<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>generasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/generasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/generasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 10:41:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>generasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/generasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bahaya Mager dan Apatis</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2018 02:33:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[aktif]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[gerak]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mager]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[pasif]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=955</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak bergaul dengan anak-anak usia sekolah membuat penulis memahami adanya sikap-sikap yang lumayan dominan pada generasi mereka. Beberapa di antaranya, yang menurut penulis bahaya, adalah sikap mager dan apatis. Mager Mager alias males gerak merupakan sebuah istilah yang menggambarkan kemalasan seseorang untuk beranjak dari tempatnya sekarang. Jika terdapat acara kumpul, alasan mager lazim disampaikan. Tentu ini berbahaya. Di tengah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/">Bahaya Mager dan Apatis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak bergaul dengan anak-anak usia sekolah membuat penulis memahami adanya sikap-sikap yang lumayan dominan pada generasi mereka. Beberapa di antaranya, yang menurut penulis bahaya, adalah sikap mager dan apatis.</p>
<p><strong>Mager</strong></p>
<p>Mager alias <em>males gerak </em>merupakan sebuah istilah yang menggambarkan kemalasan seseorang untuk beranjak dari tempatnya sekarang. Jika terdapat acara kumpul, alasan <em>mager </em>lazim disampaikan.</p>
<p>Tentu ini berbahaya. Di tengah badai globalisasi yang menuntut semua untuk bergerak cepat, ke<em>mager</em>an seseorang dapat membuat mereka tertinggal dari yang lain. Siapa yang lambat di era ini tidak akan kebagian tempat.</p>
<p>Okelah mereka bisa beralasan bahwa mereka masih berada di usia sekolah, masih bisa santai-santai. Toh nanti jika waktunya sudah tiba, mereka akan menghilangkan kebiasaan <em>mager </em>tersebut.</p>
<div id="attachment_968" style="width: 668px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-968" class="size-full wp-image-968" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/runner.jpg" alt="" width="658" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/runner.jpg 658w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/runner-300x182.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/runner-356x216.jpg 356w" sizes="(max-width: 658px) 100vw, 658px" /><p id="caption-attachment-968" class="wp-caption-text">Gerak Oi (https://www.purederry.com/derry-police-looking-to-speak-to-lunatic-seen-jogging-on-his-own/)</p></div>
<p>Akan tetapi, bisakah mereka memastikan bahwa kebiasaan tersebut akan hilang di masa depan? Bagaimana jika mereka susah menghilangkan kebiasaan tersebut jika tidak dibiasakan mulai sekarang?</p>
<p>Oleh karena itu alangkah lebih baik jika mulai sekarang kita semua mulai secara perlahan menghilangkan ke<em>mager</em>an dalam diri kita. Jika kita mulai merasa malas, segera bangkit dan usir kemalasan tersebut. Semakin kita berdiam diri, semakin besar <em>mager </em>menggoda kita.</p>
<p>Jadi, gerak, gerak, gerak!</p>
<p><strong>Apatis</strong></p>
<p>Selanjutnya adalah sikap apatis dalam menghadapi sebuah diskusi. Apatis sendiri dalam KBBI memiliki makna:</p>
<p style="text-align: center;"><em>acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh</em></p>
<p>Seringkali ketika memimpin rapat Karang Taruna, beberapa anggota tampak tidak memiliki saran maupun sekedar mengeluarkan idenya. Mereka cenderung diam dan menerima apapun hasil rapatnya.</p>
<p>Ini berbahaya, sebab di masa depan ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka akan menjadi orang-orang pasif yang hanya pasrah menerima arahan orang lain. Mereka seolah tidak memiliki kendali atas diri mereka sendiri.</p>
<p>Apakah kekhawatiran penulis berlebihan? Bisa jadi. Penulis sangat berharap pendapat ini salah besar, bahwa mereka nantinya dapat menghilangkan sikap apatis tersebut dan justru menjadi pemimpin yang hebat.</p>
<div id="attachment_969" style="width: 600px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-969" class="size-full wp-image-969" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/preview.jpg" alt="" width="590" height="332" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/preview.jpg 590w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/preview-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/preview-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 590px) 100vw, 590px" /><p id="caption-attachment-969" class="wp-caption-text">Jangan Pasif (https://videohive.net/item/group-of-business-people-meeting-at-office/11509576)mager</p></div>
<p>Akan tetapi, sama seperti sikap <em>mager, </em>penulis khawatir jika sikap tersebut tidak digerus perlahan-lahan akan menjadi sifat yang susah dihilangkan. Sikap aktif dan kritis harus dimiliki sedini mungkin agar terbiasa ketika berhadapan dengan dunia yang keras di luar sana.</p>
<p>Penulis menyadari bahwa dibutuhkan usaha yang keras agar dapat menghilangkan sikap apatis pada diri kita. Yang harus dilakukan pertama adalah menghilangkan rasa malu dan meningkatkan rasa percaya diri, karena dua hal inilah yang menjadi sumber apatisme.</p>
<p>Selanjutnya, belajarlah mengeluarkan pendapat, seburuk apapun itu. Mungkin di awal-awal ide kita terdengar konyol, namun seiring waktu apa yang kita sampaikan akan membaik dengan sendirinya.</p>
<p><strong>Indonesia butuh banyak generasi penerus yang hebat, dan penulis yakin generasi tersebut tidak pernah <em>mager </em>dan tidak apatis ketika sedang berada di forum diskusi. </strong></p>
<p><strong>Mari bersama-sama kita berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik agar dapat menjadi harapan bangsa untuk mengubah negara ini menjadi lebih baik di masa depan.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 6 Juli 2018, terinspirasi setelah banyak membaca kata <em>mager </em>di grup WA Karang Taruna</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.careeraddict.com/awesome-jobs-for-lazy-people">https://www.careeraddict.com/awesome-jobs-for-lazy-people</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/">Bahaya Mager dan Apatis</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/bahaya-mager-dan-apatis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mempengaruhi Generasi Milenial</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2018 16:52:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[milenial]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=224</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari sebuah diskusi mengenai propaganda negara adidaya yang gemar menggiring opini, kawan saya berpendapat bahwa generasi yang lahir setelah pergantian abad alias generasi milenial mudah untuk dipengaruhi. Sebagai contoh, jika sedang ada game yang sedang populer, maka generasi milenial akan beramai-ramai ikut bermain game tersebut. Mungkin game tidak bisa dijadikan patokan karena mayoritas pemain [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">Mempengaruhi Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari sebuah diskusi mengenai propaganda negara adidaya yang gemar menggiring opini, kawan saya berpendapat bahwa generasi yang lahir setelah pergantian abad alias generasi milenial mudah untuk dipengaruhi. Sebagai contoh, jika sedang ada game yang sedang populer, maka generasi milenial akan beramai-ramai ikut bermain game tersebut.</p>
<p>Mungkin game tidak bisa dijadikan patokan karena mayoritas pemain game adalah laki-laki. Kita ambil contoh lain, musik misalnya. Anak-anak Karang Taruna di kampung saya rata-rata mendengarkan lagu yang sama di <em>playlist </em>mereka, lagu-lagu kekinian yang bergenre <em>Electronic Dance Music </em>(EDM). Hanya ada satu dua anak yang berani keluar jalur alias anti <em>mainstream</em>.</p>
<p>Lalu, memang kenapa kalau generasi milenial ikut apa yang sedang menjadi <em>trend</em>?</p>
<p>Logikanya begini, generasi ini menjadi mudah terpengaruh untuk mengikuti arus. Karena hanya mengikuti arus, mereka akan menjadi kurang kritis terhadap persoalan-persoalan yang ada. Jika tidak memiliki sifat kritis, maka mereka akan sangat mudah dipengaruhi, sehingga menggiring mereka untuk mempercayai suatu opini akan menjadi hal yang mudah.</p>
<p>Media apa yang paling berpotensi untuk menjadi penggiring opini ini? Jelas, segala bentuk hiburan mulai dari media sosial hingga film. Alasannya sederhana, karena manusia sekarang, tidak hanya generasi milenial, membutuhkan berbagai macam bentuk <em>entertain</em> untuk menghadapi penatnya hidup. Hanya saja, karena generasi milenial adalah generasi yang masih berada di usia yang masih rentan, mereka menjadi sasaran empuk propaganda.</p>
<p>Ambil saja contoh superhero-superhero Amerika. Mereka selalu digambarkan sebagai penyelamat dunia dari berbagai kejahatan yang dilakukan oleh musuh. Kenyataannya? Sudah berapa nyawa manusia tak berdosa yang direnggut oleh tentara-tentara Amerika di kawasan Timur Tengah. Sangat kontradiktif bukan?</p>
<p>Oleh karena itu, untuk menetralisir kondisi ini, sikap kritis harus ditanamkan sejak dini. Sikap kritis ini dibutuhkan untuk menyaring segala macam informasi yang hadir di hadapan kita. Salah satu caranya adalah ikut organisasi sejak dini. Bisa OSIS di lingkungan sekolah, atau Karang Taruna di lingkungan rumah. Dengan demikian, opini kita tidak akan mudah digiring oleh propaganda-propaganda yang dilakukan pemilik kepentingan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 18 Januari 2018, setelah minum STMJ bersama ayah dan adik</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://naturalnews.com/2017-03-28-millennial-morons-12-of-millennials-dont-know-how-to-change-a-light-bulb-25-cant-boil-an-egg-what-happened.html">https://naturalnews.com/2017-03-28-millennial-morons-12-of-millennials-dont-know-how-to-change-a-light-bulb-25-cant-boil-an-egg-what-happened.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/">Mempengaruhi Generasi Milenial</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/mempengaruhi-generasi-milenial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kaderisasi Beda Generasi</title>
		<link>https://whathefan.com/sajak/kaderisasi-beda-generasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sajak/kaderisasi-beda-generasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jan 2018 14:13:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[beda]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[jaman]]></category>
		<category><![CDATA[kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[now]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=154</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kaderisasi, terlebih lagi terhadap kids jaman now, bukan proses yang muda Kita harus telaten dalam memberi teladan Kita harus sabar dalam menjabarkan tanggungjawab Kita harus betah dengan bantahan mereka Karena beda generasi bukan berarti kita tidak bisa melangkah bersama Justru, perbedaan akan membuat kita memahami satu sama lain, dalam satu harmoni kekeluargaan &#160; Pare, 10 November [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/kaderisasi-beda-generasi/">Kaderisasi Beda Generasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kaderisasi, terlebih lagi terhadap <em>kids jaman now</em>, bukan proses yang muda</p>
<p>Kita harus telaten dalam memberi teladan</p>
<p>Kita harus sabar dalam menjabarkan tanggungjawab</p>
<p>Kita harus betah dengan bantahan mereka</p>
<p>Karena beda generasi bukan berarti kita tidak bisa melangkah bersama</p>
<p>Justru, perbedaan akan membuat kita memahami satu sama lain, dalam satu harmoni kekeluargaan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pare, 10 November 2017, setelah pusing membaca grup WA</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://unsplash.com/photos/mqpMdf1MeRE">https://unsplash.com/photos/mqpMdf1MeRE</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sajak/kaderisasi-beda-generasi/">Kaderisasi Beda Generasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sajak/kaderisasi-beda-generasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
