Connect with us

Renungan

Hikayat Kontemplasi

Published

on

Baru kudengar istilah ini dari kawanku. Artinya, kurang lebih adalah perenungan terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini, mungkin sama seperti interopeksi, hanya saja lebih mendalam.
Aku termasuk orang yang sering menoleh ke belakang, melihat jejak yang telah kutapakkan ke tanah. Melihat baik buruknya -lebih banyak buruknya- apapun yang telah kulakukan di masa lalu. Banyak penyesalan ketika aku melakukannya, seperti kata Hatake Kakashi “jika melihat ke belakang, aku ingin memaki diriku yang bodoh”.
Begitu banyak kesalahan yang kulakukan, begitu banyak perasaan yang aku gores, begitu banyak yang tertusuk oleh ucapku, begitu banyak yang naik pitam karena ulahku. Kebodohan terbesarku adalah tidak menyadari semua itu, di kala semua sedang terjadi. Aku terlalu tinggi dalam menilai tinggiku sendiri, terlalu naif untuk mengecap diri sebagai pribadi yang baik.
Namun hikayat dari kontemplasi bukanlah untuk merutuk masa lalu. Ia hadir agar kita bisa belajar dari kesalahan, dan menjadi insan yang lebih hebat lagi di masa yang akan datang. Hikayat dari kontemplasi adalah bukan untuk mengurung diri dengan dikelilingi penyesalan, melainkan sebagai titik balik untuk melakukan aksi untuk memperbaiki diri. Hikayat dari kontemplasi bukan hanya sebagai ajang melamun di tengah sepi, melainkan koreksi diri agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya.
Lawang, 8 November 2017, ketika memutuskan untuk segera menuliskan apa yang telah ia beritahukan kepadaku kemarin
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Renungan

Yakin Kita Sudah Merdeka?

Published

on

By

Untuk kali kedua, kita harus melewati hari kemerdekaan Indonesia di tengah keprihatinan. Penyebabnya apalagi kalau bukan belum meredanya pandemi Covid-19.

Bulan yang biasanya diisi oleh lomba-lomba untuk menyemarakkan kemerdekaan harus ditiadakan. Acara malam tasyakuran untuk mengenang para pahlawan juga harus ditunda.

Walaupun begitu, bukan berarti kita tidak bisa menghayati makna kemerdekaan itu sendiri. Setidaknya, muncul satu pertanyaan di benak Penulis: yakin kita sudah merdeka?

Definisi Kemerdekaan

Di dalam KBBI, merdeka memiliki tiga arti, yakni:

  1. bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri
  2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan
  3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa

Mari kita coba urai satu per satu, apakah kemerdekaan yang sudah kita rasakan sekarang benar-benar kemerdekaan yang sesungguhnya.

Makna Pertama

Makna pertama, bebas dari penjajahan. Secara fisik, kita memang sudah tidak dijajah oleh Belanda atau Jepang. Kita memiliki kedaulatan dan diakui oleh negara lain.

Akan tetapi, apakah kita telah merdeka dari penjajahan dalam bentuk lain? Penjajahan sumber daya, penjajahan budaya, penjajahan ideologi, rasa-rasanya masih terjadi hingga sekarang bahkan lebih berbahaya dan mengerikan.

Tidak percaya? Dulu, penjajahan wilayah terlihat bentuk fisiknya. Nah, penjajahan mode baru yang disebutkan di atas kan tidak kelihatan secara fisik. Karena tidak kelihatan, kita pun tidak merasa sedang dijajah oleh bangsa lain.

Makna Kedua

Makna kedua, lepas dari tuntutan. Makna yang satu ini memang lebih pas jika diidentikkan dengan pengadilan hukum. Apakah sebuah negara bisa dituntut oleh pihak lain? Bisa saja.

Meskipun sudah berdaulat, ada banyak negara lain yang memiliki kepentingan di negara kita. Efek sampingnya, akan muncul banyak tuntutan untuk kepentingannya sendiri.

Misal, menuntut kita untuk menandatangani kontrak tambang dengan dibayang-bayangi ancaman berskala global. Contoh lain, menuntut kita untuk menerima tenaga kerja asing dari negaranya.

Makna Ketiga

Makna ketiga, tidak bergantung ke pihak tertentu. Rasanya kita semua telah menyadari bahwa negara kita masih begitu bergantung kepada negara lain hingga rasanya begitu mengkhawatirkan.

Tengok saja kepada banyaknya produk impor yang harus kita datangkan demi memenuhi kebutuhan. Sesuatu seperti produk pertanian yang bisa kita hasilkan sendiri pun harus meminta pasokan dari negara lain.

Jelas masih ada sektor-sektor lain yang menunjukkan kalau kita masih terlalu bergantung kepada pihak lain. Istilah berdikari seolah tinggal slogan semata tanpa bisa dieksekusi oleh kita.

Apakah Kita Sudah Merdeka?

Jika mau melihat dari diri sendiri, sebenarnya kita memang bisa merasakan kemerdekaan. Penulis bisa sekolah dan bekerja tanpa harus takut akan ada bom yang jatuh dari langit. Penulis juga, syukurnya, tidak pernah merasa kelaparan hingga tidak bisa makan.

Hanya saja, kemerdekaan yang Penulis rasakan tersebut hanya dalam skala kecil. Jika melihat gambaran besarnya, ada banyak sisi yang menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka.

Saat para pahlawan kita meneriakkan kata merdeka, mereka ingin kita memiliki sebuah negara yang utuh dan berdaulat. Mereka ingin kita menjadi raja di tanahnya sendiri. Kenyataannya sekarang?

Sumber daya kita masih banyak yang dikuasai asing, ketergantungan terhadap produk impor, lilitan hutang ribuan triliun, menjadi beberapa contoh menakutkan yang membuat kita meragukan apakah kita sudah benar-benar merdeka.

Semoga saja di ulang tahun yang ke-76 ini, Indonesia mampu segera bangkit dan sembuh dari berbagai penyakitnya. Semoga bangsa Indonesia bisa benar-benar merasakan kemerdekaan yang sejati, bukan kemerdekaan yang semu.


Lawang, 17 Agustus 2021, terinspirasi setelah chatting dengan salah satu teman

Foto: Public Holidays

Continue Reading

Renungan

Pernah Terpikir untuk Bunuh Diri?

Published

on

By

Dalam hidup, manusia akan selalu menjumpai yang namanya masalah. Kok manusia, kucing aja pun punya masalah seperti di mana mencari makan atau buang pup.

Masalah pun bermacam-macam. Ada yang ringan, ada yang berat. Ada yang karena pekerjaan, percintaan, hubungan sosial, global warming, konspirasi elit politik, dan lain sebagainya.

Terkadang, kita pernah tertimpa masalah hingga membuat kita goyah untuk bertahan hidup. Akhirnya, terbesit pikiran untuk mengakhirinya. Bunuh diri.

Berawal dari Chester

Chester Bennington (Global Radio)

Pertama kali Penulis memiliki concern terhadap isu bunuh diri adalah setelah kematian vokalis Linkin Park, Chester Bennington, yang memilih untuk menggantung dirinya.

Hingga kini, tidak bisa dipastikan apa yang menjadi penyebab Chester melakukan hal tersebut dan membuat para fansnya menangisi kematiannya.

Apalagi, banyak lagu yang ia nyanyikan mampu menyelamatkan banyak nyawa. Ketika membaca kolom komentar di YouTube, banyak yang mengaku mendapatkan semangat hidup dari lagu-lagu Linkin Park.

Penulis pun berpikir, apa masalah yang menimpanya hingga membuatnya berpikir kematian adalah satu-satunya jalan keluar? Apakah hidup sebegitu mengerikannya sehingga ia merasa putus asa?

Sebagai orang yang pemikir, Penulis pun merenungkan hal ini. Merenungkan mengapa ada manusia yang berpikir kematian lebih baik dari pada kehidupan.

Kenapa Terpikir untuk Bunuh Diri?

Depresi Memicu Bunuh Diri (christopher lemercier)

Yang namanya manusia, mungkin pernah berada di keadaan yang membuatnya terjepit sehingga merasa kematian setidaknya akan membuatnya lepas dari masalah. Ada beberapa alasan mengapa orang memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Di zaman sekarang, istilah insecure begitu populer. Dikit-dikit inscure, dikit-dikit insecure. Ada hal apapun yang lewat di linimasa media sosial bisa menimbulkan rasa insecure.

Perasaan insecure ini bisa mendorong kita untuk takut hidup. Kok, rasanya hidup ini enggak punya masa depan. Perasaan takut hidup ini bisa membuat kita merasa terjepit, sehingga mungkin merasa mati akan lebih baik.

Di kalangan remaja, biasanya mereka akan dengan mudah dimabuk asmara. Rasanya seolah cinta mati kepada pasangan dan seolah tidak bisa hidup tanpanya.

Ketika dilanda masalah, mereka menjadi begitu patah hati dan merasa tidak bisa hidup tanpanya. Tak jarang, ada yang menggunakan ancaman bunuh diri ketika sedang bertengkar, seolah nyawa adalah benda yang diobral.

Masalah ekonomi seperti dikejar hutang dan tidak tahu cara membayarnya juga bisa menjadi salah satu pemicu bunuh diri. Penulis ingat ada salah satu artis yang terbesit untuk bunuh diri karena tidak mampu membayar hutang dalam jumlah milyaran rupiah.

Perasaan depresi, tertekan oleh standar masyarakat, merasa jadi beban keluarga hingga merasa tidak pantas berada di dunia, tidak punya tujuan hidup, hingga kesepian menjadi beberapa alasan lainnya.

Ada banyak sekali alasan orang terpikir untuk bunuh diri. Intinya, mereka merasa tidak mampu untuk menghadapi ujian-ujian yang diberikan oleh Tuhan.

Ujian dari Tuhan

Yakin Kuat Menahan Panasnya Api Neraka? (icon0.com)

Sebagai orang yang percaya dengan agama, Penulis meyakini bahwa mengakhiri hidup sendiri adalah perbuatan dosa dan melawan takdir. Dalam keyakinan yang Penulis anut, orang yang bunuh diri akan berakhir di neraka dan kekal di sana.

Sepahit-pahitnya kenyataan hidup di dunia, Penulis meyakini bahwa api neraka akan jauh lebih menyiksa kita. Sakit yang kita rasakan di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan sakitnya di neraka.

Penulis juga meyakini bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya. Jika ada orang yang dihadapkan pada situasi sulit, artinya ia memiliki kemampuan untuk melewatinya.

Kalau kita merasa tidak mampu melewati sebuah ujian dari Tuhan, artinya kita meremehkan Tuhan. Kita mengganggap Tuhan melakukan kesalahan dengan memberikan ujian yang terlalu berat untuk dirinya.

Memang, manusia itu penuh keterbatasan. Ada banyak manusia yang benar-benar berada di situasi sulit yang mungkin bagi kebanyakan orang mustahil untuk dilalui.

Akan tetapi, kembali lagi ke keyakinan Penulis bahwa Tuhan tidak mungkin memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya. Dengan keyakinan seperti itu, Penulis bisa “ngerem” dirinya ketika berada di situasi sulit.

Apakah Saya Pernah Terbesit Pikiran untuk Bunuh Diri?

Jika ditanya seperti judul pada artikel ini, jawabannya adalah pernah. Namun, bukan karena ada masalah, melainkan karena penasaran siapa saja yang akan sedih dan menangisi kematian Penulis.

Penulis tidak tahu kenapa pernah berpikir seperti itu. Rasanya random saja, tiba-tiba terpikirkan tanpa direncanakan. Jika mulai berpikir yang buruk seperti itu, Penulis berusaha untuk istighfar.

Kadang, bayangan bunuh diri malah jadi ide untuk cerita cerpen atau novelnya. Seandainya ditemukan orang gantung diri begini, nanti reaksi orang-orang akan begitu. Dalam waktu dekat, Penulis akan membuat cerpen yang berasal dari imajinasi liarnya ini.

Untungnya, pikiran-pikiran tersebut tetap bertahan di pikiran saja. Kok gantung diri atau mengiris nadi, kepalanya kebentuk atau kelingking menabrak kaki meja saja sakitnya bukan main kok.

Untungnya, Penulis bukan tipe orang yang betah sakit. Kok self-harm, luka ditetesin Betadine saja perihnya tidak tahan. Kok menyakiti diri sendiri, mong pakai Insto saja susah untuk tetap melek.

Penutup

Bunuh diri tidak akan menjadi penyelesaian suatu masalah, sampai kapan pun. Mau sepahit apapun kenyataan hidup, kematian karena bunuh diri akan jauh lebih menyiksa untuk selamanya.

Jangan meremehkan diri sendiri. Kita semua pasti mampu melewati semua ujian yang diberikan oleh Tuhan. Pasti ada hikmah di balik masalah yang kita hadapi. Percayalah itu.

Jika Pembaca ada yang pernah terbesit pikiran untuk bunuh diri, silakan hubungi Penulis ataupun orang lain yang dipercaya bisa memberikan rasa nyaman.

Pembaca juga bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes di nomor 021-500-454 ataupun lembaga-lembaga lain yang dapat membantu mencegah kita untuk bunuh diri.


Lawang, 27 Juli 2021, terinspirasi dari mudahnya kita berpikir untuk bunuh diri ketika sedang tertimpa masalah

Foto: Eva Blue

Continue Reading

Renungan

Setelah Berpisah dengan Ramadhan

Published

on

By

Setelah satu bulan, akhirnya kita harus rela berpisah dengan bulan Ramadhan yang suci. Tidak hanya menahan lapar dan haus, kita juga diwajibkan untuk menahan segala bentuk hawa nafsu dan emosi.

Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri atau lebaran kerap dianggap sebagai hari kemenangan. Kita telah berhasil melewati bulan tersebut dengan baik dan menganggap setelah ini banyak hal akan dimulai lagi dari nol.

Hanya saja, bagi Penulis bentuk ujian yang sebenarnya justru setelah kita berpisah dengan bulan Ramadhan.

***

Bagi Penulis sendiri, bulan Ramadhan tahun ini terasa kurang maksimal. Meskipun puasa tahun ini bisa di rumah, dua minggu terakhir Penulis kerap diserang penyakit seperti asam lambung dan demam. Alhasil, bulan puasa tahun ini harus rela bolong dua hari.

Jumlah bolong ini adalah rekor seumur hidup Penulis. Tahun kemarin, Penulis sempat bolong satu kali karena sakit juga. Sebelumnya, seingat Penulis belum pernah bolong sama sekali. Kalau masalah menahan lapar dan haus, Penulis termasuk jago.

Hanya saja, Penulis juga jadi merenung. Apakah ujian yang sebenarnya justru setelah bulan Ramadhan?

***

Selama bulan puasa, kita berusaha menahan diri dari berbagai godaan. Terlepas dari masalah perut, sebenarnya ada banyak hal yang harus kita jaga selama berpuasa.

Kita berusaha untuk menahan marah, tidak membicarakan orang, meningkatkan ibadah kita, pergi ke masjid untuk sholat berjamaah, tadarusan, tidak berbuat hal buruk, dan lain sebagainya. Semenjak Shubuh hingga Maghrib, kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Pertanyaannya, dapatkah kita menjadi seperti itu di luar waktu puasa? Bisakah kita mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk seperti ketika puasa?

Penulis merasa bahwa inilah ujian kita yang sebenarnya: Apakah kita bisa menjadi manusia yang lebih baik di 11 bulan lainnya setelah berpuasa selama satu bulan?

***

Menahan diri ketika berpuasa bisa dibilang cukup mudah. Ketika hendak melakukan hal yang buruk, kita akan teringat, “Oh iya, lagi puasa, enggak boleh begitu.”

Tapi kalau sedang di luar puasa, apa yang akan menjadi pengingat kita? Di sana lah letak kesulitan untuk mempertahankan kebiasaan baik di luar bulan puasa. Tidak ada yang bisa menjadi pengingat secara langsung.

Ketika Penulis berusaha menghayati bulan puasa yang telah dilewati, Penulis menyadari bahwa ini menjadi salah satu alasan kenapa kita harus berpuasa selama satu bulan: Agar kita sadar untuk bisa bersikap seperti ketika sedang puasa walaupun tidak sedang puasa.

***

Setelah berpisah dengan bulan Ramadhan, Penulis menjadi tergerak hatinya untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tidak hanya dari rutinitas harian, tapi juga meningkatkan kualitas ibadahnya.

Yang namanya manusia, pasti semangatnya akan mengalami naik turun. Penulis sudah sering mengalaminya dalam hidup.

Penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk, setidaknya sampai bertemu dengan bulan Ramadhan tahun depan jika diizinkan oleh Tuhan. Aamiin.


Lawang, 15 Mei 2021, terinspirasi setelah merenungi makna bulan Ramadhan yang telah dijalani

Foto: Sangga Rima Roman Selia

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan