Jangan Menjadi Yes-Man

Saya suka mempelajari sejarah, terutama sejarah sekitar kemerdekaan Indonesia dan masa-masa ketika negara kita sedang membangun jati dirinya. Untunglah bagi saya karena Tempo banyak membuat serial biografi tokoh-tokoh nasional yang ikut berjuang merebut kemerdekaan, sehingga saya mendapatkan banyak literatur tentang periode kemerdekaan. Sekarang saya lebih condong untuk mengetahui sejarah ketika pergantian orde antara Soekarno dan Soeharto. Oleh karena itulah, ketika saya menemukan buku Menyibak Tabir Orde Baru karya Jusuf Wanandi di Togamas Kediri, tanpa banyak pikir langsung saya bawa pulang buku tersebut, tentu setelah membayarnya.

Buku ini terasa nyata karena memang sang penulis banyak berjibaku secara langsung dalam berbagai peristiwa yang terjadi selama pergantian orde. Sebenarnya banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari beragam peristiwa ini, namun di tulisan kali ini saya ingin menekankan pengaruh Yes-Man yang ada di sekitar kita, terutama jika kita menjadi seorang pemimpin.

Sesuai namanya, Yes-Man artinya orang yang selalu mengiyakan apapun perkataan orang lain, dalam konteks disini adalah pemimpin. Ini sangat berbahaya apabila sang pemimpin menutup opini pihak lain yang bukan Yes-Man karena membuat mereka merasa apapun keputusan mereka adalah yang terbaik dan terbenar.

Sejarah telah membuktikannya. Setelah pemilu pertama pada tahun 1955, Bung Karno pada masa orde lama menggagas Demokrasi Terpimpin, dimana konsep tersebut berarti pengambilan keputusan harus dilalui musyawarah, namun hasil akhirnya berada di tangan presiden sebagai kepala negara. Menjelang akhir pemerintahannya, Bung Karno semakin paranoid dengan posisinya yang mulai terancam. Dan dengan banyaknya Yes-Man yang ada di sekelilingnya, maka ketika beliau membuat keputusan-keputusan yang dianggap penulis buku ini kurang tepat pun diiyakan.

Saya belum selesai membaca buku karya salah satu pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS) ini, namun saya bisa menyimpulkan di akhir era orde baru pun banyak Yes-Man di sekitar presiden Soeharto karena terdapat istilah ABS alias Asal Bapak Senang. Tidak seperti penurunan Soekarno yang terstruktur oleh pihak-pihak tertentu, Soeharto harus lengser karena people power, sama seperti mantan presiden Filiphina Ferdinand Marcos.

Hikmah dari kejadian ini adalah jangan pernah asal mengiyakan perkataan orang, jangan menjadi Yes-Man, walaupun orang tersebut sekelas presiden pun. Sebagai bawahan, kita harus bisa kritis apabila terdapat sesuatu yang menurut kita kurang tepat. Sebaliknya sebagai atasan, bukalah ruang untuk berdiskusi apabila terdapat perbedaan pendapat. Manusia itu tidak mungkin selalu benar, karena hanya Tuhan yang kebenarannya mutlak. Opini yang berseberangan bisa jadi lebih baik dari opini kita sendiri.

Manusia harus mempunyai sikap, bukan sekedar berkata iya untuk menyenangkan orang lain.

 

 

Lawang, 8 Januari 2018, setelah meminta tolong salah satu anggota Karang Taruna yang bernama Nabilla untuk memberikan review untuk novel saya

Sumber Foto: https://www.montclareschool.org/find-the-yes/

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.