Pengembangan Diri
Menghargai Prioritas Orang Lain
pri.o.ri.tas
- n yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain:
Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang apa yang kita prioritaskan. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki.
Misal, kita memilih untuk seharian rebahan dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan rasa malas kita dibandingkan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita.
Kita memilih untuk menonton film dengan pacar dibandingkan dengan sahabat, artinya kita lebih memprioritaskan pacar daripada sahabat. Mau menggunakan alasan apapun, intinya kita lebih mengutamakan salah satu pihak.
Ketika diberikan pilihan antara menyelesaikan pekerjaan dan bermain gim, kita memilih untuk bermain gim. Kita memprioritaskan aktivitas tersebut (mungkin) dikarenakan kita merasa butuh refreshing dari penatnya pekerjaan.
Semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang lebih berhak untuk diprioritaskan. Seharusnya, orang lain tidak boleh ikut campur masalah ini.
Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kita harus menghargai prioritas orang lain. Hanya saja, dalam praktiknya terkadang susah untuk dilakukan karena satu hal: Kita ingin diprioritaskan.
Ketika Kita Ingin Diprioritaskan

Masalah seputar prioritas biasanya terjadi dalam sebuah hubungan. Entah apa alasannya, rasanya seolah kita harus menjadi prioritasnya. Contoh gampangnya adalah dalam sebuah hubungan pacaran, izin bermain dengan teman terasa agak susah.
Alasan yang paling umum adalah karena pihak yang melarang ingin menghabiskan waktunya dengan sang kekasih. Dirinya ingin kekasihnya lebih memprioritaskan dirinya dibandingkan teman-temannya, yang mungkin hanya punya kesempatan bertemu satu bulan sekali.
Sekilas, ini menjadi salah satu tanda sebuah hubungan yang toxic. Harusnya, kita tidak boleh memaksakan diri untuk masuk ke dalam prioritas orang, walau kepada orang terdekat sekalipun.
Untuk menghindari hal ini, kita harus belajar untuk menghargai prioritas orang lain. Kita harus tahu, orang lain juga memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkar pertemanannya sendiri, memiliki kesibukannya sendiri, dan lain sebagainya.
We’re not the center of the universe. Jangan merasa kalau perhatian dari orang sekitar hanya boleh ditujukan kepada kita. Jangan merasa kalau hanya kita yang layak untuk diprioritaskan. Ini hanya akan menjadi sebuah racun dalam hubungan, apapun bentuknya.
Kewajiban yang (Memang) Harus Diprioritaskan

Memang ada kasus-kasus di mana kita harus memprioritaskan sesuatu karena menjadi sebuah kewajiban. Misal, sebagai seorang umat muslim, kita harus memprioritaskan sholat dibandingkan aktivitas duniawi.
Contoh lain, sebagai seorang anak, sudah selayaknya kita memprioritaskan orang tua kita di atas segalanya (selain Tuhan, tentunya). Seorang suami memprioritaskan kebutuhan keluarganya dibandingkan membeli mainan favoritnya.
Sebagai seorang karyawan, sudah sewajarnya kita memprioritaskan selesainya pekerjaan dibandingkan menamatkan sebuah game. Seorang pemuda memprioritaskan menyimpan uangnya dibandingkan secangkir Starbucks.
Dalam kasus-kasus seperti ini, kita yang harus memiliki kesadaran untuk menempatkan kewajiban-kewajiban kita sebagai prioritas. Setelah menyadari hal ini, kita pun bisa menyusun daftar prioritas kita dengan baik dan benar.
Penutup
Masalah prioritas ini memang sedang sering Penulis renungkan akhir-akhir ini. Ada banyak penyebabnya, salah satunya adalah melihat ke dalam diri sendiri apakah daftar prioritas yang dibuat sudah benar atau belum.
Ketika merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang Penulis prioritaskan, Penulis segera menegur diri kalau memang tidak ada kewajiban baginya untuk memprioritaskan Penulis.
Hanya karena kita memprioritaskan orang lain, bukan berarti ia juga wajib memprioritaskan kita.
Sekali lagi, semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing. Yang bisa kita lakukan dan kita kendalikan adalah menghargai prioritas orang lain tersebut. Berharap agar kita diprioritaskan hanya akan menimbulkan rasa kecewa.
Lawang, 22 Desember 2021, terinspirasi setelah merenungkan masalah prioritas
Foto: Polina Zimmerman
Pengembangan Diri
The Hardest Part of Ending is Starting Again
Judul dari artikel ini Penulis ambil dari salah satu lagu Linkin Park berjudul “Waiting for the End” dari album A Thousand Suns (2010), yang juga merupakan salah satu lagu favorit Penulis. Kebetulan, kalimat tersebut juga menjadi salah satu topik utama dari film Linkin Park: Unshatter.
Entah mengapa sejak menonton film tersebut dan mendengarkan lagunya berkali-kali, muncul keinginan untuk menulis sebuah tulisan dengan judul The Hardest Part of Ending is Starting Again. Menariknya, sampai di paragraf ini, Penulis masih belum tahu akan menulis apa.
Walau begitu, Penulis merasa bahwa dirinya perlu memulai saja dulu. Penulis membiarkan jari-jarinya “menari di atas keyboard” untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya, selama masih berkaitan dengan lirik tersebut.
Mengapa Mengakhiri Sesuatu Terasa Berat
Entah kebetulan atau bukan, pagi ini, sebelum melanjutkan menulis artikel ini, Penulis menemukan satu quote menarik dari buku Slow Steps karya Olphi Disya Arinda, M. Psi. Di halaman 178, tertulis:
Agar mampu bergerak maju, kita perlu belajar meninggalkan.
Kata “meninggalkan” identik dengan suatu akhir atau ending. Entah itu dalam sebuah hubungan, karier, apa pun itu. Terkadang, atau bahkan sering, mengakhiri sesuatu itu bukan hal yang mudah, apalagi jika kita telah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama.
Dalam tulisan Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Tidak Dipilih, Penulis telah membahas sedikit tentang sunk cost bias. Intinya, kita sulit mengakhiri sebuah hubungan karena besarnya “investasi” yang telah dikeluarkan.
Penulis bisa merasa paham mengapa sulit untuk meninggalkan hubungan yang seperti itu. Rasanya semua upaya kita selama ini jadi terbuang sia-sia. Padahal, jika hubungan seperti itu tetap dilanjutkan, bisa jadi akan lebih banyak buruknya untuk kita.
Begitu juga tentang karier. Saat kita telah stay cukup di tempat lama, pasti rasanya cukup berat untuk meninggalkannya. Bisa jadi karena ada kecemasan apakah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, takut keluar dari zona nyaman, atau alasan lainnya.
Namun, di antara semua contoh di atas, alasan lain (dan bisa jadi terberat) dari mengakhiri sesuatu adalah bayangan di kepala kita untuk memulai lagi semuanya dari awal.
Mengapa Memulai Sesuatu Terasa Berat
Bayangan untuk memulai lagi memang kerap terasa mengerikan, apalagi kalau kita baru saja meninggalkan sesuatu yang telah berlangsung lama dari hidup kita. Sedikit banyak, mungkin ada hal-hal yang telah menimbulkan trauma.
Dalam menjalin hubungan baru misalnya, kita membayangkan harus berkenalan dengan orang baru, harus beradaptasi lagi, harus belajar memahami lagi, dan lain sebagainya. Itu juga kalau kita menemukan orang yang cocok, yang jarang terjadi di percobaan pertama.
Ketika kita terpikir untuk resign, bisa jadi kita belum tahu ingin melanjutkan karier ke mana. Tak hanya itu, kita juga membayangkan menjalani semua prosesnya dari awal lagi, mulai dari apply lamaran, wawancara, hingga harus adaptasi lagi dengan lingkungan dan jobdesk baru.
Memulai lagi memang terasa mengerikan, karena kita tidak tahu apa yang akan dihadapi nantinya. Memulai lagi memang terasa tidak menenangkan, karena ketidakpastian seolah mengintai dengan begitu dekat.
Semua kekhawatiran dan ketakutan tersebut valid dan wajar. Namun, belakangan ini Penulis belajar bahwa terkadang apa yang kita butuhkan adalah, just do it. Mulai aja dulu. Pelan-pelan tidak masalah, yang penting kita tetap bergerak.
Bagaimana Agar Memulai Sesuatu Tidak Terasa Berat
Merasa khawatir dan takut itu tidak apa-apa. Merasa berat untuk memulai itu tidak apa-apa. Yang penting adalah jangan sampai hal-hal tersebut menahan kita terlalu lama. Mulailah dari langkah-langkah terkecil, yang bahkan terasa remeh sekalipun tidak masalah.
Penulis sedang berusaha menerapkan hal ini. Ketika ingin menyelesaikan sebuah proyek atau task, Penulis akan melakukan breakdown dan membaginya menjadi task-task kecil yang terasa realistis dan relatif mudah untuk dilakukan.
Seperti dalam membuat artikel ini misalnya, Penulis tidak lagi berambisi untuk menulis artikel dan membuat konten medsos semua selesai dalam satu hari. Penulis membaginya menjadi pencatatan ide, pembuatan draft, penulisan artikel, hingga pembuatan konten untuk medsos.
Contoh lain, dalam membuat portofolio. Ini adalah salah satu task yang dari dulu tidak Penulis mulai-mulai karena berbagai alasan. Oleh karena itu, Penulis memulai dari hal terkecil seperti berikut:
- Breakdown isi portofolio
- Brainstorm dengan AI terkait isi portofolio
- Mencari referensi desain portofolio di Canva
- Membuat draft kosongan 5 halaman
- Dan seterusnya
Penulis yang perfeksionis ini kerap menunggu “waktu ideal” untuk memulai sesuatu. Padahal, hal tersebut tidak ada, sehingga pekerjaan pun terus tertunda. Dengan membaginya menjadi task-task yang lebih kecil, Penulis akhirnya bisa memulai proyek-proyek yang telah lama ditunda.
Bagi Penulis, ini adalah salah satu cara untuk memulai sesuatu yang baru agar tidak terlihat terlalu mengerikan dan tidak terasa berat. Kalau kita hanya berdiam diri saja, kita tidak akan memiliki keberanian untuk berhenti dan memiliki awal yang baru.
Penutup
Seperti yang sudah disinggung di awal, motivasi awal Penulis menulis artikel ini adalah karena film Linkin Park dan lagu “Waiting for the End”. Penulis tidak tahu harus menulis apa sebenarnya, tapi Penulis memutuskan untuk memulai saja.
Dalam perjalanannya, Penulis menemukan quote buku yang cocok dengan topik di tulisan ini. Dari sana, Penulis akhirnya seperti menemukan arah mau dibawa ke mana tulisan ini hingga sampai ke bagian Penutup.
Analogi ini cocok untuk topik yang sedang Penulis bahas. Terkadang, memulai sesuatu yang baru itu terasa berat karena kita belum memulainya. Terlalu banyak hal yang kita pikirkan di dalam kepala kita hingga akhirnya justru tidak mulai-mulai.
Oleh karena itu, mulai dari yang kecil-kecil bisa menjadi salah satu tips untuk mengatasi hal tersebut. Just keep moving, just keep pushing. Jangan diam, bergeraklah, berbuat sesuatu dari yang terkecil. Jangan lupa juga untuk merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil kita dapatkan.
Lawang, 10 Oktober 2026, terinspirasi (lagi-lagi) setelah menonton Linkin Park: Unshatter
Produktivitas
Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca
Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.
Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.
Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.

Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.
Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).
Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.
Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.
Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.
Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.
Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.
Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.
Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.
Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.
Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.
Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.
Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.
Penutup
Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.
Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.
Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.
Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil
Pengembangan Diri
Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung
Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE.
Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, mong Penulis enggak kenal.
Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan “wajar” kalau ia diistimewakan oleh agensinya.
Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak nyeleneh, yakni tentang kebiasaan duduk Wonyoung yang ingin Penulis tiru.
Postur Duduk Jang Wonyoung
Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap “sempurna”, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.
Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara reality show 1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua member sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara member yang lain.

Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang idol yang lain juga berusaha menjaga image dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.
Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, host-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.
Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk senden langsung membetulkan postur duduknya.

Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal work from home (WFH) sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.
Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.
Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.
Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.
Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.
Mindset ala Lucky Vicky

Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah mindset Lucky Vicky yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom every cloud has a sliver lining, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.
Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para haters-nya.
Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan rebranding yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti mindset positifnya tersebut.
Penutup
Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.
Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap pick me, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi center, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (mindset Lucky Vicky).
Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di IVE bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.
Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan10 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop



You must be logged in to post a comment Login