<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bintang Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/bintang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/bintang/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:18:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Bintang Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/bintang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jan 2020 15:44:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[galaksi]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah sudah berapa tulisan yang menyebutkan bahwa Penulis adalah orang yang sangat suka sekali mengamati alam semesta. Mulai dari baca buku hingga menonton video dokumenter semua Penulis lakukan. Kemarin, Penulis menemukan serial 101 dari National Geographic yang membahas berbagai obyek di semesta. Video-video tersebut membuat Penulis merenungi tentang seberapa kecil kita sebenarnya. Di Mana Bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Entah sudah berapa tulisan yang menyebutkan bahwa Penulis adalah orang yang sangat suka sekali mengamati alam semesta. Mulai dari baca buku hingga menonton video dokumenter semua Penulis lakukan.</p>
<p>Kemarin, Penulis menemukan serial 101 dari National Geographic yang membahas berbagai obyek di semesta. Video-video tersebut membuat Penulis merenungi tentang seberapa kecil kita sebenarnya.</p>
<h3>Di Mana Bumi Berada?</h3>
<div id="attachment_3357" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3357" class="size-large wp-image-3357" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3357" class="wp-caption-text">Sistem Tata Surya (Wikipedia)</p></div>
<p>Dari tempat kita berpijak, <strong>Bumi</strong> ini terasa sangat luas. Apalagi jika kita sedang berdiri di sebuah gedung yang tinggi ataupun puncak gunung, hamparan Bumi seolah terbentang tanpa ujung.</p>
<p>Bumi kita memang luas, dengan diameternya yang kurang lebih 6.371 km. Walalupun begitu, Bumi hanyalah planet terbesar kelima di tata surya kita, setelah <strong>Jupiter</strong>, <strong>Saturnus</strong>, <strong>Uranus,</strong> dan <strong>Neptunus</strong>.</p>
<p>Yang membuat istimewa adalah Bumi merupakan planet terbesar yang bisa dipijak, karena keempat planet lainnya tidak memiliki permukaan yang solid. Jupiter dan Saturnus merupakan planet gas, sedangkan Uranus dan Neptunus merupakan es raksasa.</p>
<p>Tiga planet lainnya, <strong>Merkurius</strong>, <strong>Venus</strong>, dan <strong>Mars</strong>, memang memiliki permukaan yang berbatu seperti Bumi. Hanya saja, kondisi alamnya membuat kehidupan hampir tidak mungkin bisa berkembang.</p>
<p>Semua planet tersebut sama-sama mengelilingi <strong>Matahari</strong>, bintang di sistem tata surya kita yang menyokong kehidupan di Bumi. Dengan segala keteraturannya, ia menarik berbagai benda langit untuk mengelilingi dirinya.</p>
<div id="attachment_3358" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3358" class="size-large wp-image-3358" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3358" class="wp-caption-text">Milky Way (Tech Explorist)</p></div>
<p>Akan tetapi, sistem tata surya atau <em><strong>Solar System</strong> </em>kita pun hanya bagian kecil (bahkan sangat kecil) dari galaksi di mana kita tinggal: <em><strong>Milky Way</strong> </em>atau Bimasakti.</p>
<p>Galaksi kita berbentuk spiral dengan beberapa &#8220;lengan&#8221;. <em>Solar System</em> kita berada di <strong>Lengan Orion </strong>bersama sistem tata surya lainnya.</p>
<p>Mungkin ada milyaran bintang yang ada di dalam galaksi <em>Milky Way</em>. Semuanya mengelilingi pusat galaksi yang berjarak sekitar 27.700 tahun cahaya dari Matahari. Entah bagaimana cara mengukurnya dengan menggunakan meteran.</p>
<div id="attachment_3359" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3359" class="size-large wp-image-3359" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3359" class="wp-caption-text">Laniakea (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://wallpaperaccess.com/lanikea-universe" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiFiKS6xqHnAhWPT30KHaRjBB4QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">WallpaperAccess</span></a>)</p></div>
<p>Galaksi kita pun hanya bagian kecil dari keseluruhan alam semesta. Bersama ratusan ribu galaksi lainnya, kita berada di sebuah <em>supercluster </em>yang bernama <strong>Laniakea</strong>.</p>
<p>Jika ditarik lebih jauh lagi, Laniakea pun hanya terlihat seperti setitik debu jika dibandingkan dengan alam semesta yang sudah diketahui oleh manusia. Padahal, ada masih banyak sisi semesta yang belum dijamah oleh manusia.</p>
<p>Penulis akan meletakkan susunannya di bawah ini seperti yang dilansir dari Wikipedia:</p>
<blockquote><p><a class="mw-selflink selflink">Bumi → Solar System</a> → Local Interstellar Cloud → Local Bubble → Gould Belt → Orion Arm → Milky Way → Milky Way subgroup → Local Group → Local Sheet → Virgo Supercluster → Laniakea Supercluster → Observable universe → Universe</p></blockquote>
<p>Untuk definisinya masing-masing, Penulis akan meletakkan sumbernya di bawah tulisan ini. Intinya, kita ini sebenarnya bukan apa-apa jika dibandingkan luasnya alam semesta ini.</p>
<h3>Kita Bukan Apa-Apa</h3>
<p>Mungkin kita merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna karena diberi berbagai kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Tak jarang kita pun dibuat sombong karenanya.</p>
<p>Walaupun begitu, kita tak akan berdaya jika alam sudah berbicara. Mau teknologi secanggih apapun, kita tak akan pernah benar-benar bisa mengalahkan alam.</p>
<p>Itu baru alam yang ada di Bumi saja, bagaimana dengan entitas lain di luar Bumi? Coba bayangkan Bumi kembali dihantam meteor yang sama dengan yang memusnahkan dinosaurus, hampir tidak ada yang bisa kita lakukan.</p>
<p>Kita memang dianugerahi berbagai keistimewaan di Bumi ini. Bahkan posisi Bumi yang sangat tepat agar kehidupan bisa berlangsung saja sudah merupakan hal yang sangat luar biasa.</p>
<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita menyukuri apa yang telah kita dapatkan di Bumi ini dan mampu menjaganya dengan baik. Jika merasa sombong, cobalah tengok langit agar sadar betapa kecilnya kita.</p>
<p>Tapi sayangnya, langit di perkotaan tertutup oleh polusi cahaya dan asap, sehingga susah untuk melihat alam semesta yang lebih luas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2020, terinspirasi setelah menonton berbagai video tentang alam semesta produksi National Geographic</p>
<p>Foto: <a href="https://www.americamagazine.org/content/dispatches/universe-unfinished-theologian-john-haught-faith-and-cosmos">America Magazine</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Solar_System">Wikipedia</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=2HoTK_Gqi2Q&amp;t=5s">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjelajah Dunia Paralel</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2018 00:32:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Ceros dan Batozar]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Komet]]></category>
		<category><![CDATA[Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[serial]]></category>
		<category><![CDATA[Tere Liye]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=908</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah novel Pergi, buku yang dijadwalkan untuk dirilis adalah Komet yang merupakan lanjutan serial Bumi. Namun siapa yang menyangka, ternyata Komet tidak sendirian. Kali ini Tere Liye menerbitkan dua novel sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ceros dan Batozar merupakan spin-off dari petualangan Raib, Seli dan Ali menjelakah dunia Paralel. Bumi dan Bulan Ketika membeli novel Bumi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">Menjelajah Dunia Paralel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah novel Pergi, buku yang dijadwalkan untuk dirilis adalah <em>Komet</em> yang merupakan lanjutan serial <em>Bumi</em>. Namun siapa yang menyangka, ternyata <em>Komet</em> tidak sendirian. Kali ini Tere Liye menerbitkan dua novel sekaligus dalam waktu yang bersamaan. <em>Ceros dan Batozar </em>merupakan <em>spin-off </em>dari petualangan Raib, Seli dan Ali menjelakah dunia Paralel.</p>
<p><strong>Bumi dan Bulan</strong></p>
<p>Ketika membeli novel Bumi dan Bulan pada tanggal 4 Januari 2016, penulis belum bisa meraba apa tema dari novel ini. Di sinopsis hanya tertulis tokoh utama memiliki kemampuan untuk menghilang, yang artinya novel ini mengarah ke <i>genre </i>fantasi.</p>
<p>Setelah menghabiskan waktu sekitar lima jam per novelnya, penulis memahami bahwa serial ini bertemakan dunia lain, lebih tepatnya dunia paralel, tema yang kurang lebih sama dengan serial Supernova milik Dee.</p>
<p>Pada novel Bumi, trio Raib baru menyadari kehadiran dunia paralel dan menjelajah ke klan Bulan, klan di mana Raib sebenarnya berasal. Raib juga baru menyadari bahwa Seli, sahabat karibnya, ternyata merupakan keturunan klan Matahari dan bisa mengeluarkan petir. Ali sang manusia Bumi tulen (untuk saat ini) ternyata bisa berubah menjadi seekor beruang.</p>
<p>Pada novel Bulan, mereka menjelajah klan Matahari untuk mengikuti sebuah kompetisi yang mungkin mirip-mirip dengan <em>The Hunger Games</em>. Kesamaan dari kedua novel awal ini adalah kesamaan nasib musuh utamanya yang memasuki semacam portal untuk memenjarakan mereka.</p>
<p>Dari sini penulis menduga, bahwa kelak kedua musuh tersebut akan bergabung dengan musuh utama serial ini, Si Tanpa Mahkota, yang telah dikurung pada tempat yang sama.</p>
<p><strong>Matahari dan Bintang</strong></p>
<p>Kover dari novel Matahari berbeda dari pendahulunya, terlihat lebih terasa nuansa fantasinya. Sialnya, novel Bumi dan Bulan juga di cetak ulang dengan motif yang sama. Alhasil, terbesit di pikiran penulis untuk membeli ulang kedua novel tersebut, hal yang belum penulis realisasikan hingga sekarang.</p>
<p>Akhir dari novel kedua adalah adanya informasi mengenai klan keempat, klan Bintang. Ali, yang diceritakan sebagai anak yang super jenius hingga susah dibayangkan di kehidupan nyata, berhasil menemukan fakta bahwa klan tersebut tinggal di dalam perut Bumi. Lagi-lagi akhir novel ini merupakan petunjuk untuk novel berikutnya, Bintang.</p>
<p>Diceritakan bahwa ada sebuah proyek yang telah direncanakan beribu-ribu tahun untuk memusnahkan klan permukaan. Maka dari itu, Raib dan kawan-kawan pun kembali berpetualang untuk mencegah rencana tersebut. Siapa yang menyangka, mereka justru melepaskan musuh utama mereka yang telah lama terkurung, Si Tanpa Mahkota beserta dua musuh utama dari dua serial awal.</p>
<p>Tebakan penulis terbukti.</p>
<p><strong>Ceros &amp; Batozar</strong></p>
<p>Penulis belum pernah membaca sebuah novel <em>spin-off</em>, oleh karena itu penulis penasaran dengan novel <em>Ceros dan Batozar.</em> Ternyata, <em>spin-off </em>merupakan bagian cerita yang tidak terlalu mempengaruhi alur utama, namun menyimpan detail-detail kecil yang cukup berguna dalam memahami keseluruhan cerita.</p>
<p>Sebagai contoh, ternyata perubahan dan kejeniusan Ali besar kemungkinan dapat terjadi karena ia merupakan keturunan dari klan Aldebaran, klan kuno yang hanya menyisakan dua orang yang dapat berubah menjadi dua ekor monster badak.</p>
<p><strong>Komet</strong></p>
<p>Di antara enam novel serial Bumi, Komet merupakan novel yang paling sulit ditebak alurnya. Berbeda dari judul-judul sebelumnya, Komet bukanlah nama klan, melainkan sebuah tempat, lebih tepatnya sebuah kepulauan yang dinamai berdasarkan nama hari.</p>
<p>Perjalanan melintas dari pulau ke pulau membuat penulis terbayang serial <em>One Piece. </em>Walaupun demikian, tetap saja banyak hal yang dapat ditebak ketika membacanya. Akan lebih baik jika pembaca mengetahuinya sendiri :).</p>
<p>Sayangnya, harapan penulis yang berharap Komet merupakan seri terakhir tidak terkabul. Petualangan Raib, Seli dan Ali menjelajahi dunia paralel masih berlanjut.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Novel-novel fantasi seperti ini sangat sesuai jika dibaca pembaca pemula yang masih duduk di bangku sekolah. Tidak seperti Dee yang lihat bermain kata, Tere Liye menggunakan kata-kata yang sederhana untuk memudahkan pembaca dalam menangkap isi cerita.</p>
<p>Bagi penggemar serial fantasi yang berat seperti <em>A Game of Throne</em>, sepertinya tidak akan terlalu menikmati serial Bumi karena keringanan ceritanya tersebut. Mereka kemungkinan akan selalu membandingkan imajinasi penulis lokal dengan penulis Barat.</p>
<p><em>Overall</em>, serial ini cukup membuat dahaga pembaca akan novel fantasi lokal berkurang. Serial ini menjadi ajang pembuktian, bahwa penulis lokal pun bisa menelurkan karya-karya fantasi yang sebenarnya tidak kalah dari penulis luar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 22 Juni 2018, terinspirasi setelah menamatkan novel Ceros &amp; Batozar dan Komet</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/">Menjelajah Dunia Paralel</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/menjelajah-dunia-paralel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
