<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ekspresi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ekspresi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ekspresi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:45:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ekspresi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ekspresi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Berkata Kotor di Media Sosial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2019 16:54:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[kontrol]]></category>
		<category><![CDATA[kotor]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2159</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada. Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena berbeda pendapat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang admin Instagram, tentu penulis berusaha meluangkan waktu untuk membaca komentar-komentar yang masuk di setiap pos yang sudah dipublikasi. Tentu saja komentar yang masuk bervariasi, akan tetapi ada saja yang membuat penulis mengelus dada.</p>
<p>Apa itu? Adanya omongan-omongan kotor yang muncul, entah untuk memaki postingan penulis ataupun bertengkar dengan netizen lain karena <a href="http://whathefan.com/karakter/menghargai-perbedaan-dari-yang-terkecil/">berbeda pendapat</a>.</p>
<p>Tentu hal ini membuat penulis berpikir, <em>mengapa semudah itu untuk berkata kotor</em>? Sejauh pemahaman penulis, sama sekali tidak ada manfaat berkata kotor, apalagi diumbar di wilayah publik.</p>
<p>Penulis paham, terkadang memang susah untuk menahan emosi. Akan tetapi, jelas bukan perbuatan yang bijak untuk mengumbar <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">kemarahan di media sosial</a> yang bisa dikonsumsi oleh orang lain, terutama keluarga dan teman-teman kita.</p>
<p>Coba kita renungkan bersama, adakah hal positif yang didapat dengan berkata kotor di media sosial? Ada? Penulis sama sekali tidak bisa menemukan sisi positif dari perbuatan tersebut.</p>
<p>Yang penulis herankan, betapa mudahnya orang-orang untuk mengeluarkan kata kotor bahkan hanya karena hal sepele. Hal-hal remeh yang sebenarnya tidak akan membuat kita mendapatkan apa-apa selain debat kusir tanpa makna.</p>
<p>Selain itu, kata-kata kotor juga sering keluar pada status seseorang dengan tujuan menyindir seseorang yang sudah membuat dirinya gusar. Apa tujuannya? Memberitahu orang lain betapa buruknya orang yang sudah membuat kita kecewa? Bisa jadi.</p>
<p>Jika ada masalah dengan orang lain, ada baiknya jika langsung diselesaikan dengan yang bersangkutan tanpa perlu <a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">sindir-menyindir di media sosial</a>. Kalau memang sedang berkonflik dengan orang lain, selesaikan tanpa perlu menyebar aib orang lain.</p>
<p>Media sosial memang menjadi wadah untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>, akan tetapi bukan berarti kita bisa berbuat seenak hati. Tetap ada norma-norma yang berlaku agar sesama pengguna media sosial bisa merasa nyaman.</p>
<p>Cobalah untuk menahan dan menguasai emosi diri kita. Kebanyakan orang akan menyesal setelah meluapkan emosinya. Setidaknya, mereka akan menyesal ketika hal buruk menimpa setelah emosi keluar, seperti laki-laki yang sedang viral karena merusak motornya tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu, yuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Gunakanlah media sosial sebagai media untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan termasuk kata-kata kotor yang tak bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 10 Februari 2019, terinspirasi dari banyaknya kata-kata kotor yang berseliweran di media sosial</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@gagewalkerr">Gage Walker</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/">Berkata Kotor di Media Sosial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/berkata-kotor-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Balik Wanita Tanpa Ekspresi</title>
		<link>https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2018 09:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Anime & Komik]]></category>
		<category><![CDATA[anime]]></category>
		<category><![CDATA[Chizuru Hishiro]]></category>
		<category><![CDATA[datar]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Mashiro Shiine]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Ritsu Kawai]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1548</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika melihat perempuan yang jarang menunjukkan ekspresinya di hadapan umum, apa yang muncul pada benak kita? Kalau penulis akan merasa penasaran, apa kira-kira yang menyebabkan ia begitu datar. Biasanya, wanita-wanita seperti itu identik dengan beberapa karakteristik lainnya seperti pemurung, cenderung penyendiri, susah menjalin hubungan dengan orang lain. Hal tersebut tentu menimbulkan empati padahati penulis. Rasanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/">Di Balik Wanita Tanpa Ekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika melihat perempuan yang jarang menunjukkan ekspresinya di hadapan umum, apa yang muncul pada benak kita? Kalau penulis akan merasa penasaran, apa kira-kira yang menyebabkan ia begitu datar.</p>
<p>Biasanya, wanita-wanita seperti itu identik dengan beberapa karakteristik lainnya seperti pemurung, cenderung penyendiri, susah menjalin hubungan dengan orang lain.</p>
<p>Hal tersebut tentu menimbulkan empati padahati penulis. Rasanya ingin membantu mereka untuk memecahkan persoalan yang mereka hadapi, walaupun mereka tidak pernah memintanya.</p>
<p>Penulis bukannya menyukai wanita yang kurang ekspresif. Jika disuruh memilih, penulis akan memilih wanita yang ceria dengan sedikit <a href="http://whathefan.com/animekomik/daya-tarik-wanita-pemalu/">sifat pemalu</a> untuk mengimbangi sifat penulis yang kerap kali terlalu serius.</p>
<p>Karena susah untuk mencari contoh wanita dalam dunia nyata, penulis akan mengambil contoh dari dunia yang tak nyata.</p>
<p><strong>Mashiro Shiina (Sakurasou no Pet na Kanojo)</strong></p>
<p><span style="font-size: 16px;">Yang pertama ada </span><strong style="font-size: 16px;">Mashiro Shiina</strong><span style="font-size: 16px;"> dari anime </span><strong style="font-size: 16px;">Sakurasou no Pet na Kanojo</strong><span style="font-size: 16px;"> yang menceritakan tentang kehidupan suatu asrama. Pada asrama tersebut, tinggal beberapa orang yang bisa dibilang unik, termasuk Shiina sendiri.</span></p>
<div id="attachment_1549" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1549" class="wp-image-1549 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/mashiro-shiina-the-pet-girl-of-sakurasou-kc-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1549" class="wp-caption-text">via hdqwalls.com</p></div>
<p>Ia adalah seorang seniman lukis yang sedang belajar untuk membuat manga, alasan mengapa ia pindah dari Inggris ke Jepang. Sayang, selain bakat melukisnya, ia bisa dibilang tidak bisa berbuat apa-apa termasuk mengurus dirinya sendiri.</p>
<p>Shiina lebih sering terlihat tanpa muncul sedikitpun ekpresi pada paras cantiknya tersebut. Ia dianggap eksentrik, mungkin karena jiwa seni yang mengalir pada tubuhnya.</p>
<p>Meskipun begitu, Shiina tetap mempedulikan teman-temannya yang sudah memberinya perhatian. Terkadang, memang hanya itu yang dibutuhkan oleh orang-orang yang kurang ekspresif.</p>
<p><strong>Chizuru Hishiro (ReLIFE)</strong></p>
<p>Selanjutnya adalah salah satu subyek <strong>ReLIFE</strong> yang harus menjalani tahun keduanya, <strong>Chizuru Hishiro</strong>. Pengulangan terjadi karena pada tahun pertamanya ia dianggap gagal karena ia tetap susah berinteraksi dengan orang lain.</p>
<div id="attachment_1550" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1550" class="size-large wp-image-1550" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/big_1484999850_image.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1550" class="wp-caption-text">via coub.com</p></div>
<p>Untunglah pada tahun keduanya, ia bertemu dengan Kaizaki Arata yang sangat membantunya untuk menjalin hubungan dengan teman-teman lainnya.</p>
<p>Kaizaki mengajari Hishiro bagaimana cara tersenyum, bagaimana cara menolong teman, dan lain sebagainya. Kaizaki benar-benar membantunya agar berhasil pada masa <a href="http://whathefan.com/animekomik/mengulang-masa-sekolah-ala-relife/">ReLIFE</a> yang keduanya.</p>
<p>Berawal dari sanalah, Hishiro yang kerap tidak berekspresi perlahan-lahan mulai bisa tersenyum secara natural. Bahkan, pada akhirnya ikatan yang ia buat dengan Kaizaki tidak bisa dihilangkan oleh pengaruh obat sekalipun.</p>
<p><strong>Ritsu Kawai (Bokura wa Minna Kawai-sou)</strong></p>
<p>Wanita terakhir yang sering terlihat memasang wajah datar adalah <strong>Ritsu Kawai </strong>dari anime <strong>Bokura wa Minna Kawai-sou</strong>. Hampir mirip seperti Sakurasou, anime ini menceritakan tentang kehidupan sebuah kos-kosan.</p>
<div id="attachment_1551" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1551" class="size-large wp-image-1551" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-1024x576.png" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-1024x576.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-300x169.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-768x432.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701-356x200.png 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/wallhaven-354701.png 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1551" class="wp-caption-text">via alpha.wallhaven.cc</p></div>
<p>Kawai adalah seorang <a href="http://whathefan.com/tips-motivasi/mengapa-kita-harus-gemar-membaca/">kutu buku</a> yang tidak memiliki teman. Ia lebih memilih untuk berkutat dengan kalimat demi kalimat dari buku yang tengah ia baca. Bahkan ia membaca sepanjang perjalanannya ke sekolah.</p>
<p>Sampai suatu ketika, terdapat seorang laki-laki bernama Kazunari Usa yang menaruh hati padanya dan tanpa sengaja berada satu kos dengannya.</p>
<p>Walaupun sering diacuhkan, Usa tidak lelah berjuang untuk mendapatkan perhatian dari Kawai. Sama seperti pada kasus di anime ReLIFE, Usa membantu Kawai agar bisa lebih berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.</p>
<p>Lama-kelamaan, wajahnya mulai sering mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya, termasuk tersipu malu ketika terjadi sesuatu antara dirinya dan Usa.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Tentu tidak semua wanita yang tidak berekspresi seperti itu. Ada juga wanita yang sengaja tidak menunjukkannya untuk menyembunyikan isi hatinya atau memang sudah pembawaannya.</p>
<p>Yang jelas, seorang laki-laki sejati harus bisa menerbitkan senyum untuk semua perempuan, termasuk yang jarang berekspresi sekalipun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 27 Oktober 2018, terinspirasi setelah menamatkan anime Bokura wa Minna Kawai-sou</p>
<p>Foto: <a href="http://wall.alphacoders.com">wall.alphacoders.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/">Di Balik Wanita Tanpa Ekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/animekomik/di-balik-wanita-tanpa-ekspresi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Batasan Kebebasan Berekspresi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2018 13:56:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[batasan]]></category>
		<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=448</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia: &#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221; Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221;</em></p>
<p>Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, <em>liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu</em>.</p>
<p>Sebagai bangsa yang pernah mengalami pengekangan dalam menyampaikan pendapat, tentu kebebasan berpikir menjadi hal yang menarik. Namun, penulis tidak sepakat dengan kalimat selanjutnya:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Paham liberalisme <strong>menolak adanya pembatasan</strong>, khususnya dari <strong>pemerintah</strong> dan <strong>agama</strong>.&#8221;</em></p>
<p>Penulis bukannya ingin mengkritik paham liberal, karena memang bukan termasuk ranah yang dikuasai. Penulis hanya ingin menyampaikan opini terhadap bentuk kebebasan dalam berekspresi, terutama oleh kawula muda pada medsos.</p>
<p><strong>Peran Media Sosial untuk Berekspresi</strong></p>
<p>Semenjak menjadi rutinitas dalam kehidupan manusia, media sosial (medsos) berperan sebagai tempat mencurahkan perasaan penggunanya. Apa yang sedang dirasakan seringkali ditumpahkan di medsos, mungkin berharap ada yang merespon keresahan hatinya.</p>
<p>Apapun yang terjadi harus diketahui orang lain, meskipun penulis percaya masih ada pengguna yang tetap menjaga privasinya, tahu mana yang untuk konsumsi publik mana yang bukan.</p>
<p>Selain untuk hal tersebut, medsos juga seringkali digunakan untuk mengekspresikan diri, yang terkadang terlalu bebas. Belum lama rasanya ketika ada selebgram yang kontroversial karena mengumbar kehidupannya ke publik, disertai banyak adegan yang tak pantas dilihat oleh kalangan remaja.</p>
<p>Selebgram yang bermasalah ini, anehnya, justru menjadi idola. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya <em>follower</em> yang mengikutinya. Adegan ciuman dengan pacarnya dianggap sebagai <em>relantionship goal</em>. Belum lagi ketika ia membuat video klip lagu terbarunya di YouTube dengan mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan norma kita.</p>
<p>Penulis mengetahui salah satu mengapa alasan orang-orang seperti ini menjadi patron bagi banyak orang, yang penulis ketahui dari acaranya Deddy Corbuzier:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Kakak hebat ya, berani berekspresi menjadi diri sendiri, enggak munafik.</em>&#8220;</p>
<p>Ini bahaya, sungguh sangat berbahaya.</p>
<p><strong>Topeng &#8220;Enggak Munafik&#8221;</strong></p>
<p>Berani menjadi diri sendiri itu baik, malah harus. Yang menjadi masalah adalah ketika kita berekspresi melampaui batas dan menganggapnya sebagai jati diri kita. Penulis yakin, kita sebagai bangsa timur, tidak memiliki kepribadian yang terkesan liar seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, mereka yang menganut pemikiran ini sering kali menggunakan topeng &#8220;asal enggak munafik&#8221; untuk menutupi kekurangan mereka. Mereka merasa benar dengan melakukan hal-hal yang salah daripada harus berpura-pura menjadi orang baik.</p>
<p>Terkait hal ini, penulis ingin mengutip kata mutiara dari karakter favorit penulis di Harry Potter, Sirius Black:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>We&#8217;ve all got both light and dark inside us. What matter is the part we choose to act on.&#8221;</em></p>
<p>Jika diterjemahkan, kita semua memiliki sisi baik dan gelap dalam diri kita. Kitalah yang menentukan sisi mana yang kita pilih. Jadi, jika ada orang yang merasa segala bentuk ekspresi negatif adalah jati dirinya, kemungkinan mereka lebih memilih sisi gelap mereka.</p>
<p><strong>Memaknai Kebebasan</strong></p>
<p>Jika dikaitkan dengan paham liberal yang di paragraf awal, maka orang-orang yang kebablasan dalam berekspresi jelas terlihat tidak ingin diatur oleh siapapun, termasuk pemerintah dan agama. Mereka ingin kebebasan yang sebenar-benarnya tanpa batasan apapun.</p>
<p>Ini artinya, mereka ini belum dapat memaknai kebebasan itu sendiri.</p>
<p>Seandainya manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya, apa bedanya dengan binatang? Bahkan setidaknya hewan memiliki hukum rimba di mana yang kuat (terkadang ditambah yang tercerdik) yang menang.</p>
<p>Seandainya manusia tidak dibatasi oleh aturan, apa yang sekiranya akan terjadi? Kekacauan masal<em> </em>akan terjadi di mana-mana, tidak lagi dibutuhkan <em>agent of chaos </em>seperti Joker di film Batman.</p>
<p>Seandainya manusia tidak ingin diatur oleh norma sosial, apa akibatnya? Akibatnya manusia tidak akan lagi peduli dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur kita.</p>
<p>Kebebasan itu memang harus dibatasi, karena itu yang membuat kita menjadi manusia.</p>
<p><em>Jika terbatas, bukankah bukan kebebasan namanya?</em></p>
<p>Dalam bahasa penulis, lebih tepat disebut sebagai kebebasan yang bertanggungjawab. Kita berhak untuk memiliki kebebasan di banyak hal, mulai dari memilih kepercayaan, berpendapat, berkeluarga, termasuk berekspresi di medsos.</p>
<p>Akan tetapi, kita sebagai manusia juga harus memperhatikan koridor-koridor yang ada. Berekspresilah di medsos, selama tidak menabrak aturan dan norma yang ada di masyarakat kita. Pilahlah mana yang patut untuk dikonsumsi publik, mana yang harusnya menjadi rahasia pribadi.</p>
<p>Aturan dan batasan ada bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan sebagai panduan untuk kebebasan itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Februari 2018, setelah makan bakso bakar.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html">http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
