<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kontemplasi Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kontemplasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kontemplasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Sep 2025 09:08:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>kontemplasi Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kontemplasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2025 23:43:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melalui tulisan &#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut. Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Melalui tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">&#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;</a>, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.</p>



<p>Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kontemplasi</a> demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.</p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-wandavision-episode-9-bagian-3/">Setelah Menonton WandaVision Episode 9 (Bagian 3)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban</h2>



<div class="wp-block-cover"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8260" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-working-retouching-photo-on-laptop-at-convenient-workplace-7014337/">George Milton</a>)</p>
</div></div>



<p>Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: <strong>sedang ada banyak masalah</strong>, <strong>rasa malas</strong>, hingga <strong>merasa jenuh</strong>. Mari kita berangkat dari sana. </p>



<p>Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.</p>



<p>Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.</p>



<p>Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.</p>



<p>Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki <em>niche </em>yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi <em>angle</em> yang digunakan jelas berbeda. </p>



<p>Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala <em>overthinking</em>.</p>



<p>Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.</p>



<p>Alasan pertama, <strong>Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Di Notion Penulis</a>, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.</p>



<p>Idealnya, sesuai <em>tagline </em>blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. <em>Mood </em>untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.</p>



<p>Alasan kedua, <strong>Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih</strong>. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.</p>



<p>Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.</p>



<p>Alasan ketiga, <strong>pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis</strong>. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.</p>



<p>Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat <em>caption</em>. Penulis tidak membuat video ataupun <em>long carousel</em>. Mungkin memang pada dasarnya malas saja. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya</h2>



<div class="wp-block-cover"><img decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8261" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Mencoba Lebih Spontan (<a href="https://www.pexels.com/@olly/">Andrea Piacquadio</a>)</p>
</div></div>



<p>Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang <em>refreshing </em>dan menyenangkan.</p>



<p>Pertama, <strong>menghilangkan penjadwalan artikel</strong>. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (<em>uhuy!</em>) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu <em>blank </em>tidak tahu ingin menulis apa.</p>



<p>Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang <em>streak </em>yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.</p>



<p>Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel <em>review</em> buku dan <em>board game </em>yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.</p>



<p>Kedua, <strong>segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran</strong>. Penulis harus membuang konsep &#8220;First In First Out&#8221; di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.</p>



<p>Ketiga, <strong>menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang</strong>. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.</p>



<p>Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.</p>



<p>Keempat, <strong>melakukan reset</strong>. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya &#8220;mau nulis apa hari ini?&#8221; setiap membuka laptopnya.</p>



<p>Kelima, <strong>memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan</strong>. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.</p>



<p>Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a>. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">menghilangkan insomnianya.</a></p>



<p>Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.</p>



<p>Keenam, <strong>membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya</strong>. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan <em>task </em>tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.</p>



<p>Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani. </p>



<p>Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan&#8230;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/bored-woman-looking-at-a-laptop-4240504/">Ivan Samkov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hikayat Kontemplasi</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jan 2018 03:38:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=79</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baru kudengar istilah ini dari kawanku. Artinya, kurang lebih adalah perenungan terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini, mungkin sama seperti interopeksi, hanya saja lebih mendalam. Aku termasuk orang yang sering menoleh ke belakang, melihat jejak yang telah kutapakkan ke tanah. Melihat baik buruknya -lebih banyak buruknya- apapun yang telah kulakukan di masa lalu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">Hikayat Kontemplasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Baru kudengar istilah ini dari kawanku. Artinya, kurang lebih adalah perenungan terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini, mungkin sama seperti interopeksi, hanya saja lebih mendalam.</div>
<div></div>
<div>Aku termasuk orang yang sering menoleh ke belakang, melihat jejak yang telah kutapakkan ke tanah. Melihat baik buruknya -lebih banyak buruknya- apapun yang telah kulakukan di masa lalu. Banyak penyesalan ketika aku melakukannya, seperti kata Hatake Kakashi &#8220;jika melihat ke belakang, aku ingin memaki diriku yang bodoh&#8221;.</div>
<div></div>
<div>Begitu banyak kesalahan yang kulakukan, begitu banyak perasaan yang aku gores, begitu banyak yang tertusuk oleh ucapku, begitu banyak yang naik pitam karena ulahku. Kebodohan terbesarku adalah tidak menyadari semua itu, di kala semua sedang terjadi. Aku terlalu tinggi dalam menilai tinggiku sendiri, terlalu naif untuk mengecap diri sebagai pribadi yang baik.</div>
<div></div>
<div>Namun hikayat dari kontemplasi bukanlah untuk merutuk masa lalu. Ia hadir agar kita bisa belajar dari kesalahan, dan menjadi insan yang lebih hebat lagi di masa yang akan datang. Hikayat dari kontemplasi adalah bukan untuk mengurung diri dengan dikelilingi penyesalan, melainkan sebagai titik balik untuk melakukan aksi untuk memperbaiki diri. Hikayat dari kontemplasi bukan hanya sebagai ajang melamun di tengah sepi, melainkan koreksi diri agar dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Lawang, 8 November 2017, ketika memutuskan untuk segera menuliskan apa yang telah ia beritahukan kepadaku kemarin</div>
<div>Sumber Foto: <a href="https://www.ignatianspirituality.com/6277/a-long-loving-look-at-the-real">https://www.ignatianspirituality.com/6277/a-long-loving-look-at-the-real</a></div>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">Hikayat Kontemplasi</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
