Peduli dengan Diri Sendiri

Dulu, Penulis sering dianggap sebagai pribadi yang cuek. Entah bagaimana definisinya bagi orang pada waktu itu, bisa jadi karena Penulis terlihat sering tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Ketika beranjak dewasa, Penulis menyadari bahwa sikap ini harus sedikit diperbaiki. Penulis harus mampu menumbuhkan sikap peduli terhadap sekitarnya.

Secara perlahan, Penulis mampu sedikit berubah. Contoh paling mudah adalah aktif di berbagai kegiatan di lingkungan tempat tinggal, mulai dari berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti hingga merintis Karang Taruna.

Memberikan perhatian kepada orang lain juga merupakan bentuk kepedulian. Menanyakan bagaimana kabar, memberi semangat ketika orang lain down, merupakan contoh kecil lainnya.

Hanya saja, jangan sampai kita terlalu peduli dengan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri.

Peduli dengan Diri Sendiri

Bagi sebagian besar orang, yang paling mampu peduli kepada dirinya adalah dirinya sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada kepedulian orang-orang yang ada di sekitar kita.

Artinya, jika kita tidak peduli dengan diri sendiri, siapa yang akan peduli? Berharap orang lain akan peduli? Mungkin ada yang mendapatkan privilege seperti itu, tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Penulis sudah merasakan sendiri bagaimana muncul rasa kecewa karena berharap kepada manusia. Berharap orang lain akan peduli menjadi salah satunya.

Oleh karena itu, Penulis sedang belajar untuk memedulikan diri sendiri terlebih dahulu sebelum memedulikan orang lain. Bagaimana caranya?

Cara Peduli dengan Diri Sendiri

Ada banyak cara untuk bisa peduli kepada diri sendiri. Hidup sehat, makan-makanan bergizi, pola tidur teratur, olahraga rutin, menjadi contoh-contoh mudahnya walaupun Penulis sendiri belum bisa melakukannya.

Cara yang lebih detail adalah mencintai diri sendiri. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, kita wajib mencintai diri kita sendiri. Hal ini mungkin susah untuk orang yang sering merasa insecure, tapi bisa dilakukan.

Selain itu, buat kita bahagia sesering mungkin. Kalau kata Chelsea Islan, jangan lupa bahagia. Memang ada kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk bahagia, tapi jangan sampai lupa kalau kita butuh kebahagiaan.

Bahagia juga sebaiknya harus bergantung kepada diri sendiri, bukan dari orang lain. Kita terkadang butuh faktor eksternal untuk bisa merasa bahagia (membeli barang, bertemu orang tersayang, dll), tapi sebaiknya kebahagiaan itu berawal dari diri sendiri.

Memanfaatkan waktu sebaik mungkin juga harus dilakukan. Jangan sampai waktu kita banyak dihabiskan dengan scrolling media sosial atau main game hingga lupa waktu.

Untuk menumbuhkan kepedulian kepada diri sendiri, akhir-akhir ini Penulis sering membaca buku dengan tema self-care ataupun buku-buku bertemakan kebahagiaan.

Seorang teman secara bercanda mengatakan bahwa Penulis melakukan itu karena tidak ada yang perhatian, sehingga harus diri sendiri yang melakukannya.

Intinya, ada banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan sebagai bentuk kepedulian kepada diri sendiri.

Penutup

Peduli dengan orang lain itu sama sekali tidak ada salahnya. Kalau bisa malah peduli dengan ikhlas, peduli tanpa mengharapkan timbal balik apapun. Memang berat, tapi bisa dilatih agar terbiasa.

Walaupun begitu, jangan sampai kita terlalu memedulikan orang lain hingga mengabaikan diri sendiri. Jiwa dan raga kita membutuhkan perhatian dari tuannya karena kalau bukan dari diri kita sendiri, dari siapa lagi?

 

 

Kebayoran Lama, 14 Maret 2020, terinspirasi dari apa hayo?

Foto: Analytic Healer