Untuk Apa Viral?

Ya biar terkenal mas. Ya biar ikut apa yang lagi tren mas. Ya ikut-ikutan aja mas. Ya biar enggak dibilang ketinggalan jaman mas. Ya biar keren mas. Ya biar gaul mas. Ya biar nyambung kalau diajak ngobrol sama temen mas.

Mari tarik nafas sejenak, membuang segala keruwetan yang ada di dalam benak kita. Isu ini seringkali diangkat oleh beberapa orang yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan karakter terutama terhadap generasi muda.

Menjadi viral tidaklah salah sama sekali. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menjadi viral. Yang salah bukan tujuan untuk menjadi viralnya, melainkan bagaimana kita menjadi viral. Prosesnya, bukan hasilnya.

Challenge Unfaedah

Coba kita perhatikan di sekitar kita dan media sosial. Salah satu yang sering menjadi viral adalah dengan mengikuti tantangan atau challenge yang sedang viral. Dengan kata lain, kita (berusaha) menjadi viral dengan mengikuti apa yang menjadi viral.

Apa salahnya dengan mengikuti berbagai challenge yang tengah populer? Menurut penulis, bukan salah, melainkan kurang bermanfaat alias unfaedah. Ada yang menyiram diri dengan air es/air panas, ada yang menari-nari, dan lain sebagainya. Tak jarang aksi viral ini memakan korban, termasuk nyawa.

Korban Viral (https://www.health.com/condition/skin-conditions/hot-water-challenge)

Andai saja gerakan seperti #satuminggusatubukuchallenge bisa seviral itu, tentu lebih banyak membawa kebaikan terlebih kepada yang menjalankan. Bayangkan #bersedekahchallenge bisa menjadi tren, tentu banyak orang yang merasakan manfaatnya.

Seandainya saja hal-hal yang memiliki manfaat bisa seviral hal-hal yang unfaedah, tentu menjadi viral akan banyak memberikan kebaikan bagi kita semua

Bertindak Konyol

Apakah ada anak yang berprestasi menjadi viral? Ada, tapi hype-nya cuma sebentar. Mereka kalah dengan anak-anak yang melakukan hal-hal konyol dan lucu bagi beberapa orang.

Deddy Corbuzier, ketika diundang Boy William ke channel YouTubenya, mengatakan bahwa acara Hitam Putih miliknya tidak akan mengundang anak-anak seperti itu. Deddy sadar bahwa mereka tidak pantas untuk diviralkan.

Sebagai bukti anak berprestasi kalah dengan anak yang bertindak konyol, coba adakan survei kecil-kecilan, siapa yang diketahui orang, terutama generasi muda, lebih banyak, Joey Alexander atau Nurrani. Pembaca mungkin sudah bisa menduga jawabannya.

Anak Berpresentasi (https://www.ted.com/talks/joey_alexander_an_11_year_old_prodigy_performs_old_school_jazz?language=id)

Mungkin sudah sifat alamiah manusia tidak terlalu menggemari good news. Bahkan di kalangan jurnalistik sudah terkenal istilah bad news is a good news, walaupun beberapa kalangan menganggap idiom tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Apakah benar? Yang bisa menjawab hanyalah kita yang menentukan kabar atau berita mana yang menjadi viral, karena media pun harus mengikuti pasar.

Apa yang Bisa Kita Lakukan

Sekali lagi, tidak ada yang salah jika kita ingin viral. Yang salah adalah bagaimana kita menjadi viral. Semisal pembaca ingin viral berkat prestasinya, tentu hal tersebut akan penulis dukung 100%.

Jika kita tidak ingin menjadi viral namun prihatin dengan kondisi yang ada sekarang, terdapat beberapa hal kecil yang dapat kita lakukan, dimulai dari lingkungan kita.

Pertama, tidak ikut-ikutan challenge yang unfaedah. Biarlah mereka yang ingin terkenal dengan cepat melakukannya. Toh, selama ini yang viral-viral juga cepat hilang. Apa yang mudah didapatkan bisanya mudah terlepas.

Kedua, saling mengingatkan. Jika ada teman yang berlebihan demi menjadi viral, ingatkanlah bahwa banyak hal yang lebih berguna daripada menjadi terkenal dengan melakukan hal-hal konyol. Jika ia tidak menghiraukan teguran kita, ya sudah, yang penting kita sudah berusaha.

Ketiga, berusaha menyebarkan kebaikan sekecil apapun bentuknya. Penulis dengan blog ini berusaha melakukan itu. Meskipun view-nya hanya sekitar 100 per hari, penulis tetap bersemangat untuk menyebarkan kebaikan dengan pikiran-pikiran penulis.

Sebar Kebaikan (https://unsplash.com/photos/JYiADe-xsDw)

Salah satu anggota Karang Taruna Gen X SWI bernama Ekky memiliki ide seperti ini:

“Bagaimana jika kita bikin konten-konten yang positif, terus kita sebarkan kebaikan tersebut lewat media sosial? Tidak perlu lewat media sosialnya Karang Taruna, tapi melalu masing-masing media sosial milik anggota.”

Semangat menggunakan media sosial sebagai wadah untuk menyebarkan kebaikan patut diapresiasi dan didukung. Semoga saja makin banyak generasi muda yang memiliki pola pikir seperti ini.

 

 

Jelambar, 5 Agustus 2018, terinspirasi dari kiriman Nia dan ajakan Ekky di grup Kelompok Bermain

Sumber Foto: https://unsplash.com/photos/Eb40vRVVifQ

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.