<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kedaulatan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kedaulatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kedaulatan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2021 15:50:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kedaulatan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kedaulatan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yakin Kita Sudah Merdeka?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 15:45:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5225</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19. Bulan yang biasanya diisi oleh lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda. Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19.</p>



<p>Bulan yang biasanya diisi oleh <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan </a>harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda.</p>



<p>Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul satu pertanyaan di benak Penulis: <strong>yakin kita sudah merdeka?</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Definisi Kemerdekaan</h2>



<p>Di dalam <em>KBBI</em>, merdeka memiliki tiga arti, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri</li><li>tidak terkena atau lepas dari tuntutan</li><li>tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa</li></ol>



<p>Mari kita coba urai satu per satu, apakah kemerdekaan yang sudah kita rasakan sekarang benar-benar kemerdekaan yang sesungguhnya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Pertama</h3>



<p>Makna pertama, bebas dari penjajahan. Secara fisik, kita memang sudah tidak dijajah oleh Belanda atau Jepang. Kita memiliki kedaulatan dan diakui oleh negara lain.</p>



<p>Akan tetapi, apakah kita telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk lain? Penjajahan sumber daya, penjajahan budaya, penjajahan ideologi, rasa-rasanya masih terjadi hingga sekarang bahkan lebih berbahaya dan mengerikan.</p>



<p>Tidak percaya? Dulu, penjajahan wilayah terlihat bentuk fisiknya. Nah, penjajahan mode baru yang disebutkan di atas kan tidak kelihatan secara fisik. Karena tidak kelihatan, kita pun tidak merasa sedang dijajah oleh bangsa lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Kedua</h3>



<p>Makna kedua, lepas dari tuntutan. Makna yang satu ini memang lebih pas jika diidentikkan dengan pengadilan hukum. Apakah sebuah negara bisa dituntut oleh pihak lain? Bisa saja.</p>



<p>Meskipun sudah berdaulat, ada banyak negara lain yang memiliki kepentingan di negara kita. Efek sampingnya, akan muncul banyak tuntutan untuk kepentingannya sendiri.</p>



<p>Misal, menuntut kita untuk menandatangani kontrak tambang dengan dibayang-bayangi ancaman berskala global. Contoh lain, menuntut kita untuk menerima tenaga kerja asing dari negaranya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Ketiga</h3>



<p>Makna ketiga, tidak bergantung ke pihak tertentu. Rasanya kita semua telah menyadari bahwa negara kita masih begitu bergantung kepada negara lain hingga rasanya begitu mengkhawatirkan.</p>



<p>Tengok saja kepada banyaknya produk impor yang harus kita datangkan demi memenuhi kebutuhan. Sesuatu seperti produk pertanian yang bisa kita hasilkan sendiri pun harus meminta pasokan dari negara lain.</p>



<p>Jelas masih ada sektor-sektor lain yang menunjukkan kalau kita masih terlalu bergantung kepada pihak lain. Istilah <em>berdikari </em>seolah tinggal slogan semata tanpa bisa dieksekusi oleh kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Kita Sudah Merdeka?</h2>



<p>Jika mau melihat dari diri sendiri, sebenarnya kita memang bisa merasakan kemerdekaan. Penulis bisa sekolah dan bekerja tanpa harus takut akan ada bom yang jatuh dari langit. Penulis juga, syukurnya, tidak pernah merasa kelaparan hingga tidak bisa makan.</p>



<p>Hanya saja, kemerdekaan yang Penulis rasakan tersebut hanya dalam skala kecil. Jika melihat gambaran besarnya, ada banyak sisi yang menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka.</p>



<p>Saat para pahlawan kita meneriakkan kata merdeka, mereka ingin kita memiliki sebuah negara yang utuh dan berdaulat. Mereka ingin kita menjadi raja di tanahnya sendiri. Kenyataannya sekarang?</p>



<p>Sumber daya kita masih banyak yang dikuasai asing, ketergantungan terhadap produk impor, lilitan hutang ribuan triliun, menjadi beberapa contoh menakutkan yang membuat kita meragukan apakah kita sudah benar-benar merdeka.</p>



<p>Semoga saja di ulang tahun yang ke-76 ini, Indonesia mampu segera bangkit dan sembuh dari berbagai penyakitnya. Semoga bangsa Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan yang sejati, bukan kemerdekaan yang semu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 17 Agustus 2021, terinspirasi setelah <em>chatting </em>dengan salah satu teman</p>



<p>Foto: <a href="https://publicholidays.co.id/independence-day/">Public Holidays</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kecil Timor Leste</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2018 14:39:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Fretilin]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[Portugal]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Timur]]></category>
		<category><![CDATA[UDT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=619</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak literatur yang penulis baca tentang Timor Leste, sebuah negara yang lepas dari Indonesia pada tahun 1999. Sebut saja Petite Histoire Indonesia Jilid 1 tulisan wartawan senior Rosihan Anwar dan Menyibak Tabir Order Baru karya Jusuf Wanandi, salah satu pemrakarsa Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Penulis kurang mengetahui apakah dalam kurikulum sekolah sekarang diterangkan mengenai negara yang dulunya bernama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">Sejarah Kecil Timor Leste</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak literatur yang penulis baca tentang Timor Leste, sebuah negara yang lepas dari Indonesia pada tahun 1999. Sebut saja <em>Petite Histoire Indonesia Jilid 1 </em>tulisan wartawan senior Rosihan Anwar dan <em>Menyibak Tabir Order Baru </em>karya Jusuf Wanandi, salah satu pemrakarsa <em>Centre for Strategic and International Studies </em>(CSIS).</p>
<p>Penulis kurang mengetahui apakah dalam kurikulum sekolah sekarang diterangkan mengenai negara yang dulunya bernama Timor Timur tersebut. Yang jelas, penulis berharap dengan tulisan ini masayarakat, terutama generasi milenial, mengetahui sejarah kecil Timor Leste.</p>
<p><strong>Awal Bergabung</strong></p>
<p>Ketika pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949, Timor Leste belum bergabung dengan Indonesia. Alasannya, Timor Leste merupakan jajahan Portugal, bukan Belanda.</p>
<p>Pada 1975, terjadi  Revolusi Bunga di Portugal yang menyebabkan negara tersebut harus menguras kantong negara. Secara singkat, perekonomian Portugal jatuh dan situasi negara menjadi sangat kacau, sehingga tidak memiliki waktu, tenaga, dan dana untuk membiayai negara jajahannya, termasul Timor Leste. Dengan kata lain, ditelantarkan.</p>
<p>Situasi ini membuat rakyat Timor Leste terpecah menjadi tiga golongan:</p>
<ul>
<li>Golongan yang menghendaki kemerdekaan</li>
<li>Golongan yang ingin bergabung dengan Indonesia</li>
<li>Golongan yang tetap ingin di bawah Portugal</li>
</ul>
<p><div id="attachment_621" style="width: 1014px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-621" class="size-full wp-image-621" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975.jpg" alt="" width="1004" height="563" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975.jpg 1004w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975-768x431.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 1004px) 100vw, 1004px" /><p id="caption-attachment-621" class="wp-caption-text">Tentara Fretilin (https://timorlestemerdeka.files.wordpress.com/2010/01/tentara-fretilin-1975.jpg)</p></div></p>
<p>Pihak yang menginginkan kemerdekaan adalah <em>Fretilin (Frente Revolutinaria De Timor Leste Independente)</em>. Kelompok ini memproklamirkan kemerdekaan pada tahun yang sama dengan terjadinya revolusi di Portugal.</p>
<p>Sedangkan pihak yang menginginkan bergabung dengan Indonesia terdiri dari beberapa partai. Bahkan, <em>UDT (Uni Demokrasi Timor) </em>yang semula ingin bergabung dengan Portugal berubah haluan untuk bergabung dengan Indonesia.</p>
<p>Perbedaan ini membuat Indonesia harus turun tangan dengan menerjunkan tentara, dibantu oleh Amerika Serikat dan Australia. Campur tangan ini dilakukan karena adanya kekhawatiran masuknya komunisme ke Timor Leste.</p>
<p>Setelah melalui serangkaian perang saudara, pada akhirnya pada tanggal 7 Juni 1976 Timor Leste resmi menjadi provinsi ke 27 Republik Indonesia.</p>
<p><strong>Berpisah dengan Indonesia</strong></p>
<p>Timor Leste hanya bertahan sekitar 20 tahun bersama Indonesia. Pada tahun 1999, ketika presiden Habibie memutuskan untuk melakukan referendum, 78,3 % rakyat Timor Leste menginginkan kemerdekaan.</p>
<p>Banyak yang berpendapat lepasnya Timor Leste adalah kesalahan Habibie, sedangkan kubu lain mengatakan bahwa kekacauan di Timor Leste selama bergabung di Indonesia menyebabkan mereka ingin menjadi negara sendiri.</p>
<p><div id="attachment_622" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-622" class="size-full wp-image-622" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121.jpg" alt="" width="750" height="500" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-622" class="wp-caption-text">Presiden Habibie (https://nasional.kompas.com/read/2017/08/18/06240021/saat-kehilangan-ainun-bj-habibie-membenci-semua-dokter-)</p></div></p>
<p>Dari literatur yang penulis baca, banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Sebagai contoh, adanya kekerasan yang dilakukan oleh tentara Indonesia, pengusaan lahan kayu cendana yang hasilnya tidak untuk masyarakat Timor Leste, dan lain sebagainya.</p>
<p>Negara-negara yang dulunya mendukung bergabungnya Timor Leste berubah haluan mendukung kemerdekaan Timor Leste. Ada yang berpendapat, hal ini terjadi karena komunisme telah dikalahkan oleh Barat, sehingga Indonesia tidak lagi dibutuhkan.</p>
<p>Untuk pertama kalinya Indonesia kehilangan wilayahnya. Tentu kita berharap di masa depan tidak ada lagi provinsi yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugas kita adalah memastikan adanya pemerataan dari segala aspek, termasuk ekonomi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 April 2018, setelah memberikan uang kas Karang Taruna kepada anggota yang akan berjualan di CFD sebagai modal</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://smartraveller.gov.au/Countries/asia/south-east/Pages/timor_leste.aspx#">http://smartraveller.gov.au/Countries/asia/south-east/Pages/timor_leste.aspx#</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">Sejarah Kecil Timor Leste</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2018 15:29:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[obyektif]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[subyektif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=227</guid>

					<description><![CDATA[<p>Meskipun saya anak Informatika yang notabene dianggap apatis dengan perkembangan politik, saya tetap memperhatikan berbagai gejolak politik yang terjadi, terutama di Indonesia. Mungkin hal ini terjadi karena pengaruh dari orangtua saya yang sama-sama orang sosial politik (sospol). Apalagi, akhir-akhir ini peta perpolitikan di Indonesia sangat menarik untuk diamati dengan seksama. Salah satu aspek yang menarik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun saya anak Informatika yang notabene dianggap apatis dengan perkembangan politik, saya tetap memperhatikan berbagai gejolak politik yang terjadi, terutama di Indonesia. Mungkin hal ini terjadi karena pengaruh dari orangtua saya yang sama-sama orang sosial politik (sospol). Apalagi, akhir-akhir ini peta perpolitikan di Indonesia sangat menarik untuk diamati dengan seksama.</p>
<p>Salah satu aspek yang menarik perhatian saya adalah terkait dengan subyektivitas dalam berdemokrasi di Indonesia. Demokrasi secara umum dapat disepakati sebagai kedauatan yang berada di tangan rakyat. Artinya rakyat memiliki hak untuk menentukan hidupnya, termasuk dalam memilih pemimpin. Inilah yang terkadang oleh masyarakat masih dilihat secara subyektif, secara siapanya.</p>
<p>Media memiliki peran besar dalam menampilkan orang-orang yang memunculkan diri atau dimunculkan agar dikenal khalayak ramai. Sayangnya, semenjak beberapa tokoh di Indonesia menjadi <em>media darling, </em>tokoh-tokoh tersebut seolah-olah dianggap sebagai orang suci yang tidak mungkin melakukan kesalahan. Pendukung tokoh tersebut akan selalu membenarkan segala perbuatannya. Bisa dikatakan mereka menjadi fans fanatik tokoh tersebut.</p>
<p>Tentu para <em>media darling </em>ini bukan tidak memiliki <em>haters</em>. Kebalikan dari pendukung, para <em>haters </em>ini akan selalu menyalahkan segala tindak-tanduk tokoh tersebut. Hanya saja ada yang sama dari kedua kubu ini. Apabila pendapat salah satu dari kedua kubu tidak terbantahkan, mereka akan tutup mata tutup telinga, pura-pura tidak mengetahui fakta tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh, seorang pemimpin yang suka turun ke jalan untuk melihat kondisi rakyatnya akan dianggap sebagai tindakan yang heroik oleh pendukungnya. Yang tidak suka, akan beranggapan pemimpin tersebut hanya sekedar pencitraan belaka. Contoh lain, misal sang pemimpin berhasil membuktikan janji-janjinya ketika kampanye, rata-rata <em>haters </em>akan berdiam diri jika tidak menemukan celah untuk <em>nyinyir</em>.</p>
<p>Inilah akibat dari subyektivitas dalam berdemokrasi, akan lahir dua poros yang  selalu beradu argumen tanpa ujung, dan ini tidak sehat untuk kehidupan bernegara.</p>
<p>Idealnya, memilih pemimpin harus secara obyektif, bukan dari kacamata subyektif. Bukan siapa mereka, namun apa yang telah mereka lakukan. Pendukung tidak boleh tutup mata apabila terdapat kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat. Sebaliknya, oposisi pun harus memberi apresiasi apabila terdapat keputusan bijak yang diambil.</p>
<p>Itulah pentingnya memiliki sikap kritis. Kita sebagai pemegang kedaulatan tertinggi harus memiliki sikap tersebut guna mengontrol pemerintahan yang telah kita pilih melalui sistem demokrasi ini. Berusahalah untuk selalu berimbang dalam menyikapi segala gejolak politik yang terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 19 Januari 2018, setelah ujicoba SWI English Day pada SWI Mengajar</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://cesran.org/modernization-theory-and-third-wave-democracy-internal-and-external-impediments-to-democracy-and-development.html">http://cesran.org/modernization-theory-and-third-wave-democracy-internal-and-external-impediments-to-democracy-and-development.html</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/">Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/ketika-demokrasi-menjadi-subyektif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
