<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>apresiasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/apresiasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/apresiasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Aug 2021 03:42:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>apresiasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/apresiasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Budaya Menghargai di Indonesia</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 08:15:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Games]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1164</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika masih aktif di pers mahasiswa (bernama Kavling 10) di Universitas Brawijaya, ada satu momen yang tidak terlupakan di memori penulis. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik, tapi sangat melekat karena berkaitan dengan budaya menghargai di Indonesia. Salah satu anggota Kavling 10 bercerita bahwa dirinya baru saja menemani bule di Indonesia. Penulis lupa, dalam rangka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/">Budaya Menghargai di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika masih aktif di pers mahasiswa (bernama Kavling 10) di Universitas Brawijaya, ada satu momen yang tidak terlupakan di memori penulis. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik, tapi sangat melekat karena berkaitan dengan budaya menghargai di Indonesia.</p>
<p>Salah satu anggota Kavling 10 bercerita bahwa dirinya baru saja menemani bule di Indonesia. Penulis lupa, dalam rangka apa anggota tersebut menemani sang tamu asing dan bagaimana dia bisa menjadi semacam <em>tour guide</em>.</p>
<p>Kericuhan terjadi ketika anggota tersebut berkata <em>hold on </em>dengan aksen yang Indonesia banget. Teman-teman lain yang sedang mendengarkan langsung <em>nyolot </em>dengan tujuan mengoreksi pengucapan yang benar, tentu konteksnya bercanda.</p>
<p>Nah, di sinilah anggota tersebut merasa heran, kenapa orang Indonesia itu tidak bisa menghargai orangnya sendiri. Bulenya saja memaklumi pengucapan kita, kok ini sama-sama orang Indonesia malah protes.</p>
<p>Hehehe, ketika itu penulis hanya mengamati dalam diam sembari mencatatnya di salah satu sudut otak penulis karena merasa adegan ini akan terjadi pada diri penulis sendiri. Hal itu sudah terbukti sekarang ketika penulis menjadi sukarelawan di Asian Games 2018.</p>
<p><strong>Berbincang dengan Wartawan Asing</strong></p>
<p>Penulis mendapatkan pengalaman berbincang dengan beberapa wartawan dari luar negeri, sebut saja dari Taiwan, Qatar, hingga Bangladesh, meskipun dengan bahasa yang tertatih-tatih. Lama tidak berbicara dalam bahasa Inggris selepas dari Pare, Kediri, ternyata lumayan membuat lidak penulis kaku.</p>
<p>Yang paling berkesan adalah ketika berbincang dengan wartawan dari Taiwan, yang memuji kemampuan <em>speaking </em>penulis. Bukan karena jago, melainkan karena di negaranya, tidak semua anak bisa berbahasa Inggris. Penulis berasumsi, alasan di balik hal tersebut sama dengan anak-anak di Jepang maupun Prancis: Mereka bangga dengan bahasa mereka sendiri.</p>
<div id="attachment_1165" style="width: 631px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1165" class="size-full wp-image-1165" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg" alt="" width="621" height="723" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39.jpg 621w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-258x300.jpg 258w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-39-219x255.jpg 219w" sizes="(max-width: 621px) 100vw, 621px" /><p id="caption-attachment-1165" class="wp-caption-text">Dengan Wartawan Taiwan</p></div>
<p>Dengan wartawan lain pun, penulis merasa sangat dihargai. Mereka seolah memaklumi keterbatasan kata penulis, karena memang bahasa Inggris bukan bahasa utama kami. Mereka tidak marah jika kita tidak mengerti maksud mereka.</p>
<p>Hal yang sebaliknya terjadi pada wartawan dari negara kita sendiri.</p>
<p><b>Protes dari Bangsa Sendiri</b></p>
<p>Berawal dari keengganan dua rekan penulis untuk menjadi <em>tranlator, </em>penulis memutuskan untuk bersedia menerima tanggungjawab besar tersebut. Dua rekan tersebut merasa tertekan dengan perlakuan wartawan yang gencar melakukan protes ketika terjadi kesalahan penerjemahan.</p>
<p><em>Translator </em>sendiri merupakan salah satu <em>jobdesk</em> untuk para sukarelawan Asian Games yang bertugas melakukan penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (ataupun sebaliknya) ketika <em>press conference </em>berlangsung.</p>
<p>Ketika mencoba menjadi <em>translator</em>, penulis menyadari betapa sulitnya mendengarkan apa kata pelatih maupun pemain yang sedang berbicara. Selain terdapat aksen yang sangat susah untuk dicerna, penempatan <em>translator </em>yang berdiri di belakang <em>speaker</em> juga mempersulit.</p>
<div id="attachment_1166" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1166" class="size-large wp-image-1166" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/photo_2018-08-21_15-10-34.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1166" class="wp-caption-text">Suasana Konferensi Pers</p></div>
<p>Penulis mengalami sendiri bagaimana wartawan melakukan protes ketika terjemahan yang diucapkan oleh rekan penulis dianggap salah. Pun ketika rekan penulis salah menerjemahkan pertanyaan dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Memang, menjadi penerjemah adalah salah satu tugas kami, sehingga wajar jika wartawan mengharapkan kami tampil dengan sempurna. Tapi kami bukan penerjemah profesional. Bagi kami, ini adalah pengalaman pertama kali menjadi penerjemah, sehingga wajar jika kami melakukan kesalahan-kesalahan.</p>
<p>Alangkah baiknya jika wartawan-wartawan lokal justru membantu kami jika ada kesalahan-kesalahan, misal memberitahu kepada rekan wartawan yang lain bahwa maksud dari pernyataan pelatih adalah bla bla bla tanpa perlu menghardik para <em>translator</em>.</p>
<p>Tentu hanya beberapa wartawan yang berlaku seperti itu. Ada juga beberapa wartawan yang justru memberi kami tips-tips bagaimana menerjemahkan dengan baik. Seandainya semua seperti itu dan bisa memaklumi kekurangan kami, tentu akan lebih membantu kami daripada sekedar protes.</p>
<p><strong>Budaya Menghargai Kurang Mengakar</strong></p>
<p>Dari kacamata penulis (penulis memang memakai kacamata), penulis melihat perbedaan ini terjadi karena budaya menghargai yang kurang mengakar. Contoh beda perlakukan dari wartawan tadi hanya satu contoh kecil yang terjadi di negara ini.</p>
<p>Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan karakter di Indonesia, sehingga masyarakatnya tidak terbiasa memberikan apresiasi kepada bangsanya sendiri.</p>
<p>Menghargai adalah salah satu karakter yang seharusnya wajib dimiliki oleh setiap individu. Bayangkan seandainya semua orang bisa menghargai masing-masing pasangan capres-cawapres, tentu media sosial tidak akan ricuh seperti sekarang.</p>
<p>Lantas, bagaimana caranya menghargai orang lain? Ya gampangnya, ketika orang tersebut melakukan sesuatu yang baik, pujilah sewajarnya. Ketika orang lain berbuat kesalahan, kita maklumi dan kita koreksi dengan sehalus mungkin.</p>
<p>Semoga saja di masa depan, pendidikan karakter akan masuk ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Tentu peran dari orang tua dan lingkungan juga dibutuhkan untuk mengasah kemampuan kita agar dapat menghargai orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari cerita rekan penulis yang bertugas menjadi <em>translator </em>dan dari pengalaman pribadi</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/saJkxOZXPsk?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Tiago Felipe Ferreira</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/respect?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/">Budaya Menghargai di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/budaya-menghargai-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apresiasi Salah Tempat</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2018 13:35:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=942</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih. Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Apa Itu Tiktok? Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Selain di lingkungan penulis, mungkin aplikasi tiktok dan para penggunanya tengah hangat menjadi bahan pembicaraan. Ya, walaupun kebanyakan bernada negatif sih.</p>
<p>Sebagai seorang pemerhati perkembangan remaja di Indonesia, penulis merasa butuh untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi dan apakah memang seburuk seperti yang dikatakan oleh orang-orang.</p>
<p><strong>Apa Itu Tiktok?</strong></p>
<p>Dimulai dari aplikasinya sendiri, penulis secara kasar beranggapan bahwa aplikasi ini merupakan aplikasi <em>lypsinc </em>yang oleh penggunanya dimodifikasi sedemikian rupa, termasuk memberikan efek transisi yang berputar-putar, agar lebih terlihat menarik. Mirip dengan Musical.ly mungkin.</p>
<p>Agar adil, penulis berusaha mencari informasi dari sudut pandang yang berbeda. Untunglah, bang David dari channel Youtube <em>Gadgetin </em>dengan baik hati mau memberikan <em>review </em>tentang aplikasi yang bisa dicari di Play Store dengan kata kunci &#8220;aplikasi goblok&#8221;, sehingga penulis tidak perlu mengunduh aplikasi ini di gawai penulis.</p>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/_kpANyCcHdw" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Dari bang David, penulis baru memahami bahwa sebenearnya aplikasi ini secara fungsi sama dengan Instagram maupun Youtube, yakni sebagai media hiburan. Kita bisa melihat berbagai macam video yang diposting oleh pengguna Tiktok lainnya.</p>
<p>Yang jadi masalah ternyata bukan aplikasinya, melainkan penggunanya. Banyak konten-konten yang tidak pantas untuk disebar di dunia maya membuat aplikasi ini tampak murahan.</p>
<p><strong>Terkenal Berkat Aplikasi</strong></p>
<p>Di antara banyak pengguna tersebut, muncullah orang-orang yang tiba-tiba terkenal dan memiliki basis penggemar yang lumayan fanatik. Penulis tidak akan menyebutkan namanya, toh pasti pembaca sudah mengetahui siapa-siapa yang dimaksud.</p>
<p>Yang lebih bikin geleng kepala lagi, para <em>tiktoker </em>ini bisa mengadakan <em>meet and greet </em>berbayar dan diikuti oleh banyak orang. Bahkan dari beberapa yang penulis baca, artis tiktok ini sampai meninggalkan fansnya karena dianggap ricuh.</p>
<p>Tentu banyak orang-orang yang merasa bahwa ini tidak benar. Ia tidak punya karya yang orisinil, ia berkarya tanpa mengeluarkan modal. Penggemarnya membela, berkata bahwa apa yang pujaan mereka lakukan merupakan bentuk kreativitas. Harusnya sebagai sesama anak bangsa kita bisa mengapresiasi hal tersebut.</p>
<p>Nah, di situlah penulis merasa sedih.</p>
<p><strong>Apresiasi Salah Tempat</strong></p>
<p>Sebenarnya lucu ketika ada pendapat seperti itu. Memang benar bahwa kita harus menghargai kerja keras orang lain. Toh pengguna tiktok dan aplikasi sejenis juga pasti melakukan berbagai latihan agar bisa menghasilkan karya seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, kenapa apresiasi tersebut tidak pernah kita berikan kepada orang-orang yang karyanya lebih butuh mendapatkan perhatian karena mereka mencurahkan segara daya dan ciptanya dalam menghasilkan karya?</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk komikus? Seberapa tahu kita siapa saja komikus di Indonesia? Padahal harga komik mereka lebih murah dari harga tiket <em>meet and greet </em>yang hanya mendapatkan salaman dan <em>selfie </em>bersama (mungkin).</p>
<div id="attachment_943" style="width: 543px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-943" class="size-full wp-image-943" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg" alt="" width="533" height="800" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1.jpg 533w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-200x300.jpg 200w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/bm-bm-fix1-170x255.jpg 170w" sizes="(max-width: 533px) 100vw, 533px" /><p id="caption-attachment-943" class="wp-caption-text">Komikus Indonesia (https://deasyelsara.wordpress.com/category/portfolio/page/2/)</p></div>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk musikus? <em>Playlist </em>penuh dengan lagu-lagu Barat yang kekinian, merasa lagu lokal kampungan dan tidak keren. Penulis belum pernah menemukan ada pengguna Tiktok menggunakan lagu Indonesia, walaupun ada orang India yang luar biasa kreatif dalam menciptakan video tiktok dengan menggunakan lagu India (catatan: orang India tersebut sama sekali tidak berusaha sok tampan!).</p>
<p>Coba, seberapa besar apresiasi yang pernah kita berikan untuk perfilman Indonesia? Jika ada film luar negeri yang jauh lebih mentereng, pasti kita lebih memilih film tersebut. Film lokal jarang sekali mendapat tempat sebesar film Barat.</p>
<p>Kita sama sekali tidak pernah memberi apresiasi kepada mereka, sekarang sok mau mengatakan bahwa kita harus mengapresiasi pengguna Titktok? Mikir!!!</p>
<p>Tulisan ini tidak untuk menyerang pihak-pihak tertentu, tulisan ini digunakan untuk dijadikan bahan renungan kita. Penulis sendiri pun menyadari bahwa terkadang pun penulis masih kurang dalam memberikan apresiasi kepada insan-insan kreatif di Indonesia.</p>
<p>Semoga dengan tulisan ini, kita dapat berbenah dalam memberikan penghargaan kepada industri kreatif di Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 3 Juni 2018, terinspirasi setelah diberi tahu ada artis Tiktok yang bernama permen</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/">https://gadgetren.com/2018/03/16/apa-itu-tik-tok-video-media-sosial/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/">Apresiasi Salah Tempat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/apresiasi-salah-tempat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
