Dongeng Jostein Gaarder

Jika mendengar nama Jostein Gaarder, hampir pasti yang terlintas di pikiran kita adalah novel Dunia Sophie, sebuah novel yang menurut Rocky Gerung adalah bacaan wajib anak SMA yang ingin mendalami dunia filsafat.

Penulis memiliki minat yang lumayan tinggi untuk mengetahui seperti apa dunia filsafat, meskipun banyak hal yang tidak penulis pahami sepenuhnya. Ketika membaca Dunia Sophie pun, penulis harus memutar otak untuk memahami filsafat-filsafat yang ada pada buku tersebut. Untungnya dalam buku tersebut, filsafat disampaikan melalui bahasa dongeng, sehingga membuat kita dapat larut dalam cerita.

Hampir semua teori filsafat disampaikan pada Dunia Sophie, yang sayangnya tidak ada sama sekali penjelasan tentang filsafat Islam. Mungkin karena tempat asal Gaarder di Norwegia, sebuah negara yang terletak jauh dari peradaban Islam.

Setelah Dunia Sophie, penulis memutuskan untuk membeli Dunia Anna karena menikmati gaya bahasa Gaarder di buku Dunia Sophie. Dengan gaya dongeng yang sama, Dunia Anna lebih mengajak kita untuk merenungi dampak yang dapat terjadi akibat kelalaian manusia dalam menjaga bumi.

Penulis yang merasa ketagihan dengan karya-karya Gaarder memutuskan untuk membeli satu buah buku lagi yang berjudul Dunia Maya. Sayang, berbeda dengan dua novel sebelumnya, novel yang satu ini sangat berat untuk dicerna. Saking beratnya, penulis tidak dapat menuliskan inti buku tersebut pada tulisan ini.

Dari sinopsis, buku ini menyoroti gagasan-gagasan yang besar: penciptaan alam semesta, evolusi kehidupan di bumi, munculnya manusia, dan tujuan dari keberadaan manusia. Sangat dalam bukan pesan yang ingin disampaikan?

Setelah itu, butuh waktu agak lama bagi penulis untuk memutuskan membeli lagi buku Gaarder. Kali ini, yang penulis pilih adalah The Magic Library. Untunglah, buku ini memenuhi ekspetasi penulis, bahkan melebihinya.

Buku ini cukup unik, karena hanya terdiri dari dua chapter. Chapter pertama berisi surat-surat yang ditulis antar saudara sepupu yang khawatir surat-surat mereka dicuri oleh seseorang. Chapter kedua berisi seperti novel pada umumnya, hanya saja tulisannya mengambil dari dua sudut pandang secara bergantian (sudut pandang kedua sepupu tersebut).

The Magic Library juga menyediakan misteri dan twist di akhirnya, membuat buku ini cocok bagi penggemar serial misteri, walaupun ceritanya lebih ringan jika dibandingkan Agatha Christie. Menurut penulis, novel ini lebih cocok dibaca untuk usia remaja yang ingin mengembangkan daya imajinasinya.

Masih banyak karya-karya Gaarder yang belum penulis baca, seperti Misteri SoliterThe Orange Girl, dan Dunia Cecilia. Yang jelas, Gaarder selalu menyajikan pesan filsafat dan ceritanya dalam bentuk dongeng yang menawan.

 

 

Lawang, 8 Juni 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku The Magic Library karya Jostein Gaarder.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.