Connect with us

Tips & Motivasi

Menjadi Seperti Boneka Daruma

Published

on

Gara-gara nonton film Stand By Me 2 Doraemon, Penulis jadi teringat salah satu panel komik Doraemon yang mengharukan. Sama seperti fokus cerita film ini, cerita panel tersebut juga memiliki keterkaitan dengan nenek Nobita.

Ceritanya, Nobita sedang bermain dengan mainan-mainan dari masa kecilnya berkat alat dari Doraemon. Ia begitu senang karena bisa memunculkan alat-alat berdasarkan memorinya. Doraemon pun mengingatkan Nobita, jangan sampai ia terbuai masa lalu sampai lupa masa depannya.

Apa jawaban dari Nobita? Ia mengatakan:

“Buat apa memikirkan masa depan, jauh lebih menyenangkan masa lalu.”

Hal ini sebenarnya wajar, mengingat masa kini Nobita tidak terlalu menyenangkan. Dirinya kerap dicap bodoh dan hampir tidak bisa melakukan apa-apa. Hampir setiap hari ia di-bully oleh Giant dan Suneo. Jika tidak ada Doraemon, mungkin hidupnya akan terus mengalami kesialan.

Akan tetapi, Nobita lantas menemukan sebuah mainan boneka daruma. Gara-gara itu, ia teringat oleh neneknya dan memori masa kecilnya melintas begitu saja.

Nobita dan Nenek (TheMovieList.net)

Waktu itu, ceritanya Nobita tengah terjatuh di halaman dan menangis. Tiba-tiba, di sampingnya menggelinding sebuah boneka daruma. Ternyata, boneka tersebut dilemparkan oleh neneknya yang sedang sakit.

Nobita pun segera mengambil boneka tersebut dan segera menuntuk neneknya untuk kembali masuk ke rumah. Neneknya pun berkata, dirinya punya harapan agar Nobita bisa tumbuh seperti boneka daruma. Mau jatuh berapa kali pun, boneka daruma akan selalu bangkit lagi.

Nobita kecil pun berjanji kalau dirinya akan menjadi seperti boneka daruma. Nobita pun menangis ketika mengingat kenangan ini karena tak lama seperti itu, nenek yang sangat menyayanginya meninggal dunia.

Nobita pun segera bangkit dan mulai belajar agar bisa menjadi seperti apa yang diharapkan oleh neneknya. Ia ingin menjadi seperti boneka daruma yang selalu bangkit, sebanyak apapun ia jatuh.

Jatuh 99 Kali, Bangkit 100 Kali

Dalam film Batman Begins, Alfred pernah berkata kepada Bruce Wayne muda:

(UXMISFIT.COM)

Kalau kita tidak pernah terjatuh, kita tidak akan pernah belajar bagaimana caranya untuk bangkit. Jatuh sekali, bangkit dua kali. Jatuh 99 kali, bangkit 100 kali. Mau berapa kali pun gagal, kita akan terus berusaha lebih baik lagi.

Memang, terkadang ada kalanya kita menyadari diri kita penuh dengan keterbatasan. Ada sesuatu yang seolah ditakdirkan tidak akan berhasil kita lakukan. Menyadari kapasitas diri, bukan merasa pesimistis, juga penting dalam hidup ini.

Jika kita tidak pernah belajar tentang astronomi dan tidak pernah melatih fisik, jangan bermimpi untuk menjadi seorang astronot. Jika kita memiliki kekurangan fisik yang membuat kita tidak bisa menjadi sesuatu, jangan dipaksakan.

Setelah mengetahui kemampuan diri, kita bisa menentukan apa saja yang ingin kita kejar dalam hidup ini sesuai dengan kemampuan tersebut. Belajar, berlatih, menjalin relasi dengan orang lain, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk tujuan hidup kita.

Terjatuh (Medium)

Dalam perjalanannya, kita mungkin akan mengalami yang namanya kegagalan. Hal itu sangat wajar dan bisa terjadi pada siapapun. Perusahaan sebesar Google dan Microsoft pun pernah mengeluarkan produk yang gagal total di pasaran.

Yang penting, jangan mudah menyerah. Sekali gagal, kita coba lagi dengan cara yang lain. Dua kali gagal, coba lagi dengan cara yang lain. Jika kita terus-menerus menemui kebuntuan, mungkin ada yang salah dengan tujuan kita dan tidak ada salahnya untuk mengubah tujuan tersebut.

Penulis akan mengambil contoh dari kehidupannya sendiri. Penulis sudah empat kali gagal ketika mencoba mengambil beasiswa S2 keluar negeri. Setelah kegagalan keempat, Penulis berpikir untuk mengubah tujuan tersebut dengan mencoba bekerja dulu.

Penulis pun mendapatkan pekerjaan di bidang media di Jakarta, area pekerjaan yang menjadi passion Penulis. Siapa yang menyangka Penulis merasa nyaman bekerja di area ini dan sedang meniti karirnya. Tujuan untuk mendapatkan beasiswa pun teralihkan. Penulis sekarang ingin menjadi seorang profesional di bidang ini.

***

Kita tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Tuhan yang Maha Tahu lah yang benar-benar mengetahuinya. Bisa saja kita sengaja digagalkan di satu tempat untuk mendapatkan yang terbaik di tempat lain, terkadang tanpa pernah kita duga sama sekali.

Untuk itu, tugas kita sebagai manusia adalah terus berusaha bangkit dari kegagalan-kegagalan yang akan kita temui dalam hidup. Sama seperti boneka daruma, kita harus terus bangkit walaupun harus terjatuh berapa kali pun.

Lawang, 2 April 2021, terinspirasi setelah teringat salah satu panel komik Doraemon yang membahas boneka daruma.

Foto: Voyagin Blog

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Tips & Motivasi

Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Published

on

By

Ketika sedang ada masalah atau sedang bertikai dengan orang lain, Pembaca tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain?

Kalau Penulis sendiri adalah tipe orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Penulis akan berkaca untuk mencari apa salahnya dan jarang berfokus pada kesalahan orang lain (walau bukan berarti tidak pernah melakukannya).

Menyalahkan diri sendiri mungkin terkesan baik karena artinya kita melakukan interopeksi diri sehingga bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Hanya saja, jika terlalu menyalahkan diri sendiri bisa memberikan dampak yang buruk kepada kita.

Menyesali Perbuatan

Ambil contoh seperti ini. Kita memiliki pasangan dan sedang bertengkar hebat. Terlepas dari apa masalahnya dan apa penyebabnya, orang yang suka menyalahkan diri sendiri akan lebih banyak menyesali perbuatannya.

“Ah, harusnya aku enggak gitu tadi.”

“Coba aja waktu itu aku enggak gini.”

“Kenapa sih aku harus melakukan kebodohan seperti itu?”

“Lagi-lagi aku mengulangi kesalahan yang sama.”

Seperti yang sudah Penulis sebutkan sebelumnya, menyalahkan diri sendiri menjadi salah satu bukti kalau kita menyadari kesalahan diri sendiri.

Akan tetapi, hanya menyalahkan diri sendiri saja tidak menghasilkan apa-apa. Merutuk kebodohan dan menyesali perbuatan tidak akan membuat keadaan kembali menjadi lebih baik.

Penulis terkadang terjebak dalam situasi ini. Sebagai orang yang mudah overthinking, Penulis akan terus-menerus memikirkan kesalahan yang dirasa telah dilakukan, seolah-olah terbelenggu oleh perasaan bersalah tersebut.

Tidak Memberikan Manfaat

Menyalahkan diri sendiri, terutama secara berlebihan, tidak akan memberikan manfaat apapun kepada diri kita. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang penting kita bisa belajar dari kesalahan tersebut.

Daripada terus menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita fokus mencari kebaikan. Apa yang bisa dipelajari dari kesalahan ini? Apa hikmah yang bisa diambil? Bagaimana agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi?

Berat? Sangat. Susah? Pasti. Namun, langkah tersebut jauh lebih baik dibandingkan hanya menyalahkan diri sendiri yang bisa begitu merugikan sehingga patut untuk diupayakan.

Penulis percaya bahwa semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini memiliki sebab dan alasan untuk terjadi. Seringnya, kita tidak bisa langsung mengetahuinya dan butuh waktu yang tidak sebentar.

Jangan Menyalahkan Pihak Lain Juga

Perlu diingat, berhenti menyalahkan diri sendiri bukan berarti kita beralih dengan menyalahkan orang lain. Tidak semua hal, bahkan masalah sekalipun, membutuhkan pihak yang salah.

Daripada saling menyalahkan, baik ke diri sendiri maupun orang lain, bukankah lebih baik fokus ke solusi? Coba saling menurunkan ego dan belajar saling memahami satu sama lain agar bisa mencari jalan terbaik.

Jangan fokus terhadap masalah, tapi fokus ke penyelesaiannya. Cari jalan tengah yang tidak memberatkan atau menyakiti salah satu pihak. Pasti bisa jika kita sama-sama mau berusaha mengerti.

Percaya, memiliki rasa bersalah itu sama sekali tidak enak rasanya. Penulis sangat sering merasakannya. Menyalahkan diri sendiri bisa membuat diri ini merasa depresi yang berkepanjangan.

Penutup

Memiliki perasaan bersalah setelah melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi dan wajar. Bahkan, kita bisa belajar untuk memperbaiki diri dari perasaan tersebut.

Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita hanya berfokus pada kesalahan yang telah kita buat tanpa berbuat sesuatu untuk “menebus” kesalahan tersebut.

Memiliki perasaan bersalah menjadi salah ketika kita menjadi tidak bisa memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang telah diperbuat dan merutuk diri sendiri secara tidak sehat.

Oleh karena itu, berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Fokus pada hal-hal baik yang bisa dipetik atau dilakukan. Hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberi manfaat sedikitpun.


Lawang, 20 Juli 2021, terinspirasi setelah mendengar nasihat dari seorang kawan

Foto: Liza Summer

Continue Reading

Tips & Motivasi

Lelah dengan Diri Sendiri

Published

on

By

Lelah ada dua jenis: lelah fisik dan lelah mental. Kalau lelah fisik kita tinggal beristirahat untuk memulihkan stamina, gimana kalau lelah mental? Cara yang dibutuhkan jelas lebih kompleks.

Lelah mental pun ada banyak macamnya, entah karena lingkungan yang menekan, baru mengalami kejadian yang traumatis, hubungan yang toxic, dan lain sebagainya.

Salah satu lelah yang paling berbahaya menurut Penulis adalah lelah dengan diri sendiri.

***

Apa itu lelah dengan diri sendiri? Tentu ada banyak versi, tergantung dari individu masing-masing. Namun bagi Penulis, lelah dengan diri sendiri memiliki keterkaitan yang erat dengan depresi dan frustasi.

Ciri-cirinya ada beberapa, seperti menjadi sensitif dan mudah emosi, suasana hati berubah-ubah, merasa malas dan kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu, tidak ingin bertemu orang, pikiran terasa penat, dan lain-lain.

Penyebabnya juga banyak. Misal, kadang kita menyadari kalau diri ini punya berbagai kekurangan. Hanya saja, rasanya sangat susah untuk menghilangkan atau mengurangi sifat buruk tersebut yang akibatnya membuat kita merasa lelah.

Penulis misalnya, merasa lelah dengan sifat overthinking yang dimilikinya. Mau berusaha diam berpikir seperti apapun, otak ini rasanya tidak mau berhenti berpikir. Akibatnya, Penulis pun overthinking terhadap overthinking-nya.

Sering merasa gagal juga bisa menimbulkan perasaan tersebut. Rasanya, diri ini begitu tidak berguna sehingga hal sepele saja tidak bisa dilakukan. Pikiran negatif pun datang dan menguasai diri.

Kadang kita juga merasa tidak memahami diri sendiri. Penulis jadi teringat dengan perkataan Frigga kepada anaknya, Loki, di film Thor: The Dark World.

“Always so perceptive about everyone but yourself.”

Frigga , Queen of Asgard

Terjemahannya adalah: Selalu bisa memahami orang lain, tapi tidak kepada diri sendiri. Rasanya kita bisa dengan mudah memahami orang lain, tapi justru tidak memahami dirinya sendiri.

Pikiran-pikiran negatif juga membuat kita merasa lelah dengan diri sendiri. Merasa tidak berguna, insecure dengan masa depan, ada sesuatu yang mengganjal, selalu menyalahkan diri sendiri, ada banyak yang menyebabkan kita merasa lelah dengan diri sendiri.

***

Lelah terhadap diri sendiri adalah sebuah kondisi mental yang butuh diobati. Banyak yang menyarankan untuk mendekatkan diri ke Tuhan, menjadi produktif, liburan, melakukan hal yang menyenangkan, berdamai dengan keadaan, dan lain-lain.

Kadang kita hanya butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan pikiran. Rasanya ingin menepi sejenak agar otak bisa menjadi jernih kembali dan hati merasa tenang. Semoga setelah itu, kita bisa menjadi lebih positif dalam menatap hidup.

Jika kita merasa tidak bisa mengatasinya sendirian, mungkin sudah saatnya untuk meminta bantuan kepada orang lain.

Coba temukan orang-orang yang bisa memberi rasa nyaman, yang tidak akan menghakimi kita apapun cerita kita, yang bisa memberikan ketenangan, yang bisa menguatkan kita. Tidak ada salahnya untuk mencoba ke psikiater.

Jangan sepelekan perasaan lelah terhadap diri sendiri. Kondisi ini bisa berpengaruh kepada kesehatan mental dan fisik kita. Untuk itu, segeralah temukan cara mengatasinya yang paling sesuai denganmu.


Lawang, 22 Juni 2021, terinspirasi dari pengalaman sendiri

Foto: Annie Spratt

Sumber Artikel:
Lelah dengan sifat pada diri sendiri. Mohon bantuan dok. | Tanya Dokter (sehatq.com)
5 Tanda Kalau Dirimu Mulai Lelah dan Butuh Waktu untuk Diri Sendiri (idntimes.com)
5 Tanda Lelah Hati yang Berdampak pada Kesehatan Mental | Popmama.com

Continue Reading

Tips & Motivasi

Menyelesaikan Masalah dengan Tidak Berbuat Apa-Apa

Published

on

By

Ada satu kutipan dari Sam Wilson dalam serial The Falcon and the Winter Soldier yang sangat Penulis sukai. Kalimat tersebut adalah:

“Maybe this is something that you or Steve will never understand. But can you accept that I did what I thought was right?”

Sam Wilson

Kalimat atau pertanyaan tersebut diutarakan oleh Sam ketika Bucky kembali mempertanyakan keputusan Sam menyerahkan perisai warisan Steve Rogers kepada pemerintah. Sam merasa ia hanya melakukan apa yang ia pikir benar.

Kita semua mungkin pernah merasa seperti itu. Kita berbuat sesuatu, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, karena merasa bahwa itulah yang terbaik. Sayangnya, terkadang hal tersebut berubah menjadi sebuah kesalahan.

Belum Tentu Baik Juga untuk Orang Lain

Sam dan Bucky (Screen Rant)

Apa yang kita pikir benar, ternyata belum tentu benar bagi orang lain. Bahkan, bisa saja hal tersebut justru menyusahkan atau mengganggu orang lain. Perbedaan persepsi dalam memandang suatu hal sering menjadi pemicu utamanya.

Jika orang dekat kita memiliki sebuah permasalahan, biasanya kita akan melakukan sesuatu untuk membantunya dengan cara kita. Sayangnya, ternyata cara yang kita anggap benar tersebut tidak cocok untuk orang tersebut.

Misal, ada teman kita yang sedang patah hati karena memergoki kekasihnya seleweng. Kita berusaha untuk menghiburnya dengan berbagai cara dan ia justru marah. Ternyata, yang ia butuhkan sekarang adalah waktu untuk sendiri dan merenung, bukan hiburan.

Contoh lain ketika kita punya seorang adik yang sedang kewalahan dengan tugasnya. Kita merasa ingin membantunya mengerjakan tugas tersebut. Ia justru marah karena ia ingin berhasil dengan kerja kerasnya sendiri, bukan dengan bantuan orang lain.

Kita hanya melakukan apa yang kita pikir benar dan ternyata salah bagi orang lain. Oleh karena itu, terkadang tidak berbuat apa-apa justru menjadi solusi dari sebuah permasalahan.

Tidak Berbuat Apa-Apa

Tidak Berbuat Apa-Apa (Good Vibe Blog)

Penulis mengetahui teori “tidak berbuat apa-apa” ini ketika membaca buku berjudul Four Seconds karya Peter Bregman. Intinya, terkadang dalam penyelesaian masalah, berbuat sesuatu justru akan memperparah keadaan. Tidak berbuat apa-apa justru menjadi kunci penyelesaiannya.

Penulis ambil dua contoh di atas, kawan yang sedang patah hati dan adik yang kewalahan dengan tugasnya.

Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si kawan pada akhirnya berhasil move on setelah menemukan teman kencan dengan bantuan aplikasi Tinder. Jika kita tidak berbuat apa-apa, mungkin si adik berhasil mempelajari sesuatu yang baru dari tugas-tugasnya.

Di dalam buku Four Seconds, ada kalimat seperti berikut:

“Terkadang, tidak mencoba memperbaiki sesuatu merupakan hal yang justru dibutuhkan untuk memperbaikinya.”

Buku four seconds halaman 36

Hanya saja, teori ini tidak bisa diterapkan dalam semua kondisi. Jika ada pekerjaan kantor yang menumpuk dan kita memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal dipecat sama atasan. Jika ada tugas sekolah menumpuk kita tidak berbuat apa-apa, ya kita bakal mendapat nilai buruk.

Intinya, teori tidak berbuat apa-apa ini hanya bisa dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. Bagaimana cara mengetahui kapan kita harus tidak berbuat apa-apa? Harus berdasarkan pengalaman dan data pada masa lalu. Tidak ada teori pasti yang bisa digunakan.

Selain itu, jangan sampai teori ini membuat kita menjadi orang yang cuek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Itu juga salah. Tetaplah berusaha untuk menjadi orang baik dan tak segan mengulurkan tangan ketika orang lain butuh pertolongan.

Penutup

Jika Sam tidak berbuat apa-apa dan menyimpan perisai Captain America di rumahnya, mungkin tidak akan ada Captain America baru yang menjadi pemicu konflik di serialnya.

Walau ada kemungkinan pemerintah akan meminta Sam menyerahkan perisai tersebut, setidaknya bukan ia yang memberikan secara sukarela. Ia tidak akan bertanggung jawab atas terpilihnya John Walker sebagai Captain America baru dan tidak perlu berdebat dengan Bucky.

Sam hanya melakukan apa yang ia pikir benar. Menyerahkan perisai tersebut ia lakukan atas dasar karena ia merasa belum pantas menjadi pengganti Captain America.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, terkadang apa yang kita pikir benar belum tentu benar bagi orang lain. Permasalahan yang hendak kita selesaikan justru menjadi semakin rumit.

Jika sudah demikian, mungkin memang saatnya kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan suatu permasalahan.


Lawang, 24 Mei 2021, terinspirasi setelah teringat kalimat favorit yang diucapkan oleh Sam Wilson pada serial The Falcon and the Winter Soldier

Foto: cahobnemodo.ga

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan