<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>laniakea Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/laniakea/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/laniakea/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jan 2020 15:47:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>laniakea Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/laniakea/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jan 2020 15:44:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[galaksi]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3353</guid>

					<description><![CDATA[<p>Entah sudah berapa tulisan yang menyebutkan bahwa Penulis adalah orang yang sangat suka sekali mengamati alam semesta. Mulai dari baca buku hingga menonton video dokumenter semua Penulis lakukan. Kemarin, Penulis menemukan serial 101 dari National Geographic yang membahas berbagai obyek di semesta. Video-video tersebut membuat Penulis merenungi tentang seberapa kecil kita sebenarnya. Di Mana Bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Entah sudah berapa tulisan yang menyebutkan bahwa Penulis adalah orang yang sangat suka sekali mengamati alam semesta. Mulai dari baca buku hingga menonton video dokumenter semua Penulis lakukan.</p>
<p>Kemarin, Penulis menemukan serial 101 dari National Geographic yang membahas berbagai obyek di semesta. Video-video tersebut membuat Penulis merenungi tentang seberapa kecil kita sebenarnya.</p>
<h3>Di Mana Bumi Berada?</h3>
<div id="attachment_3357" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3357" class="size-large wp-image-3357" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-1024x607.png" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-1024x607.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-300x178.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1-768x455.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-1.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3357" class="wp-caption-text">Sistem Tata Surya (Wikipedia)</p></div>
<p>Dari tempat kita berpijak, <strong>Bumi</strong> ini terasa sangat luas. Apalagi jika kita sedang berdiri di sebuah gedung yang tinggi ataupun puncak gunung, hamparan Bumi seolah terbentang tanpa ujung.</p>
<p>Bumi kita memang luas, dengan diameternya yang kurang lebih 6.371 km. Walalupun begitu, Bumi hanyalah planet terbesar kelima di tata surya kita, setelah <strong>Jupiter</strong>, <strong>Saturnus</strong>, <strong>Uranus,</strong> dan <strong>Neptunus</strong>.</p>
<p>Yang membuat istimewa adalah Bumi merupakan planet terbesar yang bisa dipijak, karena keempat planet lainnya tidak memiliki permukaan yang solid. Jupiter dan Saturnus merupakan planet gas, sedangkan Uranus dan Neptunus merupakan es raksasa.</p>
<p>Tiga planet lainnya, <strong>Merkurius</strong>, <strong>Venus</strong>, dan <strong>Mars</strong>, memang memiliki permukaan yang berbatu seperti Bumi. Hanya saja, kondisi alamnya membuat kehidupan hampir tidak mungkin bisa berkembang.</p>
<p>Semua planet tersebut sama-sama mengelilingi <strong>Matahari</strong>, bintang di sistem tata surya kita yang menyokong kehidupan di Bumi. Dengan segala keteraturannya, ia menarik berbagai benda langit untuk mengelilingi dirinya.</p>
<div id="attachment_3358" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3358" class="size-large wp-image-3358" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3358" class="wp-caption-text">Milky Way (Tech Explorist)</p></div>
<p>Akan tetapi, sistem tata surya atau <em><strong>Solar System</strong> </em>kita pun hanya bagian kecil (bahkan sangat kecil) dari galaksi di mana kita tinggal: <em><strong>Milky Way</strong> </em>atau Bimasakti.</p>
<p>Galaksi kita berbentuk spiral dengan beberapa &#8220;lengan&#8221;. <em>Solar System</em> kita berada di <strong>Lengan Orion </strong>bersama sistem tata surya lainnya.</p>
<p>Mungkin ada milyaran bintang yang ada di dalam galaksi <em>Milky Way</em>. Semuanya mengelilingi pusat galaksi yang berjarak sekitar 27.700 tahun cahaya dari Matahari. Entah bagaimana cara mengukurnya dengan menggunakan meteran.</p>
<div id="attachment_3359" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3359" class="size-large wp-image-3359" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3359" class="wp-caption-text">Laniakea (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://wallpaperaccess.com/lanikea-universe" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiFiKS6xqHnAhWPT30KHaRjBB4QjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">WallpaperAccess</span></a>)</p></div>
<p>Galaksi kita pun hanya bagian kecil dari keseluruhan alam semesta. Bersama ratusan ribu galaksi lainnya, kita berada di sebuah <em>supercluster </em>yang bernama <strong>Laniakea</strong>.</p>
<p>Jika ditarik lebih jauh lagi, Laniakea pun hanya terlihat seperti setitik debu jika dibandingkan dengan alam semesta yang sudah diketahui oleh manusia. Padahal, ada masih banyak sisi semesta yang belum dijamah oleh manusia.</p>
<p>Penulis akan meletakkan susunannya di bawah ini seperti yang dilansir dari Wikipedia:</p>
<blockquote><p><a class="mw-selflink selflink">Bumi → Solar System</a> → Local Interstellar Cloud → Local Bubble → Gould Belt → Orion Arm → Milky Way → Milky Way subgroup → Local Group → Local Sheet → Virgo Supercluster → Laniakea Supercluster → Observable universe → Universe</p></blockquote>
<p>Untuk definisinya masing-masing, Penulis akan meletakkan sumbernya di bawah tulisan ini. Intinya, kita ini sebenarnya bukan apa-apa jika dibandingkan luasnya alam semesta ini.</p>
<h3>Kita Bukan Apa-Apa</h3>
<p>Mungkin kita merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna karena diberi berbagai kemampuan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Tak jarang kita pun dibuat sombong karenanya.</p>
<p>Walaupun begitu, kita tak akan berdaya jika alam sudah berbicara. Mau teknologi secanggih apapun, kita tak akan pernah benar-benar bisa mengalahkan alam.</p>
<p>Itu baru alam yang ada di Bumi saja, bagaimana dengan entitas lain di luar Bumi? Coba bayangkan Bumi kembali dihantam meteor yang sama dengan yang memusnahkan dinosaurus, hampir tidak ada yang bisa kita lakukan.</p>
<p>Kita memang dianugerahi berbagai keistimewaan di Bumi ini. Bahkan posisi Bumi yang sangat tepat agar kehidupan bisa berlangsung saja sudah merupakan hal yang sangat luar biasa.</p>
<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita menyukuri apa yang telah kita dapatkan di Bumi ini dan mampu menjaganya dengan baik. Jika merasa sombong, cobalah tengok langit agar sadar betapa kecilnya kita.</p>
<p>Tapi sayangnya, langit di perkotaan tertutup oleh polusi cahaya dan asap, sehingga susah untuk melihat alam semesta yang lebih luas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 26 Januari 2020, terinspirasi setelah menonton berbagai video tentang alam semesta produksi National Geographic</p>
<p>Foto: <a href="https://www.americamagazine.org/content/dispatches/universe-unfinished-theologian-john-haught-faith-and-cosmos">America Magazine</a></p>
<p>Sumber Artikel: <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Solar_System">Wikipedia</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=2HoTK_Gqi2Q&amp;t=5s">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/kita-bukan-apa-apa-di-semesta-ini/">Kita Bukan Apa-Apa di Semesta Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jan 2018 16:07:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[hawking]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jenius]]></category>
		<category><![CDATA[laniakea]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[sains. astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[semesta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar mempelajari alam semesta.</p>
<p>Ketika beranjak dewasa, saya bertemu dengan Stephen Hawking, seorang jenius yang menjadi profesor di Cambridge, melalui karya-karyanya. Ia terkenal karena menuliskan alam semesta dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang awam. Buku pertama yang saya beli adalah <em>My Brief History</em>, sebuah autobiografi dari seorang Hawking. Meskipun judulnya autobiografi, tetap saja di dalamnya berisi banyak rumus-rumus astronomi yang susah dipahami.</p>
<p>Meskipun di buku pertama mengalami kesulitan dalam memahami isinya, saya tidak kapok untuk kembali membeli buku Hawking yang lainnya. Buku kedua yang saya miliki adalah <em>George&#8217;s Secret Key to the Universe</em>, sebuah novel anak yang beliau tulis bersama anaknya, Lucy. Karena buku anak, tentu sangat mudah untuk memahami isi novel ini.</p>
<p>Karyanya yang paling fenomenal, <em>A Brief History of Time, </em>menjadi buku ketiga yang saya miliki. Buku ini pun juga membuat saya mengerutkan dahi karena bahasanya yang tinggi. Meskipun demikian, tetap saja saya tidak kapok membeli buku Hawking. Maka <em>The Grand Design </em>yang ditulis dengan bahasa filsafat pun telah berada di rak buku sebagai bagian dari koleksi.</p>
<div id="attachment_240" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-240" class="wp-image-240 size-large" src="http://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg" alt="" width="1024" height="494" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-1024x494.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-300x145.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-768x370.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1-356x172.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/01/roberto-blake-cv3-1.jpg 1263w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-240" class="wp-caption-text">Buku-Buku Hawking (via https://pics-about-space.com/stephen-hawking-black-holes-book?p=4)</p></div>
<p>Selain dari buku, saya pun melihat acara televisinya di <em>National Geographic</em> yang berjudul <em>Genius</em>. Penjelasan berbagai fenomena alam dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami membuat saya terpukau dengan berbagai keajaiban alam.</p>
<p>Sebagai contoh, dalam membuktikan bahwa Bumi itu bulat, relawan dalam acara tersebut (satu episode diikuti oleh tiga orang relawan) menggunakan sinar laser dari pinggir pantai -sinar laser dipilih karena arah cahayanya yang lurus. Dalam jarak tertentu, mereka membandingkan tinggi sinar laser tersebut, hingga pada jarak terjauh mereka harus menggunakan helikopter. Selain bisa membuktikan bahwa teori bumi datar itu salah, dengan menggunakan hasil percobaan tersebut kita bisa membuat persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung keliling Bumi.</p>
<p>Akan tetapi, episode yang paling berkesan bagi saya adalah ketika episode yang menerangkan ukuran alam semesta. Di akhir acara, ditampilkan sebuah animasi yang berawal dari Bumi, lalu Bumi mengecil hingga tampak <em>solar system </em>kita, lalu mengecil lagi hingga nampak galaksi kita, <em>milky way, </em>mengecil lagi hingga ke <em>supercluster </em>kita, <em>Laniakea</em>. Animasi ini semakin menjauh dan mengecil hingga ke tingkat yang sangat susah dipercaya oleh nalar.</p>
<p>Alam semesta seringkali menjadi bahan perenungan saya. Saat menyadari bagaimana posisi Bumi di alam semesta, saya merasa kecil, merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, apalagi dengan Tuhan yang dengan segala kuasa-Nya dapat membuat alam semesta ini begitu teratur. Dengan mengetahui keteraturan alam semesta ini, niscaya semakin tebal pula keimanan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, saya akan tetap mendalami alam semesta kita, walaupun buku-buku yang menjelaskan tentangnya susah untuk dicerna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 24 Januari 2018, setelah bermain game Age of Empires III</p>
<p>Sumber Foto:  <a href="http://www.howitworksdaily.com)">www.howitworksdaily.com</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/">Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/stephen-hawking-dan-perenungan-alam-semesta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
