<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kepercayaan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kepercayaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kepercayaan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 Dec 2018 15:30:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kepercayaan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kepercayaan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memaknai Keimanan</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2018 15:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[perintah]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1781</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, iman memiliki makna kepercayaan yang berkaitan dengan agama. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri. Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan: Iman berarti mempercayai dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam KBBI kita tercinta, <strong>iman </strong>memiliki makna <strong>kepercayaan yang berkaitan dengan agama</strong>. Penulis akan berusaha menjabarkannya melalui tulisan singkat ini, dengan harapan bisa bermanfaat bagi kita semua, terutama diri penulis sendiri.</p>
<p>Akhir-akhir ini, penulis sering berpikir tentang makna keimanan lebih dalam lagi. Menjelang tidur, penulis sering merenungkan hal ini hingga mencapai sebuah kesimpulan:</p>
<blockquote><p><strong>Iman berarti mempercayai dan meyakini tanpa tapi</strong></p></blockquote>
<p>Bagaimana maksudnya? Penulis akan memberikan contoh sesuai dengan kepercayaan yang penulis anut. Sebagai umat muslim, tentu pedoman hidup yang harus penulis pegang adalah Al Quran bukan?</p>
<p>Karena penulis meyakini Al Quran sebagai pedoman hidup, artinya penulis harus meyakini isinya tanpa meragukan isinya bukan? Apa yang berada di dalamnya bersifat mutlak dan tidak mungkin salah.</p>
<p>Jujur saja, penulis sempat berpikir beberapa ayat Al Quran sedikit membuat penulis merasa tidak nyaman. Contohnya adalah hukum menggauli budak. Penulis tentu merasa bahwa harusnya hal tersebut tidak diperbolehkan.</p>
<p>Akan tetapi, penulis menyadari bahwa pengetahuan penulis amat terbatas, sehingga tidak mungkin penulis menentang ayat suci Al Quran. Dengan pemahaman ini, penulis bisa menerima hal tersebut karena menganggap Tuhan pasti memiliki alasan di baliknya.</p>
<p>Yang banyak penulis lihat di lingkungan sekitar penulis, ada beberapa yang memilah-milah ayat mana yang dipatuhi mana yang bisa dikompromikan (mungkin penulis juga masuk di dalamnya).</p>
<p><strong>Tidak boleh memilih pemimpin kafir!</strong> Tapi kan dia orangnya baik dan tegas, daripada yang muslim tapi korupsi!</p>
<p><strong>Tidak boleh meminum bir!</strong> Tapi kan saya lagi di luar negeri, ini untuk menghormati tamu yang sudah menyuguhkan ke saya!</p>
<p><strong>Wanita sebaiknya di dalam rumah!</strong> Tapi kan sekarang sudah eranya kesederajatan antara wanita dan pria!</p>
<p><strong>Jangan lupa sedekah!</strong> Tapi kan kebutuhan rumah masih banyak!</p>
<p><strong>Jangan meninggalkan sholat!</strong> Tapi kan yang penting bisa menjadi manusia yang baik, sholat hanya ritual semata!</p>
<p>Inilah terkadang yang tidak disadari oleh kita sebagai manusia. Dengan mengeluarkan argumen untuk melawan perintah Al Quran, secara sadar maupun tidak sadar kita merasa lebih hebat dari Tuhan yang telah menciptakan semesta ini.</p>
<p><strong>Siapakah kita sehingga bisa menentang perintah Tuhan kita?</strong></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Penulis merasa berat untuk menuliskan tulisan ini, karena penulis akui masih banyak melalaikan perintah di dalam Al Quran dan melanggar apa yang dilarang. Akan tetapi, besar harapan penulis bisa menjadi hamba-Nya yang lebih baik setelah menulis tulisan semacam ini.</p>
<p>Penulis hanya ingin mengajak kepada pembaca sekalian, untuk bisa berusaha bersama-sama menjadi pribadi yang lebih baik, yang mengimani kepercayaannya tanpa menggunakan tapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 3 Desember 2018, terinspirasi dari perenungan yang panjang</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="http://aboutislam.net/reading-islam/finding-peace/remembering-allah/prayers-a-special-connection-with-god/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi9rbuF_YPfAhWGeisKHeVQCFcQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">AboutIslam.net</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/">Memaknai Keimanan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/memaknai-keimanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Tuhan Diciptakan?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2018 15:27:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[filosofis]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[kepercayaan]]></category>
		<category><![CDATA[penciptaan]]></category>
		<category><![CDATA[pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1215</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tenang, tulisan ini tidak mengandung unsur penistaan agama. Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan calon istri penulis salah satu anggota Karang Taruna bernama Ayu. Ia memang seringkali menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada penulis di usianya yang baru menginjak 14 tahun. Pertanyaan tersebut diutarakan pada tanggal 28 Juli 2018, bersambung ke pertanyaan berikutnya tentang bagaimana penciptaan alam semesta. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Bagaimana Tuhan Diciptakan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tenang, tulisan ini tidak mengandung unsur penistaan agama. Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan <del>calon istri penulis</del> salah satu anggota Karang Taruna bernama Ayu. Ia memang seringkali menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada penulis di usianya yang baru menginjak 14 tahun.</p>
<p>Pertanyaan tersebut diutarakan pada tanggal 28 Juli 2018, bersambung ke pertanyaan berikutnya tentang bagaimana penciptaan alam semesta. Penulis langsung berusaha mencari jawaban dari berbagai referensi, termasuk Youtube dan bertanya kepada teman yang kebetulan sedang berada di rumah untuk bermain game FIFA 18.</p>
<p>Jawabannya kurang lebih seperti ini: Akal kita tidak akan mampu untuk menemukan jawabannya, pengetahuannya di luar kemampuan manusia. Justru, ketidakmampuan kita memikirkan hal tersebut adalah salah satu bukti kebesaran Tuhan kepada manusia karena kita yang merupakan makhluk paling sempurna pun memiliki batas-batas yang tidak bisa dilampaui.</p>
<p>Selanjutnya, ia menanyakan bagaimana jika Tuhan ternyata lebih dari satu? Namun bukan penulis yang menjawab pertanyaan ini, melainkan Ayu sendiri yang menggunakan analogi bus yang tidak akan bisa dikendalikan jika supirnya ada dua atau lebih. Yang luar biasa, pemikiran tersebut sudah terbit di pikirannya sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.</p>
<p>Kembali ke pertanyaan utama, bagaimana Tuhan diciptakan. Orang yang hanya mengandalkan logika akan susah untuk mempercayai keberadaan Tuhan karena keterbatasan akal yang mereka miliki. Kita tidak bisa hanya mengandalkan logika untuk meyakini adanya Tuhan.</p>
<p>Kepercayaan terhadap adanya Tuhan harus dilandasi oleh iman. Iman terbentuk dari keyakinan akan agama yang dianutnya adalah benar tanpa ada usaha untuk menawar ayat. Tentu, butuh usaha keras agar dapat menerapkan apa yang diperintah kitab suci untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Karena pertanyaan-pertanyaan berat tersebut, penulis tidak berani meminjamkan novel filsafat <strong>Dunia Sophie </strong>kepada Ayu. Takutnya, ia belum cukup dewasa untuk menerima berbagai informasi yang tertuang pada buku legendaris tersebut.</p>
<p>Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan juga membantu penulis dalam merenungi banyak hal, termasuk keterbatasan dan ketidakmampuan kita memikirkan bagaimana Tuhan diciptakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 30 Agustus 2018, terinspirasi setelah pertanyaan filosofis dari Ayu</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/-4T9KZfc4tA?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Tim Marshall</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/people-alone?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Bagaimana Tuhan Diciptakan?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
