<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Krakatau Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/krakatau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/krakatau/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Dec 2018 18:41:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>Krakatau Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/krakatau/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sejarah Kecil Krakatau</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-krakatau/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-krakatau/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2018 18:41:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[letusan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1864</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika berusaha keras mengingat kapan pertama kali penulis tahu tentang Krakatau, muncul memori masa kecil. Di memori tersebut, jika tidak salah, penulis sedang membaca sebuah majalah tua milik pakde penulis. Penulis tidak ingat apa yang dibaca waktu itu. Hanya gambar sebuah gunung meletus yang penulis ingat. Saat telah beranjak dewasa, penulis menyadari bahwa itu merupakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-krakatau/">Sejarah Kecil Krakatau</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika berusaha keras mengingat kapan pertama kali penulis tahu tentang Krakatau, muncul memori masa kecil. Di memori tersebut, jika tidak salah, penulis sedang membaca sebuah majalah tua milik pakde penulis.</p>
<p>Penulis tidak ingat apa yang dibaca waktu itu. Hanya gambar sebuah gunung meletus yang penulis ingat. Saat telah beranjak dewasa, penulis menyadari bahwa itu merupakan ilustrasi dari meletusnya gunung Krakatau pada tahun <strong>1883</strong>.</p>
<p>Letusan gunung Krakatau pada tahun tersebut merupakan <strong>salah satu letusan gunung terbesar</strong> di era modern. Dampaknya begitu luas hingga mencapai Eropa dan Amerika. Letusan terjadi tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali.</p>
<div id="attachment_1867" style="width: 650px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1867" class="size-full wp-image-1867" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/092358600_1474346254-Krakatau_2.jpg" alt="" width="640" height="360" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/092358600_1474346254-Krakatau_2.jpg 640w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/092358600_1474346254-Krakatau_2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/092358600_1474346254-Krakatau_2-356x200.jpg 356w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-1867" class="wp-caption-text">Gunung Krakatau (Liputan6.com)</p></div>
<p>Kekuatan ledakannya setara dengan <strong>200 megaton TNT</strong>. Lontaran asap vulkanik mencapai 27 km. Itu sama dengan ketinggian <strong>90 Menara Eiffel</strong>.</p>
<p>Bumi menjadi gelap selama berbulan-bulan dan suhu turun sebesar 1.2 derajat celcius. Pola cuaca menjadi tidak beraturan selama bertahun-tahun. Banyak orang yang meninggal akibat perubahan cuaca ini.</p>
<p>Suara letusannya terdengar hingga ke Australia, di mana penduduk sana mengira sedang mendengar meriam kapal. Diperkirakan 1/8 penduduk Bumi waktu itu bisa mendengarnya.</p>
<div id="attachment_1865" style="width: 717px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1865" class="size-full wp-image-1865" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/707px-Krakatoa_eruption_lithograph.jpg" alt="" width="707" height="899" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/707px-Krakatoa_eruption_lithograph.jpg 707w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/707px-Krakatoa_eruption_lithograph-236x300.jpg 236w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/707px-Krakatoa_eruption_lithograph-201x255.jpg 201w" sizes="(max-width: 707px) 100vw, 707px" /><p id="caption-attachment-1865" class="wp-caption-text">Ilustrasi Meletusnya Krakatau (wikipedia.com)</p></div>
<p>Korban jiwa yang tercatat lebih dari 30 ribu orang (ada yang mengatakan 120 ribu), termasuk seluruh penduduk <strong>pulau Sebesi</strong> yang terletak di dekat Krakatau (13 km).</p>
<p>Selain itu, dampak lain dari letusan tersebut adalah lenyapnya gunung Krakatau, meninggalkan kaldera di Selat Sunda. Selain Krakatau, letusan ini juga menghancurkan gunung Danan dan Perbuwatan, serta sebagian gunung Rakata.</p>
<p>Di antara sisa-sisa gunung tersebut, muncul <strong>gunung Anak Krakatau</strong> yang pertama kali diketahui pada tahun <strong>1927</strong>. Semenjak itu, gunung tersebut tumbuh tersebut sekitar setengah meter per tahun.</p>
<div id="attachment_1866" style="width: 710px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-1866" class="size-full wp-image-1866" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Anak_Krakatau_TMnr_10027438.jpg" alt="" width="700" height="502" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Anak_Krakatau_TMnr_10027438.jpg 700w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Anak_Krakatau_TMnr_10027438-300x215.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Anak_Krakatau_TMnr_10027438-356x255.jpg 356w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><p id="caption-attachment-1866" class="wp-caption-text">Gunung Anak Krakatau (wikipedia.com)</p></div>
<p>Banyak yang mendokumentasikan peristiwa bersejarah ini. Salah satunya adalah <strong>Don Rosa</strong> melalui komiknya, <strong><a href="http://whathefan.com/animekomik/detail-pada-karya-don-rosa/">Paman Gober</a></strong>. Pada komik tersebut, digambarkan betapa dahsyatnya ledakan gunung Krakatau.</p>
<p>Bencana yang terjadi di Banten dan Lampung terjadi berasal dari aktivitas gunung Anak Krakatau. <a href="http://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/">Kejadian alam tersebut seolah menegur</a> kita yang masih diberi keselamatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Desember 2018, terinspirasi dari aktivitas gunung Anak Krakatau, data dilansir dari <strong>Wikipedia</strong></p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.ikons.id/gunung-krakatau-fakta-di-sekitar-letusan-1883/" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwjE0bb8jbnfAhUaU30KHVEzBiAQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">ikons.id</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-krakatau/">Sejarah Kecil Krakatau</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kecil-krakatau/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2018 17:41:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1859</guid>

					<description><![CDATA[<p>Indonesia kembali diterpa ujian. Beberapa daerah terkena dampak gelombang tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas gunung Anak Krakatau. Ratusan korban jiwa melayang akibat bencana ini. Ketika alam sudah berbicara seperti ini, nampaklah ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Mau sekaya, setampan, sekuat apapun kita, tidak ada yang bisa melawan kekuatan alam. Jika faktanya seperti itu, lantas untuk apa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/">Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia kembali diterpa ujian. Beberapa daerah terkena dampak gelombang tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas gunung Anak Krakatau. Ratusan korban jiwa melayang akibat bencana ini.</p>
<p><strong>Ketika alam sudah berbicara seperti ini</strong>, nampaklah ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Mau sekaya, setampan, sekuat apapun kita, tidak ada yang bisa melawan kekuatan alam.</p>
<p>Jika faktanya seperti itu, lantas untuk apa kita sombong? Segala yang kita sombongkan bisa dalam sekejap dilenyapkan oleh kekuatan alam. Tentu sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<p><strong>Ketika alam sudah berbicara seperti ini</strong>, kita tersadarkan untuk menjalin hubungan yang hangat dengan alam. Mungkin kita sedang ditegur untuk melindungi lingkungan dari keserakahan kita.</p>
<p>Meskipun aktivitas yang terjadi di perut bumi berada di luar kemampuan manusia, setidaknya kita ikut menjaga apa yang nampak di permukaan. Minimal menjaga kebersihan di lingkungan sekitar.</p>
<p><strong>Ketika alam sudah berbicara seperti ini</strong>, apa yang bisa kita lakukan selain meminta pertolongan kepada-Nya? Apakah aktivitas alam ini merupakan peringatan Tuhan kepada kita yang sering lalai dalam menjalani perintah dan menjauhi larangannya?</p>
<p>Mungkin Tuhan masih sayang kepada kita yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup, walaupun Sujiwo Tejo mengatakan bahwa yang meninggal mungkin lebih selamat daripada kita yang masih hidup.</p>
<blockquote><p><i>Every cloud has a silver</i> <em>lining</em></p></blockquote>
<p>Setiap peristiwa pasti memiliki hikmah yang bisa dipetik, baik untuk keluarga yang ditinggalkan maupun kita yang tidak tersentuh bencana tersebut. Setidaknya, kita bisa sadar bahwa <strong>kematian itu begitu dekat</strong> dan bisa datang kapan saja tanpa permisi.</p>
<p>Jangan sampai kita, terlebih penulis sendiri, menyia-nyiakan waktu yang masih dimiliki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Desember 2018, terinspirasi dari bencana alam yang terjadi di Selat Sunda</p>
<p>Foto: <a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.medcom.id/foto/news/akWG9Dak-erupsi-anak-krakatau-di-selat-sunda" target="_blank" rel="noopener" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiwhfiG-7jfAhUMvY8KHd0VDOYQjB16BAgBEAQ"><span class="irc_ho" dir="ltr">Medcom.id</span></a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/">Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
