<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>latah Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/latah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/latah/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Mar 2023 15:46:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>latah Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/latah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Mar 2023 15:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[latah]]></category>
		<category><![CDATA[lato lato]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6325</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama lato lato, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali. Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok</p></blockquote>



<p>Beberapa bulan terakhir, pasti banyak yang mendengarkan suara &#8220;tok tok&#8221; di sekitar rumah. Ternyata, sumber suara tersebut berasal dari permainan tradisional bernama <strong>lato lato</strong>, yang jika dideskripsikan terdiri dari dua bola dan tali.</p>



<p>Cara bermainnya pun sederhana, di mana pemain harus bisa membuat dua bola tersebut saling beradu dan menghasilkan suara &#8220;tok tok&#8221;. Semakin mahir memainkannya, semakin cepat punya kedua bola tersebut saling beradu.</p>



<p>Setelah ditelusuri, ternyata viralnya permainan lato lato ini berasal dari TikTok, walau Penulis sendiri kurang tahu past siapa atau peristiwa apa yang menjadi inisiatornya. Yang jelas, secara cepat bak ekspansi gerai Mixue, banyak orang terutama anak kecil yang ikut memainkannya. </p>





<h2 class="wp-block-heading">Pro dan Kontra Lato Lato</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6381" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Lato Lato (<a href="https://katasumbar.com/viral-di-sumbar-benarkah-kata-lato-lato-berarti-aku-yahudi-cek-faktanya-disini/">Kata Sumbar</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari yang Penulis perhatikan, ada dua kubu dalam menyikapi viralnya lato lato yang dimainkan oleh anak-anak. Seperti kebanyakan kasus, ada pihak yang pro dan ada pula pihak yang kontra.</p>



<p>Pihak yang pro mengatakan mereka senang melihat anak-anak kecil yang bermain lato lato karena itu membuat mereka menjauh sesaat dari gawai. Melihat mereka bermain permainan tradisional juga menimbulkan perasaan nostalgia kepada generasi yang lebih tua.</p>



<p>Seperti yang kita tahu, penggunaan gawai di kalangan anak-anak cukup memprihatinkan dengan durasi yang cukup lama. Adanya permainan tradisional yang mau mereka mainkan bisa menjadi jeda yang cukup solutif.</p>



<p>Di pihak yang kontra, mereka merasa terganggu karena suara yang dihasilkan oleh lato lato cukup berisik. Suara &#8220;tok tok&#8221; seolah terdengar dari pagi, siang, sore, bahkan malam. Tentu ini sangat menganggu orang-orang yang sedang istirahat ataupun butuh ketenangan.</p>



<p>Bahkan, ada yang <em>su&#8217;udzon </em>dengan mengatakan kalau anak-anak itu main di luar karena orang tua mereka sendiri merasa terganggu. Entah ini benar atau salah, yang jelas suara keras yang dihasilkan oleh lato lato memang cukup mengganggu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengaruh Besar TikTok yang Cukup Mengkhawatirkan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="575" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg" alt="" class="wp-image-6382" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-1024x575.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2-768x431.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Sering Disebut Ngemis Online (<a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-6513481/viral-tren-mandi-lumpur-di-tiktok-dokter-kulit-sebut-efeknya-bisa-begini">Detik Health</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis pribadi tidak merasa terlalu terganggu dengan suara lato-lato yang bahkan masih terdengar setelah beberapa bulan lalu mulai viral. Penulis justru resah sumber dari viralnya permainan tradisional ini: <strong>TikTok</strong>.</p>



<p>Kebetulan, Penulis sudah agak lama <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">berhenti menggunakan TikTok</a> karena beberapa alasan, sehingga sering <em>out-of-date</em> alias ketinggalan apa yang sedang viral. Kalau sudah heboh seperti lato lato, baru akhirnya Penulis <em>ngeh </em>dan mencari tahu lebih dalam.</p>



<p>Kasus lato lato yang baru saja terjadi seolah menggambarkan betapa dahsyatnya pengaruh TikTok dalam memviralkan sesuatu. Mungkin hanya diawali oleh satu orang, ribuan atau bahkan mungkin jutaan orang akan mengikutinya, kadang hanya karena ikut-ikutan.</p>



<p>Lato lato mungkin hampir tidak memiliki efek yang negatif, selain menghasilkan polusi suara. Namun, bagaimana dengan hal viral lain seperti berlomba-lomba mengemis dengan cara yang menyiksa diri?</p>



<p>Seperti yang kita tahu, selain lato lato, yang sedang ramai berkat TikTok adalah adanya oknum-oknum yang rela melakukan hal konyol/berbahaya demi mendapatkan beberapa rupiah dari penonton. Contohnya adalah aksi mandi lumpur yang sempat ramai.</p>



<p>Tidak hanya itu, bahkan beberapa oknum juga memanfaatkan orang tua yang sudah lansia untuk meningkatkan pendapatan mereka dari TikTok. Bagi Penulis, perbuatan-perbuatan seperti ini sudah kelewat bebas dan sudah seharusnya dihentikan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tapi, Itu Kan Mereka Berusaha untuk Mendapatkan Pendapatan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6383" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/03/lato-lato-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Apakah Perbuatan Ini Dapat Dibenarkan? (<a href="https://www.detik.com/bali/nusra/d-6524270/7-lansia-live-tiktok-mandi-lumpur-warga-lain-antre">Detik</a>)</figcaption></figure>



<p>Mungkin ada yang kontra dengan pendapat ini karena seolah mematikan rezeki orang. Toh, apa yang mereka lakukan tidak merugikan orang lain, dan yang memberi pun merasa terhibur. Mereka tidak keberatan berbagi rezeki atas &#8220;usaha&#8221; yang mereka lakukan.</p>



<p>Itu ada benarnya, tetapi bukannya mendapatkan pendapatan dengan cara yang kurang baik juga sebaiknya tidak dilakukan. Sama seperti Pesulap Merah yang membongkar praktik dukun, itu akan mematikan penghasilan si dukun yang memang didapat dengan cara buruk.</p>



<p>Kalau sekadar melakukan hal konyol yang bisa mengundang tawa penonton, Penulis tidak akan mempermasalahkannya. Namun, contoh-contoh berbahaya seperti mandi lumpur menurut Penulis sudah seharusnya tidak diteruskan.</p>



<p>Mengingat pengaruh TikTok yang luar biasa, bukan tidak mungkin orang-orang yang awalnya cuma menonton jadi ikut-ikutan karena melihat peluang besar untuk mendapatkan uang dengan cepat.</p>



<p>TikTok sudah seharusnya menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas dan bakat kita agar bisa dilihat oleh publik. Sayangnya, tampaknya hal tersebut tidak terlalu mendapatkan perhatian dari pasar, yang justru lebih senang dengan hal-hal kurang berfaedah.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Pada dasarnya, TikTok hanyalah sebuah alat yang bisa digunakan dengan berbagai tujuan. Untuk hiburan, jualan, cari inspirasi, &#8220;jual diri&#8221;, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">jadi viral</a>, hampir semuanya bisa dilakukan di TikTok yang penggunanya sudah miliaran di seluruh dunia.</p>



<p>Dengan besarnya pengaruh yang dimiliki, tidak salah jika negara barat seperti Amerika Serikat seperti &#8220;ketakutan&#8221; dan kerap menggunakan alasan keamanan privasi untuk berusaha memblokir aplikasi ini, walau sampai sekarang belum terealisasi.</p>



<p>Untuk sekarang, mungkin pengaruhnya baru sekadar bermain lato lato atau mandi lumpur. Namun, siapa bisa menjamin kalau di masa yang akan datang, yang menjadi viral adalah sesuatu yang sebenarnya berbahaya namun tidak pernah kita sadari?</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 4 Maret 2023, terinspirasi dari viralnya lato lato gara-gara TikTok</p>



<p>Foto: <a href="https://hot.detik.com/tv-news/d-6478649/lato-lato-viral-mainan-ini-senjata-mematikan-di-anime-jojos-bizarre-adventure">DetikHot</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/">Lato Lato, Mandi Lumpur, dan Pengaruh TikTok yang Luar Biasa</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/lato-lato-mandi-lumpur-dan-pengaruh-tiktok-yang-luar-biasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NFT oh NFT&#8230;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2022 04:02:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[blockchain]]></category>
		<category><![CDATA[cryptocurrency]]></category>
		<category><![CDATA[Ghazali Everyday]]></category>
		<category><![CDATA[latah]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[NFT]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5573</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seminggu terakhir, media ramai-ramai mengangkat mengenai fenomena miliarder dadakan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Ghozali berkat foto selfie-nya yang menjadi sebuah NFT. Sontak, masyarakat kita pun berbondong-bondong mengikuti jejaknya dengan membuat NFT-nya sendiri. Parahnya, mereka menggunakan foto-foto yang tidak patut, seperti foto tidak senonoh, foto public figure, hingga foto KTP mereka. Hal ini seolah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/">NFT oh NFT&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Seminggu terakhir, media ramai-ramai mengangkat mengenai fenomena miliarder dadakan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Ghozali berkat foto <em>selfie</em>-nya yang menjadi sebuah NFT.</p>



<p>Sontak, masyarakat kita pun berbondong-bondong mengikuti jejaknya dengan membuat NFT-nya sendiri. Parahnya, mereka menggunakan foto-foto yang tidak patut, seperti foto tidak senonoh, foto <em>public figure</em>, hingga foto KTP mereka.</p>



<p>Hal ini seolah menegaskan penyakit lama yang sudah lama diidap oleh masyarakat kita: <strong>Latah</strong>.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu NFT?</h2>



<p>Kebetulan, di tempat kerja Penulis sudah pernah membuat artikel yang cukup mendalam mengenai apa itu NFT. Para pembaca bisa membacanya melalui tautan di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="l08j3BddtS"><a href="https://www.upstation.asia/semua-yang-perlu-kamu-ketahui-tentang-nft/">Semua yang Perlu Kamu Ketahui tentang NFT</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Semua yang Perlu Kamu Ketahui tentang NFT&#8221; &#8212; UP Station" src="https://www.upstation.asia/semua-yang-perlu-kamu-ketahui-tentang-nft/embed/#?secret=l08j3BddtS" data-secret="l08j3BddtS" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Singkatnya, NFT merupakan kependekan dari <em><strong>non-fungiable token</strong> </em>atau aset yang tak dapat dipertukarkan. Artinya, setiap NFT memiliki keunikan dan hanya bisa dimiliki oleh satu orang. Meskipun dapat disalin sebanyak mungkin, yang asli tetap hanya ada satu.</p>



<p>NFT disimpan di <em>blockchain</em>, sama seperti <em>cryptocurrency</em>. Semua informasi yang terkait dengan NFT tersimpan di <em>blockchain </em>tersebut, termasuk kepemilikan NFT. Hingga saat ini, NFT selalu berupa <em>file </em>digital, di mana mayoritas berupa gambar.</p>



<p>Ghozali bisa mendapatkan banyak uang karena foto <em>selfie</em>-nya yang diambil selama lima tahun dihargai mahal oleh orang-orang. <em>Unique value</em> NFT-nya terletak pada ketekunannya dalam mengambil foto <em>selfie</em>.</p>



<p>Dalam membeli sebuah NFT, orang-orang menggunakan <em>cryptocurrency</em>. Misalnya di platform OpenSea, kebanyakan akan melakukan transaksi menggunakan <em>cryptocurrency </em>bernama Ethereum, di mana satu Ethereum bisa bernilai puluhan juta.</p>



<p>Permasalahan kita sebagai orang Indonesia adalah, banyak yang asal latah mengikuti Ghazali tanpa merasa perlu belajar apa itu NFT dan apa itu <em>cryptocurrency</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penyakit Latah Masyarakat Indonesia</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5574" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/01/nft-oh-nft-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Berebut Atensi dengan Trending (<a href="https://socialpubli.com/blog/how-to-be-trending-topic-on-twitter/">Social Publi Blog</a>)</figcaption></figure>



<p>Permasalahan latah ini sebenarnya telah lama menjangkiti kita. Apa yang sedang <em>trending</em>, diikuti begitu saja tanpa mencari tahu mengapa hal tersebut menjadi <em>trending </em>ataukah hal tersebut layak menjadi sesuatu yang <em>trending</em>. <strong>Semua seolah berebut atensi publik</strong>.</p>



<p>Dalam hal ini, kita tentu saja tergiur dengan fenomena yang dialami oleh Ghozali. Siapa yang tidak mau mendapatkan uang banyak dalam sekejap, apalagi dengan cara yang tidak melanggar hukum?</p>



<p>Hanya saja, langsung terjun tanpa mengetahui dengan jelas apa itu NFT, <em>blockchain</em>, dan <em>cryptocurrency </em>jelas salah. Buktinya sudah terlihat, di mana banyak orang yang asal menaruh sebuah foto dengan harapan ada orang &#8220;kelebihan uang&#8221; yang tertarik dengan foto tersebut.</p>



<p>Padahal, <em>file </em>yang sudah disimpan dalam teknologi <em>blockchain</em> tidak akan bisa dihapus, termasuk oleh pemiliknya sekalipun. Jika kita mengunggah foto di Instagram, lantas menuai kontroversi, kita bisa menghapusnya. Di <em>blockchain</em>, kita tidak bisa melakukannya.</p>



<p>Artinya, segala foto tidak senonoh maupun foto KTP yang sudah diunggah ke <em>blockchain </em>akan bertahan di sana selamanya, mungkin sampai kiamat. Bisa dibayangkan, bagaimana foto-foto tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebenarnya tidak ada salahnya mengikuti jejak Ghazali, asal dengan cara yang baik dan benar. Ia bisa kaya &#8220;hanya&#8221; bermodal foto <em>selfie </em>karena dia autentik dan rasanya orang lain tidak akan bisa mengikuti jejaknya.</p>



<p>Kalai kita memiliki sebuah karya seni digital yang dirasa cukup bernilai, tidak ada salahnya untuk mencoba menjualnya di berbagai platform NFT. Siapa tahu, ada orang yang menganggap karya seni tersebut layak untuk dikoleksi.</p>



<p>Entah bagaimana cara mengobati penyakit latah yang sudah lama menjangkiti kita ini. Mungkin kita bisa mulai dari diri kita sendiri dulu untuk bisa belajar kritis dari setiap fenomena yang ada. Jangan hanya sekadar ikut-ikutan saja.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 23 Januari 2022, terinspirasi setelah adanya fenomena Ghazali Everyday</p>



<p>Foto: <a href="https://opensea.io/collection/ghozali-everyday">OpenSea</a></p>



<p> </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/">NFT oh NFT&#8230;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/nft-oh-nft/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
