<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ideologi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/ideologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/ideologi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Aug 2021 11:30:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>ideologi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/ideologi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Andai Indonesia Liberal</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2018 06:27:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[liberal]]></category>
		<category><![CDATA[paham]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=950</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam. Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berkat diskusi lintas agama bersama seorang kawan yang beragama Katolik, penulis baru menyadari banyak hal tentang pernikahan. Pertama, tentang pernikahan beda agama, kedua tentang pernikahan sesama jenis. Keduanya sama-sama dilarang, sama seperti Islam.</p>
<p>Selama ini penulis menganggap bahwa kedua hal tersebut diperbolehkan oleh agama mayoritas di negara-negara yang melegalkan hal tersebut. Di sinilah penulis baru memahami bahwa apa yang membolehkan hal tersebut bukanlah agama, melainkan ideologi.</p>
<p>Pada tulisan <a href="http://whathefan.com/2018/02/28/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a>, penulis sudah menjabarkan definisi paham liberalisme. Secara singkat, penganut ideologi ini tidak ingin adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.</p>
<p>Apakah paham ini cocok di Indonesia? Jelas tidak sama sekali karena sila pertama kita berbunyi KETUHANAN YANG MAHA ESA. Selama kita berpegang teguh pada Pancasila, liberalisme tidak akan punya tempat di Indonesia.</p>
<p><strong>Sekarang mari kita berandai-andai jika Indonesia menjadi negara liberal, apa yang sekiranya akan terjadi?</strong></p>
<p>Mungkin para pembaca pernah melihat film <strong>3</strong> <strong>(Alif, Lam, Mim) </strong>yang sempat ditayangkan di bioskop. Pada film tersebut, diceritakan bahwa di masa depan terjadi revolusi yang mengakibatkan Pancasila direduksi menjadi Catursila dengan menghilangkan sila pertama.</p>
<p>Indonesia, pada film tersebut, menjadi negara liberal. Andai itu benar-benar terjadi, tanpa melihat film tersebut, mari kita urutkan hal-hal yang berpotensi terjadi.</p>
<p>Yang pertama, agama akan menjadi sesuatu yang ditakuti karena ia dianggap berpotensi mengekang kebebasan. Para penganutnya akan dicurigai sebagai orang-orang kolot yang menyukai terorisme. Mereka yang tak beragama merasa diri mereka yang paling benar karena tidak mau didikte oleh doktrin agama.</p>
<div id="attachment_951" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-951" class="size-full wp-image-951" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/07/alif-lam-mim_20161020_222741-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-951" class="wp-caption-text">Film 3 (http://style.tribunnews.com/2016/10/20/sinopsis-film-3-alif-lam-mim-sinema-yang-bakal-diputar-di-atlanta-asian-film-festival-2016)</p></div>
<p>Selanjutnya, pergaulan akan semakin bebas. Tidak ada lagi aturan yang membatasi mereka mau bergaul seperti apa. Mau punya anak di luar nikah pun bukan lagi menjadi hal yang memalukan. Mau nikah dengan sesama jenis hingga beda spesies pun dianggap hal yang lumrah.</p>
<p>Rasio bunuh diri akan meningkat karena masyarakatnya tidak mempunyai pegangan ketika dilanda depresi. Minuman keras sudah tidak mampu menghapus stres pada pikiran sehingga mereka memilih untuk menggantung lehernya.</p>
<p>Mana buktinya ketiga hal tersebut akan terjadi? Coba saja tengok negara-negara yang tidak menjadikan agama sebagai landasan bernegara, yang bangga karena bisa memberikan kebebasan yang sebebas-bebasnya kepada warga negaranya.</p>
<p>Beruntunglah para pendiri bangsa ini sepakat menyantumkan sila KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai dasar ideologi bernegara. Sudah sepatutnya setiap warga negara bertindak dan berperilaku sebagaimana yang telah diajarkan oleh agamanya masing-masing, tanpa terpengaruh ideologi-ideologi lain yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 4 Juli 2018, terinspirasi setelah berdiskusi masalah pernikahan dengan Angela</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea">https://www.economist.com/books-and-arts/2009/02/05/anatomy-of-an-idea</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/">Andai Indonesia Liberal</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/andai-indonesia-liberal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ironi Superhero Amerika</title>
		<link>https://whathefan.com/filmserial/ironi-superhero-amerika/</link>
					<comments>https://whathefan.com/filmserial/ironi-superhero-amerika/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 May 2018 15:35:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Film & Serial]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[as]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[Libya]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<category><![CDATA[William Blum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=673</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis bukan penggemar film, tetapi penulis menyukai cerita superhero alias pahlawan super, bahkan sebelum Marvel menjadi bintang seperti sekarang. Batman dan Spiderman menjadi favorit penulis, karena ketika penulis masih kecil belum ada Ironman maupun Captain America. Akan tetapi, terdapat dilema ketika penulis menyaksikan superhero tersebut di layar lebar. Superhero yang kerap kali (atau selalu?) berasal dari Amerika Serikat (AS) tersebut selalu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/ironi-superhero-amerika/">Ironi Superhero Amerika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis bukan penggemar film, tetapi penulis menyukai cerita <em>superhero</em> alias pahlawan super, bahkan sebelum <strong>Marvel</strong><em> </em>menjadi bintang seperti sekarang. Batman dan Spiderman menjadi favorit penulis, karena ketika penulis masih kecil belum ada Ironman maupun Captain America.</p>
<p>Akan tetapi, terdapat dilema ketika penulis menyaksikan <em>superhero </em>tersebut di layar lebar. <em>Superhero </em>yang kerap kali (atau selalu?) berasal dari Amerika Serikat (AS) tersebut selalu menyelamatkan orang lain, bahkan Bumi sekalipun. Pesan yang disampaikan selalu &#8220;kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan&#8221;.</p>
<p>Yang menimbulkan dilema, apakah di dunia nyata AS benar-benar menjadi pahlawan seperti tokoh rekaannya?</p>
<p>Memang, dan nampaknya akan selalu, AS menempatkan dirinya di media sebagai &#8220;pihak yang baik&#8221; melawan &#8220;pihak yang jahat&#8221;. Lengkapnya, &#8220;pihak yang jahat karena memiliki ideologi yang berbeda dengan kami, dan mengancam cengkeraman ideologi kami di dunia&#8221;.</p>
<p>Itu bukan pendapat saya, melainkan William Blum, penulis buku <em>Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan</em>. AS akan melakukan apa saja untuk mempertahankan hegemoninya di dunia.</p>
<p>Perang-perang atas nama kemanusiaan bisa dibilang omong kosong semata. Coba sebutkan, negara Timur Tengah mana yang hidup bahagia setelah AS menginvasi negara mereka dengan berbagai alasan.</p>
<p>Ambil contoh Libya, yang <em>katanya </em>AS menderita karena dipimpin diktaktor bernama Khadafi. Bagaimana kondisi Libya kini? Bisa <em>searching </em>di Google, namun secara singkat kondisi Libya sekarang &#8220;penak jaman e Khadafi toh&#8221;.</p>
<p>Seandainya saja AS benar-benar bisa menjadi pahlawan seperti <em>superhero</em> yang mereka ciptakan, betapa bahagainya dunia ini memiliki mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Mei 2018, terinspirasi setelah menonton film Avengers: Infinity Wars</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://www.sideshowtoy.com/collectibles/marvel-captain-america-sideshow-collectibles-3005241/">https://www.sideshowtoy.com/collectibles/marvel-captain-america-sideshow-collectibles-3005241/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/filmserial/ironi-superhero-amerika/">Ironi Superhero Amerika</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/filmserial/ironi-superhero-amerika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Batasan Kebebasan Berekspresi</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2018 13:56:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[batasan]]></category>
		<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[medsos]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=448</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia: &#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221; Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis awali tulisan ini dengan menuliskan makna liberalisme yang dikutip dari Wikipedia:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.&#8221;</em></p>
<p>Terlihat ideal bukan dijadikan sebagai ideologi? Masih dari sumber yang sama, lebih lanjut dikatakan bahwa secara umum, <em>liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu</em>.</p>
<p>Sebagai bangsa yang pernah mengalami pengekangan dalam menyampaikan pendapat, tentu kebebasan berpikir menjadi hal yang menarik. Namun, penulis tidak sepakat dengan kalimat selanjutnya:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Paham liberalisme <strong>menolak adanya pembatasan</strong>, khususnya dari <strong>pemerintah</strong> dan <strong>agama</strong>.&#8221;</em></p>
<p>Penulis bukannya ingin mengkritik paham liberal, karena memang bukan termasuk ranah yang dikuasai. Penulis hanya ingin menyampaikan opini terhadap bentuk kebebasan dalam berekspresi, terutama oleh kawula muda pada medsos.</p>
<p><strong>Peran Media Sosial untuk Berekspresi</strong></p>
<p>Semenjak menjadi rutinitas dalam kehidupan manusia, media sosial (medsos) berperan sebagai tempat mencurahkan perasaan penggunanya. Apa yang sedang dirasakan seringkali ditumpahkan di medsos, mungkin berharap ada yang merespon keresahan hatinya.</p>
<p>Apapun yang terjadi harus diketahui orang lain, meskipun penulis percaya masih ada pengguna yang tetap menjaga privasinya, tahu mana yang untuk konsumsi publik mana yang bukan.</p>
<p>Selain untuk hal tersebut, medsos juga seringkali digunakan untuk mengekspresikan diri, yang terkadang terlalu bebas. Belum lama rasanya ketika ada selebgram yang kontroversial karena mengumbar kehidupannya ke publik, disertai banyak adegan yang tak pantas dilihat oleh kalangan remaja.</p>
<p>Selebgram yang bermasalah ini, anehnya, justru menjadi idola. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya <em>follower</em> yang mengikutinya. Adegan ciuman dengan pacarnya dianggap sebagai <em>relantionship goal</em>. Belum lagi ketika ia membuat video klip lagu terbarunya di YouTube dengan mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan norma kita.</p>
<p>Penulis mengetahui salah satu mengapa alasan orang-orang seperti ini menjadi patron bagi banyak orang, yang penulis ketahui dari acaranya Deddy Corbuzier:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>Kakak hebat ya, berani berekspresi menjadi diri sendiri, enggak munafik.</em>&#8220;</p>
<p>Ini bahaya, sungguh sangat berbahaya.</p>
<p><strong>Topeng &#8220;Enggak Munafik&#8221;</strong></p>
<p>Berani menjadi diri sendiri itu baik, malah harus. Yang menjadi masalah adalah ketika kita berekspresi melampaui batas dan menganggapnya sebagai jati diri kita. Penulis yakin, kita sebagai bangsa timur, tidak memiliki kepribadian yang terkesan liar seperti itu.</p>
<p>Masalahnya, mereka yang menganut pemikiran ini sering kali menggunakan topeng &#8220;asal enggak munafik&#8221; untuk menutupi kekurangan mereka. Mereka merasa benar dengan melakukan hal-hal yang salah daripada harus berpura-pura menjadi orang baik.</p>
<p>Terkait hal ini, penulis ingin mengutip kata mutiara dari karakter favorit penulis di Harry Potter, Sirius Black:</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;<em>We&#8217;ve all got both light and dark inside us. What matter is the part we choose to act on.&#8221;</em></p>
<p>Jika diterjemahkan, kita semua memiliki sisi baik dan gelap dalam diri kita. Kitalah yang menentukan sisi mana yang kita pilih. Jadi, jika ada orang yang merasa segala bentuk ekspresi negatif adalah jati dirinya, kemungkinan mereka lebih memilih sisi gelap mereka.</p>
<p><strong>Memaknai Kebebasan</strong></p>
<p>Jika dikaitkan dengan paham liberal yang di paragraf awal, maka orang-orang yang kebablasan dalam berekspresi jelas terlihat tidak ingin diatur oleh siapapun, termasuk pemerintah dan agama. Mereka ingin kebebasan yang sebenar-benarnya tanpa batasan apapun.</p>
<p>Ini artinya, mereka ini belum dapat memaknai kebebasan itu sendiri.</p>
<p>Seandainya manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya, apa bedanya dengan binatang? Bahkan setidaknya hewan memiliki hukum rimba di mana yang kuat (terkadang ditambah yang tercerdik) yang menang.</p>
<p>Seandainya manusia tidak dibatasi oleh aturan, apa yang sekiranya akan terjadi? Kekacauan masal<em> </em>akan terjadi di mana-mana, tidak lagi dibutuhkan <em>agent of chaos </em>seperti Joker di film Batman.</p>
<p>Seandainya manusia tidak ingin diatur oleh norma sosial, apa akibatnya? Akibatnya manusia tidak akan lagi peduli dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur kita.</p>
<p>Kebebasan itu memang harus dibatasi, karena itu yang membuat kita menjadi manusia.</p>
<p><em>Jika terbatas, bukankah bukan kebebasan namanya?</em></p>
<p>Dalam bahasa penulis, lebih tepat disebut sebagai kebebasan yang bertanggungjawab. Kita berhak untuk memiliki kebebasan di banyak hal, mulai dari memilih kepercayaan, berpendapat, berkeluarga, termasuk berekspresi di medsos.</p>
<p>Akan tetapi, kita sebagai manusia juga harus memperhatikan koridor-koridor yang ada. Berekspresilah di medsos, selama tidak menabrak aturan dan norma yang ada di masyarakat kita. Pilahlah mana yang patut untuk dikonsumsi publik, mana yang harusnya menjadi rahasia pribadi.</p>
<p>Aturan dan batasan ada bukan untuk mengekang kebebasan, melainkan sebagai panduan untuk kebebasan itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Februari 2018, setelah makan bakso bakar.</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html">http://wallpaperswide.com/social_media-wallpapers.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/">Batasan Kebebasan Berekspresi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/batasan-kebebasan-berekspresi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
