Epilog Sebuah Surat dan Kotak Rahasia

Pada akhirnya semua rangkaian kegiatan kelas sepuluh akselerasi telah usai, mulai dari MOS hingga kenaikan kelas. Banyak sekali peristiwa yang turut mewarnai keberadaanku di kelas ini, mulai dengan pengeroyokan sewaktu MOS, kekalahan di turnamen futsal, hingga kematian Sica. Semua bercampur aduk, membentuk suatu adonan yang membantu diriku untuk berubah, menjadi Alexander Napoleon Caesar yang sebenarnya.

Kenji hadir sebagai perantara untuk memanduku keluar dari jurang kegelapan dalam diriku. Ia dengan sabar dan tulus menuntunku perlahan, selangkah demi selangkah. Teman-teman yang lain pun turut membantuku dengan semampunya, termasuk Jessica yang mengajarkan apa arti cinta sebenarnya.

Kisahku dengannya aku bagi menjadi tiga babak. Babak pertama, adalah babak di mana aku masih meraba-raba perasaanku sendiri. Di babak ini aku masih belum sepenuhnya paham apa yang aku rasakan. Babak kedua adalah babak di mana aku sudah mulai yakin dengan perasaanku terhadap Sica, meskipun aku belum yakin bagaimana perasaan Sica terhadapku. Di babak ketiga lah, sekaligus terakhir, kami sama-sama telah menyadari perasaan kami satu sama lain. Kami telah mengetahui bagaimana kami ingin ditempatkan di hati kami satu sama lain. Itulah babak terakhir, yang terpaksa berakhir karena takdir menjemput.

Setelah ujian kenaikan kelas, beberapa minggu setelahnya, rapot pun dibagikan beserta urutan rangking kelas. Aku melihat kertas tersebut untuk melihat apakah aku berhasil mengalahkan Kenji untuk menduduki peringkat satu. Tentu saja, aku kalah.

  1. Muhammad Kenji Yasuda
  2. Alexander Napoleon Caesar
  3. Arjuna Wahyunara
  4. Virginia Vanya Valora
  5. Shannon Augustine Sarah
  6. Marron Malvinanita
  7. Jean Xavier Pierre
  8. Verena Nur Izora
  9. Adriana Rika Kanaya
  10. Aqilla Sagita Danastri
  11. Ahmad Khrisna Subejo
  12. Elvina Yurina Zefina
  13. Andrea Putri Sudarwono
  14. Andra Putra Sudarwono
  15. Jessica Christiani (-)

Sudarwono bersaudara harus turun ke kelas reguler karena kurangnya nilai mereka. Maka di hari pertama kelas sebelas ini, mereka berpamitan kepada kami.

“Teman-teman semua…”

“…kami minta maaf…”

“…jika selama ini…”

“…ada salah-salah…”

“…terima kasih…”

“…atas semua yang telah kalian berikan…”

“…kami tidak akan melupakan kalian!”

Terdengar isak haru melepas kepergian mereka. Mereka berdua adalah badut kelas, dalam artian positif. Setiap ucapan mereka selalu lucu, membuat yang lain tertawa, sedikit melupakan beban yang menggantung di pikiran mereka. Setelah kepergian Sudarwono bersaudara ini, entah siapa yang akan menjadi penghibur kelas. Kehilangan tiga teman di awal kelas sebelas ini tentu menjadi hal yang menyedihkan, bahkan bagiku.

***

“Mereka tetap bisa berprestasi di luar sana kok, tenang aja Le.” kata Kenji menyemangatiku sewaktu kami berada di rumahku untuk mengajar Gisel.

“Aku percaya itu Kenji.”

“Kamu, udah enggak sedih kalau kepikiran Sica?” tanyanya.

“Sudah tidak terlalu, aku baik-baik saja, terima kasih.”

“Ah iya, aku kepikiran waktu masuk tadi, pegangan pintumu agak kendor, apa di belakang ada kotak perkakas? Biar aku bantu memperbaikinya.”

“Harusnya ada di gudang belakang, biar aku yang memperbaiki. Kau mengajari Gisel.”

Kutinggalkan Kenji bersama adikku untuk menuju gudang. Sudah cukup lama aku tidak memperbaiki sesuatu, semoga aku masih ingat di mana aku meletakkan berbagai peralatan itu. Kubuka pintu gudang, dan sama seperti ruangan lain, gudang ini pun masih tertata rapi meskipun tidak sebersih bagian rumah yang lain. Mungkin hanya bagian ini yang jarang Gisel bersihkan.

Mataku mulai menjelajah ruangan ini, yang sekaligus sebagai tempat penyimpanan alat olahraga, mulai dari barbel hingga jump rope. Dengan alat-alat inilah aku berlatih berkelahi agar tidak lagi menjadi korban bully di sekolahku. Aku harus latihan lagi, karena aku merasa fisikku tak setangguh dulu.

Aku mengitari tempat seluas dua kali dua ini, berusaha menemukan kotak perkakas tersebut. Dengan teliti aku memeriksa tiap-tiap rak dan sudut ruang, masih belum kutemukan juga. Malah, aku hampir terjatuh karena tersandung sesuatu.

Aku melihat apa yang membuatku terjegal, sesuatu yang terletak di balik karpet. Kusibak karpet, terlihat olehku sebuah pintu kecil dengan pegangannya berupa lingkaran dari besi, seperti ruangan rahasia di lantai. Aku menariknya, dan terlihat olehku sebuah kotak di dalamnya. Ini merupakan kejutan bagiku, karena tak pernah menyangka ada ruang rahasia di gudang sempit ini. Aku segera mengambil kotak tersebut, dan meletakkannya di atas karpet. Cukup berat untuk ukuran kotak kecil, mungkin karena terbuat dari besi. Penuh dengan debu, entah telah tersimpan berapa tahun di sana. Kotak ini terkunci dengan sebuah gembok yang membutuhkan lima kombinasi angka. Aku mencoba beberapa variasi secara acak, hasilnya nihil.

Aku memeriksa kembali pintu rahasia tersebut, siapa tahu masih ada barang lagi, Benar saja, terdapat selembar amplop yang telah menguning di makan usia. Aku berharap isinya masih bisa dibaca. Kubuka amplop tersebut, dan isinya cukup untuk membuatku kebingungan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.