Hikayat Kontemplasi

Baru kudengar istilah ini dari kawanku. Artinya, kurang lebih adalah perenungan terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini, mungkin sama seperti interopeksi, hanya saja lebih mendalam.
Aku termasuk orang yang sering menoleh ke belakang, melihat jejak yang telah kutapakkan ke tanah. Melihat baik buruknya -lebih banyak buruknya- apapun yang telah kulakukan di masa lalu. Banyak penyesalan ketika aku melakukannya, seperti kata Hatake Kakashi “jika melihat ke belakang, aku ingin memaki diriku yang bodoh”.
Begitu banyak kesalahan yang kulakukan, begitu banyak perasaan yang aku gores, begitu banyak yang tertusuk oleh ucapku, begitu banyak yang naik pitam karena ulahku. Kebodohan terbesarku adalah tidak menyadari semua itu, di kala semua sedang terjadi. Aku terlalu tinggi dalam menilai tinggiku sendiri, terlalu naif untuk mengecap diri sebagai pribadi yang baik.
Namun hikayat dari kontemplasi bukanlah untuk merutuk masa lalu. Ia hadir agar kita bisa belajar dari kesalahan, dan menjadi insan yang lebih hebat lagi di masa yang akan datang. Hikayat dari kontemplasi adalah bukan untuk mengurung diri dengan dikelilingi penyesalan, melainkan sebagai titik balik untuk melakukan aksi untuk memperbaiki diri. Hikayat dari kontemplasi bukan hanya sebagai ajang melamun di tengah sepi, melainkan koreksi diri agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya.
Lawang, 8 November 2017, ketika memutuskan untuk segera menuliskan apa yang telah ia beritahukan kepadaku kemarin

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.