Stephen Hawking dan Perenungan Alam Semesta

Sejak kecil, saya sudah sering diberi berbagai macam buku bacaan yang sesuai dengan usia saya waktu itu. Yang banyak adalah ensiklopedia anak, salah satunya adalah seri buku Ternyata Bisa, seri yang nampaknya sudah tidak pernah diterbitkan lagi. Diantara tiga judul yang saya punya, saya paling suka yang Ruang Angkasa. Buku inilah yang mengantarkan saya gemar mempelajari alam semesta.

Ketika beranjak dewasa, saya bertemu dengan Stephen Hawking, seorang jenius yang menjadi profesor di Cambridge, melalui karya-karyanya. Ia terkenal karena menuliskan alam semesta dalam bentuk yang dapat dipahami oleh orang awam. Buku pertama yang saya beli adalah My Brief History, sebuah autobiografi dari seorang Hawking. Meskipun judulnya autobiografi, tetap saja di dalamnya berisi banyak rumus-rumus astronomi yang susah dipahami.

Meskipun di buku pertama mengalami kesulitan dalam memahami isinya, saya tidak kapok untuk kembali membeli buku Hawking yang lainnya. Buku kedua yang saya miliki adalah George’s Secret Key to the Universe, sebuah novel anak yang beliau tulis bersama anaknya, Lucy. Karena buku anak, tentu sangat mudah untuk memahami isi novel ini.

Karyanya yang paling fenomenal, A Brief History of Time, menjadi buku ketiga yang saya miliki. Buku ini pun juga membuat saya mengerutkan dahi karena bahasanya yang tinggi. Meskipun demikian, tetap saja saya tidak kapok membeli buku Hawking. Maka The Grand Design yang ditulis dengan bahasa filsafat pun telah berada di rak buku sebagai bagian dari koleksi.

Buku-Buku Hawking (via https://pics-about-space.com/stephen-hawking-black-holes-book?p=4)

Selain dari buku, saya pun melihat acara televisinya di National Geographic yang berjudul Genius. Penjelasan berbagai fenomena alam dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami membuat saya terpukau dengan berbagai keajaiban alam.

Sebagai contoh, dalam membuktikan bahwa Bumi itu bulat, relawan dalam acara tersebut (satu episode diikuti oleh tiga orang relawan) menggunakan sinar laser dari pinggir pantai -sinar laser dipilih karena arah cahayanya yang lurus. Dalam jarak tertentu, mereka membandingkan tinggi sinar laser tersebut, hingga pada jarak terjauh mereka harus menggunakan helikopter. Selain bisa membuktikan bahwa teori bumi datar itu salah, dengan menggunakan hasil percobaan tersebut kita bisa membuat persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung keliling Bumi.

Akan tetapi, episode yang paling berkesan bagi saya adalah ketika episode yang menerangkan ukuran alam semesta. Di akhir acara, ditampilkan sebuah animasi yang berawal dari Bumi, lalu Bumi mengecil hingga tampak solar system kita, lalu mengecil lagi hingga nampak galaksi kita, milky way, mengecil lagi hingga ke supercluster kita, Laniakea. Animasi ini semakin menjauh dan mengecil hingga ke tingkat yang sangat susah dipercaya oleh nalar.

Alam semesta seringkali menjadi bahan perenungan saya. Saat menyadari bagaimana posisi Bumi di alam semesta, saya merasa kecil, merasa bukan apa-apa jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta, apalagi dengan Tuhan yang dengan segala kuasa-Nya dapat membuat alam semesta ini begitu teratur. Dengan mengetahui keteraturan alam semesta ini, niscaya semakin tebal pula keimanan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu, saya akan tetap mendalami alam semesta kita, walaupun buku-buku yang menjelaskan tentangnya susah untuk dicerna.

 

 

Lawang, 24 Januari 2018, setelah bermain game Age of Empires III

Sumber Foto:  www.howitworksdaily.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.