<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kesalahan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kesalahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kesalahan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:30:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kesalahan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kesalahan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terbelenggu Rasa Bersalah</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Sep 2019 10:47:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[maaf]]></category>
		<category><![CDATA[menyesal]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2684</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe orang yang mudah khawatir bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana. Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi. Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230; Manusia adalah tempatnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis adalah tipe <a href="https://whathefan.com/karakter/berhenti-khawatir/">orang yang mudah khawatir</a> bahwa dirinya berbuat salah. Melihat respon orang yang sedikit berbeda dari biasanya saja sudah membuat pikiran lari ke mana-mana.</p>
<p>Akibatnya, penulis jadi mudah terbelenggu karena perasaan bersalah yang dimunculkan pada diri sendiri. Ujung-ujungnya, rasa bersalah tersebut bisa bermuara ke perasaan depresi.</p>
<h3>Ketika Penulis Berbuat Salah&#8230;</h3>
<p>Manusia adalah tempatnya salah, sehingga wajar jika manusia melakukan kesalahan. Walaupun penulis menyadari hal tersebut, kenyataannya tetap saja sering merutuki diri sendiri ketika melakukan kesalahan.</p>
<p>Contoh, ketika tanpa sengaja melukai perasaan orang lain dengan kata-kata yang menusuk. Yang akan penulis lakukan adalah terus menerus meminta maaf, kadang secara berlebihan, kepada yang bersangkutan.</p>
<p>Akibat berkali-kali meminta maaf, pada akhirnya orang yang bersangkutan pun akan menjadi jengkel ke kita. Perasaan marah yang sebelumnya tidak seberapa akhirnya jadi bertambah.</p>
<p>Tidak cukup hanya di situ. Meskipun sudah dimaafkan, penulis akan tetap terbebani karena merasa yang memberi maaf tidak sepenuhnya memberi maaf. Ada saja pikiran-pikiran tambahan yang datang dan menambah rasa bersalah.</p>
<p>Frustasi karena itu, penulis pun memaki diri sendiri karena sudah berbuat bodoh. Penulis melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mengubah keadaan, baik bagi penulis sendiri maupun orang yang telah disakiti.</p>
<p>Hal ini bisa terjadi karena munculnya perasaan menyesal yang begitu mendalam, penyesalan yang sebenarnya tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi.</p>
<h3>Yang Seharusnya Dilakukan</h3>
<p>Ketika kita sudah berbuat salah, tentu yang harus kita lakukan adalah meminta maaf. Perkara dimaafkan atau tidak, sebenarnya tidak perlu kita risaukan. Yang penting, kita sudah mengakui kesalahan dan berani meminta maaf.</p>
<p>Kita tidak perlu tersiksa karena perasaan bersalah tersebut. Lebih baik, kita melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk mengusir rasa bersalah tersebut.</p>
<p>Kalau memang hubungan kita dengan yang bersangkutan cukup dekat, mungkin kita bisa menjelaskan alasan mengapa kita sampai berbuat seperti itu.</p>
<p>Tak perlu merasa malu apabila kita harus mengucapkan kalimat seperti <em>maaf, aku seperti itu karena aku butuh kamu</em>. Asal tidak berlebihan, penulis rasa orang tersebut akan mau mendengarkan kita.</p>
<p>Selain itu, seharusnya penulis bisa menjadikan kesalahan tersebut sebagai momen untuk berubah menjadi lebih baik. Penulis juga akan mencari akar penyebabnya sehingga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.</p>
<p>Penulis selalu percaya, semua peristiwa pasti memiliki hikmahnya, termasuk ketika kita berbuat kesalahan. Jawabannya akan bisa kita temukan dengan melakukan perenungan atau <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">kontemplasi</a>.</p>
<h3>Memaafkan Diri Sendiri</h3>
<p>Terbelenggu oleh rasa bersalah yang dimiliki itu sangat tidak mengenakan. Kita seharusnya tidak perlu terlalu keras terhadap diri sendiri. Membuat kesalahan itu benar-benar hal yang wajar bagi manusia.</p>
<p>Salah satu hal yang membuat kita merasa berat ketika berbuat kesalahan kepada orang lain adalah karena kita susah untuk memaafkan diri sendiri. Entah mengapa, rasanya memaafkan orang lain jauh lebih mudah, setidaknya bagi penulis.</p>
<p>Padahal, dengan memaafkan diri sendiri, kita bisa lebih mudah melepaskan rasa bersalah yang sudah kita buat sendiri. Kita akan berdamai dengan diri kita sendiri tanpa perlu lagi merutuki kebodohan yang telah diperbuat.</p>
<p>Berlarut-larut dalam perasaan bersalah tidak akan memberikan dampak positif bagi siapapun. Maka dari itu, penulis berjanji kepada diri sendiri agar tidak mudah terbelenggu lagi oleh perasaan bersalah di masa depan. Semoga para pembaca pun seperti itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melawai, 15 September 2019, terinspirasi setelah melakukan kesalahan tolol yang sama berkali-kali</p>
<p>Foto: <a href="https://optimalpositivity.com/wp-content/uploads/2018/11/6-Behaviors-that-Push-People-Away-And-How-to-Reverse-Them-970x475.jpg">Optimal Positivity</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu Rasa Bersalah</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alasan dan Prioritas</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2018 08:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[tanggungjawab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1430</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agak berat sebenarnya membuat tulisan ini, penulis seperti mengakui dosa di masa lampau. Akan tetapi, untuk kebaikan kita semua, terlebih diri penulis sendiri, penulis harus menuliskannya agar tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang. Penulis dan Organisasi Penulis aktif di banyak organisasi sejak duduk di bangku SMP, mulai OSIS hingga pers kampus. Di semua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/">Alasan dan Prioritas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Agak berat sebenarnya membuat tulisan ini, penulis seperti mengakui dosa di masa lampau. Akan tetapi, untuk kebaikan kita semua, terlebih diri penulis sendiri, penulis harus menuliskannya agar tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.</p>
<p><strong>Penulis dan Organisasi</strong></p>
<p>Penulis aktif di banyak organisasi sejak duduk di bangku SMP, mulai OSIS hingga pers kampus. Di semua organisasi tersebut, penulis tidak bisa menonjol di semua organisasi yang penulis ikuti. Hanya menjadi anggota rata-rata yang ketidakhadirannya tidak terlalu berpengaruh. Pernah sih di organisasi kampus menjadi wakil ketua, namun karena ada masalah membuat penulis harus mundur dari organisasi tersebut.</p>
<p>Apa penyebabnya? Dulu, penulis sering menyalahkan faktor eksternal. Contohnya, merasa lingkungan organisasi yang kurang membuat nyaman dan terlalu memprioritaskan studi. Apalagi yang penulis salahkan? Merasa dirinya introvert sehingga susah untuk berbaur dengan lingkungan.</p>
<p>Namun setelah penulis renungi, sebenarnya hanya satu permasalahannya. Penulis kurang aktif dalam berorganisasi. Penulis tidak menempatkan tanggungjawab organisasi sebagai prioritas.</p>
<div id="attachment_1432" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1432" class="size-large wp-image-1432" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/maxresdefault-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-1432" class="wp-caption-text">Prioritas (fearlessmotivation.com)</p></div>
<blockquote><p>Ada istilah yang menyebutkan bahwa tidak ada yang namanya <strong>tidak sempat</strong>. Yang ada <strong>tidak diprioritaskan</strong>.</p></blockquote>
<p>Agar bisa menghindari tugas organisasi, munculah beribu alasan. Alasan  selalu mudah dicari, tidak perlu berbohong. Misal, ada kegiatan OSIS, kita berasalan bahwa kita tidak ingin ketinggalan pelajaran di kelas.</p>
<p>Paragraf ketiga merupakan contoh-contoh alasan lain yang kita kemukakan untuk mengelak dari tanggungjawab. Kita melakukan itu semua, salah satu dasarnya adalah tidak menempatkan apa yang seharusnya menjadi tanggungjawab pada daftar prioritas diri kita.</p>
<p><strong>Menebus Dosa Melalui Karang Taruna</strong></p>
<p>Setelah menyadari kesalahan tersebut, penulis berusaha menebus kesalahannya ketika menjabat sebagai ketua Karang Taruna. Penulis mencurahkan perhatian sepenuh hati dan berkomitmen mengembangkan organisasi ini.</p>
<p>Atau malah sebaliknya, gara-gara penulis menjabat sebagai ketua Karang Taruna, penulis menyadari betapa bernilainya sebuah komitmen. Sesuatu yang tidak penulis lihat karena dari dulu penulis hanya menjadi anggota dalam sebuah organisasi, tidak pernah menjadi pemimpin.</p>
<p>Namanya organisasi, apalagi diisi oleh remaja yang emosinya belum stabil, tentu sering terjadi kasus anggota tidak hadir tanpa alasan yang jelas. Atau yang lebih parah, tidak hadir dengan alasan yang dibuat-buat.</p>
<p>Ketika menghadapi hal tersebut, penulis merasa ditampar oleh masa lalu. Penulis disadarkan, bahwa inilah yang dirasakan oleh teman-teman organisasi ketika penulis berbuat hal yang sama. Betapa menyakitkan ketika orang-orang yang kita harapkan tidak bisa membantu karena kurangnya komitmen mereka.</p>
<div id="attachment_1433" style="width: 560px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1433" class="size-full wp-image-1433" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n.png" alt="" width="550" height="295" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n.png 550w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n-300x161.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/17352241_1734646530199022_6659031832524928109_n-356x191.png 356w" sizes="(max-width: 550px) 100vw, 550px" /><p id="caption-attachment-1433" class="wp-caption-text">Karma (https://www.facebook.com/karmacambodia/</p></div>
<p>Penulis percaya hukum karma, apa yang kita beri apa yang kita terima, apa yang kita tanam itu yang kita petik. Penulis merasa <em>dihukum</em> atas kesalahan-kesalahan masa lalu dengan terulangnya apa yang penulis lakukan dulu pada organisasi yang pernah penulis ikuti.</p>
<p>Jika ada teman-teman organisasi yang membaca tulisan ini, penulis minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang pernah penulis buat. Penulis telah menyadari kesalahannya, dan semoga tidak akan terjadi lagi di masa depan.</p>
<p>Dan untuk pembaca, semoga bisa memetik hikmah dari sepercik kisah penulis ini, terutama generasi-generasi yang lebih muda dari penulis. Jangan sampai kesalahan penulis terulang pada kalian.</p>
<p>Ketika kalian masuk ke dalam organisasi tanpa paksaan, itu menandakan kalian harus mengikat komitmen dengannya dan masukkan kepentingan organisasi pada daftar prioritas kalian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 4 Oktober 2018, terinspirasi setelah menerungi kesalahan di masa lalu</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/9VPtNW84vGI?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Patryk Sobczak</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/contemplation?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/">Alasan dan Prioritas</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/alasan-dan-prioritas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Kesalahan Saya Sebagai Pemimpin&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Aug 2018 14:58:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[beban]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan]]></category>
		<category><![CDATA[ketua]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1080</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis masih belajar agar dapat menjadi pemimpin yang baik, setidaknya bagi diri penulis sendiri. Dulu, ketika masih menjabat sebagai ketua Karang Taruna, terdapat satu kesalahan di antara kesalahan-kesalahan lainnya yang menurut penulis paling fatal, dan itu menjadi pembelajaran yang baik untuk penulis. Apa itu? Memikul beban sendirian. Karena sifat perfeksionis yang dimiliki, penulis seringkali merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/">Satu Kesalahan Saya Sebagai Pemimpin&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis masih belajar agar dapat menjadi pemimpin yang baik, setidaknya bagi diri penulis sendiri. Dulu, ketika masih menjabat sebagai ketua Karang Taruna, terdapat satu kesalahan di antara kesalahan-kesalahan lainnya yang menurut penulis paling fatal, dan itu menjadi pembelajaran yang baik untuk penulis. Apa itu?</p>
<p>Memikul beban sendirian.</p>
<p>Karena sifat perfeksionis yang dimiliki, penulis seringkali merasa tidak puas dengan kinerja anggota penulis. Selain itu, karena kurang telaten, penulis kerap mengerjakan tugas-tugas organisasi sendirian.</p>
<p>Jelas ini tidak sehat bagi organisasi. Oke, tugas organisasi memang selesai, tapi bagaimana dengan pengembangan anggota? Jika yang berpikir dan mengerjakan hanya ketua, lantas bagaimana anggotanya bisa belajar?</p>
<p>Ya, itu merupakan salah satu hal yang penulis sesali selama menjadi ketua Karang Taruna, dan penulis berusaha agar hal tersebut tidak terulang di kepengurusan selanjutnya. Caranya, ya mewanti-wanti agar jangan sampai ketua yang baru mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Akibat menanggung beban sendirian, penulis beberapa kali merasa kebingungan sendiri, merasa stres sendiri. Selain itu, teman-teman seangkatan penulis banyak yang sudah merintis karir di luar lingkungan, sehingga penulis merasa tidak ada tempat untuk melakukan <em>sharing</em>. Padahal, hal tersebut juga bisa dilakukan dengan angkatan yang lebih muda.</p>
<p>Memang, ada anggota yang pasif, ada yang aktif. Penulis rasa semua organisasi seperti itu. Yang seharusnya penulis lakukan adalah membagi apa yang penulis pikirkan tentang organisasi, terlepas apakah mereka memberikan respon atau tidak. Setidaknya, mereka akan memahami apa yang terjadi di organisasi.</p>
<p>Kesuksesan seorang pemimpin tidak hanya dilihat ketika mereka menjabat, tetapi apakah organisasi yang mereka pimpin bisa menjadi lebih baik ketika berganti kepemimpinan.</p>
<p>Semoga saja kesalahan yang penulis buat bisa diatasi oleh ketua yang baru. Tentu, dengan pendampingan dari penulis sendiri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang pernah dibuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 2 Agustus 2018, terinspirasi ketika melihat kepanitian 17an yang baru</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/">Satu Kesalahan Saya Sebagai Pemimpin&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
