh peserta tantangan.

Dengan melihat foto lama kita dan menyebarkannya di media sosial, mau tidak mau kita akan menjadi teringat masa-masa lalu itu. Nostalgia sejenak mungkin akan membantu kita melepaskan ketegangan dari penatnya rutinitas.

Akan tetapi, manfaat terbesar dari tantangan ini, jika kita sadar, adalah membuat kita merenungi apa saja yang telah kita lakukan selama sepuluh tahun terakhir ini. Lebih banyak hal bermanfaatnya atau malah lebih banyak mudharat-nya.

Penulis, 10 Tahun yang Lalu

10 tahun yang lalu, penulis masih duduk di bangku SMP yang akan masuk ke SMA. Selain menjalani kegiatan sekolah seperti siswa pada umumnya, penulis juga ikut beberapa organisasi seperti OSIS meskipun tidak terlalu aktif.

Setelah lulus SMA, penulis melanjutkan kuliah jurusan Informatika di Universitas Brawijaya. Sama seperti ketika sekolah, penulis juga mengikuti beberapa organisasi mulai dari Pers Kampus hingga Kelompok Riset Mahasiswa.

Lantas, penulis menjalani kehidupan yang sebenarnya, seperti yang sudah penulis ceritakan pada tulisan Dulu Kerja Di Mana. Dan pada akhirnya, di sinilah penulis berdiri sekarang.

Hasil Menengok ke Belakang

Satu hal yang paling penulis sesali dari 10 tahun tersebut adalah ketika teringat betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia. Penulis kerap menonton acara Runningman ataupun bermain game PES 2013 selama berjam-jam.

Hal tersebut sangatlah tidak produktif. Penulis kerap berandai-andai, seandainya saja waktu itu penulis bisa memanfaatkan waktu lebih baik, mungkin saja kehidupan penulis sekarang bisa lebih baik. Bisa jadi penulis sudah berada di Reading untuk melanjutkan studi.

Penyesalan (Verne Ho)

Akan tetapi, penulis juga sadar, tidak ada gunanya merutuk masa lalu. Yang bisa kita ubah adalah masa depan, dan masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan di masa kini.

Memang terkadang masa lalu bisa ikut campur bahkan merusak apa yang tengah kita lakukan. Akan tetapi penulis selalu meyakini bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha yang sudah kita keluarkan.

Kalaupun output yang kita harapkan tidak terjadi, percayalah bahwa itu pertanda akan ada keberhasilan dalam bentuk lain yang seringkali tidak kita sangka. Yang lebih tahu mengenai apa yang terbaik untuk kita adalah Tuhan, maka berbaiksangkalah kepada-Nya.

Penulis menyadari kesalahan membuang-buang waktu di masa lalu, maka penulis harus bisa memanfaatkan waktu yang dimiliki sekarang sebaik mungkin. Mengulang kesalahan yang sama akan membuat penulis termasuk orang yang merugi.

Dengan menengok ke belakang, kita bisa melakukan interopeksi diri. Kita bisa belajar dari pengalaman di masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Every cloud has a silver lining. Semua selalu ada hikmahnya.

 

 

Kebayoran Lama, 21 Januari 2019, terinspirasi dari #10yearchallenge

Foto: Hannah Busing

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.