Bukan Sombong, Tapi Minder

Ketika SMA, salah seorang teman pernah berkata bahwa penulis somsek alias sombong sekali. Waktu itu, penulis merasa ia hanya bercanda tanpa bermaksud menyakiti hati.

Akan tetapi ketika beranjak dewasa, penulis merasa bahwa perkataannya tersebut memang ditujukan untuk mengingatkan diri penulis yang sombong.

Sombong atau Minder?

Ketika penulis sedang berkontemplasi, tentu penulis mengingat apa-apa saja yang pernah penulis lakukan selama ini. Salah satu yang terlintas di ingatan penulis adalah tentang kesombongan tersebut.

Kesombongan seperti apa? Yang jelas bukan kekayaan ataupun kepandaian, akan tetapi jenis sombong yang enggan menyapa orang lain terlebih dahulu.

Penulis ingat, seringkali penulis pura-pura tidak melihat ketika ada teman yang tak terlalu akrab sedang lewat. Terkadang penulis menundukkan kepala dalam-dalam.

Apakah karena penulis tinggi hati sehingga merasa tidak pantas menyapa orang lain? Tentu tidak. Penulis melakukannya karena merasa minder, merasa tidak percaya diri.

Ketika penulis melakukan itu, apa yang ada di pikiran penulis adalah “mau nyapa tapi takut dia enggak ingat aku“. Selalu itu yang muncul di pikiran penulis.

Entah kenapa penulis dilanda pemikiran yang seperti itu, bisa jadi karena memang penulis kurang terlatih dalam bergaul. Sebagai pribadi yang introvert dan jarang bermain bersama teman, penulis terkadang bingung harus bagaimana dalam bersosial.

Akibat pemikiran yang berlebihan inilah, mungkin penulis dicap somsek oleh teman penulis. Tidak salah jika orang memiliki persepsi bahwa penulis itu sombong karena kesan yang ditimbulkan dari tindakan penulis memang seperti itu.

Bagaimana Sekarang?

Setelah membaca berbagai buku self improvement, penulis memutuskan untuk belajar lebih percaya diri lagi. Salah satu langkah awal adalah menyingkirkan pikiran “mau nyapa tapi takut dia enggak ingat aku“.

Sapa dulu saja. Mau orang lain ingat atau enggak tidak masalah. Kalaupun lupa, minimal orang tersebut akan pura-pura ingat kepada kita karena ingin menjaga perasaan kita.

Rasa minder yang cukup mengakar pada diri penulis secara perlahan berusaha penulis hilangkan. Buku-buku yang penulis baca banyak sekali membantu, belum lagi diskusi dengan orang-orang di sekitar penulis.

Sampai saat ini pun mungkin terkadang melakukan hal yang sama di kantor. Setidaknya, jumlahnya sudah jauh berkurang jika dibandingkan dengan masa-masa sekolah ataupun kuliah.

Kalau pembaca sekalian pernah atau sedang mengalami permasalahan yang sama, mungkin cara yang sudah penulis lakukan bisa dicoba.

 

 

Kebayoran Lama, 1 April 2019, terinspirasi setelah teringat ucapan seorang teman di SMA karena menyebut penulis somsek

Foto: USA Today