<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ditinggalkan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ditinggalkan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ditinggalkan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Feb 2022 10:51:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ditinggalkan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ditinggalkan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2022 10:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[acuh]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna. Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. Perasaan ditinggalkan pun menyeruak dari dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Memiliki orang-orang yang peduli dan perhatian di sekitar kita adalah sebuah berkah yang tak terkira. Bagi sebagian orang, perasaan yang ditimbulkan membuat kita merasa lebih hidup dan bermakna.</p>



<p>Hanya saja, terkadang kita diterpa realita yang begitu menyakitkan ketika dia atau mereka yang dulu begitu peduli telah berubah menjadi acuh. <a href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perasaan ditinggalkan</a> pun menyeruak dari dalam diri dengan begitu menyakitkan.</p>



<p><em>People come and go</em>. Tak perlu heran ataupun sedih berlebihan jika itu sampai terjadi. Kita cuma perlu menyadari satu hal, kalau satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan dalam situasi ini adalah respon kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa yang Menyebabkan Dia Berhenti Peduli?</h2>



<p>Secara naluriah, respon pertama kita ketika melihat ada yang berubah dari orang lain adalah menanyakan apa penyebabnya. Termasuk jika dia berhenti peduli, apa yang menyebabkan ketidakpeduliannya tersebut?</p>



<p>Jawabannya mungkin akan bermacam-macam. Ada yang karena jengah melihat kesalahan kita, ada yang karena punya teman atau pasangan baru, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">ada yang punya prioritas lain</a>, ada yang karena tiba-tiba berubah saja tanpa alasan yang pasti, dan lain sebagainya.</p>



<p>Jika beruntung, kita akan mendapatkan penjelasan. Kita bisa memilih untuk menerima atau berusaha untuk meng-<em>counter </em>penjelasan tersebut. Biasanya, orang yang masih ingin dipedulikan oleh orang tersebut akan melakukan cara yang kedua.</p>



<p>Hanya saja, perlu diingat kalau <strong>orang lain memang tidak memiliki kewajiban untuk peduli dan perhatian ke kita</strong>. Kalau mereka melakukannya, itu hak mereka, tapi tidak akan pernah menjadi kewajiban.</p>



<p>Terkadang karena tidak menyadari hal inilah kita menjadi kecewa terhadap ekspektasi kita sendiri akan kepedulian dan perhatian orang lain. Artinya, ada yang harus kita ubah dari diri kita sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengelola Respon Terhadap Dia yang Berhenti Peduli</h2>



<p>Berkali-kali Penulis mengingatkan dirinya sendiri kalau <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">manusia tidak akan bisa mengendalikan apa yang ada di luar kita</a>. Apa yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri sendiri, atau respon kita terhadap sebuah kejadian apapun bentuknya.</p>



<p>Jika ada orang yang dulu begitu peduli dan perhatian kepada kita, lantas berhenti melakukannya, <strong>fokus pada respon yang akan kita berikan</strong> terhadap perubahan tersebut. Tak perlu capek-capek berusaha mengubahnya untuk kembali peduli kepada kita.</p>



<p>Bertanya mengapa ia berubah masih dalam koridor yang bisa kita kendalikan, tapi jawaban yang akan ia berikan tidak bisa kita kendalikan. Yang bisa kita kendalikan adalah respon terhadap jawaban tersebut.</p>



<p>Seandainya sikapnya sudah sangat batu dan tak bisa diubah, ya sudah, kita dituntut untuk menerima kondisi tersebut tanpa syarat. Kita harus bisa menerima keputusannya tersebut dengan ikhlas dan legawa.</p>



<p>Terkait apakah kita harus ikut berhenti peduli kepadanya, Penulis serahkan ke Pembaca. Menurut Penulis, tidak ada yang salah. Mau tetap peduli walau makan hati terus silakan, mau ikut berhenti peduli juga silakan. Bebas.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Berhenti dipedulikan dan diperhatikan oleh keluarga, teman, kekasih, memang terasa pedih dan menyakitkan. Bagi orang yang memiliki <em>inferior complex</em>, pasti akan cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.</p>



<p>Hanya saja, menyalahkan diri sendiri juga tidak akan membuat dia kembali peduli ke kita. Tidak ada gunanya. Lebih baik, curahkan energi kita untuk memberi respon terhadap kondisi tersebut sebaik dan sepositif mungkin. </p>



<p>Pilih respon yang sekiranya membuat diri kita bisa merasa lebih baik lagi. Kalau nyamannya berhenti berhubungan secara total, silakan saja, walau dalam keyakinan Penulis sebenarnya tidak diperbolehkan memutus tali silaturahmi dengan siapapun.</p>



<p>Jika alasan berhentinya kepeduliannya karena hubungan yang memburuk, coba cari cara bersama-sama untuk memperbaiki kesalahan masing-masing. Tak perlu berharap dia akan kembali peduli, cukupkan untuk kembali memiliki hubungan yang baik.</p>



<p>Yang paling penting, kita perlu ingat kalau respon yang kita berikan adalah satu-satunya hal yang bisa kendalikan atas dia yang berhenti peduli. Kita tidak akan pernah bisa memaksa orang lain untuk peduli ke kita. Tidak akan pernah.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 7 Februari 2021, terinspirasi dari&#8230;</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@entersge">Vladislav Muslakov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/">Ketika Dia Sudah Tidak Peduli Lagi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/ketika-dia-sudah-tidak-peduli-lagi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perihal Meninggalkan dan Ditinggalkan</title>
		<link>https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2021 12:24:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[meninggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5050</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pepatah lama mengatakan, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Masalahnya, perpisahan yang seperti apa? Terkadang ada perpisahan baik-baik, ada yang buruk, ada yang menyeramkan. Yang pasti, tidak ada perpisahan yang menyenangkan. Semua perpisahan terasa menyesakkan dada. Hubungan antar manusia pun tak bisa terelakkan dari perpisahan. Dipisahkan maut, visi yang berbeda, kesalahpahaman, hubungan yang toxic, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perihal Meninggalkan dan Ditinggalkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pepatah lama mengatakan, <strong>setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan</strong>. Masalahnya, perpisahan yang seperti apa?</p>



<p>Terkadang ada perpisahan baik-baik, ada yang buruk, ada yang menyeramkan. Yang pasti, tidak ada perpisahan yang menyenangkan. Semua perpisahan terasa menyesakkan dada.</p>



<p>Hubungan antar manusia pun tak bisa terelakkan dari perpisahan. Dipisahkan maut, visi yang berbeda, kesalahpahaman, hubungan yang <em>toxic</em>, hingga yang tiba-tiba terasa asing.</p>



<p>Kebanyakan, selalu ada dua pihak. <strong>Yang meninggalkan</strong> dan <strong>yang ditinggalkan</strong>.</p>



<p>Orang yang memutuskan untuk meninggalkan pasti punya alasannya sendiri. Demi kebaikan bersama, karena menuruti ego, karena tak tahan dengan kondisi, dan masih banyak lainnya.</p>



<p>Bagaimana dengan yang ditinggalkan? Pilihannya lebih sedikit, antara ikhlas menerima atau merutuk keadaan yang ia alami.</p>



<p><strong>Perihal meninggalkan dan ditinggalkan memang tak pernah semudah yang terlihat. </strong></p>



<p>Terkadang, ada alasan-alasan yang membuat kita tetap ingin tinggal. Terjebak kenangan, terjerat komitmen, mengkhawatirkan masa depan.</p>



<p>Baik yang meninggalkan maupun ditinggalkan sejatinya sama-sama berat jika perpisahan sebenarnya bukan hal yang diinginkan.<strong> Perpisahan menjadi sesuatu yang harus dilakukan.</strong></p>



<p>Meninggalkan bukan hanya tentang memutuskan hubungan dengan seseorang. Meninggalkan artinya harus bisa menerima kenyataan bahwa setelah ini hidup tak akan lagi sama tanpanya.</p>



<p>Meninggalkan bukan hanya tentang mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang kita sayang. Meninggalkan artinya harus berusaha melupakan berbagai memori indah yang membuat kita menyimpulkan senyum.</p>



<p>Ditinggalkan bukan hanya tentang melihatnya pergi menjauh tanpa sebab yang pasti. Ditinggalkan artinya berusaha memahaminya walau tak ada penjelasan apapun.</p>



<p>Ditinggalkan bukan hanya tentang menerima takdir. Ditinggalkan artinya harus bersiap dengan salah satu kondisi hati yang paling buruk.</p>



<p>Pada akhirnya, <strong>perihal meninggalkan dan ditinggalkan tidak pernah sederhana.</strong></p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Hubungan antar manusia memang tidak ada yang abadi. Keluarga, teman, pacar, semua pasti memiliki akhir dengan bentuk yang berbeda-beda. Secara garis besar, ada dua penyebab utamanya: <strong>kematian </strong>atau <strong>hubungan yang memburuk</strong>.</p>



<p>Jika berpisah karena kematian, mungkin kesannya &#8220;lebih mudah&#8221; karena hal tersebut sudah takdir sehingga kita mau tidak mau harus menerima keadaan. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menentang takdir.</p>



<p>Tapi jika hubungan berakhir karena hubungan yang memburuk, rasanya terasa lebih susah dan berat untuk kedua belah pihak. Mungkin ada satu dua hal yang membuatnya terasa mudah, tapi kebanyakan tidak seperti itu.</p>



<p>Naluri kita sebagai manusia akan berusaha untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan yang buruk tersebut. Kecuali, jika orang tersebut membuat kesalahan yang fatal sehingga rasanya lebih baik berpisah jalan dengannya.</p>



<p>Penulis merasa bahwa <strong>perasaan ditinggalkan adalah salah satu perasaan terburuk</strong> yang pernah dirasakan. Apalagi, Penulis adalah tipe orang yang lebih suka menyalahkan diri sendiri daripada menyalahkan orang lain.</p>



<p>Akibatnya, Penulis seolah terus merutuk diri sendiri dan menyesali perbuatan yang dianggap sebagai pemicu buruknya hubungan. Padahal, belum tentu prasangka Penulis benar dan mungkin orang tersebut memang sekadar ingin menjauh saja.</p>



<p>Walau sudah sering merasa ditinggalkan, hal tersebut masih terasa berat bagi Penulis. Mungkin, seiring berjalannya waktu, Penulis bisa belajar untuk lebih dewasa dan menerima keadaan tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 3 Juli 2021, terinspirasi ketika sedang merasa (lagi-lagi) ditinggalkan</p>



<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@alxznder?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Alexander Lam</a> on <a href="https://unsplash.com/s/photos/missing?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/">Perihal Meninggalkan dan Ditinggalkan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/rasa/perihal-meninggalkan-dan-ditinggalkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
