<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Maya Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/dunia-maya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/dunia-maya/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2021 14:18:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Dunia Maya Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/dunia-maya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Berkata Kotor di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2019 16:54:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[kotor]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada. Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena berbeda pendapat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada.</p>
<p>Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena <a href="http://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">berbeda pendapat</a>.</p>
<p>Tentu hal ini membuat penulis berpikir, <em>mengapa semudah itu untuk berkata kotor</em>? Sejauh pemahaman penulis, sama sekali tidak ada manfaat berkata kotor, apalagi diumbar di wilayah publik.</p>
<p>Penulis paham, terkadang memang susah untuk menahan emosi. Akan tetapi, jelas bukan perbuatan yang bijak untuk mengumbar <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">kemarahan di media sosial</a> yang bisa dikonsumsi oleh orang lain, terutama keluarga dan teman-teman kita.</p>
<p>Coba kita renungkan bersama, adakah hal positif yang didapat dengan berkata kotor di media sosial? Ada? Penulis sama sekali tidak bisa menemukan sisi positif dari perbuatan tersebut.</p>
<p>Yang penulis herankan, betapa mudahnya orang-orang untuk mengeluarkan kata kotor bahkan hanya karena hal sepele. Hal-hal remeh yang sebenarnya tidak akan membuat kita mendapatkan apa-apa selain debat kusir tanpa makna.</p>
<p>Selain itu, kata-kata kotor juga sering keluar pada status seseorang dengan tujuan menyindir seseorang yang sudah membuat dirinya gusar. Apa tujuannya? Memberitahu orang lain betapa buruknya orang yang sudah membuat kita kecewa? Bisa jadi.</p>
<p>Jika ada masalah dengan orang lain, ada baiknya jika langsung diselesaikan dengan yang bersangkutan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">sindir-menyindir di media sosial</a>. Kalau memang sedang berkonflik dengan orang lain, selesaikan tanpa perlu menyebar aib orang lain.</p>
<p>Media sosial memang menjadi wadah untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>, akan tetapi bukan berarti kita bisa berbuat seenak hati. Tetap ada norma-norma yang berlaku agar sesama pengguna media sosial bisa merasa nyaman.</p>
<p>Cobalah untuk menahan dan menguasai emosi diri kita. Kebanyakan orang akan menyesal setelah meluapkan emosinya. Setidaknya, mereka akan menyesal ketika hal buruk menimpa setelah emosi keluar, seperti laki-laki yang sedang viral karena merusak motornya tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu, yuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Gunakanlah media sosial sebagai media untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan termasuk kata-kata kotor yang tak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Februari 2019, terinspirasi dari banyaknya kata-kata kotor yang berseliweran di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@gagewalkerr">Gage Walker</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dongeng Jostein Gaarder</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Jun 2018 05:46:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Anna]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Jostein Gaarder]]></category>
		<category><![CDATA[The Magic Library]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=854</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika mendengar nama Jostein Gaarder, hampir pasti yang terlintas di pikiran kita adalah novel Dunia Sophie, sebuah novel yang menurut Rocky Gerung adalah bacaan wajib anak SMA yang ingin mendalami dunia filsafat. Penulis memiliki minat yang lumayan tinggi untuk mengetahui seperti apa dunia filsafat, meskipun banyak hal yang tidak penulis pahami sepenuhnya. Ketika membaca Dunia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">Dongeng Jostein Gaarder</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika mendengar nama Jostein Gaarder, hampir pasti yang terlintas di pikiran kita adalah novel <em>Dunia Sophie</em>, sebuah novel yang menurut Rocky Gerung adalah bacaan wajib anak SMA yang ingin mendalami dunia filsafat.</p>
<p>Penulis memiliki minat yang lumayan tinggi untuk mengetahui seperti apa dunia filsafat, meskipun banyak hal yang tidak penulis pahami sepenuhnya. Ketika membaca <em>Dunia Sophie</em> pun, penulis harus memutar otak untuk memahami filsafat-filsafat yang ada pada buku tersebut. Untungnya dalam buku tersebut, filsafat disampaikan melalui bahasa dongeng, sehingga membuat kita dapat larut dalam cerita.</p>
<p>Hampir semua teori filsafat disampaikan pada <em>Dunia Sophie</em>, yang sayangnya tidak ada sama sekali penjelasan tentang filsafat Islam. Mungkin karena tempat asal Gaarder di Norwegia, sebuah negara yang terletak jauh dari peradaban Islam.</p>
<p>Setelah <em>Dunia Sophie</em>, penulis memutuskan untuk membeli <em>Dunia Anna</em> karena menikmati gaya bahasa Gaarder di buku <em>Dunia Sophie</em>. Dengan gaya dongeng yang sama, <em>Dunia Anna</em> lebih mengajak kita untuk merenungi dampak yang dapat terjadi akibat kelalaian manusia dalam menjaga bumi.</p>
<p>Penulis yang merasa ketagihan dengan karya-karya Gaarder memutuskan untuk membeli satu buah buku lagi yang berjudul <em>Dunia Maya</em>. Sayang, berbeda dengan dua novel sebelumnya, novel yang satu ini sangat berat untuk dicerna. Saking beratnya, penulis tidak dapat menuliskan inti buku tersebut pada tulisan ini.</p>
<p>Dari sinopsis, buku ini <em>menyoroti gagasan-gagasan yang besar: penciptaan alam semesta, evolusi kehidupan di bumi, munculnya manusia, dan tujuan dari keberadaan manusia</em>. Sangat dalam bukan pesan yang ingin disampaikan?</p>
<p>Setelah itu, butuh waktu agak lama bagi penulis untuk memutuskan membeli lagi buku Gaarder. Kali ini, yang penulis pilih adalah <em>The Magic Library</em>. Untunglah, buku ini memenuhi ekspetasi penulis, bahkan melebihinya.</p>
<p>Buku ini cukup unik, karena hanya terdiri dari dua chapter. Chapter pertama berisi surat-surat yang ditulis antar saudara sepupu yang khawatir surat-surat mereka dicuri oleh seseorang. Chapter kedua berisi seperti novel pada umumnya, hanya saja tulisannya mengambil dari dua sudut pandang secara bergantian (sudut pandang kedua sepupu tersebut).</p>
<p><em>The Magic Library </em>juga menyediakan misteri dan <em>twist </em>di akhirnya, membuat buku ini cocok bagi penggemar serial misteri, walaupun ceritanya lebih ringan jika dibandingkan Agatha Christie. Menurut penulis, novel ini lebih cocok dibaca untuk usia remaja yang ingin mengembangkan daya imajinasinya.</p>
<p>Masih banyak karya-karya Gaarder yang belum penulis baca, seperti <em>Misteri Soliter</em>, <em>The Orange Girl, </em>dan <em>Dunia Cecilia</em>. Yang jelas, Gaarder selalu menyajikan pesan filsafat dan ceritanya dalam bentuk dongeng yang menawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 Juni 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku <em>The Magic Library </em>karya Jostein Gaarder.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">Dongeng Jostein Gaarder</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
