Batasan Kebebasan Berekspresi

Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia:

“Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.”

Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.

Sebagai bangsa yang pernah mengalami pengekangan dalam menyampaikan pendapat, tentu kebebasan berpikir menjadi hal yang menarik. Namun, penulis tidak sepakat dengan kalimat selanjutnya:

“Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.”

Penulis bukannya ingin mengkritik paham liberal, karena memang bukan termasuk ranah yang dikuasai. Penulis hanya ingin menyampaikan opini terhadap bentuk kebebasan dalam berekspresi, terutama oleh kawula muda pada medsos.

Peran Media Sosial untuk Berekspresi

Semenjak menjadi rutinitas dalam kehidupan manusia, media sosial (medsos) berperan sebagai tempat mencurahkan perasaan penggunanya. Apa yang sedang dirasakan seringkali ditumpahkan di medsos, mungkin berharap ada yang merespon keresahan hatinya.

Apapun yang terjadi harus diketahui orang lain, meskipun penulis percaya masih ada pengguna yang tetap menjaga privasinya, tahu mana yang untuk konsumsi publik mana yang bukan.

Selain untuk hal tersebut, medsos juga seringkali digunakan untuk mengekspresikan diri, yang terkadang terlalu bebas. Belum lama rasanya ketika ada selebgram yang kontroversial karena mengumbar kehidupannya ke publik, disertai banyak adegan yang tak pantas dilihat oleh kalangan remaja.

Selebgram yang bermasalah ini, anehnya, justru menjadi idola. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya follower yang mengikutinya. Adegan ciuman dengan pacarnya dianggap sebagai relantionship goal. Belum lagi ketika ia membuat video klip lagu terbarunya di YouTube dengan mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan norma kita.

Penulis mengetahui salah satu mengapa alasan orang-orang seperti ini menjadi patron bagi banyak orang, yang penulis ketahui dari acaranya Deddy Corbuzier:

Kakak hebat ya, berani berekspresi menjadi diri sendiri, enggak munafik.

Ini bahaya, sungguh sangat berbahaya.

Topeng “Enggak Munafik”

Berani menjadi diri sendiri itu baik, malah harus. Yang menjadi masalah adalah ketika kita berekspresi melampaui batas dan menganggapnya sebagai jati diri kita. Penulis yakin, kita sebagai bangsa timur, tidak memiliki kepribadian yang terkesan liar seperti itu.

Masalahnya, mereka yang menganut pemikiran ini sering kali menggunakan topeng “asal enggak munafik” untuk menutupi kekurangan mereka. Mereka merasa benar dengan melakukan hal-hal yang salah daripada harus berpura-pura menjadi orang baik.

Terkait hal ini, penulis ingin mengutip kata mutiara dari karakter favorit penulis di Harry Potter, Sirius Black:

We’ve all got both light and dark inside us. What matter is the part we choose to act on.”

Jika diterjemahkan, kita semua memiliki sisi baik dan gelap dalam diri kita. Kitalah yang menentukan sisi mana yang kita pilih. Jadi, jika ada orang yang merasa segala bentuk ekspresi negatif adalah jati dirinya, kemungkinan mereka lebih memilih sisi gelap mereka.

Memaknai Kebebasan

Jika dikaitkan dengan paham liberal yang di paragraf awal, maka orang-orang yang kebablasan dalam berekspresi jelas terlihat tidak ingin diatur oleh siapapun, termasuk pemerintah dan agama. Mereka ingin kebebasan yang sebenar-benarnya tanpa batasan apapun.

Ini artinya, mereka ini belum dapat memaknai kebebasan itu sendiri.

Seandainya manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya, apa bedanya dengan binatang? Bahkan setidaknya hewan memiliki hukum rimba di mana yang kuat (terkadang ditambah yang tercerdik) yang menang.

Seandainya manusia tidak dibatasi oleh aturan, apa yang sekiranya akan terjadi? Kekacauan masal akan terjadi di mana-mana, tidak lagi dibutuhkan agent of chaos seperti Joker di film Batman.

Seandainya manusia tidak ingin diatur oleh norma sosial, apa akibatnya? Akibatnya manusia tidak akan lagi peduli dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur kita.

Kebebasan itu memang harus dibatasi, karena itu yang membuat kita menjadi manusia.

Jika terbatas, bukankah bukan kebebasan namanya?

Dalam bahasa penulis, lebih tepat disebut sebagai kebebasan yang bertanggungjawab. Kita berhak untuk memiliki kebebasan di banyak hal, mulai dari memilih kepercayaan, berpendapat, berkeluarga, termasuk berekspresi di medsos.

Akan tetapi, kita sebagai manusia juga harus memperhatikan koridor-koridor yang ada. Berekspresilah di medsos, selama tidak menabrak aturan dan norma yang ada di masyarakat kita. Pilahlah mana yang patut untuk dikonsumsi publik, mana yang harusnya menjadi rahasia pribadi.

Aturan dan batasan ada bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan sebagai panduan untuk kebebasan itu sendiri.

 

 

Lawang, 28 Februari 2018, setelah makan bakso bakar.

Sumber Foto: http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.