<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>komentar Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/komentar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/komentar/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Jul 2019 16:39:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>komentar Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/komentar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Polemik Menyebar Screenshot PUBG</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2019 13:55:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[chicken dinner]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[menang]]></category>
		<category><![CDATA[pamer]]></category>
		<category><![CDATA[PUBG]]></category>
		<category><![CDATA[screenshot]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2145</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan menggunaan kata polemik sebagai judul. Akan tetapi, karena itu yang pertama kali melintas di dalam pikiran, penulis memutuskan untuk tetap menggunakannya. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah tweet seorang netizen yang sedang curhat tentang maraknya para pemain game Player&#8217;s Unknown Battle Ground (PUBG) membuat status tentang kemenangan alias chicken dinner yang mereka peroleh. Wawancara Pemain PUBG Terkait Polemik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/">Polemik Menyebar Screenshot PUBG</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya memang agak berlebihan menggunaan kata polemik sebagai judul. Akan tetapi, karena itu yang pertama kali melintas di dalam pikiran, penulis memutuskan untuk tetap menggunakannya.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dari sebuah <em>tweet </em>seorang <em>netizen</em> yang sedang curhat tentang maraknya para pemain game <strong>Player&#8217;s Unknown Battle Ground</strong> <strong>(PUBG) </strong>membuat status tentang kemenangan alias <em>chicken dinner </em>yang mereka peroleh.</p>
<h3>Wawancara Pemain PUBG Terkait Polemik Ini</h3>
<p>Rasa penasaran penulis muncul seketika, dan memutuskan untuk mengirim <em>tweet </em>tersebut ke grup Karang Taruna karena banyak di antara mereka yang berbuat demikian. Penulis ingin tahu, apa motif mereka mengirim <em>screenshot </em>dari kemenangan yang mereka peroleh.</p>
<div id="attachment_2147" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2147" class="size-large wp-image-2147" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-1024x768.jpg" alt="" width="800" height="600" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/02/xbox-pubg-mobile-01.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2147" class="wp-caption-text">Bermain PUBG (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.imore.com/how-pubg-different-mobile-vs-console" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwi-3Kec36TgAhVLsI8KHV6gAI4QjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">iMore</span></a>)</p></div>
<p>Di luar dugaan, jawaban yang muncul cukup bervariasi. Ada yang secara jujur berkata bahwa tujuannya adalah pamer kemenangan yang katanya susah diperoleh apabila pangkat PUBG kita sudah di atas <em>Gold I, </em>ada pula yang sekadar ikut-ikutan temannya.</p>
<p>Perjuangan tersebut ingin mereka dokumentasikan menjadi sebuah status. Istilah lainnya, penghargaan untuk diri sendiri yang sudah bersusah payah mengeluarkan kemampuan terbaiknya demi meraih kemenangan.</p>
<p>Penulis memahami betul hal ini karena pernah melakukan hal yang sama. Ketika berhasil menang sewaktu masih bermain <em>Rules of Survival </em>yang susahnya minta ampun, penulis berbuat hal yang sama, memamerkan kemenangan di <a href="http://whathefan.com/karakter/media-sosial-sebagai-tempat-pelampiasan-emosi/">media sosial</a>.</p>
<p>Yang lain mengemukakan bahwa mereka ingin memberi semacam kode kepada teman-teman mereka untuk ikut bermain bersama. S<em>creenshot </em>tersebut juga diharapkan bisa dilihat oleh orang lain hingga diajak untuk bergabung ke klan ataupun sekadar ikut lomba.</p>
<p>Berdasarkan pengakuan mereka, hingga saat ini mereka belum pernah menemukan orang yang menyatakan keberatan. Yang ada, teman-teman mereka justru penasaran dan ikut mencoba bermain PUBG.</p>
<p>Ada juga komentar bernada sarkas. Katanya, orang yang membuat <em>tweet </em>tersebut mungkin tidak pernah berhasil menang, sehingga ia kesal melihat orang lain <em>chicken dinner</em>. Tentu saja teori ini belum tentu benar.</p>
<p>Toh, jika memang seandainya ada yang terganggu, mereka bisa mengaktifkan fitur <em>hide </em>yang tersedia di berbagai media sosial.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Apapun alasannya, tidak ada salahnya menyebar <em>screenchot </em>kemenangan kita di game PUBG. Sama halnya dengan <a href="http://whathefan.com/karakter/fenomena-bucin/">penggemar Korea</a> yang membuat <em>story </em>foto biasnya secara masif. Jika hanya sesekali dilakukan, hal tersebut sama sekali tidak masalah.</p>
<p>Mungkin benar apa yang dikatakan oleh netizen <em>Twitter </em>tersebut, tidak ada orang yang peduli dengan kemenangan kita. Akan tetapi, kita membuat <em>story </em>tersebut memang <strong>bukan agar dipedulikan oleh orang lain</strong> bukan? Kalau dipedulikan oleh sesama <em>gamer, </em>masih mungkin.</p>
<p>Bukankah para pengembang media sosial membuat fitur <em>story </em>maupun <em>feed </em>memang untuk <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">mengekspresikan diri</a>? Jadi, tidak ada salahnya melakukan hal tersebut selama tidak berlebihan yang membuat orang jengkel dan akhirnya memutuskan untuk memblok akun kita.</p>
<p>Akan tetapi, penulis juga perlu mengingatkan kepada kita semua, jangan diniatkan untuk sombong, karena bagaimanapun <a href="http://whathefan.com/karakter/empat-jenis-kesombongan/">kesombongan</a> adalah sesuatu yang buruk. Ya, penulis tahu sih betapa susahnya hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi dari sebuah <em>tweet </em>yang menceritakan kekesalannya melihat banyaknya orang yang pamer kemenangan mereka di PUBG</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=images&amp;cd=&amp;ved=2ahUKEwil8POa3qTgAhUBOo8KHcz5DfEQjB16BAgBEAQ&amp;url=https%3A%2F%2Fmetaco.gg%2Fpubg%2Fpanduan-dasar-pubg-mengenal-weapon-dan-jenisnya%2F&amp;psig=AOvVaw3vKfs0KgH1mtbqgBHmQ8lT&amp;ust=1549461007622444" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwil8POa3qTgAhUBOo8KHcz5DfEQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Metaco.gg</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/">Polemik Menyebar Screenshot PUBG</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-menyebar-screenshot-pubg/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Komentar Warga Negara Berkembang</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2019 12:29:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bersih-bersih]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[menolong]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[tolong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2094</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar netizen kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita. Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, lini masa Twitter penulis penuh dengan postingan mengenai komentar <em>netizen</em> kita, yang sering dianggap sebagai masyarakat negara berkembang, terhadap ajakan salah satu restoran cepat saji untuk membuang sisa makanan kita.</p>
<p>Kebiasaan seperti itu sebenarnya lumrah di negara lain, terutama yang sudah maju. Hanya saja, di negara kita tercinta ini, hal seperti itu bisa memicu pro kontra di kalangan <em>netizen</em> dan <a href="http://whathefan.com/karakter/untuk-apa-viral/">menjadi viral</a>.</p>
<h3>Kan Sudah Bayar!</h3>
<p>Tentu yang menarik adalah dari sisi kontranya. Penulis sudah membaca beberapa komentar tersebut, dan cukup membuat penulis tersenyum kecil dengan pola pikir mereka.</p>
<div id="attachment_2095" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2095" class="size-large wp-image-2095" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg" alt="" width="800" height="441" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-1024x564.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-300x165.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5-768x423.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1529022805552-1c88a713c1c5.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2095" class="wp-caption-text">Makan di Restoran (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@wadeaustinellis">Wade Austin Ellis</a>)</p></div>
<p>Secara garis besar, mereka menolak kampanye tersebut karena merasa dirinya sudah bayar mahal-mahal. Untuk apa mereka mengeluarkan uang jika mereka juga harus membereskan sisa makanan mereka sendiri?</p>
<p>Selain itu, ada juga berasumsi apabila seandainya mereka melakukan apa yang diminta, lantas apa kerja para pelayan? Jadi <em>gabut </em>dong? Ada pula yang langsung menuduh restoran tersebut hanya ingin mengeruk keuntungan lebih besar lagi alias meningkatkan omset.</p>
<p>Terlepas dari berbagai prasangka yang dilontarkan oleh <em>netizen </em>dan tujuan kampanye dari restoran tersebut, hal ini patut menjadi renungan kita bersama.</p>
<blockquote><p><em>Apakah karena sudah membayar, kita tidak boleh membantu orang lain dengan melakukan hal-hal kecil yang tidak membutuhkan waktu lama?</em></p></blockquote>
<h3>Membantu Orang Lain</h3>
<p>Bukannya ingin menyombongkan diri, tapi penulis berusaha membiasakan diri untuk membersihkan meja makan setelah makan. Di mana pun, mau di restoran ataupun warteg. Ayah penulis yang mengajarkan dan mencontohkan hal ini.</p>
<div id="attachment_2096" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2096" class="size-large wp-image-2096" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg" alt="" width="800" height="450" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/photo-1511421616335-5a9846f1afcb.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2096" class="wp-caption-text">Membantu Orang Lain (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@bimoluki02">Bimo Luki</a>)</p></div>
<p>Menumpuk piring dan gelas yang kosong, mengelap meja dengan tisu, hingga mengembalikan posisi kursi ke tempat semula. Meskipun tidak seberapa, penulis yakin hal tersebut sudah membantu pelayan tempat makan yang penulis singgahi.</p>
<p><em>Tapi kan kita udah bayar mahal-mahal!</em></p>
<p>Kalau pola pikiran kita terlalu duniawi dan berpusat pada uang, pemikiran seperti itu pasti muncul. Mungkin kita lupa ada yang namanya <strong>Pahala </strong>sebagai modal kita hidup di akhirat kelak. Bukankah telah tertulis bahwa setiap perbuatan baik akan diganjar oleh pahala?</p>
<p>Menolong orang lain adalah perbuatan baik bukan? Lagipula, hal tersebut bukanlah hal yang berat untuk dilakukan, lantas mengapa harus didebat? Jika tetap <em>kekeuh</em>, ya minimal enggak perlu <em>nyinyir </em>di media sosial.</p>
<p><em>Ini kan cuma akal-akalan restoran kapitalis buat menarik keuntungan lebih besar! Mereka mau PHK karyawannya besar-besaran!</em></p>
<p>Penulis akan bertanya balik. Keuntungan apa yang akan didapat oleh mereka? Memangnya pelayan restoran tersebut enggak punya <em>jobdesk </em>bersih-bersih yang lain? Ada bukti mereka akan melakukan PHK ke karyawannya?</p>
<p>Terkadang kita sering terjebak dengan <a href="http://whathefan.com/renungan/bumi-itu-datar/">teori konspirasi</a> yang belum tentu benar. Daripada terus menerus berprasangka buruk, lebih baik kita niatkan saja tindakan bersih-bersih tersebut untuk membantu orang lain, minimal meringankan kerja para pelayan restoran.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Jika tetap tidak ingin melaksanakan kampanye tersebut, ya udah, enggak perlu makan di restoran tersebut. Banyak kok restoran mewah yang tidak akan membiarkan pelanggannya membersihkan mejanya sendiri.</p>
<p>Bagi yang ingin melaksanakan budaya bersih-bersih ini, bagus, pertahankan. Tidak perlu merendahkan orang yang menolak melakukannya. Mengingatkan wajib, tapi sewajarnya saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2019, terinspirasi dari viralnya komentar <em>netizen </em>tentang kampanye budaya beres-beres salah satu restoran cepat saji.</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 xLon9 _3l__V _1CBrG" href="https://unsplash.com/@tigerrulezzz">Brian Chan</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/">Komentar Warga Negara Berkembang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/komentar-warga-negara-berkembang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Jempol</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/</link>
					<comments>https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2018 09:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[jempol]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1602</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di era di mana manusia lebih banyak berinteraksi di dunia maya seperti sekarang, peran mulut sudah banyak digantikan oleh jempol. Komentar yang biasanya dilakukan dengan bersuara kini bisa dilakukan dalam sunyi melalui ketikan di layar ponsel. Ada yang curhat yang diiringi sumpah serapah, entah apa tujuannya. Mencari perhatian? Bisa jadi. Atau bisa juga menyindir orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/">Menjaga Jempol</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di era di mana manusia lebih banyak berinteraksi di dunia maya seperti sekarang, peran mulut sudah banyak digantikan oleh jempol. Komentar yang biasanya dilakukan dengan bersuara kini bisa dilakukan dalam sunyi melalui ketikan di layar ponsel.</p>
<p>Ada yang curhat yang diiringi sumpah serapah, entah apa tujuannya. Mencari perhatian? Bisa jadi. Atau bisa juga <a href="http://whathefan.com/karakter/sindir-menyindir-di-media-sosial/">menyindir orang yang sedang disumpahinya</a>? Mungkin.</p>
<p>Ada yang mengeluarkan pendapatnya terkait permasalahan bangsa, namun diikuti oleh caci maki. Elokkah sebuah opini harus dibawakan dengan emosional? Bukankah para pendiri bangsa telah mengajarkannya dengan cara santun?</p>
<p>Ada yang pasif tak banyak berkomentar, namun ikut <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/di-mana-ada-peristiwa-di-situ-ada-hoax/">menyebarkan kabar bohong</a> tanpa mengklarifikasikannya terlebih dahulu. Apakah ia melakukannya agar bisa merasakan repotnya membalas <em>chat</em> satu persatu?</p>
<blockquote><p>Apalagi menjelang tahun politik seperti ini. Masyarakat kita seolah semakin tak terkontrol dalam berkomentar maupun beropini. Dalil <a href="http://whathefan.com/karakter/batasan-kebebasan-berekspresi/">kebebasan berpendapat</a> disalahartikan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batasan.</p></blockquote>
<p>Mungkin hal tersebut dapat terjadi karena kita lupa, Tuhan pun bisa mengetahui apa yang kita ketikkan melalui jempol maupun jari lainnya. Malaikat akan mencatat apapun yang tertuang di internet, termasuk kemarahan dan fitnah.</p>
<p>Mungkin kita lupa bahwa apa yang kita tulis di komputer maupun telepon genggang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Malaikat tidak butuh peralatan canggih untuk menunjukkan jejak-jejak digital yang sudah kita hapus.</p>
<p>Mungkin kita tak sadar bahwa setiap perbuatan akan memiliki konsekuensinya sendiri. Apa yang kita tanam itulah yang kita petik. Apabila kita menanam kebencian, itulah yang kelak akan kita petik, entah kapan.</p>
<blockquote><p>Terkadang penulis membayangkan, bagaimana seandainya kolom komentar ditiadakan. Apakah negeri kita akan lebih damai karenanya? Ataukah sama saja?</p></blockquote>
<p>Bagaimana seandainya jika kita tidak bisa mengeluarkan pendapat di media sosial? Seperti bertahun-tahun yang lalu sebelum ada Facebook, Twitter, Instagram, hingga Whatsapp. Opini hanya muncul di forum atau media cetak.</p>
<p>Apakah kita sudah lebih baik dalam beropini jika dibandingkan ketika rezim orde baru berkuasa? Apakah <a href="http://whathefan.com/sosialpolitik/beropini-setelah-reformasi/">cita-cita reformasi</a> benar-benar seperti kondisi sekarang ini?</p>
<p>Hanya berandai-andai pun percuma jika tidak ada aksi nyata yang dilakukan. Sebagai generasi yang sadar akan besarnya potensi terpecahbelahnya bangsa, kita harus bisa menjaga jempol kita dari perbuatan-perbuatan yang buruk dan bisa melukai perasaan orang.</p>
<blockquote><p>Lakukanlah dari diri sendiri, dari jempolmu sendiri, mulai sekarang dan seterusnya. Bijaklah dalam menggunakan berbagai kemudahan teknologi, jangan menyalahgunakannya untuk hal-hal yang tercela.</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 30 Oktober 2018, terinspirasi dari banyaknya komentar-komentar yang seharusnya tidak muncul di ruang publik</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/photos/4Vg6ez9jaec?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Katya Austin</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/thumb?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/">Menjaga Jempol</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/politik-negara/menjaga-jempol/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Bibit Unggul</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2018 08:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bibit unggul]]></category>
		<category><![CDATA[debat]]></category>
		<category><![CDATA[harga diri]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[netizen]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1345</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rasanya netizen yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari thread Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan. Apa Itu Bibit Unggul? Untuk yang belum tahu, thread tentang bibit unggul sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika negara api menyerang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya <em>netizen </em>yang membahas masalah ini sudah terlalu banyak. Lantas mengapa penulis tetap menulis tentang hal ini? Karena penulis telah mempelajari <em>thread </em>Twitter tentang bibit unggul tersebut selama kurang lebih satu jam, sehingga sayang jika pemikiran penulis tidak diikat dengan tulisan.</p>
<p><strong>Apa Itu Bibit Unggul?</strong></p>
<p>Untuk yang belum tahu, <em>thread </em>tentang <strong>bibit unggul </strong>sedang hangat-hangatnya di Twitter. Semua berawal ketika <s>negara api menyerang</s> seorang pengguna Twitter (mari kita sebut dengan <strong>A</strong>) memberikan sebuah komentar terhadap <em>tweet</em> seorang animator (mari kita sebut dengan <strong>B</strong>).</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1347 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg" alt="" width="727" height="302" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1.jpg 727w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-300x125.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001427-1-356x148.jpg 356w" sizes="(max-width: 727px) 100vw, 727px" /></p>
<p>Mungkin komentar tersebut bernada candaan, yang dibuktikan dengan adanya <em>emoticon &#8220;</em>:p&#8221; di sana. Lantas berkembanglah debat seputar <em>attitude </em><strong>A</strong> yang dianggap <strong>B </strong>kurang sopan, hingga mengatakan bahwa ia sudah sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong> (mungkin untuk menunjukkan bahwa <strong>B </strong>lebih senior dari <strong>A</strong>?).</p>
<p>Nah, inilah yang memicu munculnya <em>tweet </em>kontroversial tersebut.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-1349 aligncenter" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg" alt="" width="717" height="243" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328.jpg 717w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-300x102.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/09/2018-09-18_001328-356x121.jpg 356w" sizes="(max-width: 717px) 100vw, 717px" /></p>
<p><em>Sombong banget sih!</em></p>
<p>Sabar sabar, kita urai satu persatu meskipun penulis bukan orang komunikasi. Penulis hanya mengamati dari kacamata awam tanpa bermaksud sok pandai menganalisa kalimat. Harapannya, tentu dengan tulisan ini kita mendapatkan pelajaran-pelajaran demi menjadi insan yang lebih baik lagi.</p>
<p><strong>Ikut Campur Netizen</strong></p>
<p>Kalimat tersebut muncul, mungkin sebagai bentuk pembelaan diri dari <strong>A</strong> yang seolah tak terima ditegur oleh <strong>B</strong>. Sedangkan <strong>B </strong>mungkin merasa jengkel karena <em>tweet</em> seriusnya ditanggapi dengan kurang baik, sesuatu yang kita sendiri pun sering dibuat gusar olehnya.</p>
<p>Karena sama-sama merasa benar inilah (walaupun <strong>A</strong> yang lebih dominan sikap merasa benarnya) perdebatan ini melebar ke mana-mana, apalagi setelah <em>netizen </em>mulai ikut campur dengan ikut berkomentar. Bahkan situasi tetap memanas meskipun mereka telah mengonfirmasi untuk saling memaafkan.</p>
<p>Ikut campur <em>netizen </em>pun bermacam-macam. Ada yang mengutuk tindakan sombong <strong>A<em>, </em></strong>ada yang kagum dengan ketangguhan <strong>A </strong>dalam menghadapi <em>nyinyiran, </em>ada yang sempat-sempatnya membuat meme, hingga ada yang membuat <em>tweet </em>agar orang-orang seperti <strong>A</strong> tidak diterima dalam perusahaan (hingga papanya tidak terima dan akan membawanya ke ranah hukum).</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Yang patut diapresiasi, tidak ada di antara mereka berdua yang menghapus <em>tweet-tweet</em> yang membuat bumi gonjang-ganjing tersebut.</p>
</blockquote>
<p><strong>B </strong>mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan sebagai pelajaran untuk dirinya dan istrinya (yang sempat ikut <em>nimbrung</em> dalam perdebatan). Bagaimana dengan <strong>A</strong>?</p>
<p>Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, <strong>A </strong>terkesan bebal dengan mengutarakan kalimat-kalimat yang defensif (dan terkadang ditambah <em>counter attack </em>yang menyakitkan) ketika mendapatkan serangan-serangan dari <em>netizen</em>. Hal itulah yang semakin memancing emosi <em>netizen </em>untuk ikut berkomentar, walaupun banyak yang hanya membaca satu <em>tweet</em>, bukan secara keseluruhan.</p>
<p>Beberapa <em>netizen </em>juga mengatakan bahwa si <strong>A </strong>memang sedikit &#8220;berbeda&#8221; , tidak memiliki banyak teman, dan lain sebagainya. Tentu saja hal tersebut semakin membuat <strong>A </strong>tersudut dan mungkin karena itulah ia semakin bulat untuk mempertahankan diri.</p>
<p><strong>A</strong> tidak sendirian. Banyak yang mendukungnya untuk melawan <em>selebtweet</em> yang mereka anggap sok berkuasa di Twitter. Hal ini bisa dimaklumi karena memang banyak <em>selebtweet </em>yang ikut berkomentar tentang permasalahan ini, dan mayoritas dari mereka mencela perbuatan dan sikap <strong>A</strong>.</p>
<p>Bahkan jika dilihat jumlah <em>follower </em>Twitternya yang meningkat secara drastis (terakhir hampir mencapai 5.000 dari jumlah awal yang ratusan), jelas <strong>A</strong> mendapatkan banyak simpati dari orang. Bisa jadi, mendapatkan simpati ini membuat <strong>A </strong>semakin yakin untuk bersikukuh dengan sikapnya.</p>
<p>Apakah <strong>A</strong> mempertahankan <em>tweet</em>-nya sebagai bahan pelajaran untuk dirinya atau sekedar menjaga harga dirinya? Penulis serahkan ke pembaca.</p>
<p><strong>Memetik Pelajaran dari Bibit Unggul</strong></p>
<p>Manusia berbuat salah itu wajar, karena kita memang tempatnya salah. Tapi lebih salah lagi jika kita merasa tidak berbuat salah ketika berbuat salah. Lebih salah lagi jika kesalahan kita dianggap sebagai sesuatu yang benar.</p>
<p>Bingung?</p>
<p>Dilihat dari bahasa-bahasa yang ia gunakan pada Twitternya, <strong>A </strong>memang orang yang pandai. Hanya saja, seperti kata <em>netizen</em>, kepandaian tanpa sikap yang baik akan menjadi hal yang percuma.</p>
<p>Kita semua tentu sepakat bahwa kesombongan merupakan salah satu sifat yang tidak baik, meskipun konteksnya untuk membela diri. Ingat ketika kita masih kecil, jika ada teman yang memamerkan sesuatu, maka kita akan memamerkan apa yang kita punya. Semua demi menjaga harga diri, walaupun kita belum mengenal itu sewaktu kecil.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;">Harga diri jelas butuh kita jaga. Akan tetapi, terlalu menjaga harga diri sehingga berat untuk mengucapkan maaf tentu juga kurang elok. Terlalu menjaga harga diri sehingga kita berlaku sombong lebih tidak baik lagi.</p>
</blockquote>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>B </strong>mengatakan ia sering berhadapan dengan mahasiswa seperti <strong>A</strong>, lalu <strong>A </strong>meresponnya tanpa perlu menyebutkan prestasinya, mungkin kericuhan ini tidak perlu terjadi.</p>
<p>Seandainya saja sewaktu <strong>A </strong>berkomentar seperti itu disikapi dengan santai oleh <strong>B<em>, </em></strong>mungkin drama ini tidak pernah terjadi.</p>
<p>Seandainya <em>netizen </em>yang maha benar tidak terlalu ikut campur dengan berkomentar yang tidak perlu, nah ini yang agak susah diandaikan (kabuuuuuur).</p>
<p>Berlaku sombong itu salah, maka ada baiknya ketika ada yang mengingatkan kita berterimakasih. Kita patut bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dengan kita. Rasanya lebih menyakitkan bukan jika tidak ada orang yang peduli dengan kita?</p>
<p><em>Ngeyel </em>terus sambil menutup telinga itu salah, maka ada baiknya jika kita sedikit menurunkan ego agar tidak <em>ngeyel </em>terus.</p>
<p>Merasa diri selalu benar itu salah, karena kita tempatnya salah. Jaya Suprana mengatakan bahwa manusia bisa berkembang karena terus mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran, yang disebutnya dengan Kelirumologi.</p>
<p>Semoga dengan adanya peristiwa ini, kita bisa memetik pelajarannya agar bisa menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari kemarin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 17 September 2018, terinspirasi setelah berjam-jam mempelajari <em>thread </em>bibit unggul di Twitter</p>
<p>Sumber Foto: <a href="https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/">https://prelo.co.id/blog/mengenali-bibit-tanaman-buah-unggul/</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/">Menyikapi Bibit Unggul</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/menyikapi-bibit-unggul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
