Untuk Kamu yang Merasa Terbuang

Sebagai orang yang dulu sering merasa susah berinteraksi dengan orang lain (atau sampai sekarang?), penulis sering kali berpikir secara berlebihan terhadap persepsi orang lain kepada diri penulis.

Bahkan, penulis sampai merasa sebagai orang yang terbuang, yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja. Hanya dianggap sebagai pelengkap yang keberadaannya tidak diinginkan.

Setelah dewasa, penulis menyadari bahwa pola berpikir merasa terbuang cukup destruktif dan tidak membawa satu pun hal yang positif untuk diri kita.

Bukan Orang yang Terbuang

Bukan Terbuang (Helena Lopes)

Penulis menilai ada dua poin yang bisa diangkat dari topik perasaan terbuang ini. Poin pertama, pikiran tersebut belum tentu benar.

Bisa jadi, orang lain tidak benar-benar berpikir seperti itu. Mungkin saja kita yang kurang terbuka kepada orang lain sehingga komunikasi menjadi tidak lancar.

Jika melihat ke belakang, memang banyak peristiwa yang membuat penulis merasa seperti itu. Akan tetapi ketika melakukan interopeksi diri, penulis sadar bahwa bisa jadi akar permasalahannya ada di dalam diri penulis sendiri.

Dalam perenungan, penulis menemukan salah satu akar permasalahan ini adalah rasa minder yang bersarang dalam diri. Penulis adalah orang yang kurang percaya diri walaupun tidak sampai akut.

Seandainya dulu penulis sedikit lebih percaya diri dan berani nimbrungĀ di dalam pembicaraan atau sekadar berusaha terlibat dalam diskusi, mungkin hasilnya akan berbeda dan penulis tidak akan merasa jadi orang yang terbuang.

Memang Orang yang Terbuang

Memang Terbuang (IDN Times)

Sayangnya, poin yang kedua adalah jika memang keberadaan kita tidak diinginkan oleh orang lain. Kita dianggap tidak cocok dengan gaya bergaul mereka, tidak satu frekuensi, bahkan dianggap tidak satu level dengan mereka.

Penulis pernah merasa dianggap seperti ini, sehingga mau seberusaha apapun untuk membaur akan menjadi percuma karena pada dasarnya ada penolakan yang cukup terasa. Jujur, rasanya cukup sakit.

Walaupun begitu, kita tidak perlu bersedih. Bisa jadi, kita memang tidak cocok dengan mereka. Toh, kita tidak punya kewajiban untuk bisa akrab dengan semua orang yang kita kenal.

Ambil saja sisi positifnya. Mungkin, itu merupakan pengingat diri kita, siapa tahu kita pernah memperlakukan hal yang sama kepada orang lain, tapi tidak kita sadari.

Mungkin kita memang tidak bisa berteman dengan mereka. Sama seperti pernikahan, persahabatan juga tidak bisa dipaksakan. Buktinya, kita cenderung berkumpul dengan teman-teman yang kita anggap cocok.

Jadi, jika kita berada di dalam situasi seperti itu, jangan diambil pusing. Teringat dari buku tulisan Mark Manson, berusahalah untuk bersikap bodo amat.

Penutup

Merasa sebagai orang terbuang. Merasa sebagai kepribadian yang dibenci dan tidak diharapkan kehadirannya. Merasa sebagai orang yang dibenci dan dimusuhi.

Pikiran-pikiran seperti itu kerap muncul pada orang-orang yang kerapĀ overthinking seperti penulis. Untunglah, penulis telah menyadari kesalahan itu dan memutuskan untuk melanjutkan hidup bersama orang-orang terdekat.

Daripada berfokus kepada orang-orang yang tidak peduli kepada kita, mengapa tidak kita curahkan hidup kita kepada orang-orang yang berharga dan mau menerima kita di kehidupan mereka?

 

 

Kebayoran Lama, 9 September 2019, terinspirasi dari sebuah diskusi hati ke hati dengan seseorang

Foto: Francisco Gonzalez