Rebahan Terus, Kapan Suksesnya?

Pernah mendengar atau membaca kata rebahan? Rebahan menjadi salah satu kata yang paling populer saat ini dan kerap diidentikkan dengan angkatan milenial.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kegiatan bersantai di atas kasur untuk jangka waktu yang cukup lama, sering kali diiringi dengan kegiatan bermain HP.

Para “pengikutnya” disebut sebagai kaum rebahan yang terdiri dari orang-orang yang malas beraktivitas demi mencicipi nikmatnya bersantai di atas kasur.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rebahan, apalagi dilakukan ketika weekend setelah menjalani hari-hari sekolah atau kerja yang sangat padat.

Akan tetapi, terlalu banyak rebahan juga akan memberikan efek negatif yang akan merugikan diri sendiri.

Stereotipe Masyarakat Terhadap Rebahan

Di tengah tuntuntan hidup yang makin membuat kepala pening, rebahan (atau dalam Bahasa Jawa disebut leyeh-leyeh) sebenarnya penting digunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita dari rutinitas sehari-hari.

Rebahan dan Kasur (elizabeth lies)

Tidak harus dilakukan ketika weekend, rebahan juga dilakukan pulang kantor ataupun beberapa menit sebelum berangkat kerja. Hal yang sama juga berlaku untuk usia anak sekolah.

Hanya saja, muncul stereotipe dari masyarakat kita yang menganggap kaum rebahan adalah sekumpulan orang pemalas yang menyia-nyiakan waktunya demi hal yang kontraproduktif.

Hal ini diperparah dengan berbagai label yang melekat pada generasi milenial yang dianggap serba instan, cenderung apatis terhadap sekitarnya, tidak punya tujuan hidup, egosentris, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, stereotipe ini juga kurang pas jika digunakan untuk mengecap semua generasi milenial. Ada banyak hal yang membuat generasi milenial membutuhkan rebahan, sehingga rebahan tidak selalu identik dengan kemalasan.

Generasi milenial hidup di era kemajuan teknologi yang begitu pesat sehingga apapun bisa dilakukan dengan cepat, bahkan dilakukan sambil rebahan. Kerja pun bisa dilakukan di atas kasur tanpa perlu berangkat ke kantor setiap pagi.

Hal ini berbeda dengan zaman dulu, zamannya generasi boomer. Belum ada smartphone dan teknologi lainnya, sehingga rebahan bisa menjadi aktivitas yang sangat membosankan.

Akan Tetapi…

Rebahan dibutuhkan mereka yang sudah menjalani hari-hari padat dengan jumlah istirahat yang relatif sedikit. Tubuh ini memiliki energi yang terbatas, sehingga perlu diisi ulang.

Padatnya Rutinitas (Helloquence)

Hanya saja untuk orang-orang dengan jumlah aktivitas yang tidak terlalu padat, rebahan tidak terlalu dibutuhkan. Mereka murni rebahan karena memang pemalas (terkadang, Penulis juga menjadi salah satu bagian dari mereka).

Contoh, seorang karyawan di kantor kerjaannya ghibah dan tidur, pulang kantor rebahan main game sampai ngantuk, besoknya kesiangan sehingga di kantor tidur lagi. Kerjanya enggak seberapa, rebahannya banyak banget.

Terlalu banyak rebahan akan membawa beberapa dampak negatif, seperti rentan terkena penyakit, menurunkan daya konsentrasi, hingga membuat diri kita jauh dari kesuksesan.

Kasarnya, gimana mau dapat gaji besar kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau ketemu jodoh kalau kerjaannya cuma rebahan mulu? Gimana mau sukses kalau kerjaannya cuma rebahan mulu?

Sebagai orang yang pemikir, Penulis kerap berpikir mau kayak gini sampai kapan? ketika dirinya lebih sering bermalas-malasan daripada melakukan sesuatu yang produktif.

Jika sudah demikian, Penulis akan merasa bersalah karena telah membuang-buang waktunya. Penulis pun mulai beraktivitas yang lebih produktif, biasanya dimulai dengan membersihkan kamar.

Hidup ini singkat, sayang jika digunakan untuk melakukan sesuatu yang kurang berarti.

Penutup

Rebahan di atas kasur sambil scrolling media sosial, main game HP, atau nonton YouTube berjam-jam memang terlihat sangat nikmat. Saking nikmatnya, rebahan bisa berubah menjadi sesuatu yang bersifat candu.

Rebahan memang menggiurkan, tapi kalau dilakukan secara berlebihan hingga melupakan aktivitas yang lain juga kurang baik. Penulis sering seperti itu, membuang waktunya dengan rebahan sambil melakukan aktivitas konsumtif yang minim manfaat.

Oleh karena itu, tulisan kali ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya.

Orang bisa sukses (terlepas dari segala privilege yang dimiliki) karena bangun dari tempat tidur dan mulai melakukan sesuatu untuk menggapai mimpinya.

 

 

Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi dari diri sendiri yang merasa dirinya terlalu banyak rebahan

Foto: The Independent

Sumber Artikel: Detik, Kumparan