Mempengaruhi Generasi Milenial

Berawal dari sebuah diskusi mengenai propaganda negara adidaya yang gemar menggiring opini, kawan saya berpendapat bahwa generasi yang lahir setelah pergantian abad alias generasi milenial mudah untuk dipengaruhi. Sebagai contoh, jika sedang ada game yang sedang populer, maka generasi milenial akan beramai-ramai ikut bermain game tersebut.

Mungkin game tidak bisa dijadikan patokan karena mayoritas pemain game adalah laki-laki. Kita ambil contoh lain, musik misalnya. Anak-anak Karang Taruna di kampung saya rata-rata mendengarkan lagu yang sama di playlist mereka, lagu-lagu kekinian yang bergenre Electronic Dance Music (EDM). Hanya ada satu dua anak yang berani keluar jalur alias anti mainstream.

Lalu, memang kenapa kalau generasi milenial ikut apa yang sedang menjadi trend?

Logikanya begini, generasi ini menjadi mudah terpengaruh untuk mengikuti arus. Karena hanya mengikuti arus, mereka akan menjadi kurang kritis terhadap persoalan-persoalan yang ada. Jika tidak memiliki sifat kritis, maka mereka akan sangat mudah dipengaruhi, sehingga menggiring mereka untuk mempercayai suatu opini akan menjadi hal yang mudah.

Media apa yang paling berpotensi untuk menjadi penggiring opini ini? Jelas, segala bentuk hiburan mulai dari media sosial hingga film. Alasannya sederhana, karena manusia sekarang, tidak hanya generasi milenial, membutuhkan berbagai macam bentuk entertain untuk menghadapi penatnya hidup. Hanya saja, karena generasi milenial adalah generasi yang masih berada di usia yang masih rentan, mereka menjadi sasaran empuk propaganda.

Ambil saja contoh superhero-superhero Amerika. Mereka selalu digambarkan sebagai penyelamat dunia dari berbagai kejahatan yang dilakukan oleh musuh. Kenyataannya? Sudah berapa nyawa manusia tak berdosa yang direnggut oleh tentara-tentara Amerika di kawasan Timur Tengah. Sangat kontradiktif bukan?

Oleh karena itu, untuk menetralisir kondisi ini, sikap kritis harus ditanamkan sejak dini. Sikap kritis ini dibutuhkan untuk menyaring segala macam informasi yang hadir di hadapan kita. Salah satu caranya adalah ikut organisasi sejak dini. Bisa OSIS di lingkungan sekolah, atau Karang Taruna di lingkungan rumah. Dengan demikian, opini kita tidak akan mudah digiring oleh propaganda-propaganda yang dilakukan pemilik kepentingan.

 

Lawang, 18 Januari 2018, setelah minum STMJ bersama ayah dan adik

Sumber Foto: https://naturalnews.com/2017-03-28-millennial-morons-12-of-millennials-dont-know-how-to-change-a-light-bulb-25-cant-boil-an-egg-what-happened.html

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.