<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>komunikasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/komunikasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/komunikasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:33:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>komunikasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/komunikasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Untuk Kamu yang Merasa Terbuang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 May 2019 16:43:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[terbuang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2342</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dulu sering merasa susah berinteraksi dengan orang lain (atau sampai sekarang?), penulis sering kali berpikir secara berlebihan terhadap persepsi orang lain kepada diri penulis. Bahkan, penulis sampai merasa sebagai orang yang terbuang, yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja. Hanya dianggap sebagai pelengkap yang keberadaannya tidak diinginkan. Setelah dewasa, penulis menyadari bahwa pola [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/">Untuk Kamu yang Merasa Terbuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai orang yang dulu sering merasa susah berinteraksi dengan orang lain (atau sampai sekarang?), penulis sering kali berpikir secara berlebihan terhadap persepsi orang lain kepada diri penulis.</p>
<p>Bahkan, penulis sampai merasa sebagai <strong>orang yang terbuang</strong>, yang kehadiran dan ketidakhadirannya sama saja. Hanya dianggap sebagai pelengkap yang keberadaannya tidak diinginkan.</p>
<p>Setelah dewasa, penulis menyadari bahwa pola berpikir merasa terbuang cukup destruktif dan tidak membawa satu pun hal yang positif untuk diri kita.</p>
<h3>Bukan Orang yang Terbuang</h3>
<div id="attachment_2344" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2344" class="size-large wp-image-2344" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2344" class="wp-caption-text">Bukan Terbuang (<a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@wildlittlethingsphoto">Helena Lopes</a>)</p></div>
<p>Penulis menilai ada dua poin yang bisa diangkat dari topik perasaan terbuang ini. Poin pertama, <strong>pikiran tersebut belum tentu benar</strong>.</p>
<p>Bisa jadi, orang lain tidak benar-benar berpikir seperti itu. Mungkin saja kita yang kurang terbuka kepada orang lain sehingga komunikasi menjadi tidak lancar.</p>
<p>Jika melihat ke belakang, memang banyak peristiwa yang membuat penulis merasa seperti itu. Akan tetapi ketika melakukan interopeksi diri, penulis sadar bahwa bisa jadi akar permasalahannya ada di dalam diri penulis sendiri.</p>
<p>Dalam perenungan, penulis menemukan salah satu akar permasalahan ini adalah <a href="https://whathefan.com/karakter/bukan-sombong-tapi-minder/">rasa minder</a> yang bersarang dalam diri. Penulis adalah orang yang kurang percaya diri walaupun tidak sampai akut.</p>
<p>Seandainya dulu penulis sedikit lebih percaya diri dan berani <em>nimbrung </em>di dalam pembicaraan atau sekadar berusaha terlibat dalam diskusi, mungkin hasilnya akan berbeda dan penulis tidak akan merasa jadi orang yang terbuang.</p>
<h3>Memang Orang yang Terbuang</h3>
<div id="attachment_2343" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2343" class="size-large wp-image-2343" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-1024x683.jpg" alt="" width="800" height="534" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/merasa-terbuang-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2343" class="wp-caption-text">Memang Terbuang (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.idntimes.com/science/discovery/sri-mulyati-2/alasan-ilmiah-perilaku-bullying-c1c2" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-noload="" data-ved="2ahUKEwieltvx8I7iAhXo6XMBHV-_BnYQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">IDN Times</span></a>)</p></div>
<p>Sayangnya, poin yang kedua adalah jika <strong>memang keberadaan kita tidak diinginkan oleh orang lain</strong>. Kita dianggap tidak cocok dengan gaya bergaul mereka, tidak satu frekuensi, bahkan dianggap tidak satu level dengan mereka.</p>
<p>Penulis pernah merasa dianggap seperti ini, sehingga mau seberusaha apapun untuk membaur akan menjadi percuma karena pada dasarnya ada penolakan yang cukup terasa. Jujur, rasanya cukup sakit.</p>
<p>Walaupun begitu, kita tidak perlu bersedih. Bisa jadi, kita memang tidak cocok dengan mereka. Toh, kita tidak punya kewajiban untuk bisa akrab dengan semua orang yang kita kenal.</p>
<p>Ambil saja sisi positifnya. Mungkin, itu merupakan pengingat diri kita, siapa tahu kita pernah memperlakukan hal yang sama kepada orang lain, tapi tidak kita sadari.</p>
<p>Mungkin kita memang tidak bisa berteman dengan mereka. Sama seperti pernikahan, persahabatan juga tidak bisa dipaksakan. Buktinya, kita cenderung berkumpul dengan teman-teman yang kita anggap cocok.</p>
<p>Jadi, jika kita berada di dalam situasi seperti itu, jangan diambil pusing. Teringat dari buku tulisan <strong>Mark Manson</strong>, <a href="https://whathefan.com/buku/motivasi-anti-mainstream-pada-sebuah-seni-untuk-bersikap-bodo-amat/">berusahalah untuk bersikap bodo amat</a>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Merasa sebagai orang terbuang. Merasa sebagai kepribadian yang dibenci dan tidak diharapkan kehadirannya. Merasa sebagai orang yang dibenci dan dimusuhi.</p>
<p>Pikiran-pikiran seperti itu kerap muncul pada orang-orang yang kerap <em>overthinking</em> seperti penulis. Untunglah, penulis telah menyadari kesalahan itu dan memutuskan untuk melanjutkan hidup bersama orang-orang terdekat.</p>
<p>Daripada berfokus kepada orang-orang yang tidak peduli kepada kita, mengapa tidak kita curahkan hidup kita kepada orang-orang yang berharga dan mau menerima kita di kehidupan mereka?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 9 September 2019, terinspirasi dari sebuah diskusi hati ke hati dengan seseorang</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@franciscoegonzalez">Francisco Gonzalez</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/">Untuk Kamu yang Merasa Terbuang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SWI Mengajar</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2018 18:42:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Day]]></category>
		<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Karang]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[swi]]></category>
		<category><![CDATA[taruna]]></category>
		<category><![CDATA[x]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=260</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa. SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika dibandingkan dengan Indonesia Mengajar, jelas sangat berbeda, baik lingkup maupun tujuan. Akan tetapi, dengan harapan bisa tertular semangat para pengajar muda yang berada dalam lembaga tersebut, SWI Mengajar kami gagas ketika pembentukan Karang Taruna. Alasan lainnya, kami yakin pendidikan adalah faktor penting dalam pembentukan karakter generasi penerus bangsa.</p>
<p>SWI sendiri sebenarnya adalah nama lingkungan dimana kami tinggal, yang merupakan akronim dari Sumber Wuni Indah. Maka banyak program kerja di Karang Taruna yang diawali dengan SWI untuk menegaskan bahwa program-program ini dilaksanakan di Sumber Wuni Indah. Jika mau lebih lengkap, harusnya ditulis PSWI (Perumahan Sumber Wuni Indah). Namun mungkin karena menghindari anggapan bahwa lingkungan kami ingin dianggap elit, maka kata Perumahan jarang dicantumkan.</p>
<p>Inti dari SWI Mengajar di sini adalah bagaimana anggota Karang Taruna saling membagi ilmunya kepada satu sama lain. Pada awal mulanya, anggota yang sudah duduk di bangku kuliah mengemban tanggung jawab tertinggi untuk mengajar adik-adiknya yang masih sekolah. Hanya saja, setelah banyak yang lulus dan kerja di luar kota, mau tidak mau anggota yang sudah SMA menjadi tumpuan untuk melanjutkan program ini.</p>
<p>Untuk saat ini, proses belajar masih antara anggota Karang Taruna. Ke depannya, kami berharap bahwa program ini juga dapat diikuti oleh adik-adik yang masih di tingkat sekolah dasar. Ini penting, karena adik-adik tersebut suatu saat juga akan menjadi anggota Karang Taruna, sehingga sejak dini kami perlu mengakrabkan diri dengan mereka agar mereka merasa nyaman ketika berkumpul dengan kami.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Selama satu tahun setengah berjalan, tentu banyak kendala yang terjadi dalam melaksanakan SWI Mengajar. Yang paling kentara adalah keaktifan anggota. Sempat beberapa kali program ini vakum di tengah jalan dengan kendala tersebut. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah &#8220;lebih senang belajar sendiri&#8221;. Kami akui, ketika proses belajar sedang berlangsung, terselip gurauan-gurauan yang bisa memecah konsentrasi. Oleh karena itu, SWI Mengajar lebih sesuai jika digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bukan belajar untuk ulangan.</p>
<p>Permasalahan lainnya adalah bagaimana jika anggota yang datang tidak mempunyai PR ataupun pertanyaan yang ingin diajukan. Solusinya, untuk saat ini adalah diadakannya SWI English Day, program kerja lainnya yang dulu pernah mati suri. Dulu, program dengan tujuan melancarkan anggota berbicara dalam bahasa Inggris ini dilaksanakan setiap hari Kamis. Kami harus berbicara bahasa Inggris terhadap sesama anggota, baik ketika bertemu langsung maupun di grup WA. Program ini terhenti karena dirasa memberatkan anggota.</p>
<p>SWI English Day yang diterapkan di SWI Mengajar dibuat lebih sederhana. Kami hanya melatih <em>daily conversation </em>sederhana, sesuatu yang menurut beberapa anggota tidak diajarkan secara rutin di sekolah. Padahal, banyak guru bahasa Inggris saya yang berpendapat bahwa <em>conversation </em>lebih penting daripada <em>grammar</em>. Setelah dua kali uji coba, dapat disimpulkan bahwa anggota hanya kurang percaya diri saja ketika berbicara bahasa Inggris. Untuk masalah <em>vocabulary </em>dan tata letak kalimat, bisa menyusul.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Karena termasuk anggota tua di Karang Taruna, saya sering menempatkan diri sebagai pengajar. Akan tetapi, justru saya yang mendapatkan banyak pelajaran dari program ini.</p>
<p style="text-align: left;">Pertama, program ini menyadarkan salah satu <em>passion </em>saya, yakni membagi ilmu yang saya miliki. Saya menemukan kepuasan apabila penjelasan saya dapat dipahami oleh yang meminta penjelasan.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua, saya menjadi terpacu untuk menjadi dosen. Selain mendapatkan amalan yang tak putus, saya bisa mengajak mahasiswa saya untuk berperan aktif di lingkungannya melalui Karang Taruna.</p>
<p>Yang terakhir, saya menyadari kemampuan komunikasi saya dalam menyampaikan informasi masih payah, terutama jika sesuatu yang akan disampaikan tidak dipersiapkan terlebih dahulu alias spontan. Dengan adanya SWI Mengajar, secara perlahan saya bisa melatih dan mengembangkan kemampuan ini agar apa yang saya sampaikan dapat diterima oleh yang mendengar.</p>
<p>Bukankah itu inti dari komunikasi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 27 Januari 2018, setelah bermain FIFA 18 bersama Ekky dan Abil</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/swi-mengajar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
