Tidak Ada Makan Siang Gratis

Gaji besar tapi sering stres atau gaji secukupnya tapi hidup tenang?

Kalau disodori pertanyaan seperti di atas, kemungkinan besar kita akan menjawab gaji besar dan hidup tenang. Siapapun tentu ingin merasakan seperti itu.

Analogi di atas Penulis gunakan sebagai contoh bahwa semua pilihan yang kita ambil selalu memiliki harga yang harus dibayar.

Melepaskan Demi Mendapatkan

Tidak semua orang bisa menikmati gaji besar dan bisa hidup bahagia dengannya. Beberapa dari kita memiliki pilihan yang amat terbatas, dan kerap kali pilihan tersebut menimbulkan dilema.

Sebuah idiom dalam Bahasa Inggris berbunyi:

There ain’t no such thing as a free lunch

Yang jika diterjemah secara bebas tidak ada makan siang gratis. Idiom ini digunakan untuk menggambarkan bahwa di dunia tidak ada yang bisa didapatkan secara cuma-cuma.

Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tidak jarang kita harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkannya.

Misal kita ingin mendapatkan sebuah barang yang diinginkan, minimal kita akan melepaskan uang yang ada di dompet untuk mendapatkannya.

Kalau maling kan bisa dapat barang secara gratis? Secara materiil iya, tapi secara tidak sadar mereka membuang moral mereka demi mendapatkan sesuatu secara haram.

Mungkin ada beberapa pengecualian, seperti udara dan sinar matahari yang bisa kita nikmati secara gratis tanpa melakukan usaha apapun. Selain itu, nampaknya tidak ada lagi sesuatu yang gratis di dunia ini.

Semua Pilihan Memiliki Konsekuensi

Idiom di atas juga bisa diterjemahkan menjadi semua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.

Dengan mengabaikan faktor privilege, Penulis akan memberi contoh bagaimana seorang murid ingin pintar dan menjadi juara kelas.

Agar bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, konsekuensinya adalah ia harus mengeluarkan tenaga untuk belajar dan mengorbankan waktu bermainnya.

Mungkin ia juga akan susah mendapatkan teman karena terlalu banyak belajar, namun itu adalah pilihan yang telah ia ambil.

Penulis akan memberi contoh lain dari pengalamannya sendiri. Penulis memilih untuk merantau ke Jakarta untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi.

Apa konsekuensinya? Kehilangan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Entah sudah berapa momen yang Penulis lewatkan karena terpisah oleh jarak.

Penulis benar-benar seperti membuka lembaran hidup baru ketika pertama kali menjejakkan kaki di ibukota. Bertemu dengan orang-orang baru, lingkungan yang berbeda, dan lain sebagainya.

Apa timbal balik yang didapatkan? Mendapatkan banyak kenalan baru, segudang pengalaman yang tidak akan Penulis temukan di Malang, mengasah hard skill yang dimiliki, dan masih banyak lagi lainnya.

Begitupun sebaliknya. Jika Penulis ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya, Penulis harus melepaskan karirnya di Jakarta dan kembali ke Malang.

Penutup

Makna utama dari idiom there ain’t no such thing as a free lunch adalah bagaimana kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain.

Penulis meyakini kalau sebenarnya masih ada yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma, namun Penulis kesulitan untuk menemukan contohnya.

Yang jelas, dengan mengetahui kenyataan ini, Penulis berharap bisa lebih menghargai semua pilihan yang dibuat dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah dikorbankan.

 

 

Kebayoran Lama, 28 Juni 2020, terinspirasi dari sebuah idiom Bahasa Inggris yang sangat terkenal

Foto: Pixabay

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.