Bagaimana Tuhan Diciptakan?

Tenang, tulisan ini tidak mengandung unsur penistaan agama. Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan calon istri penulis salah satu anggota Karang Taruna bernama Ayu. Ia memang seringkali menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis kepada penulis di usianya yang baru menginjak 14 tahun.

Pertanyaan tersebut diutarakan pada tanggal 28 Juli 2018, bersambung ke pertanyaan berikutnya tentang bagaimana penciptaan alam semesta. Penulis langsung berusaha mencari jawaban dari berbagai referensi, termasuk Youtube dan bertanya kepada teman yang kebetulan sedang berada di rumah untuk bermain game FIFA 18.

Jawabannya kurang lebih seperti ini: Akal kita tidak akan mampu untuk menemukan jawabannya, pengetahuannya di luar kemampuan manusia. Justru, ketidakmampuan kita memikirkan hal tersebut adalah salah satu bukti kebesaran Tuhan kepada manusia karena kita yang merupakan makhluk paling sempurna pun memiliki batas-batas yang tidak bisa dilampaui.

Selanjutnya, ia menanyakan bagaimana jika Tuhan ternyata lebih dari satu? Namun bukan penulis yang menjawab pertanyaan ini, melainkan Ayu sendiri yang menggunakan analogi bus yang tidak akan bisa dikendalikan jika supirnya ada dua atau lebih. Yang luar biasa, pemikiran tersebut sudah terbit di pikirannya sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.

Kembali ke pertanyaan utama, bagaimana Tuhan diciptakan. Orang yang hanya mengandalkan logika akan susah untuk mempercayai keberadaan Tuhan karena keterbatasan akal yang mereka miliki. Kita tidak bisa hanya mengandalkan logika untuk meyakini adanya Tuhan.

Kepercayaan terhadap adanya Tuhan harus dilandasi oleh iman. Iman terbentuk dari keyakinan akan agama yang dianutnya adalah benar tanpa ada usaha untuk menawar ayat. Tentu, butuh usaha keras agar dapat menerapkan apa yang diperintah kitab suci untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pertanyaan-pertanyaan berat tersebut, penulis tidak berani meminjamkan novel filsafat Dunia Sophie kepada Ayu. Takutnya, ia belum cukup dewasa untuk menerima berbagai informasi yang tertuang pada buku legendaris tersebut.

Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan juga membantu penulis dalam merenungi banyak hal, termasuk keterbatasan dan ketidakmampuan kita memikirkan bagaimana Tuhan diciptakan.

 

 

Jelambar, 30 Agustus 2018, terinspirasi setelah pertanyaan filosofis dari Ayu

Photo by Tim Marshall on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.