Ketika Alam Sudah Berbicara…

Indonesia kembali diterpa ujian. Beberapa daerah terkena dampak gelombang tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas gunung Anak Krakatau. Ratusan korban jiwa melayang akibat bencana ini.

Ketika alam sudah berbicara seperti ini, nampaklah ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Mau sekaya, setampan, sekuat apapun kita, tidak ada yang bisa melawan kekuatan alam.

Jika faktanya seperti itu, lantas untuk apa kita sombong? Segala yang kita sombongkan bisa dalam sekejap dilenyapkan oleh kekuatan alam. Tentu sesuai dengan kehendak-Nya.

Ketika alam sudah berbicara seperti ini, kita tersadarkan untuk menjalin hubungan yang hangat dengan alam. Mungkin kita sedang ditegur untuk melindungi lingkungan dari keserakahan kita.

Meskipun aktivitas yang terjadi di perut bumi berada di luar kemampuan manusia, setidaknya kita ikut menjaga apa yang nampak di permukaan. Minimal menjaga kebersihan di lingkungan sekitar.

Ketika alam sudah berbicara seperti ini, apa yang bisa kita lakukan selain meminta pertolongan kepada-Nya? Apakah aktivitas alam ini merupakan peringatan Tuhan kepada kita yang sering lalai dalam menjalani perintah dan menjauhi larangannya?

Mungkin Tuhan masih sayang kepada kita yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup, walaupun Sujiwo Tejo mengatakan bahwa yang meninggal mungkin lebih selamat daripada kita yang masih hidup.

Every cloud has a silver lining

Setiap peristiwa pasti memiliki hikmah yang bisa dipetik, baik untuk keluarga yang ditinggalkan maupun kita yang tidak tersentuh bencana tersebut. Setidaknya, kita bisa sadar bahwa kematian itu begitu dekat dan bisa datang kapan saja tanpa permisi.

Jangan sampai kita, terlebih penulis sendiri, menyia-nyiakan waktu yang masih dimiliki.

 

 

Kebayoran Lama, 25 Desember 2018, terinspirasi dari bencana alam yang terjadi di Selat Sunda

Foto: Medcom.id

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.