<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>epilog Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/epilog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/epilog/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Oct 2019 17:15:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>epilog Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/epilog/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Epilog: Sebuah Novel Untuknya</title>
		<link>https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/epilog-sebuah-novel-untuknya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Oct 2019 17:15:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Distopia Bagi Kia]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[distopia bagi kia]]></category>
		<category><![CDATA[epilog]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2831</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Selamat ya, akhirnya novel perdanamu selesai.” kata Voni, salah seorang kenalan Rika di penerbit. “Iya, terima kasih banyak ya buat bantuannya.” jawab Rika sambil tersenyum puas seolah sedang melihat anak pertamanya. Rika menerima salah satu sampel novel yang sudah ditulisnya selama bertahun-tahun tersebut. Novel tersebut sudah ia tulis sejak ia duduk di kelas akselerasi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/epilog-sebuah-novel-untuknya/">Epilog: Sebuah Novel Untuknya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Selamat ya, akhirnya novel perdanamu selesai.” kata Voni, salah seorang kenalan Rika di penerbit.</p>
<p>“Iya, terima kasih banyak ya buat bantuannya.” jawab Rika sambil tersenyum puas seolah sedang melihat anak pertamanya.</p>
<p>Rika menerima salah satu sampel novel yang sudah ditulisnya selama bertahun-tahun tersebut. Novel tersebut sudah ia tulis sejak ia duduk di kelas akselerasi dan mulai tinggal bersama Sarah. Karena berbagai hal, barulah novel ini jadi sekarang. Ia masih tak percaya bahwa akhirnya ia bisa mewujudkan impiannya sejak kecil, menulis sebuah novel dan menerbitkannya. Dulu ia sering diejek karena sering mencampuradukkan fantasi dan dunia nyata, namun lihatlah sekarang. Ia memberi judul novelnya <em>Distopia Bagi Kia</em>.</p>
<p>“Omong-omong, kenapa judulnya seperti itu? Jarang loh ada orang yang tahu apa arti distopia.” tanya Voni dengan penasaran.</p>
<p>“Hehehe, panjang deh ceritanya Von.”</p>
<p>Novel ini memang terinspirasi dari kisahnya sendiri yang memiliki masa lalu suram. Ia harus tinggal bersama orang yang sangat sering menyiksanya. Hal itu membuatnya merasa berada di sebuah distopia, di neraka dunia. Untunglah, ia bertemu dengan teman-teman yang baik, yang mau membantunya keluar dari permasalahan tersebut. Novel ini ia dedikasikan untuk teman-temannya.</p>
<p>Rika jadi teringat dengan Sarah. Awalnya, ia berniat untuk menggunakan kehidupannya sendiri sebagai latar belakang cerita. Akan tetapi setelah ditimbang-timbang, novelnya akan menjadi sangat suram. Ia pun mendapatkan ilham ketika mendengarkan cerita Sarah mengenai perasaan kesepiannya karena kesibukan orangtuanya. Maka, ia meminta izin ke saudara angkatnya tersebut untuk mengangkat kisahnya tersebut ke dalam novelnya. Sarah mengiyakannya tanpa perlu berpikir panjang. Setelah itu, imajinasi Rika lah yang menciptakan karakter-karakter lain, termasuk dunia cermin yang sangat berbau fantasi.</p>
<p>“Jadi, novel terbitan pertama ini mau kamu simpan sendiri atau mau kamu kasih ke seseorang spesial nih?” lagi-lagi Voni melontarkan pertanyaan.</p>
<p>“Aku udah janji ke seseorang buat ngasih buku perdanaku ke seseorang, jadi rasanya bakal aku kasih ke dia.”</p>
<p>“Cie, pacarmu ya?”</p>
<p>Rika hanya bisa tersenyum canggung. Tidak, ia tak pernah pacaran seumur hidupnya. Setidaknya, ia tak pernah peduli dengan hal tersebut. Baginya, ada orang yang mencintainya dengan sepenuh hati saja sudah lebih dari cukup. Kalau memang berjodoh, toh nantinya mereka akan berakhir di pelaminan. Rika sudah sering membayangkan hal tersebut, mengingat usianya sudah menginjak kepala dua. Akan tetapi, ia tak ingin terburu-buru. Biarlah ia menunggu sampai laki-laki tersebut melamarnya setelah menyelesaikan segala urusannya.</p>
<p>“Ya udah, aku balik dulu ya Von, sekali lagi terima kasih.” Rika memeluk temannya tersebut, lantas berbalik dan melangkah ke luar gedung.</p>
<p>Di luar sedikit gerimis, namun Rika membawa sebuah payung. Maka dengan perasaan riang gembira, ia melangkahkan kaki dengan ringan. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Selalu tampak ceria memang sudah menjadi sifatnya. Bedanya, ia tak pernah berpura-pura ceria untuk menutupi lukanya sekarang. Keceriaan yang ia tampakkan sekarang adalah keceriaan yang jujur.</p>
<p>“Leon, terima kasih untuk semuanya ya, novel pertamaku ini buat kamu.” gumam Rika kepada dirinya sendiri, sambil menatap langit yang kelabu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><strong>TAMAT</strong></p>
<hr />
<h3>Catatan dari Penulis</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis tersenyum lega setelah berhasil menyelesaikan novel <em>Distopia Bagi Kia </em>yang satu ini. Dibandingkan dengan novel <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-1/">Leon dan Kenji</a> yang butuh bertahun-tahun, novel ini termasuk cepat proses penulisannya. Penulis memulai menggarap novel ini pada bulan Oktober tahun 2018, sehingga pengerjaan novel ini membutuhkan waktu satu tahun. Seperti yang sudah penulis sebutkan dulu sekali, novel ini terinspirasi dari imajinasi Ayu. Novel ini tidak akan lahir tanpa fantasinya yang luar biasa. Jadi, novel ini penulis dedikasikan untuknya.</p>
<p>Awalnya, penulis ingin rutin menulis setiap minggu satu bagian Distopia Bagi Kia dan satu bagian <a href="https://whathefan.com/category/leon-dan-kenji-buku-2/">Leon dan Kenji (Buku 2)</a>. Setelah dijalani, ternyata berat sekali. Akhirnya, blog pun terpengaruh dan sering absen menulis. Akhirnya, penulis memutuskan untuk menunda dulu novel Leon dan Kenji dan berfokus untuk menamatkan novel ini terlebih dahulu.</p>
<p>Yang menyenangkan dari menulis novel ini adalah penggunaan sudut pandang ketiga yang membebaskan penulis. Alur cerita tidak terpatok hanya dari tokoh utama, kita juga bisa tahu bagaimana cerita berjalan dari karakter-karakter lain. Berbagai ide cerita juga muncul begitu saja ketika sedang mengetik di depan laptop.</p>
<p>Penulis juga belajar membangun karakter-karakter baru. Yang paling penulis dalami tentu saja karakter sang tokoh utama, Kia, yang sering menganggap dirinya merasa tidak berharga. Bisa jadi, ini merupakan jeritan hati penulis yang terkadang juga merasa seperti itu, hahaha.</p>
<p>Di dalam perjalanannya, penulis menonton beberapa anime yang karakternya seperti Kia. Sebut saja <strong>Sawako </strong>dari anime <em>Kimi Ni Todoke </em>atau <strong>Chiziru </strong>dari anime <em>ReLife</em>. Bayangan penulis tentang karakter Kia benar-benar tergambarkan oleh mereka. Bahkan, fisiknya yang berambut hitam panjang juga mirip. Padahal, penulis membuat karakter Kia jauh sebelum menonton anime-anime tersebut.</p>
<p>Karena bukan anak orang super kaya, penulis hanya bermodalkan ingatan kepada rumah-rumah orang kaya yang pernah muncul di televisi ataupun <em>reality show</em>. Bahkan, penulis menonton ulasan YouTube tentang mobil Mercedes yang ditumpangi oleh Kia untuk bisa benar-benar merasakan seperti apa berada di dalam mobil tersebut.</p>
<p>Ketika masuk ke dalam dunia cermin, penulis membayangkan lingkungan tempat Pak Kusno tinggal adalah desa tempat <em>rewang </em>penulis tinggal. Tentu, ada penambahan-penambahan tertentu seperti balai RW yang bisa menampung banyak orang dan kamar mandi umum yang digunakan bersama.</p>
<p>Pengalaman di Karang Taruna juga sedikit penulis sisipkan di sini. Alasannya, organisasi pemuda tersebut menjadi jalan termudah untuk Kia agar bisa merasakan yang namanya memiliki teman. Ketika berada di dunia tersebut, sangat sulit untuk membuat Kia bersekolah karena kondisi ekonomi Pak Kusno. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah lain agar Kia bisa berinteraksi dengan orang lain. Apalagi, di sana ia menemukan bakatnya: mengajar.</p>
<p>Klimaks dari novel ini adalah ketika ada pihak-pihak yang ingin menyingkirkan Kia. Berbagai motif tersedia untuk mengusir Kia dari kampung dan mereka berhasil. Kia harus mengalami pengalaman pahit ketika harga dirinya hendak dijual, sebelum mengetahui bahwa itu semua merupakan rencana sang kakek untuk menyelamatkannya. Awalnya, penulis ingin mengakhiri novel ini di sini, namun penulis rasa apa yang Kia alami belum banyak membuatnya berubah.</p>
<p>Alhasil, ketika Kia kembali ke dunianya, ia menyadari bahwa hilangnya dirinya membawa dampak yang buruk. Mamanya meninggal dunia dan papanya kehilangan kewarasan. Ia yang tak tahu arah pun harus berakhir di panti asuhan. Di sana, ia baru menemukan betapa berharganya memiliki orangtua yang lengkap. Kia merenungi segala hal yang terjadi padanya dan berharap diberikan kesempatan kedua. Penulis mengabulkan keinginannya tersebut.</p>
<p>Dua bagian terakhir novel ini merupakan bagian yang membuat penulis sangat bersemangat. Kia memiliki kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah ia buat. Ia telah banyak berubah dan menjadi pribadi yang lebih hangat, berani mengungkapkan perasaan, dan menyadari apa yang ada di pikirannya selama ini tidak benar. Banyak orang yang menyayanginya.</p>
<p>Lantas, <em>timejump </em>pun terjadi dan Kia telah menjadi wanita dewasa. Melihat karakter yang dibuat sendiri telah berkembang sedemikian rupa bisa menimbulkan efek haru kepada penulis. Lucu memang, penulis akui hal tersebut.</p>
<p>Penulis membuat novel ini seolah-olah merupakan novel buatan Rika, salah satu karakter dari novel Leon dan Kenji. Alasannya, penulis ingin membuat semacam <em>universe</em> sendiri. Salah satu cara yang bisa penulis lakukan untuk menghubungkan novel ini dengan novel Leon dan Kenji adalah menjadikannya sebagai novel ciptaan Rika yang memang gemar menulis novel.</p>
<p>Setelah nanti novel Leon dan Kenji tamat, penulis sudah merencanakan untuk menulis dua atau tiga novel yang juga masih berkaitan dengan novel-novel yang sudah penulis tulis. Yang sudah ada konsep idenya adalah sebuah novel dengan Rika sebagai karakter utamanya. Sebelum itu, penulis harus segera menyelesaikan novel Leon dan Kenji (Buku 2). Jika tidak ada halangan dan tetap berisikan 50 <em>chapter </em>sesuai rencana, maka kemungkinan novel ini akan tamat pada lebaran tahun depan. Masih panjang memang, tapi penulis yakin bisa menyelesaikannya.</p>
<p>Terakhir, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang sudah menyempatkan diri untuk membaca novel buatan penulis yang satu ini. Tak peduli seberapa sedikitpun yang membaca, hal tersebut sudah cukup untuk penulis jadikan energi dalam menulis novel ini.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/distopia-bagi-kia/epilog-sebuah-novel-untuknya/">Epilog: Sebuah Novel Untuknya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</title>
		<link>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/</link>
					<comments>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Leon dan Kenji (Buku 1)]]></category>
		<category><![CDATA[buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[epilog]]></category>
		<category><![CDATA[Leon dan Kenji]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1414</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada akhirnya semua rangkaian kegiatan kelas sepuluh akselerasi telah usai, mulai dari MOS hingga kenaikan kelas. Banyak sekali peristiwa yang turut mewarnai keberadaanku di kelas ini, mulai dengan pengeroyokan sewaktu MOS, kekalahan di turnamen futsal, hingga kematian Sica. Semua bercampur aduk, membentuk suatu adonan yang membantu diriku untuk berubah, menjadi Alexander Napoleon Caesar yang sebenarnya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/">Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada akhirnya semua rangkaian kegiatan kelas sepuluh akselerasi telah usai, mulai dari MOS hingga kenaikan kelas. Banyak sekali peristiwa yang turut mewarnai keberadaanku di kelas ini, mulai dengan pengeroyokan sewaktu MOS, kekalahan di turnamen futsal, hingga kematian Sica. Semua bercampur aduk, membentuk suatu adonan yang membantu diriku untuk berubah, menjadi Alexander Napoleon Caesar yang sebenarnya.</p>
<p>Kenji hadir sebagai perantara untuk memanduku keluar dari jurang kegelapan dalam diriku. Ia dengan sabar dan tulus menuntunku perlahan, selangkah demi selangkah. Teman-teman yang lain pun turut membantuku dengan semampunya, termasuk Jessica yang mengajarkan apa arti cinta sebenarnya.</p>
<p>Kisahku dengannya aku bagi menjadi tiga babak. Babak pertama, adalah babak di mana aku masih meraba-raba perasaanku sendiri. Di babak ini aku masih belum sepenuhnya paham apa yang aku rasakan. Babak kedua adalah babak di mana aku sudah mulai yakin dengan perasaanku terhadap Sica, meskipun aku belum yakin bagaimana perasaan Sica terhadapku. Di babak ketiga lah, sekaligus terakhir, kami sama-sama telah menyadari perasaan kami satu sama lain. Kami telah mengetahui bagaimana kami ingin ditempatkan di hati kami satu sama lain. Itulah babak terakhir, yang terpaksa berakhir karena takdir menjemput.</p>
<p>Setelah ujian kenaikan kelas, beberapa minggu setelahnya, rapot pun dibagikan beserta urutan rangking kelas. Aku melihat kertas tersebut untuk melihat apakah aku berhasil mengalahkan Kenji untuk menduduki peringkat satu. Tentu saja, aku kalah.</p>
<ol>
<li>Muhammad Kenji Yasuda</li>
<li>Alexander Napoleon Caesar</li>
<li>Arjuna Wahyunara</li>
<li>Virginia Vanya Valora</li>
<li>Shannon Augustine Sarah</li>
<li>Marron Malvinanita</li>
<li>Jean Xavier Pierre</li>
<li>Verena Nur Izora</li>
<li>Adriana Rika Kanaya</li>
<li>Aqilla Sagita Danastri</li>
<li>Ahmad Khrisna Subejo</li>
<li>Elvina Yurina Zefina</li>
<li>Andrea Putri Sudarwono</li>
<li>Andra Putra Sudarwono</li>
<li>Jessica Christiani (-)</li>
</ol>
<p>Sudarwono bersaudara harus turun ke kelas reguler karena kurangnya nilai mereka. Maka di hari pertama kelas sebelas ini, mereka berpamitan kepada kami.</p>
<p>“Teman-teman semua…”</p>
<p>“…kami minta maaf…”</p>
<p>“…jika selama ini…”</p>
<p>“…ada salah-salah…”</p>
<p>“…terima kasih…”</p>
<p>“…atas semua yang telah kalian berikan…”</p>
<p>“…kami tidak akan melupakan kalian!”</p>
<p>Terdengar isak haru melepas kepergian mereka. Mereka berdua adalah badut kelas, dalam artian positif. Setiap ucapan mereka selalu lucu, membuat yang lain tertawa, sedikit melupakan beban yang menggantung di pikiran mereka. Setelah kepergian Sudarwono bersaudara ini, entah siapa yang akan menjadi penghibur kelas. Kehilangan tiga teman di awal kelas sebelas ini tentu menjadi hal yang menyedihkan, bahkan bagiku.</p>
<p>***</p>
<p>“Mereka tetap bisa berprestasi di luar sana kok, tenang aja Le.” kata Kenji menyemangatiku sewaktu kami berada di rumahku untuk mengajar Gisel.</p>
<p>“Aku percaya itu Kenji.”</p>
<p>“Kamu, udah enggak sedih kalau kepikiran Sica?” tanyanya.</p>
<p>“Sudah tidak terlalu, aku baik-baik saja, terima kasih.”</p>
<p>“Ah iya, aku kepikiran waktu masuk tadi, pegangan pintumu agak kendor, apa di belakang ada kotak perkakas? Biar aku bantu memperbaikinya.”</p>
<p>“Harusnya ada di gudang belakang, biar aku yang memperbaiki. Kau mengajari Gisel.”</p>
<p>Kutinggalkan Kenji bersama adikku untuk menuju gudang. Sudah cukup lama aku tidak memperbaiki sesuatu, semoga aku masih ingat di mana aku meletakkan berbagai peralatan itu. Kubuka pintu gudang, dan sama seperti ruangan lain, gudang ini pun masih tertata rapi meskipun tidak sebersih bagian rumah yang lain. Mungkin hanya bagian ini yang jarang Gisel bersihkan.</p>
<p>Mataku mulai menjelajah ruangan ini, yang sekaligus sebagai tempat penyimpanan alat olahraga, mulai dari barbel hingga <em>jump rope</em>. Dengan alat-alat inilah aku berlatih berkelahi agar tidak lagi menjadi korban <em>bully </em>di sekolahku. Aku harus latihan lagi, karena aku merasa fisikku tak setangguh dulu.</p>
<p>Aku mengitari tempat seluas dua kali dua ini, berusaha menemukan kotak perkakas tersebut. Dengan teliti aku memeriksa tiap-tiap rak dan sudut ruang, masih belum kutemukan juga. Malah, aku hampir terjatuh karena tersandung sesuatu.</p>
<p>Aku melihat apa yang membuatku terjegal, sesuatu yang terletak di balik karpet. Kusibak karpet, terlihat olehku sebuah pintu kecil dengan pegangannya berupa lingkaran dari besi, seperti ruangan rahasia di lantai. Aku menariknya, dan terlihat olehku sebuah kotak di dalamnya. Ini merupakan kejutan bagiku, karena tak pernah menyangka ada ruang rahasia di gudang sempit ini. Aku segera mengambil kotak tersebut, dan meletakkannya di atas karpet. Cukup berat untuk ukuran kotak kecil, mungkin karena terbuat dari besi. Penuh dengan debu, entah telah tersimpan berapa tahun di sana. Kotak ini terkunci dengan sebuah gembok yang membutuhkan lima kombinasi angka. Aku mencoba beberapa variasi secara acak, hasilnya nihil.</p>
<p>Aku memeriksa kembali pintu rahasia tersebut, siapa tahu masih ada barang lagi, Benar saja, terdapat selembar amplop yang telah menguning di makan usia. Aku berharap isinya masih bisa dibaca. Kubuka amplop tersebut, dan isinya cukup untuk membuatku kebingungan.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-1415" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-1024x202.jpg" alt="" width="1024" height="202" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-1024x202.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-300x59.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-768x151.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643-356x70.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-29_173643.jpg 1664w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/">Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/epilog-sebuah-surat-dan-kotak-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
