Connect with us

Buku

Dongeng Jostein Gaarder

Published

on

Jika mendengar nama Jostein Gaarder, hampir pasti yang terlintas di pikiran kita adalah novel Dunia Sophie, sebuah novel yang menurut Rocky Gerung adalah bacaan wajib anak SMA yang ingin mendalami dunia filsafat.

Penulis memiliki minat yang lumayan tinggi untuk mengetahui seperti apa dunia filsafat, meskipun banyak hal yang tidak penulis pahami sepenuhnya. Ketika membaca Dunia Sophie pun, penulis harus memutar otak untuk memahami filsafat-filsafat yang ada pada buku tersebut. Untungnya dalam buku tersebut, filsafat disampaikan melalui bahasa dongeng, sehingga membuat kita dapat larut dalam cerita.

Hampir semua teori filsafat disampaikan pada Dunia Sophie, yang sayangnya tidak ada sama sekali penjelasan tentang filsafat Islam. Mungkin karena tempat asal Gaarder di Norwegia, sebuah negara yang terletak jauh dari peradaban Islam.

Setelah Dunia Sophie, penulis memutuskan untuk membeli Dunia Anna karena menikmati gaya bahasa Gaarder di buku Dunia Sophie. Dengan gaya dongeng yang sama, Dunia Anna lebih mengajak kita untuk merenungi dampak yang dapat terjadi akibat kelalaian manusia dalam menjaga bumi.

Penulis yang merasa ketagihan dengan karya-karya Gaarder memutuskan untuk membeli satu buah buku lagi yang berjudul Dunia Maya. Sayang, berbeda dengan dua novel sebelumnya, novel yang satu ini sangat berat untuk dicerna. Saking beratnya, penulis tidak dapat menuliskan inti buku tersebut pada tulisan ini.

Dari sinopsis, buku ini menyoroti gagasan-gagasan yang besar: penciptaan alam semesta, evolusi kehidupan di bumi, munculnya manusia, dan tujuan dari keberadaan manusia. Sangat dalam bukan pesan yang ingin disampaikan?

Setelah itu, butuh waktu agak lama bagi penulis untuk memutuskan membeli lagi buku Gaarder. Kali ini, yang penulis pilih adalah The Magic Library. Untunglah, buku ini memenuhi ekspetasi penulis, bahkan melebihinya.

Buku ini cukup unik, karena hanya terdiri dari dua chapter. Chapter pertama berisi surat-surat yang ditulis antar saudara sepupu yang khawatir surat-surat mereka dicuri oleh seseorang. Chapter kedua berisi seperti novel pada umumnya, hanya saja tulisannya mengambil dari dua sudut pandang secara bergantian (sudut pandang kedua sepupu tersebut).

The Magic Library juga menyediakan misteri dan twist di akhirnya, membuat buku ini cocok bagi penggemar serial misteri, walaupun ceritanya lebih ringan jika dibandingkan Agatha Christie. Menurut penulis, novel ini lebih cocok dibaca untuk usia remaja yang ingin mengembangkan daya imajinasinya.

Masih banyak karya-karya Gaarder yang belum penulis baca, seperti Misteri SoliterThe Orange Girl, dan Dunia Cecilia. Yang jelas, Gaarder selalu menyajikan pesan filsafat dan ceritanya dalam bentuk dongeng yang menawan.

 

 

Lawang, 8 Juni 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku The Magic Library karya Jostein Gaarder.

Non-Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Ali Sadikin

Published

on

By

Jika disuruh menyebutkan satu saja gubernur Jawa Timur yang melegenda, Penulis tidak akan bisa menyebutkan satu nama pun. Namun, kalau pertanyaannya diganti gubernur Jakarta, Penulis akan langsung menjawab Ali Sadikin.

Penulis tidak benar-benar ingat dari mana nama Ali Sadikin muncul di kehidupan Penulis. Yang Penulis tahu, beliau adalah sosok gubernur yang sangat terkenal dan banyak prestasinya. Seperti apa kebijakan yang ia buat hingga bisa menjadi sosok populis tidak Penulis ketahui.

Nah, kebetulan Tim TEMPO merilis buku biografi singkatnya, yang menyadi edisti terbaru Seri Buku Tempo setelah sekian lama. Mengingat Penulis mengoleksi serinya, tentu saja Penulis membaca buku ini, sekalian belajar apa saja terobosan yang pernah dilakukan oleh Ali Sadikin.

Detail Buku Ali Sadikin

  • Judul: Ali Sadikin: Gubernur Jakarta yang Melampaui Zaman
  • Penulis: Tim TEMPO
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
  • Cetakan: Pertama
  • Tanggal Terbit: November 2023
  • Tebal: 130 halaman
  • ISBN: 9786231341167
  • Harga: Rp75.000

Sinopsis Ali Sadikin

Sejarah Jakarta tak bisa dilepaskan dari sosok Ali Sadikin. Ditunjuk langsung sebagai Gubernur DKI Jakarta (menjabat 1966-1977) oleh Presiden Sukarno, Bang Ali-begitu dia biasa disapa-dinilai mampu mengatasi berbagai problem yang melanda ibu kota. Selama 11 tahun menjabat gubernur, Bang Ali tidak hanya meletakkan fondasi perkembangan Jakarta, tetapi juga menunjukkan bagaimana seharusnya kota yang bermartabat sekaligus hijau dibangun.

Bagi Bang Ali, Jakarta harus menjadi ibu kota yang mencerminkan kebanggaan nasional, sesuai cita-cita Bung Karno. Untuk itu, dia berupaya mewujudkan Jakarta yang manusiawi, berbudaya, nyaman, dan tertib. Dia membangun berbagai fasilitas publik dan memperbaiki kampung kumuh, berupaya mengatasi banjir dengan menyiapkan kawasan hijau yang mengelilingi ibu kota, membangun tempat berkumpul bagi para seniman, dan ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta.

Namun, kepemimpinan Bang Ali bukan tanpa kontroversi. Dia, misalnya, melegalkan perjudian dan memungut pajaknya untuk mengubah wajah kota yang suram menjadi metropolis. Bang Ali tidak peduli meski dicaci maki dan dijuluki-gubernur maksiat-. Setelah tidak menjabat gubernur, dia bergabung dengan kelompok Petisi 50 dan tak ragu menunjukkan sikap politik yang berseberangan dengan Presiden Soeharto.

Apa Isi Buku Ali Sadikin?

Seperti biasa, Seri Buku Tempo tidak menjabarkan kisah sosok yang diangkat secara kronologis. Hanya beberapa kejadian penting saja yang diulas, atau dalam konteks Ali Sadikin, lebih banyak menyorot kebijakan yang pernah ia buat.

Ada dua bab utama dalam buku ini, yakni “Nahkoda Koppig Ibu Kota” yang menjabarkan sepak terjang Ali selama menjadi gubernur, dan “Oposan Setelah Jabatan” yang menceritakan kisah Ali yang menjadi oposisi dari Presiden Soeharto.

Hampir semua daftar kebijakan yang dibuat oleh Ali sebenarnya sudah disebutkan di bagian sinopsis di atas. Isi bukunya mengelaborasi kebijakan-kebijakan tersebut secara lebih detail, baik yang positif maupun yang kontroversial.

Salah satu raihan positif yang pernah Ali selama menjabat sebagai seorang gubernur adalah melakukan revitalisasi kota Jakarta menjadi lebih modern, mirip dengan yang dilakukan oleh Napoleon III ke Paris.

Kebijakan yang paling kontroversial tentu saja bagaimana ia melegalkan perjudian untuk menambah anggaran daerah. Uang pemasukan dari sektor tersebut ia gunakan untuk membangun Jakarta menjadi kota modern.

Untuk bagian kedua, sebenarnya lebih menjelaskan posisi Ali yang memutuskan untuk berseberangan dengan Soeharto. Waktu itu, bahkan ada yang menyebut kalau Ali dan Soeharto seolah menjadi matahari kembar.

Ali juga bergabung dengan kelompok Petisi 50 yang berisi beberapa tokoh, termasuk Hoegeng yang buku biografinya juga baru saja Penulis tamatkan (artikel review-nya akan menyusul minggu depan).

Setelah Membaca Buku Ali Sadikin

Penulis selalu suka dengan buku-buku Seri Buku Tempo yang menyorot banyak tokoh nasional secara singkat, tapi penuh dengan fakta menarik yang disusun secara cermat dan berkualitas. Bahasanya pun menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Buku Ali Sadikin ini pun juga masih mempertahankan hal tersebut. Namun, Penulis merasa kalau edisi yang kali ini agak repetitif hingga terkesan dipanjang-panjangkan agar memenuhi syarat untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

Info yang disampaikan cuma itu-itu saja, seolah baca sinopsisnya saja sudah cukup. Entah mengapa Penulis merasa elaborasi di setiap bagiannya terasa kurang mendalam. Ini sangat berbeda dengan beberapa Seri Buku Tempo lain yang pernah Penulis baca.

Apakah itu karena kisah hidup Ali Sadikin memang kurang memiliki banyak cerita menarik? Rasanya tidak. Keputusan Tempo untuk mengangkat kisah Ali Sadikin sudah cukup menjadi bukti bagaimana ia memang seorang tokoh nasional yang layak dipelajari kisah hidupnya.

Setidaknya, Penulis jadi mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengapa Ali Sadikin dianggap sebagai seorang mantan gubernur Jakarta yang legendaris. Kiprahnya selama menjabat telah menjadi standar untuk gubernur-gubernur selanjutnya.

Skor: 7/10


Lawang, 22 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca buku Ali Sadikin dari Tim Tempo

Continue Reading

Non-Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Contagious

Published

on

By

Belakangan ini, marketing menjadi salah satu topik yang sering Penulis pelajari meskipun sedikit-sedikit. Selain mengambil kelas digital marketing, Penulis juga mencoba membaca buku-buku yang terkait dengan dunia marketing.

Buku terkait dunia marketing yang telah Penulis baca adalah Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Viral karya Jonah Berger. Pihak penerjemah cukup lihai dalam memilih kata “viral” di bagian sub-judul, mengingat saat ini memang banyak yang ingin menjadi viral.

Salah satu alasan yang membuat Penulis memutuskan untuk membaca buku ini adalah karena biasanya buku-buku semacam ini akan diberi sisipan kisah-kisah nyata untuk memberikan gambaran tentang poin yang ingin dijelaskan. Benar saja, ada banyak kisah menarik yang bisa disimak.

Detail Buku Contagious

  • Judul: Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Populer
  • Penulis: Jonah Berger
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Keempat
  • Tanggal Terbit: Juni 2023
  • Tebal: 297 halaman
  • ISBN: 9786020667218
  • Harga: Rp85.000

Sinopsis Contagious

Apa yang Menjadikan Sesuatu Populer?

Kalau menurut Anda iklan, coba pikir lagi. Orang tidak mendengarkan iklan; mereka mendengarkan teman. Tapi, kenapa orang bicara lebih banyak tentang produk dan gagasan tertentu dibanding yang lain? Kenapa sejumlah cerita dan rumor lebih tersebar? Dan apa yang menjadikan konten online mewabah?

Jonah Berger mengungkapkan ilmu rahasia di balik getok tular dan transmisi sosial. Temukan enam prinsip dasar yang berkontribusi pada semua hal yang mewabah, seperti bagaimana steakhouse yang mewah mendapat popularitas lewat cheesesteak biasa, kenapa iklan antinarkoba bisa jadi malah meningkatkan penggunaan narkoba, dan kenapa lebih dari 200 juta orang berbagi video tentang sesuatu yang sepertinya merupakan produk yang paling membosankan: blender.

Entah Anda manajer di perusahaan besar, pemilik usaha kecil yang berusaha meningkatkan kesadaran akan produk Anda, politisi yang membutuhkan suara rakyat, atau petugas kesehatan yang berusaha mengampanyekan suatu program, buku ini akan menunjukkan kepada Anda cara membuat produk atau gagasan Anda tersimpan di benak orang.

Apa Isi Buku Contagious?

Dengan tebal hampir 300 halaman, Contagious dibagi menjadi enam bagian utama. Agar mudah diingat, Berger membuat akronim STEPPS untuk menjelaskan langkah-langkah dalam membuat konten yang viral. STEPPS sendiri merupakan kepanjangan dari:

  • Sosial Currency (Mata Uang Sosial)
  • Trigger (Pemicu)
  • Emotion (Emosi)
  • Public (Publik)
  • Practicality (Nilai Praktis)
  • Story (Cerita)

Mata Uang Sosial adalah hal-hal yang akan membuat orang akan merasa bangga, terlihat keren, terlihat pintar, dan lainnya ketika kita menceritakannya kepada orang lain. Seperti yang kita tahu, produk yang dipromosikan dari mulut ke mulut biasanya berarti memang bagus.

Contoh mudahnya adalah ketika kita mencoba sebuah kafe yang nyaman dan memiliki makanan-minuman enak. Kita jadi memiliki “sesuatu” yang bisa kita ceritakan ke orang dengan bangga. Itulah yang disebut sebagai Mata Uang Sosial.

Lalu, kita harus bisa memanfaatkan momentum untuk bisa menciptakan Pemicu sehingga lebih mudah diingat dan menarik minat banyak orang. Contoh ketika “Asian Value” sedang ramai, maka banyak content creator memanfaatkan hal tersebut untuk menjadi viral dengan membuat meme.

Sebuah produk yang bagus juga harus bisa membangkitkan Emosi konsumen dan memiliki Nilai Praktis yang tidak ribet. Semua poin-poin tersebut, jika dibalut dengan cerita yang apik, akan membuat hampir apapun menjadi viral dan menjadi pembicaraan banyak orang.

Setelah Membaca Buku Contagious

Sesuai dengan judulnya, Contagious membahas mengenai alasan-alasan mengapa sebuah produk bisa menjadi viral atau berhasil, lengkap dilengkapi dengan contoh dari kisah nyata. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai topik yang sedang dijelaskan.

Meskipun awam dengan dunia marketing, buku ini mudah dipahami dan tidak dipenuhi dengan kata-kata yang berat. Membaca buku ini terasa seperti membaca kumpulan kisah inspiratif bagaimana sebuah produk bisa berhasil viral.

Jika mau merangkup keenam langkah yang ada di STEPPS, hal paling penting dari proses pemasaran adalah getok tular atau mulut ke mulut dari konsumen itu sendiri. Jika yang berbicara hanya produsen, kecil kemungkinan produk tersebut akan sukses.

Ini tentu relevan jika membandingkannya dengan konten viral di media sosial. Kenapa konten bisa viral? Selain karena isi kontennya, tentu karena banyak orang yang membicarakan hal tersebut. Mau sekeren apapun kontennya, jika tidak ada yang membicarakannya, ya enggak bakal viral.

Jika disebutkan apa kekurangan dari buku ini, mungkin Penulis akan menyebutkan kalau isinya bisa dibilang cukup basic dan mungkin bisa ditemukan di media sosial dan internet. Namun, hal tersebut wajar saja jika buku ini memang ditargetkan untuk pasar yang awam dengan dunia marketing.

Walaupun mungkin tidak semua isinya bisa Penulis praktekkan, setidaknya wawasan yang disajikan cukup berguna untuk Penulis. Kalaupun belum bisa diterapkan sekarang, Penulis yakin suatu saat akan bermanfaat.

Penulis cukup merekomendasikan buku ini untuk siapapun yang ingin mengetahui dasar-dasar dalam membuat produk dan ide yang bisa menjadi viral karena pemaparannya yang mudah dipahami.

Skor: 7/10


Lawang, 15 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca Contagious karya Peter Berger

Continue Reading

Buku

[REVIEW] Setelah Membaca The Devotion of Suspect X

Published

on

By

Setelah menamatkan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya yang begitu berkesan, Penulis pun ingin kembali membeli novel karya Keigo Higashino. Sayangnya, dari riset yang Penulis lakukan, ternyata kebanyakan novel Keigo adalah novel detektif, bukan slice of life.

Hal tersebut sebenarnya bukan masalah, mengingat Penulis merupakan penggemar novel-novel detektif dan telah membaca semua seri Sherlock Holmes dan Agatha Christie. Yang jadi pertanyaan adalah judul mana yang sebaiknya Penulis baca dulu.

Setelah melihat rating di Goodreads, Penulis memutuskan untuk memilih novel berjudul The Devotion of Suspect X atau Kesetiaan Mr. X yang mendapatkan rating 4.2/5. Alhasil, novel ini berhasil membuat Penulis membeli novel Keigo lainnya.

Detail Buku The Devotion of Suspect X

  • Judul: The Devotion of Suspect X: Kesetiaan Mr. X
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Kedua Belas
  • Tanggal Terbit: Januari 2024
  • Tebal: 320 halaman
  • ISBN: 9786020330525
  • Harga: Rp99.000

Sinopsis The Devotion of Suspect X

Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.

Isi Buku The Devotion of Suspect X

Seringnya, novel detektif akan membawa kita ke sebuah misteri di mana sosok pelaku masih belum diketahui. Sepanjang cerita, kita akan mengikuti penyelidikan yang dilakukan oleh detektif hingga akhirnya bisa menyimpulkan siapa pelaku pada kasus tersebut.

Nah, formula yang berbeda Penulis temukan pada novel ini. Dari sinopsisnya saja, kita sudah tahu siapa yang menjadi pelaku dalam kasus pembunuhan dan bagaimana ia mendapatkan bantuan dari tetangganya agar tidak perlu sampai ditangkap oleh polisi.

Dari sana, alur yang dimiliki oleh novel ini sama seperti novel detektif kebanyakan, di mana pihak kepolisian yang buntuk akhirnya akan meminta bantuan orang di luar kepolisian. Di sini, sosok detektifnya adalah Dr. Manabu Yukawa yang merupakan seorang asisten dosen fisika.

Sama seperti Hercule Poirot ataupun Sherlock Holmes, Yukawa juga memiliki metodenya sendiri untuk bisa memecahkan sebuah kasus. Apalagi, kali ini teman kuliahnya yang bernama Ishigami terlibat, sehingga ia memiliki cara pendekatannya sendiri.

Duel antara Yukawa yang merupakan jenius fisika dan Ishigawa yang merupakan jenius matematika menjadi bagian yang cukup menarik. Pertarungan mereka seperti pertanyaan: mana yang lebih sulit, menulis jawaban sendiri atau mengoreksi jawaban orang lain?

Kejeniusan Ishigawa berhasil membuat Yasuko Hanaoka dan putrinya, yang menjadi pelaku pembunuhan mantan suaminya, memiliki alibi sempurna. Semua skenario seolah sudah ia perhitungkan, dan selama Yasuko dan anaknya yang bernama Misato bisa melakukan apa yang perintah, harusnya semua aman.

Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Ishigawa adalah keterlibatan Yukawa di kasus ini. Jika saja Yukawa tidak terlibat, kemungkinan besar semua rencana yang telah ia susun akan berhasil hingga akhir dan pihak kepolisian akan mengalami kebuntuan.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya tidak akan ikut olimpiade jatuh juga.

Penulis tidak akan terlalu banyak membocorkan cerita dari novel ini, karena nilai plusnya justru di bagian plot twist-nya. Yang jelas, Penulis yang sudah sering membaca novel detektif pun terkecoh hingga bagian akhir.

Setelah Membaca The Devotion of Suspect X

Belajar dari kesalahan tak bisa menghafal nama-nama Jepang di novel-novel Jepang, Penulis memutuskan untuk memberi otaknya waktu sejenak untuk menghafalkan ini siapa dan perannya apa. Hal tersebut cukup membantu Penulis membedakan karakter-karakter yang ada di novel ini.

Sebenarnya Penulis tidak ingin terlalu memberikan bocoran mengenai alur cerita novel ini. Hanya saja, ada beberapa poin yang ingin Penulis ulas yang mengharuskan Penulis sedikit memberikan bocoran. Oleh karena itu, Penulis akan memberikan spoiler alert di sini.

Awalnya Kurang Mengesankan, Akhirnya Bikin Terkejut

Saat membaca bagian awal novel ini, Penulis merasa kalau alurnya cukup tertebak karena kedalaman ceritanya memang cukup dangkal jika dibandingkan dengan karya Agatha Christie. Apalagi, di pembatas buku tertulis Asianlit, sehingga Penulis merasa wajar jika cerita misterinya dibuat agak ringan.

Sejak awal, Penulis sudah menebak kalau Ishigami pada akhirnya akan menyerahkan diri ke polisi apabila situasinya sudah semakin gawat. Dari awal hingga menjelang akhir, inilah aksi paling bucin dari Ishigami kepada Yukawa.

Untuk apa sampai berbuat segitunya demi orang yang tidak terlalu dekat? Bukankah membantu menutupi pembunuhan saja sudah tidak normal? Di bagian akhir nanti akan dijelaskan mengapa Ishigami sampai sebucin dan senekat itu.

Lantas jika tertebak, di mana letak plot twist-nya? Jawabannya ada di dua bab terakhir, di mana plot twist-nya adalah tentang sampai sejauh mana Ishigami rela berbuat demi melindungi Yukawa. Penulis benar-benar terkejut ketika membacanya.

Membandingkan Yukawa dengan Poirot dan Holmes

Berbicara tentang sosok Yukawa yang menjadi main detective di novel ini, kesan pertama yang Penulis dapatkan adalah kemampuan deduksi dan analisisnya masih di bawah Poirot dan Holmes. Cara-cara yang ia lakukan dalam menyelesaikan kasus ini bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Yukawa memang bisa menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya seperti yang dilakukan Poirot dengan sel-sel kelabu di otaknya, tetapi entah mengapa terasa cukup lamban. Kalau kemampuan deduksi, Holmes jelas masih di atasnya.

Yukawa seolah digambarnya sebagai seorang akademisi yang kebetulan kelewat jenius saja, sehingga bisa melihat apa yang dilewatkan oleh pihak kepolisian. Namun, kemampuan detektifknya bisa dibilang tidak terlalu menonjol.

Duelnya dengan Ishigawa sendiri bukan duel ala Holmes vs. Moriaty di mana mereka berusaha saling mengalahkan. Duel mereka “hanya” bagaimana Yukawa berusaha membongkar trik yang dilakukan oleh Ishigawa untuk menutupi kejahatan yang dilakukan oleh Yasuko.

Memang terlalu dini untuk menilai Yukawa karena Penulis baru membaca satu serinya. Penulis jadi tidak sabar untuk membaca seri Detektif Galileo selanjutnya, mungkin penilaian Penulis terhadapnya akan berubah.

Sedikit Kekurangan

Jika disuruh menuliskan kekurangan dari novel ini, mungkin bagian penyelidikan yang dilakukan oleh Detektif Kusanagi dan lainnya cukup berputar-putar di tempat tanpa ada progres yang berarti, sehingga di beberapa bagian alurnya akan terasa lambat.

Sejak awal, Yasuko menjadi target utama kepolisian karena hubugannya sebagai mantan istri Togashi. Namun, alibi Yasuko dan Misato nyaris sempurna dan pihak kepolisian tidak bisa membuktikan alibi mereka palsu. Inilah yang membuat penyelidikan menjadi berputar-putar.

Apalagi, Yasuko dan Misato berhasil menjalankan semua perintah Ishigawa dengan sempurna, sehingga kepolisian pun jadi yakin atas kesaksian mereka. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, rencana Ishigawa bisa buyar.

***

Kesimpulannya, The Devotion of Suspect X merupakan sebuah novel detektif dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih menebak-nebak siapa pelakunya, kita justru diberikan suguhan duel antara dua jenius: yang ingin menutupi kejahatan dan yang ingin membongkarnya.

Dengan pendekatan yang fresh ini, Penulis jadi merasa membaca sebuah novel yang unik dan cukup berkesan. Konklusi kisahnya pun memuaskan, meskipun terasa getir. Mungkin Keigo memang doyang membuat kisah yang membuat hati pilu.

Skor: 8/10

Saat hampir menamatkan novel ini pada hari Kamis (6/6/24) kemarin, Penulis memutuskan untuk membeli novel Keigo lainnya yang berjudul A Midsummer’s Equation. Semoga saja keseruan ceritanya minimal setara dengan yang baru Penulis tamatkan ini.


Lawang, 8 Juni 2024, teinspirasi setelah membaca buku The Devotion of Suspect X karya Keigo Higashino

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan