<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anak muda Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/anak-muda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/anak-muda/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Aug 2021 03:42:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>anak muda Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/anak-muda/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Racun Literasi Pada Platform Digital</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2018 00:57:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[pembaca]]></category>
		<category><![CDATA[racun]]></category>
		<category><![CDATA[vulgar]]></category>
		<category><![CDATA[wattpad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1830</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain lewat blog ini, penulis juga menerbitkan novel penulis (Leon dan Kenji &#38; Distopia Bagi Kia) di platform digital seperti Wattpad dan Storial. Walaupun belum mendapat pembaca di Storial, novel penulis sudah lumayan banyak dibaca di Wattpad (sekitar 500 kali). Akan tetapi, penulis memiliki keprihatinan mendalam terhadap konten-konten yang ada di Wattpad. Bukannya iri, tapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/">Racun Literasi Pada Platform Digital</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain lewat blog ini, penulis juga menerbitkan novel penulis (<a href="http://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> &amp; <a href="http://whathefan.com/category/distopia-bagi-kia/">Distopia Bagi Kia</a>) di platform digital seperti <strong>Wattpad</strong> dan <strong>Storial</strong>. Walaupun belum mendapat pembaca di Storial, novel penulis sudah lumayan banyak dibaca di Wattpad (sekitar 500 kali).</p>
<p>Akan tetapi, penulis memiliki keprihatinan mendalam terhadap konten-konten yang ada di Wattpad. Bukannya iri, tapi penulis merasa miris melihat genre novel yang banyak dibaca dan mendapat banyak like adalah genre yang berbau <strong>seks</strong> dan <strong><em>fan fiction</em></strong>.</p>
<h3>Novel Vulgar untuk Semua</h3>
<p>Menurut teman penulis, sejak dulu memang banyak sekali novel-novel seperti itu. Yang membuat penulis merasa kaget, pembuat novel-novel itu adalah usia anak sekolah, bahkan masih duduk di bangku SMP!</p>
<p>Pantas saja, tanpa bermaksud sombong, sewaktu penulis mencoba membaca salah satu cerita tersebut, penulisannya masih carut-marut. Salah meletakkan tanda baca, <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/perang-diksi-tanpa-makna/">penggunaan diksi</a> yang kurang tepat, serta alur cerita yang terkesan tidak beraturan.</p>
<p>Penulis sangat menyayangkan fenomena ini harus terjadi di ranah dunia literasi. Memang bagus, dengan hadirnya platform digital tingkat literasi kita meningkat. Tapi jika jenis bacaan yang dibaca seperti itu, jelas hal tersebut menjadi racun yang berbahaya.</p>
<p>Apalagi penulis kemarin mendapatkan pesan WhatsApp dari ibu, tentang seorang pemilik penerbit kecil merasa terkejut ketika ada dua anak SMP yang menerbitkan novel dewasa dengan kata-kata tidak seronok! Apalagi, mereka dengan bangga mengakui bahwa mereka adalah seorang <strong>fujoshi</strong>!</p>
<p>Apa itu fujoshi? Fujoshi (<strong>腐女子</strong>) adalah sebutan dari bahasa Jepang untuk perempuan yang menyukai cerita di mana laki-laki menyukai laki-laki atau sering disingkat <strong>BxB</strong>. Mengerikan bukan jika sejak usia sekolah mereka sudah melihat sesuatu yang secara norma dan agama tidak benar?</p>
<h3>Pengaruh Novel Vulgar terhadap Pola Pikir</h3>
<p>Mau mengakui atau tidak, apa yang kita baca dan tonton akan mempengaruhi pola pikir kita. Apabila sejak remaja kita menonton hal-hal yang berbau vulgar, tentu lama kelamaan kita akan terbawa dan terpengaruh dengan hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Apalagi mereka menggunakan <em>oppa </em>favorit mereka untuk menyalurkan fantasi liar mereka. Penulis menjadi merasa prihatin terhadap para <em>oppa </em>tersebut karena dijadikan obyek untuk novel vulgar.</p>
<p>Mereka terkadang menggunakan alasan &#8220;<a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">kebebasan berekspresi</a>&#8221; atau dalih &#8220;jangan fokus pada kevulgarannya, tapi pada ceritanya&#8221;. Mereka mungkin tidak sadar bahwa tulisan mereka akan membawa dampak yang buruk kepada para pembacanya.</p>
<p>Sayangnya, Wattpad tidak bisa melakukan penyaringan terhadap konten-konten seperti itu. Mungkin karena mereka mengusung konsep <em>free for all</em>, sehingga siapapun bisa menerbitkan apapun, sama seperti di media sosial (ya walaupun di Facebook dan Instagram lebih ketat proses penyaringannya).</p>
<p>Tentu kita tidak ingin generasi muda terpengaruh hal-hal seperti itu. Yang bisa kita lakukan hanya bisa berusaha mengingatkan orang-orang terdekat kita untuk menjauhi hal-hal seperti itu. Kalaupun mereka tetap membandel dengan alasan &#8220;Hak Asasi&#8221;, setidaknya kita sudah berusaha.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, terinspirasi setelah melihat novel-novel di Wattpad yang begitu vulgar</p>
<p>Foto: <a href="https://picjumbo.com/young-woman-reading-a-book-on-her-ipad/">picjumbo.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/">Racun Literasi Pada Platform Digital</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/racun-literasi-pada-platform-digital/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apresiasi Salah Tempat</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2018 13:35:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih. Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Apa Itu Tiktok? Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih.</p>
<p>Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang.</p>
<p><strong>Apa Itu Tiktok?</strong></p>
<p>Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis secara kasar beranggapan bahwa aplikasi ini merupakan aplikasi <em>lypsinc </em>yang oleh penggunanya dimodifikasi sedemikian rupa, termasuk memberikan efek transisi yang berputar-putar, agar lebih terlihat menarik. Mirip dengan Musical.ly mungkin.</p>
<p>Agar adil, penulis berusaha mencari informasi dari sudut pandang yang berbeda. Untunglah, bang David dari channel Youtube <em>Gadgetin </em>dengan baik hati mau memberikan <em>review </em>tentang aplikasi yang bisa dicari di Play Store dengan kata kunci &#8220;aplikasi goblok&#8221;, sehingga penulis tidak perlu mengunduh aplikasi ini di gawai penulis.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/_kpANyCcHdw" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Dari bang David, penulis baru memahami bahwa sebenearnya aplikasi ini secara fungsi sama dengan Instagram maupun Youtube, yakni sebagai media hiburan. Kita bisa melihat berbagai macam video yang diposting oleh pengguna Tiktok lainnya.</p>
<p>Yang jadi masalah ternyata bukan aplikasinya, melainkan penggunanya. Banyak konten-konten yang tidak pantas untuk disebar di dunia maya membuat aplikasi ini tampak murahan.</p>
<p><strong>Terkenal Berkat Aplikasi</strong></p>
<p>Di antara banyak pengguna tersebut, muncullah orang-orang yang tiba-tiba terkenal dan memiliki basis penggemar yang lumayan fanatik. Penulis tidak akan menyebutkan namanya, toh pasti pembaca sudah mengetahui siapa-siapa yang dimaksud.</p>
<p>Yang lebih bikin geleng kepala lagi, para <em>tiktoker </em>ini bisa mengadakan <em>meet and greet </em>berbayar dan diikuti oleh banyak orang. Bahkan dari beberapa yang penulis baca, artis tiktok ini sampai meninggalkan fansnya karena dianggap ricuh.</p>
<p>Tentu banyak orang-orang yang merasa bahwa ini tidak benar. Ia tidak punya karya yang orisinil, ia berkarya tanpa mengeluarkan modal. Penggemarnya membela, berkata bahwa apa yang pujaan mereka lakukan merupakan bentuk kreativitas. Harusnya sebagai sesama anak bangsa kita bisa mengapresiasi hal tersebut.</p>
<p>Nah, di situlah penulis merasa sedih.</p>
<p><strong>Apresiasi Salah Tempat</strong></p>
<p>Sebenarnya lucu ketika ada pendapat seperti itu. Memang benar bahwa kita harus menghargai kerja keras orang lain. Toh pengguna tiktok dan aplikasi sejenis juga pasti melakukan berbagai latihan agar bisa menghasilkan karya seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, kenapa apresiasi tersebut tidak pernah kita berikan kepada orang-orang yang karyanya lebih butuh mendapatkan perhatian karena mereka mencurahkan segara daya dan ciptanya dalam menghasilkan karya?</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk komikus? Seberapa tahu kita siapa saja komikus di Indonesia? Padahal harga komik mereka lebih murah dari harga tiket <em>meet and greet </em>yang hanya mendapatkan salaman dan <em>selfie </em>bersama (mungkin).</p>
<div id="attachment_943" style="width: 543px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-943" class="size-full wp-image-943" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg" alt="" width="533" height="800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg 533w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-200x300.jpg 200w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-170x255.jpg 170w" sizes="(max-width: 533px) 100vw, 533px" /><p id="caption-attachment-943" class="wp-caption-text">Komikus Indonesia (https://deasyelsara.wordpress.com/category/portfolio/page/2/)</p></div>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk musikus? <em>Playlist </em>penuh dengan lagu-lagu Barat yang kekinian, merasa lagu lokal kampungan dan tidak keren. Penulis belum pernah menemukan ada pengguna Tiktok menggunakan lagu Indonesia, walaupun ada orang India yang luar biasa kreatif dalam menciptakan video tiktok dengan menggunakan lagu India (catatan: orang India tersebut sama sekali tidak berusaha sok tampan!).</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk perfilman Indonesia? Jika ada film luar negeri yang jauh lebih mentereng, pasti kita lebih memilih film tersebut. Film lokal jarang sekali mendapat tempat sebesar film Barat.</p>
<p>Kita sama sekali tidak pernah memberi apresiasi kepada mereka, sekarang sok mau mengatakan bahwa kita harus mengapresiasi pengguna Titktok? Mikir!!!</p>
<p>Tulisan ini tidak untuk menyerang pihak-pihak tertentu, tulisan ini digunakan untuk dijadikan bahan renungan kita. Penulis sendiri pun menyadari bahwa terkadang pun penulis masih kurang dalam memberikan apresiasi kepada insan-insan kreatif di Indonesia.</p>
<p>Semoga dengan tulisan ini, kita dapat berbenah dalam memberikan penghargaan kepada industri kreatif di Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 3 Juni 2018, terinspirasi setelah diberi tahu ada artis Tiktok yang bernama permen</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/">https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
