<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kemerdekaan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kemerdekaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kemerdekaan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:30:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kemerdekaan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kemerdekaan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yakin Kita Sudah Merdeka?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2021 15:45:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5225</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19. Bulan yang biasanya diisi oleh lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda. Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19.</p>



<p>Bulan yang biasanya diisi oleh <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan </a>harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda.</p>



<p>Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul satu pertanyaan di benak Penulis: <strong>yakin kita sudah merdeka?</strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Definisi Kemerdekaan</h2>



<p>Di dalam <em>KBBI</em>, merdeka memiliki tiga arti, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri</li><li>tidak terkena atau lepas dari tuntutan</li><li>tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa</li></ol>



<p>Mari kita coba urai satu per satu, apakah kemerdekaan yang sudah kita rasakan sekarang benar-benar kemerdekaan yang sesungguhnya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Pertama</h3>



<p>Makna pertama, bebas dari penjajahan. Secara fisik, kita memang sudah tidak dijajah oleh Belanda atau Jepang. Kita memiliki kedaulatan dan diakui oleh negara lain.</p>



<p>Akan tetapi, apakah kita telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk lain? Penjajahan sumber daya, penjajahan budaya, penjajahan ideologi, rasa-rasanya masih terjadi hingga sekarang bahkan lebih berbahaya dan mengerikan.</p>



<p>Tidak percaya? Dulu, penjajahan wilayah terlihat bentuk fisiknya. Nah, penjajahan mode baru yang disebutkan di atas kan tidak kelihatan secara fisik. Karena tidak kelihatan, kita pun tidak merasa sedang dijajah oleh bangsa lain.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Kedua</h3>



<p>Makna kedua, lepas dari tuntutan. Makna yang satu ini memang lebih pas jika diidentikkan dengan pengadilan hukum. Apakah sebuah negara bisa dituntut oleh pihak lain? Bisa saja.</p>



<p>Meskipun sudah berdaulat, ada banyak negara lain yang memiliki kepentingan di negara kita. Efek sampingnya, akan muncul banyak tuntutan untuk kepentingannya sendiri.</p>



<p>Misal, menuntut kita untuk menandatangani kontrak tambang dengan dibayang-bayangi ancaman berskala global. Contoh lain, menuntut kita untuk menerima tenaga kerja asing dari negaranya. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Makna Ketiga</h3>



<p>Makna ketiga, tidak bergantung ke pihak tertentu. Rasanya kita semua telah menyadari bahwa negara kita masih begitu bergantung kepada negara lain hingga rasanya begitu mengkhawatirkan.</p>



<p>Tengok saja kepada banyaknya produk impor yang harus kita datangkan demi memenuhi kebutuhan. Sesuatu seperti produk pertanian yang bisa kita hasilkan sendiri pun harus meminta pasokan dari negara lain.</p>



<p>Jelas masih ada sektor-sektor lain yang menunjukkan kalau kita masih terlalu bergantung kepada pihak lain. Istilah <em>berdikari </em>seolah tinggal slogan semata tanpa bisa dieksekusi oleh kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Kita Sudah Merdeka?</h2>



<p>Jika mau melihat dari diri sendiri, sebenarnya kita memang bisa merasakan kemerdekaan. Penulis bisa sekolah dan bekerja tanpa harus takut akan ada bom yang jatuh dari langit. Penulis juga, syukurnya, tidak pernah merasa kelaparan hingga tidak bisa makan.</p>



<p>Hanya saja, kemerdekaan yang Penulis rasakan tersebut hanya dalam skala kecil. Jika melihat gambaran besarnya, ada banyak sisi yang menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka.</p>



<p>Saat para pahlawan kita meneriakkan kata merdeka, mereka ingin kita memiliki sebuah negara yang utuh dan berdaulat. Mereka ingin kita menjadi raja di tanahnya sendiri. Kenyataannya sekarang?</p>



<p>Sumber daya kita masih banyak yang dikuasai asing, ketergantungan terhadap produk impor, lilitan hutang ribuan triliun, menjadi beberapa contoh menakutkan yang membuat kita meragukan apakah kita sudah benar-benar merdeka.</p>



<p>Semoga saja di ulang tahun yang ke-76 ini, Indonesia mampu segera bangkit dan sembuh dari berbagai penyakitnya. Semoga bangsa Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan yang sejati, bukan kemerdekaan yang semu.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 17 Agustus 2021, terinspirasi setelah <em>chatting </em>dengan salah satu teman</p>



<p>Foto: <a href="https://publicholidays.co.id/independence-day/">Public Holidays</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/">Yakin Kita Sudah Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/yakin-kita-sudah-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Merdeka?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-merdeka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Aug 2019 01:03:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2618</guid>

					<description><![CDATA[<p>Negara kita tercinta, Indonesia, baru saja merayakan hari jadinya yang ke-74 tahun. Demi merasakan euforianya, penulis memutuskan untuk pulang ke Malang dan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang telah disusun oleh Karang Taruna. Oleh karena itu, penulis merasa terdorong untuk merenungi tentang kemerdekaan itu sendiri. Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Lebih lanjut, untuk apa kita merdeka? Apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-merdeka/">Untuk Apa Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Negara kita tercinta, <strong>Indonesia</strong>, baru saja merayakan hari jadinya yang ke-74 tahun. Demi merasakan euforianya, penulis memutuskan untuk pulang ke Malang dan mengikuti berbagai <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian kegiatan yang telah disusun oleh Karang Taruna</a>.</p>
<p>Oleh karena itu, penulis merasa terdorong untuk merenungi tentang kemerdekaan itu sendiri. Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Lebih lanjut, untuk apa kita merdeka?</p>
<h3>Apa Kita Benar-Benar Sudah Merdeka?</h3>
<p><div id="attachment_2621" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2621" class="size-large wp-image-2621" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-1-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2621" class="wp-caption-text">Freeport (<a href="https://walhi.or.id/keperihatinan-kelompok-masyarakat-sipil-terhadap-konflik-pt-freeport-dan-pemerintah-indonesia/">Walhi</a>)</p></div></p>
<p>Mari kita urai pertanyaan yang pertama, apakah kita benar-benar sudah merdeka? Merdeka dari bentuk penjajahan fisik mungkin iya, tapi bagaimana dengan penjajahan bentuk baru?</p>
<p>Mungkin sudah tidak ada negara lain yang menempatkan pasukannya di tanah air kita, tapi bisa jadi mereka datang dalam bentuk lain seperti &#8220;investasi&#8221; yang hanya menguntungkan beberapa pihak, bukan seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p>Sudah banyak kita baca melalui berbagai media bahwa banyak sumber daya alam kita dikuasai oleh pihak asing. Katanya, karena kita belum mampu mengolahnya sendiri. Mungkin iya, waktu dulu ketika Indonesia baru merdeka. Sekarang?</p>
<p>Itu baru satu sektor yang memang ramai dibincangkan tapi kerap pula untuk dilupakan. Bagaimana dengan sektor lain yang jarang tereskpos oleh media? Penulis yakin ada banyak yang seperti ini.</p>
<p>Tidak hanya dijajah oleh bangsa lain, kita pun berpotensi untuk dijajah oleh negara kita sendiri ketika hak kita dirampas dan pemerintah tutup telinga dari jeritan-jeritan memohon keadilan.</p>
<p>Apakah memang kemerdekaan hanya milik segelintir rakyat Indonesia yang bebas ingin melakukan apa saja karena memiliki harta, <em>privilage</em>, dan kekuasaan?</p>
<p>Meskipun nyatanya masih banyak, penulis tidak ingin masyarakat Indonesia menjadi <em>jongos </em>di negaranya sendiri, walaupun penulis menyadari bahwa <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lemahnya-etos-kerja-pada-generasi-milenial/">etos kerja dan belajar yang kita miliki masih kalah</a> dari bangsa lain yang lebih maju.</p>
<h3>Untuk Apa Merdeka?</h3>
<p><div id="attachment_2619" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2619" class="size-large wp-image-2619" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/08/untuk-apa-merdeka-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2619" class="wp-caption-text">Pembacaan Proklamasi (<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Indonesia">Wikipedia</a>)</p></div></p>
<p>Beralih ke pertanyaan kedua, untuk apa kita merdeka? Untuk apa para pahlawan mengorbankan dirinya agar kemerdekaan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia?</p>
<p>Dari buku sejarah yang kita pelajari sejak SD, kemerdekaan direbut karena kita diperlakukan secara sewenang-wenang oleh penjajah, baik ketika Belanda, Jepang, maupun negara lain.</p>
<p>Intinya, kita menderita akibat perlakuan buruk dari para penjajah. Pertanyaannya, sudahkah kita bebas dari penderitaan tersebut? Sebagian sudah, sebagian belum. Yang jelas, hidup kita jauh lebih baik jika dibandingkan era penjajahan.</p>
<p>Hanya saja, untuk apa kita merdeka jika kita tidak bisa memberikan apapun ke negara? Untuk apa merdeka, jika kita hanya bisa menjadi beban negara tanpa bisa membuatnya bangga sekalipun?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita malah malas-malasan seolah tidak menghargai usaha para pahlawan? Untuk apa merdeka, jika kita meremehkan makna kemerdekaan itu sendiri dan menganggapnya hanya sebagai salah satu peristiwa di masa lalu?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita hanya bisa menyombongkan rasa nasionalisme tanpa ada bukti nyatanya? Untuk apa merdeka, jika kita merasa lebih pancasilais dibandingkan orang lain?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita justru menimbulkan perpecahan yang membuat kita berperang satu sama lain, terutama di media sosial? Untuk apa merdeka, jika kita memusuhi sesama bangsa sendiri?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita membiarkan bangsa lain mengambil sumber daya kita dengan bebas di kala masih banyak rakyat yang menderita? Untuk apa merdeka, jika kita menutup mata ketika melihat ketidakadilan tersebut?</p>
<p>Untuk apa kita merdeka, jika kita malah menjadi generasi yang menjunjung tinggi budaya lain dan menghina budaya sendiri? Untuk apa merdeka, jika kita menjadi <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/fenomena-bucin/"><em>bucin </em>kebudayaan bangsa lain</a> secara berlebihan?</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Penulis sendiri masih belum bisa menghargai makna kemerdekaan itu sendiri. Penulis masih terus belajar agar mampu menghayati kemerdekaan dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Hal tersebut memang tidak mudah untuk dilakukan, tapi bisa jika kita bersungguh-sungguh. Membaca banyak literatur sejarah bisa menjadi salah satu cara ampuh untuk meningkatkan rasa nasionalisme yang dimiliki.</p>
<p>Yang jelas, kemerdekaan telah diraih oleh para pahlawan demi kemakmuran rakyatnya. Peringatan kemerdekaan yang dirayakan secara meriah setiap tahun seharusnya bisa menjadi pengingat bahwa masih banyak elemen kemerdekaan yang belum kita dapatkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 20 Agustus 2019, terinspirasi setelah pulang ke Malang dan merayakan kemerdekaan bersama Karang Taruna</p>
<p>Foto: <a href="https://www.aida.or.id/2018/09/3051/jiwa-bangsa-merdeka">Aliansi Indonesia Damai (AID)</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-merdeka/">Untuk Apa Merdeka?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yang Harus Dipersiapkan Menjelang Agustusan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Jun 2019 15:13:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[17-an]]></category>
		<category><![CDATA[acara]]></category>
		<category><![CDATA[Agustusan]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2459</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bulan Agustus memang masih satu bulan setengah lagi. Akan tetapi, Karang Taruna di rumah penulis sudah memulai persiapan peringatan kemerdekaan Indonesia alias 17-an. Ini termasuk cepat, mengingat biasanya persiapan dimulai bulan Juli. Beberapa hari lalu, ketua Karang Taruna yang baru menghubungi penulis via WhatsApp. Ia meminta saran tentang apa saja yang perlu dibahas ketika rapat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan/">Yang Harus Dipersiapkan Menjelang Agustusan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Agustus memang masih satu bulan setengah lagi. Akan tetapi, Karang Taruna di rumah penulis sudah memulai persiapan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">peringatan kemerdekaan Indonesia</a> alias <strong>17-an</strong>. Ini termasuk cepat, mengingat biasanya persiapan dimulai bulan Juli.</p>
<p>Beberapa hari lalu, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">ketua Karang Taruna yang baru</a> menghubungi penulis via WhatsApp. Ia meminta saran tentang apa saja yang perlu dibahas ketika rapat nanti. Maka, penulis pun memberikan beberapa poin kunci yang dibutuhkan.</p>
<p>Ketika dipikir-pikir lagi, kenapa poin-poin tersebut tidak dituangkan dalam bentuk tulisan saja? Siapa tahu bisa menjadi inspirasi Karang Taruna lain.</p>
<h3>Kepanitiaan</h3>
<p>Hal pertama yang harus dilakukan adalah tentu saja adalah <strong>pembentukan kepanitiaan </strong>yang akan bertanggung jawab sepanjang rangkaian acara berlangsung.</p>
<p>Kepanitiaan dibentuk setelah ketua terpilih, yang cara pemilihannya bisa bermacam-macam seperti musyawarah, pemungutan suara, bahkan penunjukkan langsung dari ketua Karang Taruna.</p>
<p>Setelah ketua panitia terpilih, maka ia sudah berhak untuk menentukan divisi-divisi apa saja yang dibutuhkan dan siapa yang akan mengisi pos tersebut. Lantas, pembagian tugas pun sudah bisa dilakukan, baik pra acara, ketika acara, hingga pasca acara.</p>
<h3>Dana</h3>
<p>Kepanitiaan terbentuk, maka hal selanjutnya yang perlu dibahas adalah masalah pendanaan. Acara sebagus apapun kalau tidak ada dananya akan menjadi percuma.</p>
<p>Kalau di tempat penulis, dana diperoleh dari dua sumber, yakni <strong>iuran warga </strong>dan <strong>sumbangan warga</strong>. Panitia biasanya keliling ke warga yang mampu secara finansial untuk memberikan dana lebih karena mengandalkan iuran warga saja tidak cukup.</p>
<p>Di sini, kemampuan anggota akan diasah agar bisa bicara kepada masyarakat dan mempresentasikan rencana kegiatan mereka. Jika mampu tampil secara meyakinkan, bukan tidak mungkin jumlah dana sumbangan bisa berjumlah besar.</p>
<p>Tentu masih ada cara-cara lain seperti minta sponsor ke perusahaan tertentu. Akan tetapi, untuk acara setingkat RW nampaknya hal tersebut susah terealisasikan.</p>
<h3>Susuanan Acara</h3>
<p>Pada bagian inilah yang paling membutuhkan rapat: menentukan acara apa saja yang akan dilakukan. Pengalaman penulis selama bertahun-tahun menjadi panitia, setidaknya ada tiga acara utama yang biasanya ada dalam rangkaian acara Agustusan.</p>
<p><div id="attachment_2463" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2463" class="size-large wp-image-2463" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2463" class="wp-caption-text">Lomba Agustusan</p></div></p>
<p>Yang pertama adalah <strong>lomba-lomba</strong>. Kalau penulis, cenderung mencoba untuk memilih lomba-lomba yang <em>anti mainstream</em>. Penulis akan mencari referensi dari mana-mana, termasuk dari <em>reality show </em>asal Korea Selatan, <em>Runningman</em>.</p>
<p>Lomba dibagi ke dalam beberapa kaetogori seperti anak-anak, remaja, dan bapak-ibu. Waktu pelaksanaan lomba biasanya sore hari tiap akhir pekan dan dimulai pada awal Agustus.</p>
<p>Tentu persiapan yang dilakukan tidak sedikit, mulai dari membeli peralatan, mengumpulkan peserta, hingga mengawasi pelaksanaan lomba hingga ditemukan pemenang lombanya.</p>
<p><div id="attachment_2461" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2461" class="size-large wp-image-2461" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2461" class="wp-caption-text">Jalan Sehat</p></div></p>
<p>Setelah lomba, biasanya hari Minggu terakhir sebelum tanggal 17, ada kegiatan <strong>jalan sehat </strong>yang biasanya diiringi dengan <strong>pembagian <em>doorprize</em> </strong>dan <strong>bazaar</strong>.</p>
<p>Panitia harus membuat rute (yang biasanya tiap tahun ya itu-itu saja) jalan sehat, menyiapkan hadiah <em>doorprize</em>, dan menyiapkan stan untuk bazaar. Biasanya, lomba untuk bapak ibu juga dilaksanakan pada hari ini.</p>
<p><div id="attachment_2462" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2462" class="size-large wp-image-2462" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-3-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-3-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-3-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-3-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/06/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2462" class="wp-caption-text">Malam Tasyakuran</p></div></p>
<p>Rangkaian acara Agustusan ditutup dengan <strong>malam tasyakuran </strong>yang diadakan pada malam 16 Agustus. Inilah acara puncak di mana semua warga berkumpul untuk mengkhidmati makna kemerdekaan bersama-sama.</p>
<p>Secara garis besar, acara ini berisi pementasan yang dipersembahkan oleh remaja Karang Taruna, anak-anak, hingga bapak ibu yang kerap menyumbangkan suara emas mereka. Jangan lupa, pembagian hadiah juga dilakukan pada acara ini.</p>
<p>Panitia akan bekerja keras sebelum hari-H, mulai dari menyiapkan panggung, <em>sound system</em>, mengontak pengiring musik, hingga masalah konsumsi. Setiap tahun, tema yang diusung panitia biasanya berbeda-beda.</p>
<p>Dengan ditutupnya rangkaian acara pada malam tasyakuran ini, maka tersisa satu tugas terakhir untuk panitia.</p>
<h3>Laporan Pertanggungjawaban dan Pembubaran Panitia</h3>
<p>Setelah semua acara telah selesai dilaksanakan, panitia harus menyusun laporan pertanggungjawaban. Hal yang paling penting adalah <strong>laporan keuangan </strong>yang akan diedarkan ke warga satu per satu.</p>
<p>Sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras panitia, biasanya akan ada acara semacam pembubaran panitia. Seringnya, pergi ke pantai yang ada di Malang Selatan. Yang penting bukan destinasinya, melainkan kebersamaannya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika diingat-ingat ke belakang, penulis sudah aktif menjadi panitia Agustusan sejak SMA. Setelah itu, penulis sempat menjadi ketua panitia juga pada tahun 2014 dan menjadi penasihat pada tahun 2016.</p>
<p>Tahun 2017, penulis menjabat sebagai ketua Karang Taruna yang tugasnya mengawasi kinerja panitia dan tentu memberikan masukan-masukan.</p>
<p>Sejak tahun 2018 kemarin, penulis sudah tidak bisa berkonstribusi secara langsung karena harus merantau ke ibukota demi menempa diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kata lainnya, mencari uang.</p>
<p>Walaupun terpisah jarak ratusan kilometer, penulis tetap berusaha ikut serta dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki. Penulis berusaha menyalurkan semua yang bisa penulis lakukan dari jarak jauh. Seperti tulisan ini contohnya.</p>
<p>Penulis yakin, dengan atau tanpa kehadiran penulis di sana, rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun Republik Indonesia pada bulan Agustus nanti akan berlangsung dengan sukses dan meriah. <strong>MERDEKA!</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 16 Juni 2019, terinspirasi dari diskusi dengan ketua Karang Taruna yang baru</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/yang-harus-dipersiapkan-menjelang-agustusan/">Yang Harus Dipersiapkan Menjelang Agustusan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2018 09:56:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[jalan sehat]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[lomba]]></category>
		<category><![CDATA[malam tasyakuran]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1179</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gara-gara sibuk dengan berbagai tugas sebagai sukarelawan dalam hajatan Asian Games, tulisan ini harus mundur sampai hari ini, empat hari setelah hari kemerdekaan kita. Tak apalah, bukankah ada yang mengatakan terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali? Karang Taruna Sumber Wuni Indah (bernama Gen X SWI) yang pernah penulis pimpin terbentuk setelah adanya rangkaian kegiatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gara-gara sibuk dengan berbagai tugas sebagai sukarelawan dalam hajatan Asian Games, tulisan ini harus mundur sampai hari ini, empat hari setelah hari kemerdekaan kita. Tak apalah, bukankah ada yang mengatakan terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali?</p>
<p>Karang Taruna Sumber Wuni Indah (bernama Gen X SWI) yang pernah penulis pimpin terbentuk setelah adanya rangkaian kegiatan dalam memperingati kemerdekaan republik kita tercinta pada tahun 2016. Di tempat penulis, secara garis besar terdiri dari tiga bagian besar: Lomba, Jalan Sehat, Malam Tasyakuran.</p>
<p><strong>Lomba Anti Mainstream</strong></p>
<p>Penulis pernah menjadi ketua panitia pada tahun 2014, setelah bertahun-tahun vakum karena bersamaan dengan bulan puasa Ramadhan. Pada tahun tersebut, penulis mengusulkan ide untuk menggabungkan lomba-lomba tradisional menjadi satu perlombaan marathon, seperti makan kerupuk, memasukkan pensil ke dalam botol hingga balap karung.</p>
<p>Tidak berpartisipasi pada tahun 2015 karena sedang magang di Tangerang, penulis mengusulkan ide lomba pindah kelereng yang anti <em>mainstream </em>pada tahun 2016. Terinspirasi dari acara Runningman, peserta akan memilih angka secara acak peralatan yang akan digunakan untuk memindahkan kelereng.</p>
<p>Mulai dari sumpit sampai sendok sup, hampir semua jenis peralatan dapur kami gunakan. Lomba ini dipersulit dengan peserta yang harus berpasangan dan saling membelakangi sambil mengapit sebuah balon.</p>
<p><div id="attachment_1180" style="width: 778px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1180" class="size-large wp-image-1180" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-768x1024.jpg" alt="" width="768" height="1024" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-768x1024.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-225x300.jpg 225w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633-191x255.jpg 191w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG_1633.jpg 960w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><p id="caption-attachment-1180" class="wp-caption-text">Lomba Anti Mainstream</p></div></p>
<p>Di tahun berikutnya (2017), tidak terlalu banyak lomba yang anti <em>mainstream</em>. Mungkin hanya sandal <em>couple </em>(di mana peserta harus menemukan pasangan sandal) dan pindah pulau (di mana peserta yang terdiri dari tiga orang harus berpindah menggunakan potongan kardus) yang sedikit unik.</p>
<p>Pada tahun ini, penulis harus berada di Jakarta karena adanya tugas negara yang harus diselesaikan. Yang penulis dengar, ada lomba balap karung menggunakan helm yang terinspirasi dari Youtube.</p>
<p><strong>Jalan Sehat dan Bazaar</strong></p>
<p>Pertama kali diadakan pada tahun 2017, setelah bertahun-tahun tak pernah diadakan lagi karena berbagai alasan. Rutenya tidak terlalu jauh, mengingat banyak warga yang telah berusia sepuh.</p>
<p>Acara jalan sehat dilengkapi dengan bazaar dan pembagian <em>doorprize</em>. Tak lupa beberapa lomba untuk bapak dan ibu, yang tentunya tidak aneh-aneh.</p>
<p>Tahun ini, lagi-lagi dari yang penulis dengar, acara jalan sehat dan <em>bazaar</em> tetap berlangsung dan berjalan dengan lancar.</p>
<p><strong>Malam Tasyakuran</strong></p>
<p>Inilah puncak acara dari berbagai rangkaian kegiatan selama bulan Agustus. Para remaja selalu berusaha menyuguhkan sesuatu yang berbeda-beda, sesuai dengan tema yang diangkat.</p>
<p>Pada tahun 2014 ketika penulis menjadi ketua pelaksana, kami melakukan pembacaan puisi secara bergantian. Intinya, mengajak seluruh penonton untuk merefleksikan kemerdekaan.</p>
<p>Di tahun 2015, dari yang penulis dengar, remaja menampilkan semacam drama. Begitu pula pada tahun 2016, yang diketuai oleh Ekky, di mana para remaja tampil dengan adegan penjajahan tentara Jepang kepada bangsa Indonesia. Drama ini menggunakan rekaman anak teater SMP Negeri 1 Singosari.</p>
<p><div id="attachment_1181" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1181" class="size-large wp-image-1181" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/08/Penampilan-Drama.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1181" class="wp-caption-text">Penampilan Drama</p></div></p>
<p>Pada tahun 2017 ketika kepanitian dipimpin oleh Shanti, para remaja menampilkan drama anak-anak dan refleksi mengenai perbedaan generasi Indonesia melawan generasi kekinian. Inti dari penampilan remaja tersebut adalah mengajak para remaja untuk menjadi generasi yang mencintai budaya bangsa sendiri.</p>
<p>Tahun ini, ketika adik saya menjadi ketua panitia, drama yang ditampilkan adalah petualangan seorang kakak-adik yang menjelajah keliling Indonesia untuk mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Sayang, penulis tidak bisa menyaksikan penampilan tersebut.</p>
<p>Yang sama dari semua acara tersebut adalah ketika di akhir acara, warga secara bergantian dan bersama-sama bersenandung dengan riang gembira. Semua larut dalam kebahagiaan, sesuatu yang diharapkan oleh pendiri bangsa ini.</p>
<p><strong>Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</strong></p>
<p>Di sinilah pentingnya ikut Karang Taruna di lingkungan masing-masing. Kita bisa belajar untuk saling bahu-membahu dalam mempersiapkan acara, mulai dari yang paling remeh hingga yang membuat pusing kepala.</p>
<p>Kita hanya mempersiapkan acara, tidak perlu ikut serta berperang dan menumpahkan darah melawan penjajah. Kita hanya mengeluarkan peluh, tidak perlu mengorbankan nyawa.</p>
<p>Menyambut bulan kemerdekaan dengan suka cita, penulis yakini diharapkan oleh para pendiri bangsa ini. Mereka ingin masyarakat Indonesia merdeka dan bahagia dengan kemerdekaan tersebut.</p>
<p>Membuat peringatan dengan berbagai acara hanyalah satu tindakan kecil untuk menghargai jasa para pahlawan kita.</p>
<p>Karang Taruna, sebagai wadah berkumpulnya para remaja, penulis yakini sebagai tempat yang tepat untuk menghayati kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Grand Metropolitan Mal, Bekasi, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari pengalaman penulis mengadakan acara peringatan kemerdekaan setiap tahunnya.</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">Menghayati Kemerdekaan Melalui Karang Taruna</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Kecil Timor Leste</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2018 14:39:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Fretilin]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kedaulatan]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[Portugal]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Leste]]></category>
		<category><![CDATA[Timor Timur]]></category>
		<category><![CDATA[UDT]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=619</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak literatur yang penulis baca tentang Timor Leste, sebuah negara yang lepas dari Indonesia pada tahun 1999. Sebut saja Petite Histoire Indonesia Jilid 1 tulisan wartawan senior Rosihan Anwar dan Menyibak Tabir Order Baru karya Jusuf Wanandi, salah satu pemrakarsa Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Penulis kurang mengetahui apakah dalam kurikulum sekolah sekarang diterangkan mengenai negara yang dulunya bernama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">Sejarah Kecil Timor Leste</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak literatur yang penulis baca tentang Timor Leste, sebuah negara yang lepas dari Indonesia pada tahun 1999. Sebut saja <em>Petite Histoire Indonesia Jilid 1 </em>tulisan wartawan senior Rosihan Anwar dan <em>Menyibak Tabir Order Baru </em>karya Jusuf Wanandi, salah satu pemrakarsa <em>Centre for Strategic and International Studies </em>(CSIS).</p>
<p>Penulis kurang mengetahui apakah dalam kurikulum sekolah sekarang diterangkan mengenai negara yang dulunya bernama Timor Timur tersebut. Yang jelas, penulis berharap dengan tulisan ini masayarakat, terutama generasi milenial, mengetahui sejarah kecil Timor Leste.</p>
<p><strong>Awal Bergabung</strong></p>
<p>Ketika pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949, Timor Leste belum bergabung dengan Indonesia. Alasannya, Timor Leste merupakan jajahan Portugal, bukan Belanda.</p>
<p>Pada 1975, terjadi  Revolusi Bunga di Portugal yang menyebabkan negara tersebut harus menguras kantong negara. Secara singkat, perekonomian Portugal jatuh dan situasi negara menjadi sangat kacau, sehingga tidak memiliki waktu, tenaga, dan dana untuk membiayai negara jajahannya, termasul Timor Leste. Dengan kata lain, ditelantarkan.</p>
<p>Situasi ini membuat rakyat Timor Leste terpecah menjadi tiga golongan:</p>
<ul>
<li>Golongan yang menghendaki kemerdekaan</li>
<li>Golongan yang ingin bergabung dengan Indonesia</li>
<li>Golongan yang tetap ingin di bawah Portugal</li>
</ul>
<p><div id="attachment_621" style="width: 1014px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-621" class="size-full wp-image-621" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975.jpg" alt="" width="1004" height="563" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975.jpg 1004w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975-768x431.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/tentara-fretilin-1975-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 1004px) 100vw, 1004px" /><p id="caption-attachment-621" class="wp-caption-text">Tentara Fretilin (https://timorlestemerdeka.files.wordpress.com/2010/01/tentara-fretilin-1975.jpg)</p></div></p>
<p>Pihak yang menginginkan kemerdekaan adalah <em>Fretilin (Frente Revolutinaria De Timor Leste Independente)</em>. Kelompok ini memproklamirkan kemerdekaan pada tahun yang sama dengan terjadinya revolusi di Portugal.</p>
<p>Sedangkan pihak yang menginginkan bergabung dengan Indonesia terdiri dari beberapa partai. Bahkan, <em>UDT (Uni Demokrasi Timor) </em>yang semula ingin bergabung dengan Portugal berubah haluan untuk bergabung dengan Indonesia.</p>
<p>Perbedaan ini membuat Indonesia harus turun tangan dengan menerjunkan tentara, dibantu oleh Amerika Serikat dan Australia. Campur tangan ini dilakukan karena adanya kekhawatiran masuknya komunisme ke Timor Leste.</p>
<p>Setelah melalui serangkaian perang saudara, pada akhirnya pada tanggal 7 Juni 1976 Timor Leste resmi menjadi provinsi ke 27 Republik Indonesia.</p>
<p><strong>Berpisah dengan Indonesia</strong></p>
<p>Timor Leste hanya bertahan sekitar 20 tahun bersama Indonesia. Pada tahun 1999, ketika presiden Habibie memutuskan untuk melakukan referendum, 78,3 % rakyat Timor Leste menginginkan kemerdekaan.</p>
<p>Banyak yang berpendapat lepasnya Timor Leste adalah kesalahan Habibie, sedangkan kubu lain mengatakan bahwa kekacauan di Timor Leste selama bergabung di Indonesia menyebabkan mereka ingin menjadi negara sendiri.</p>
<p><div id="attachment_622" style="width: 760px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-622" class="size-full wp-image-622" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121.jpg" alt="" width="750" height="500" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121.jpg 750w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/26891906121-356x237.jpg 356w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><p id="caption-attachment-622" class="wp-caption-text">Presiden Habibie (https://nasional.kompas.com/read/2017/08/18/06240021/saat-kehilangan-ainun-bj-habibie-membenci-semua-dokter-)</p></div></p>
<p>Dari literatur yang penulis baca, banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Sebagai contoh, adanya kekerasan yang dilakukan oleh tentara Indonesia, pengusaan lahan kayu cendana yang hasilnya tidak untuk masyarakat Timor Leste, dan lain sebagainya.</p>
<p>Negara-negara yang dulunya mendukung bergabungnya Timor Leste berubah haluan mendukung kemerdekaan Timor Leste. Ada yang berpendapat, hal ini terjadi karena komunisme telah dikalahkan oleh Barat, sehingga Indonesia tidak lagi dibutuhkan.</p>
<p>Untuk pertama kalinya Indonesia kehilangan wilayahnya. Tentu kita berharap di masa depan tidak ada lagi provinsi yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugas kita adalah memastikan adanya pemerataan dari segala aspek, termasuk ekonomi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 8 April 2018, setelah memberikan uang kas Karang Taruna kepada anggota yang akan berjualan di CFD sebagai modal</p>
<p>Sumber Foto: <a href="http://smartraveller.gov.au/Countries/asia/south-east/Pages/timor_leste.aspx#">http://smartraveller.gov.au/Countries/asia/south-east/Pages/timor_leste.aspx#</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/">Sejarah Kecil Timor Leste</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-timor-leste/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
